Takdir Gintani

Takdir Gintani
Kemarahan Tuan Jaya


__ADS_3

Argha masih berdiri terpaku di depan rumah Jessica. Kedua tangannya menggenggam erat besi pagar yang menjulang tinggi. Hatinya memang terasa sangat kesal. Namun Argha tak mampu berbuat apa-apa.


Sementara Mang Diman, penjaga keamanan di rumah Jessica, hanya mampu menatap iba dari balik kaca jendela pos satpam. Sebagai sesama pria, Mang Diman tentunya bisa merasakan kacaunya perasaan Argha saat harus terpisah dari istri yang dicintainya.


Tak lama berselang, sebuah mobil sedan berwarna hitam, berhenti di depan pintu gerbang rumah Jessica. Seorang pria paruh baya keluar dari dalam mobil tersebut. Dengan langkah tegapnya, dia menghampiri Argha.


"Permisi, Tuan Muda! Saya diminta Tuan Jaya untuk menjemput Tuan Muda," ucap pria paruh baya itu yang tak lain adalah Pak Jamal.


Argha menoleh. Dia menatap sendu ke arah Pak Jamal. Argha pun bisa menebak maksud dari Pak Jamal yang tengah menjemput dirinya.


"Apa Papah tahu semuanya?" tanya Argha.


"Tak ada yang bisa luput dari pengawasan beliau," jawab Pak Jamal, tegas.


"Apa dia marah?" tanya Argha lagi.


"Menurutmu?" Pak Jamal malah balik bertanya.


Argha diam. Dia sudah bisa membayangkan semarah apa ayahnya saat ini. Terlebih lagi, ini entah untuk ke berapa kalinya Argha membuat Gintani sakit hati.


"Om, bisakah aku menemui Papah besok? Aku sedang berusaha membujuk istriku," pinta Argha.


"Sebaiknya kamu temui beliau sekarang, Nak."


"Tapi istriku?"


Pak Jamal menepuk pelan bahu Argha. "Biarkan dia menenangkan hatinya dulu!"


Argha diam. Sejurus kemudian, dia kembali ke mobilnya dan mulai mengikuti mobil Pak Jamal yang telah melaju terlebih dulu.


🍀🍀🍀


"Bagaimana, Mbak? Apa dia sudah pergi?" tanya Gintani begitu dia melihat Jessica masuk ke dalam rumah.


"Tadi dia masih di luar, Gin."


Gintani tertegun mendengar jawaban Jessica. "Apa aku harus menemuinya?" tanya Gintani lagi.


"Apa kamu memang ingin menemui dia?" Jessica malah balik bertanya.


Gintani menggelengkan kepalanya. "Aku belum siap, Mbak."

__ADS_1


"Jika memang belum siap, sebaiknya kamu jangan temui dia dulu. Sudah malam, istirahatlah!"


"Tapi, Mbak...! Di luar sangat dingin, aku takut...."


"Sudah, jangan khawatir! Nanti aku tanya Mang Diman buat cek keadaan dia."


Gintani tersenyum, "Terima kasih, Mbak!"


"Iya, sama-sama. Tidurlah!"


Gintani mengangguk. Dia kemudian pergi menuju kamar yang telah disiapkan untuknya. Sementara itu, Jessica meraih telepon yang berada di meja sudut. Dia kemudian menekan nomor pos penjagaan.


"Iya, Non!"


"Apa Argha masih di sana?"


"Tidak ada Non. Beberapa menit yang lalu, den Argha sudah pergi."


"Ah, syukurlah! Tetap kunci pintu gerbangnya, ya, Pak!"


"Siap, Non!"


Jessica kembali meletakkan gagang telepon. Setelah itu dia menaiki tangga menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Malam ini, dia bisa bernapas dengan lega karena bisa terlepas dari ulah Argha. Setidaknya, malam ini Jessica bisa tertidur dengan nyenyak.


🍀🍀🍀


Tiba di ruang utama, Argha disambut oleh wajah tidak bersahabat dari adik satu-satunya. Entahlah, hatinya terasa sakit saat Nadhifa melangkah pergi begitu melihat dia datang. Berbanding terbalik dengan ibu tirinya. Nyonya Rosma tersenyum senang melihat raut wajah Argha yang diselimuti awan hitam.


Pak Jamal mengantarkan Argha ke ruang kerja atasannya. Beberapa detik kemudian, dia kembali lagi menunggu perintah atasannya di ruang keluarga.


Plak!


Sebuah tamparan keras mendarat begitu Argha tiba di hadapan ayahnya.


"Apa yang kamu pikirkan, Argha? Apa?!"


Tuan Jaya berteriak keras kepada anaknya. Namun Argha masih diam. Bibirnya terasa kelu saat berhadapan dengan sang ayah.


Plak!


Kini pipi bagian kirinya yang mendapatkan tamparan keras sang ayah. Namun argha tetap diam. Ya! Dirinya memang pantas mendapatkan kemarahan sang ayah. Argha bukan hanya telah melukai Gintani. Tapi dia juga telah melukai harga diri dan martabat ayahnya.

__ADS_1


"Bisa-bisanya kamu berduaan dengan gadis itu di saat istrimu tengah berjuang melawan maut, hah? Suami macam apa kamu, Ar? Seumur-umur kamu hanya bisa membuat Papah merasa malu saja. Ternyata, Papah memang telah gagal mendidik kamu sebagai pria sejati," ucap Tuan Jaya.


Argha hanya bisa menundukkan kepalanya. Dia sama sekali tidak mampu membela dirinya, karena memang dia bersalah.


Tuan Jaya melangkahkan kakinya menuju meja kerja. Tangannya meraih selembar kertas yang berada di atas meja. Sejurus kemudian, dia melemparkan kertas itu ke hadapan putranya.


"Tanda tangani!" perintahnya dengan tegas.


Argha berjongkok untuk mengambil kertas yang jatuh ke lantai. Bola matanya membulat sempurna saat dia membaca kop surat.


"Kantor Urusan Agama?" gumam Argha mengernyitkan keningnya. "A-apa maksudnya ini, Pah?" tanya Argha dengan nada bicara bergetar.


"Papah pikir kamu cukup pintar untuk mengetahui apa maksud Papah."


Argha membaca sekilas lembaran itu. Surat gugatan cerai. Apa maksudnya ini? batin Argha.


"Maaf, Pah. Argha tidak mengerti."


"Mau berapa banyak lagi luka yang akan kamu berikan pada wanita itu, Ar? Papah sudah pernah bilang, jika kamu memang tidak pernah bisa mencintai dia dengan sungguh-sungguh, lepaskan dia! Papah rasa, status janda tidak akan mempengaruhi dirinya untuk mendapatkan seorang suami yang benar-benar menganggap dia sebagai cinta sejatinya. Dan Papah lihat, sepertinya Alex menaruh hati pada Gintani. Papah yakin, dia bisa membahagiakan Gintani jauh lebih baik daripada kamu."


Deg


Jantung Argha seakan berhenti berdetak mendengar ucapan sang ayah. Seketika dia pun mendekati Tuan Jaya dan menjatuhkan kedua lututnya. Argha duduk bersimpuh seraya memegangi kedua lutut ayahnya.


"Jangan hukum Argha seperti ini, Pah! Argha nggak akan sanggup kehilangan Gintani. Dia istri Argha. Argha sangat mencintainya. Ampuni kesalahan Argha,Pah! Papah bisa menghukum Argha dengan cara apa pun, Argha pasti terima. Tapi tidak dengan perceraian! Argha tidak mau berpisah dengan Gintani, Pah! Argha tidak sanggup!" Suara Argha terdengar parau saat meminta pengampunan dari ayahnya.


Cairan bening menggenang di kedua sudut mata Tuan Jaya. Bagaimanapun juga, Argha adalah putranya. Orang tua mana yang tega menghancurkan rumah tangga anaknya sendiri. Namun Tuan Jaya benar-benar ingin memberikan pelajaran kepada Argha. Agar Putranya itu bisa menjadi orang yang bertanggung jawab dan tidak lagi bertindak sendiri. Setelah berumah tangga, ada banyak hal yang harus dipertimbangkan dalam mengambil sebuah keputusan. Namun Argha, sepertinya Argha belum sepenuhnya memahami arti rumah tangga.


"Papah sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa untuk menyadarkan kamu. Setelah menikah, prioritas utama kamu saat ini adalah istrimu. Bukan orang lain! Berulang kali Papah ngomong, jaga hatinya, jaga perasaannya, dan jaga kepercayaan Gintani! Tapi kamu sama sekali tidak mendengarkan nasihat Papah. Papah malu Ar, Papah malu sama kakek Wira. Papah malu sama almarhum orang tua Gintani. Papah benar-benar gagal mendidik kamu sebagai pria sejati."


"Maafkan, Argha, Pah! Maafkan Argha!"


"Seharusnya kata itu kamu sampaikan pada istrimu. Bukan sama Papah!"


"Argha tahu. Tolong beri Argha kesempatan untuk membawa kembali menantu Papah. Argha janji, Argha akan membawanya ke rumah ini, Pah. Argha akan membawa Gintani kembali ke mansion ini lagi. Argha ingin kita tinggal bersama. Tolong beri Argha kesempatan."


"Pergilah! Bawa menantu Papah pulang!"


Bersambung....


Terima kasih bagi readers yang masih setia di sini. Author minta maaf atas semua keterlambatan author up. Dikarenakan author masih memiliki pekerjaan di dunia nyata. Alhamdulillah, dari mulai hari Senin hingga hari ini, hari Kamis. Author diberikan kepercayaan untuk melaksanakan gladi ANBK, karena itu author tidak mampu menyelesaikan episode selama 4 hari ini. Ke depannya, mudah"n jadwal author akan kembali normal.

__ADS_1


Jangan lupa, tinggalkan jejak, ya!


__ADS_2