Takdir Gintani

Takdir Gintani
Surganya Wanita


__ADS_3

Setelah berdiskusi dengan kakek Wira sebagai wali nikahnya Gintani, tuan Jaya dan Argha pun kembali ke kotanya.


Keputusan telah diambil oleh kedua belah pihak. Mereka sepakat untuk melaksanakan akad nikah dan resepsi sederhana di kediaman kakek Wira. Namun mereka akan menggelar resepsi besar-besaran di kota tempat kelahiran Argha. Mereka melakukan itu mengingat banyaknya kolega Argha dan tuan Jaya yang mereka undang berasal dari kota-kota besar.


Nyonya Rosma mendengus kesal mendengar kabar pernikahan putra tirinya yang seminggu lagi akan digelar. Berbeda dengan Nadhifa yang terlihat antusias menanggapi rencana pernikahan sang kakak. Terlebih saat dia mengetahui calon kakak iparnya adalah Gintani, orang yang telah menyelamatkan kehormatannya dan juga sahabatnya.


"Fa, bisa bantuin kak Argha nggak ?" tanya Argha saat dia dengan sengaja menjemput Nadhifa di kampusnya.


"Bantuin apa kak ?" Nadhifa balik bertanya seraya membenarkan safety belt-nya.


"Tolong pilihkan beberapa barang buat hantaran acara nikahan kakak !" pinta Argha.


"Loh, memangnya mamah nggak bantuin kakak ?" Nadhifa terlihat kaget dengan permintaan kakaknya. Pasalnya, beberapa hari yang lalu, Nadhifa sempat mendengar ayahnya memerintahkan sang ibu untuk mengurusi persiapan pernikahan putranya.


"Mungkin mamah sibuk, Fa." jawab Argha. "Sudah, kamu aja deh yang urus ! Soalnya kalian kan seumuran, siapa tahu selera kalian sama !" lanjutnya.


"Ya sudah, ayo ! Lagian, dah lama juga Fa nggak main ke mall. Tapi, Fa boleh belanja apa yang Fa suka, kan ?" tanya Nadhifa lagi.


"Iya, silakan tuan putri ! Apa sih yang nggak buat adek kakak yang cantik ini." jawab Argha seraya mengacak-acak rambut Nadhifa.

__ADS_1


Nadhifa tersenyum lebar mendengar ucap persetujuan sang kakak. Argha pun segera memacu kuda besinya membelah jalanan ibukota.


Tiga puluh menit kemudian, mereka pun sampai di salah satu mall terlengkap di pusat kota. Argha sengaja menurunkan Nadhifa di lobi mall, setelah itu dia kembali melajukan mobilnya menuju pelataran parkir.


"Non Dhifa ?" tanya seorang lelaki yang baru saja hendak memasuki pintu utama mall.


"Ka....kak Bram ? Kakak di sini juga ?" tanya Nadhifa tergugup.


"Ah, iya ! Kebetulan, saya ada janji dengan tuan muda." jawab Bram santai.


Hening....


"Kamu sudah datang, Bram ?"


Suara bariton nanti tegas milik Argha, memecah keheningan yang tengah terjadi.


"I... Iya, tuan ! Tadi jalanan sedikit macet, karena itu saya terlambat." jawab gugup Bram yang kepergok berduaan dengan Nadhifa.


"Tidak apa-apa, aku dan Dhifa juga baru tiba kok ! Yuk, langsung masuk aja !" ajak Argha seraya merangkul pundak adiknya.

__ADS_1


Sore ini mereka habiskan untuk membeli barang-barang yang akan dibawa sebagai hantaran pada saat akad nikah nanti.


Nadhifa terlihat asyik berbelanja semua keperluan wanita di mulai dari pakaian, sepatu, tas, hingga peralatan make up yang terbaik untuk calon kakak iparnya.


"Sepertinya anda senang sekali Nona?" tanya Bram yang terlihat gemas menyaksikan tingkah Nadhifa yang berjalan ke sana kemari memilih beberapa jenis make up yang cocok untuk digunakan oleh calon kakak iparnya.


"Shoping itu surganya seorang wanita, kak ! Jadi wajar kalau wanita akan merasa senang ketika memilih barang yang bisa memanjakan matanya." jawab Nadhifa seraya meraih parfum kesukaannya.


"Apa kau juga termasuk wanita yang suka berbelanja ?" tanya Bram lagi.


Nadhifa mengangguk sambil menyemprotkan parfum itu di pergelangan tangan kirinya.


"Semoga saja gaji bulanan ku cukup untuk memenuhi kebutuhan berbelanja mu kelak !" Gumam pelan Bram seraya berlalu meninggalkan Nadhifa.


Nadhifa terhenyak mendengar gumaman Bram. Dia menatap punggung Bram yang mulai semakin menjauh. Untuk beberapa saat, Nadhifa melihat Bram menengok seraya tersenyum ke arahnya. Jantung Nadhifa pun berdegup kencang melihat senyum maut seorang Bramantyo Ahmad Jalaluddin.


Bersambung.....


Semoga masih suka ceritanya yaaa

__ADS_1


Jangan lupa like, vote n komennya 🙏🤭


__ADS_2