
Waktu terus berlalu. Tanpa terasa, sinar mentari telah berubah warna menjadi kejinggaan. Cahayanya pun sudah semakin redup. Gintani menghela napasnya saat menatap suaminya yang belum kunjung sadar. Dokter Richard bilang, itu adalah hal yang biasa. Namun entah kenapa, hati Gintani diliputi rasa cemas berlebih.
"Mas, Gintan mohon, sadarlah!" gumam Gintani seraya menyeka bulir keringat di wajah Argha dengan tangannya. Namun sepertinya, Argha masih enggan untuk membuka mata.
Adzan maghrib pun mulai berkumandang. Gintani segera pergi ke kamar mandi untuk berwudhu. Lepas itu, dia kemudian menunaikan kewajibannya. Dalam sholatnya, tak lupa Gintani sematkan do'a-do'a indah untuk sang suami.
Gintani melipat mukena dan menaruhnya di laci nakas. Atas negosiasi dari dokter Richard, akhirnya Gintani mendapatkan izin untuk menjaga Argha di ruang ICU. Setelah merapikan sajadahnya, dia kembali menghampiri Argha dan duduk di kursi yang berada di samping bed hospital.
Tangan Gintani kembali menyentuh dan menggenggam jari-jemari sang suami. Tanpa terasa, bulir air mata mulai mengalir di kedua pipi putihnya. Tak kuasa menahan isak tangisnya, dia pun merebahkan kepalanya di atas tangan Argha. Kedua bahu Gintani mulai berguncang. Pada akhirnya, kekuatannya runtuh. Gintani menangis sesenggukan di samping tubuh suaminya. Cukup lama dia menangis hingga tertidur karena merasa lelah.
.
.
.
Argha merasakan kebas di tangannya. Dia pun mulai menggerakkan jari-jemarinya. Namun, dia merasa tangannya sedikit lengket. Argha mengerjapkan matanya karena merasakan sesuatu yang berat menindih lengannya.
Argha terkejut saat melihat Gintani tengah tertidur di sampingnya. Kini dia mulai mengerti kenapa tangannya bisa sampai merasa kebas. Argha mulai menggerakkan tangan kirinya. Dia mengusap lembut kepala Gintani.
Merasakan sesuatu yang bergerak di atas kepalanya, Gintani membuka mata. Dia mengangkat kepala dan melihat Argha sedang menatapnya penuh makna. Tersirat kerinduan yang cukup dalam di kedua bola mata Argha. Gintani tersenyum saat melihat sang suami tersenyum padanya.
"Bagaimana keadaanmu, Mas? Di mana yang sakit?" tanya Gintani.
Argha menggelengkan kepalanya, lemah.
"Mau minum?" tawar Gintani.
Argha mengangguk.
Gintani mengambil sebotol air mineral dari atas nakas. Dia kemudian menaruh sedotannya dan membantu Argha duduk agar bisa minum.
Beberapa menit kemudian, Argha pun melepaskan sedotannya dari mulut. Dia mulai menyandarkan punggungnya di tepi ranjang. Sejenak, Argha menengadahkan wajah. Argha menarik napas panjang, setelah itu dia menghembuskannya secara perlahan.
"Apa dadanya masih terasa sakit?" tanya Gintani lagi.
"Sudah mendingan, Gin," jawab Argha.
__ADS_1
"Kenapa Mas tidak pernah bercerita jika tubuh Mas sangat rentan dengan cuaca dingin. Kalau tahu Mas punya hipotermia, Gintan pasti tidak akan membiarkan Mas kedinginan seperti itu. Apa, semalaman Mas kehujanan?" tanya Gintani.
Argha mengangguk.
"Ish, kenapa Mas berbuat nekat seperti itu? Harusnya Mas lebih mengetahui kondisi tubuh Mas sendiri. Bagaimana jika sesuatu terjadi pada Mas? Apa Mas tidak pernah memikirkan perasaan Gintan?" gerutu Gintani seraya mengerucutkan bibirnya.
Argha tersenyum melihat istrinya yang semakin menggemaskan. "Apa itu artinya, kamu sedang mencemaskan aku?" Argha menggoda Gintani.
"Apa kamu tidak ingin aku cemaskan?" Gintani malah balik bertanya.
"Hmm, kemarilah!" titah Argha seraya merentangkan kedua tangannya.
Gintani berdiri. Dia kemudian duduk di samping suaminya. Sejurus kemudian, Gintani menyandarkan tubuhnya di dada bidang sang suami. Aroma tubuh suami yang begitu menenangkan hatinya, mulai tercium di inderanya. Dia pun mulai memejamkan matanya untuk merasai kehangatan tubuh suaminya.
"Maafkan Gintan, Mas! Karena Gintan, Mas menjadi sakit seperti ini," ucap Gintani dengan perasaan bersalahnya.
"Ssst..., sudahlah! Lupakan saja! Toh semua ini juga salahku. Tidak seharusnya aku menghilang tanpa memberimu kabar," jawab Argha.
Gintani teringat pada malam setelah dia mengalami kecelakaan. Dua malam itu, ia habiskan di rumah sakit tanpa ada suami yang mendampinginya. Padahal, saat itu, keberadaan sosok suami pasti sangat diperlukan jika seorang istri sedang berada dalam kondisi tidak baik-baik saja.
Karena merasa penasaran, Gintani mulai bertanya.
Argha menarik napas sejenak.
"Maafkan, Mas, Gin! Mas tidak bermaksud untuk tidak memberi kamu kabar. Tapi saat itu, ponsel Mas benar-benar kehabisan daya."
"Lalu, apa yang terjadi? Kenapa Mas bisa tinggal bersama, Na?"Nada bicara Gintani mulai naik satu oktaf. Dadanya semakin bergemuruh karena menahan cemburu yang mulai menjalari hatinya.
Argha mengurai pelukannya. Dia menatap istrinya.
"Percaya sama Mas! Mas tidak pernah melakukan hal yang diluar batas, Gin. Waktu itu, Mas menerima pesan video dari orang yang tak dikenal. Dalam video tersebut, tampak Na sedang dipukuli oleh dua orang lelaki. Dia berteriak minta tolong, karena itu Mas meninggalkan meeting untuk menolongnya. Saat di mobil, Mas berusaha menghubungi nomor itu, tapi tak pernah aktif. Mas kesal dan melempar ponsel Mas ke sembarang arah."
"Lalu?"
"Tiba di apartemen Ilona. Mas melihat dua preman sedang mengancam Ilona. Melihat kedatangan Mas, kedua preman itu pergi meninggalkan Ilona. Namun, samar-samar preman-preman tersebut menyebut nama Jessica. Setelah mereka pergi, Mas membantu Ilona yang terluka. Saat itu, Ilona meminta Mas untuk menemaninya. Dia takut jika preman-preman itu mengganggunya kembali. Sialnya, HP Mas tertinggal di mobil. Karena itu Mas tidak bisa memberi tahu kamu."
"Tapi, dua malam, loh, Mas! Apa selama dua malam ini Mas tidak ada usaha untuk memberi kabar pada Gintan? Apa salahnya Mas minta izin sebentar untuk mengambil ponsel Mas di mobil? Jangan-jangan, itu cuma alasan Mas saja, huh!" dengus Gintani kesal.
__ADS_1
"Demi Tuhan, Gin! Mas nggak bohong. Malam itu, Ilona kesakitan dan dia meminta Mas untuk menemaninya. Dia sudah seperti adik bagi Mas, karena itu Mas nggak tega ninggalin dia dalam kondisi seperti itu. Dia memang tidak mengizinkan Mas untuk mengambil ponsel di mobil. Akhirnya, Mas meminjam ponsel Ilona untuk menghubungi kamu. Tapi ponsel kamu selalu tidak aktif. Mas pun pasrah. Keesokan harinya, Mas kembali meminta izin untuk mengambil ponsel. Dan Ilona mengizinkan Mas. Sialnya, ponsel Mas kehabisan batrei."
Gintani menghela napasnya.
"Baiklah, kali ini, Gintan percaya sama Mas. Tapi tolong, jangan seperti ini lagi Mas!" pinta Gintani, tegas. "Lalu, apa yang terjadi pada Ilona. Kenapa Mas bisa sampai membawanya ke rumah sakit?"
Dua malam itu, Ilona mengeluh kesakitan di sekitar perutnya. Mas sudah menawarkan dia untuk periksa ke rumah sakit, tapi Ilona menolaknya. Pagi harinya, dia hampir tak sadarkan diri, karena itu Mas membawanya ke rumah sakit."
"Kamu jangan terlalu percaya pada gadis itu, Ar. Siapa tahu jika dia memilki niat terselubung sama kamu."
Tiba-tiba, Bram memasuki ruangan itu dan mengagetkan keduanya.
"A-apa maksud kamu, Bram?" tanya Argha sedikit mengernyitkan keningnya.
"Ilona sudah berubah, Ar. Percaya padaku, dia bukan gadis lugu yang pertama kali kita kenal," ucap Bram dengan nada serius.
"Cukup, Bram! Jangan menjelek-jelekkan dia. Aku tahu kamu masih sakit hati karena dia tidak menerima perasaanmu."
"Oh, ayolah, Ar! Open your eyes! Ini sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan masa lalu aku."
"Bram!"
"Tunggu, Mas! Kenapa Mas semarah itu? Apa Mas masih menyimpan perasaan untuknya?" tanya Gintani, kesal.
"Ya Tuhan, Gin! Kenapa kamu bisa punya pikiran buruk terhadap suami kamu sendiri?"
"Maaf, Mas! Sikap Mas yang memaksa Gintan berpikiran seperti itu. Lagipula, apa yang dikatakan Kak Bram mungkin ada benarnya. Ilona menuduh Mbak Jessica yang mengirim orang-orang itu, benar kan?"
Argha mengangguk.
"Asal Mas tahu. Seharian itu, Mbak Jessica sedang bersama Gintani. Bahkan, dia hampir kehilangan nyawanya karena terjatuh ke jalan akibat berdebat dengan Celine. Gintan sendiri yang menolongnya, sampai Gintan mengalami kecelakaan. Dan Mbak Jessica, dia orang yang membawa Gintan ke rumah sakit. Dia juga yang menemani Gintan malam itu. Jadi bagaimana mungkin Mbak Jessica menyuruh preman-preman untuk menganiaya Ilona. Gintan bersamanya, Mas. Dan Gintan yakin Mbak Jessica tidak pernah menghubungi seseorang hari itu."
Argha terdiam. Apa mungkin Ilona membohongi aku?
"Ayolah, Ar! Apa kamu masih tidak percaya dengan ucapan istrimu? Aku yakin, ini cuma tipu muslihat Ilona saja. Dia pernah bilang padaku jika dia akan merebutmu dari tangan Gintani. Please, trust me!"
Be-benarkah seperti itu?
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa like, vote n komennya, ya... 🙏🤗