
"Jadi kamu di sini?"
Seketika Gintani mengerjapkan matanya saat mendengar suara yang tak asing di telinganya.
"Bang Al!" gumam Gintani.
Alex tersenyum, dia kemudian melangkahkan kakinya mendekati bangku di mana Gintani duduk. "Boleh Abang duduk?" izin Alex.
Gintani tersenyum seraya menganggukkan kepalanya. "Duduklah, Bang! Bukankah ini bangku umum?" jawab Gintani.
Alex membuka kancing jasnya. Dia kemudian mendaratkan bokongnya di kursi itu. Duduk berdampingan dengan Gintani.
"Apa kabar, Tan?" tanya Alex berbasa-basi.
"Baik, Bang," jawab Gintani, masih dengan mode menatap lurus ke arah pintu samping ballroom.
"Jadi ... dia berhasil menemukan kamu," guman Alex, lirih.
"Maksud, Abang?" tanya Gintani.
"Suamimu, Argha ... akhirnya dia berhasil juga menemukan kamu," jawab Alex.
"Dia tidak pernah mencariku, Bang! Takdir lah yang kembali mempertemukan kami hingga terjebak dalam pernikahan yang tak masuk akal ini," gumam Gintani.
"Maksud kamu?" tanya Alex, tak mengerti.
"Sudahlah, Bang! Sebaiknya, kita ganti topik pembicaraan saja! Abang apa kabar?" tanya Gintani, mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Hmm, seperti yang kamu lihat ... Abang masih sama seperti yang dulu," jawab Alex seraya menunjuk dirinya sendiri dengan dagunya.
"Ha ... ha ... ha ..., memang tidak banyak yang berubah dalam diri Abang. Masih tampan, ramah dan baik hati." ucap Gintani, teringat akan semua kebaikan mantan bosnya.
"Apakah ini pujian? Hmm ... sayangnya Abang lagi nggak punya uang recehan, Tan!" gurau Alex.
"Ha ... ha... ha... , Abang ini bisa saja!" ucap Gintani seraya menepuk pelan bahu Alex.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari, sepasang mata elang tengah menatap tajam, seolah sedang mengintai mangsanya.
Beberapa menit yang lalu, di ballroom hotel Crown.
.
.
"Selamat atas pernikahan anda, Pak Argha!" ucap seorang pria bertubuh tegap, seraya mengulurkan tangan kekarnya.
"Ah Pak Bagas, terima kasih karena sudah meluangkan waktu untuk datang," jawab Argha seraya menyambut uluran tangan rekannya.
"Selamat ya Pak Argha!" ucap Kyara, yang tak lain adalah istrinya Bagas.
"Terima kasih, Bu!" jawab Argha.
"Ngomong-ngomong, mempelai wanitanya di mana, Pak?" tanya Kyara lagi.
Argha mengedarkan pandangannya, menyadari jika istrinya memang tidak ada di sekitar pelaminan. Netranya terkunci pada adiknya, Nadhifa yang tengah berkumpul bersama kedua orang tuanya.
Setelah berpamitan kepada rekan kerjanya, Argha segera menemui adiknya.
"Kamu lihat Kak Gintan, Fa?" tanya Argha pada adiknya.
"Memangnya Gintani kemana, Nak Argha?" tanya Kakek Wira, mengernyitkan keningnya.
"Argha sendiri tidak tahu, Kek ! Tadi Argha ajak ke panggung, tapi gintan menolak. Saat Argha kembali, gintan sudah tidak ada di kursi pelaminan," jawab Argha, cemas.
"Kak Gintan lagi cari udara segar di luar. Katanya di dalam pengap," jawab Nadhifa.
"Oh, ya sudah ... Kalau begitu, biar Kakek panggilkan," ujar Kakek Wira.
"Jangan Kek, biar Argha saja yang memanggil Gintan!" cegah Argha.
"Baiklah kalau begitu, Nak," ucap Kakek Wira.
__ADS_1
Argha pun segera berlalu dari hadapan mereka.
.
.
Argha mengepalkan tangannya melihat pemandangan di bangku itu. Gelak tawa dan senyum manis merekah dari bibir istrinya. Sepertinya, Gintani tidak pernah tertawa selepas itu saat bersamanya. Percikan api cemburu pun mulai menjalari hati pria angkuh itu.
Argha melangkahkan kakinya mendekati pasangan yang sedang asyik bersenda gurau itu.
Grep.... !
Dengan cepat, dia mencekal pergelangan tangan Gintani dan menariknya dengan kuat.
"Ish...., sakit Tuan!" desis Gintani, yang merasakan sakit di pergelangan tangan yang di cekal kuat suaminya.
"Aku baru meninggalkanmu sebentar, dan kau berani-beraninya berduaan dengan pria lain, hah!" bentak Argha.
"Dia bukan pria lain. Dia Bang Alex, orang yang berjasa dalam hidupku. Apa tuan lupa? Dia juga yang menjadi perantara transaksi kita. Tuan lupa itu?" jawab Gintani lantang.
"Cukup Gintan! Jangan pernah membahas lagi masa lalu! Sekarang, kamu ikut aku! Kolegaku ingin bertemu denganmu. Dan kamu... " tlunjuk Argha kepada sahabatnya. "Jangan pernah mendekati Gintani lagi, karena sekarang, dia adalah istriku. Paham!!" teriak argha.
"Jika kamu merasa dia adalah istrimu, kamu tidak akan pernah meninggalkan dia duduk sendirian di pelaminan." jawab Alex, santai.
"Lo....!!"
"Sudah, Tuan! Kita pergi!" ajak Gintani berbalik menggenggam tangan suaminya dan menariknya hingga Argha mau tidak mau melangkahkan kakinya mengikuti Gintani.
Alex hanya menggelengkan kepalanya melihat kecemburuan yang ditunjukkan oleh sikap sahabatnya.
Aku yakin kau mencintainya Ar. Dan kau akan tersiksa jika masih mengingkari rasa cinta mu itu.
Bersambung.
Jangan lupa like vote ma komennya yaa 🙏🙂
__ADS_1