Takdir Gintani

Takdir Gintani
Terjebak Permainan Sendiri


__ADS_3

"Huh, dasar laki-laki tidak tahu malu! Berani-beraninya dia menggoda wanita lain di depan aku!"


Gintani mengepalkan tangannya. Dia merasa geram melihat ulah Argha yang menggoda wanita lain di depan matanya sendiri. Gintani lalu membuka kran air dan membasuh mukanya. Sejenak, dia menatap wajahnya di depan cermin wastafel. Gurat kekesalan terlihat jelas dari pantulan wajah itu.


"Ya Tuhan ... kenapa aku harus marah melihat sikap laki-laki brengsek itu? Bukankah aku sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi dengannya? Apa aku cemburu padanya? Tidak! Ini tidak benar Tuhan! Ini sangat tidak benar. Aku tidak cemburu pada laki-laki itu. Ini pasti karena pengaruh rasa benci yang aku miliki untuknya. Ish, kenapa dia harus hadir kembali dalam kehidupan kami?" gumam Gintani.


Gintani terus merutuki kebodohannya yang merasa kesal dengan sikap Argha. Sejenak, dia menggeleng-gelengkan kepala, mencoba mengingkari perasaannya. Saat ini, dia sendiri tidak mengerti dengan apa yang dia rasakan. Tapi entah kenapa, rasanya dia begitu kesal melihat kelakuan Argha yang dengan terang-terangan menggoda wanita lain.


.


.


.


Sementara itu di meja Argha. Alex menatap tajam ke arah Argha yang telah berani menggoda wanita lain. Alex bisa merasakan jika Gintani tengah marah, karena itu dia pergi ke toilet. Tapi sepertinya, Argha tidak menghiraukan perasaan Gintani. Jika tidak ada Putri di sini, aku pasti sudah menghajar kamu, Ar. Berani-beraninya kamu membuat Gintani terluka lagi, dengus Alex dalam hatinya.


Setelah Gintani pergi. Argha menghentikan aksinya. Dia merasa cukup puas telah sedikit membakar hati wanita yang masih sangat dicintainya itu. Argha bisa melihat jika Gintani sedang merasa cemburu dengan kedekatan yang dia ciptakan secara spontan dengan Mega. Ada baiknya sang putri mengajak Argha ke tempat ini. Jadi Argha bisa sedikit melakukan permainan untuk melihat bagaimana perasaan Gintani yang sebenarnya.


"Put, mama kamu, kok lama banget, sih?" tanya Argha yang merasa heran karena sudah lebih dari 15 menit Gintani belum kembali juga.


"Enggak tahu nih, mama ... padahal, Putri sudah lapar banget," jawab Putri.


"Ya sudah, kamu makan saja, biar Papa lihat mama kamu ke toilet, ya!" ujar Argha.


"Oke, deh Papa," jawab Putri sambil menempelkan ujung jari telunjuk dan ibu jarinya.


Argha tersenyum. "Aku susul Gintani dulu, ya!" pamit Argha kepada Mega dan Alex.


Mega mengangguk, sedangkan Alex, dia hanya menatap jijik pada sikap Argha yang sok cari kesempatan.


Tiba di Koridor toilet, Argha melihat Gintani baru saja keluar dari toilet wanita.


"Kok, lama Gin?" tanya Argha.


Gintani hanya menatap jengah kepada laki-laki yang tengah berdiri di ujung koridor itu.

__ADS_1


Argha berlari mendekati Gintani. "Aku bertanya sama kamu, kenapa kamu lama sekali pergi ke toiletnya?" Argha kembali bertanya.


"Bukan urusanmu!" jawab Gintani, dingin.


"Ayolah, Gin ... jangan seperti ini! Jangan bilang, kalau kamu sedang cemburu padaku. Benarkah dugaanku?" tanya Argha menggoda Gintani.


Gintani hanya mendengar kesal. "Jangan kege'eran kamu!" sarkas Gintani.


Argha tertawa renyah melihat wajah Gintani yang memerah. Seketika dia menyambar tangan Gintani dan terus berjalan mendekati Gintani hingga gintani mundur beberapa langkah.


Bugh!


Tanpa sadar punggung Gintani telah menempel di dinding koridor. Tangan kiri Argha mengusap lembut pipi Gintani lalu memegang dagunya.


"Apa kamu tahu Gin, aku begitu merindukan saat-saat di mana kita bisa berdekatan seperti ini," ucap Argha dengan napas memburu menahan hasratnya.


"Lepaskan Gintan, Mas! Ini tempat umum, seseorang bisa saja memergoki kita di sini," ucap Gintani menahan napasnya.


"Jadi, boleh aku lakukan jika kita berada di tempat tertutup?" Argha menggoda Gintani seraya mendekatkan wajahnya.


"Aww!" Argha terkejut hingga dia mundur beberapa langkah. Dia kemudian berjongkok, sedikit meringis saat sang perkutut terasa sakit.


"Ish, tega kamu, Gin. Bagaimana kalau telurnya pecah?" umpat Argha menahan rasa ngilu di sekitar adik kecilnya.


"Syukurin! Biar Gintan goreng sekalian itu telur!" teriak Gintani sambil terus berlari ke luar koridor toilet.


Masih menahan sakit, Argha tersenyum lebar melihat tingkah Gintani. "Awal yang cukup bagus," gumam Argha. Dia lalu membenahi jasnya untuk kemudian bergabung kembali ke meja makan.


.


.


.


"Kenapa Papa malah ikut-ikutan ngilang, sih?" tanya Putri yang heran melihat Argha baru kembali setelah beberapa menit.

__ADS_1


"Maaf Put, tadi ada seorang wanita yang ingin menendang burung perkutut. Karena kasihan, ya Papa usir dulu wanita itu," ucap Argha sambil melirik ke arah Gintani.


"Ih, jahat banget ya, tante itu. Burung perkutut, 'kan binatang yang kecil dan lucu. Kok mau disakiti, sih. Memangnya burungnya punya salah apa?" ucap Putri dengan polosnya.


Mega mengedarkan pandangannya. Perasaan, aku enggak memelihara burung perkutut, kok. Kenapa bisa ada burung perkutut di tempat ini?" ujar Mega. "Sebentar ya Ar, aku mau suruh pegawaiku untuk menangkap burung perkutut itu," ucap Mega.


"Sudah, tidak apa-apa Mbak Mega. Burung perkututnya sudah terbang kesakitan, kok. Tapi mungkin Mbak Mega harus mencari sarangnya dan memecahkan telur-telur perkutut itu, agar tidak beranak-pinak," ucap Gintani menatap tajam ke arah Argha.


Ekspresi wajah Argha langsung meringis ngilu mendengar ucapan Gintani tentang memecahkan telur. Seketika dia mengingat kejadian beberapa menit yang lalu di lorong koridor. Tanpa sadar, Argha mengelus adik kecilnya yang sedang terlelap di bawah.


Alex yang melihat gelagat Gintani dan Argha, langsung paham dengan perkataan mereka yang tengah saling sindir.


Tiba-tiba saja Mega menggeser bantal lesehannya mendekati Argha. Dia kemudian mengambil makanan yang berada cukup jauh darinya.


"Ayo dicicipi lagi makanannya, Ar!" ucap Mega mencondongkan setengah badannya untuk mengambil makanan yang berada di depan Argha hingga salah satu bukit kembarnya menyentuh wajah Argha.


Argha sangat terkejut melihat kelancangan Mega. Jika saja di sini tidak ada anaknya, mungkin Argha sudah menghardik wanita itu.


Mega menyalahartikan sikap diamnya Argha. Karena itu, dia semakin berani menggoda Argha dengan memperlihatkan belahan bukit kembarnya di depan mata Argha.


"Dicoba ya, Ar. Sini, aku suapi!" ucap Mega mengulurkan tangannya hendak menyuapi Argha.


"Uhuh! Uhuk!" Argha tersedak melihat keberanian Mega dalam memperlihatkan bagian tubuh sensitifnya terhadap laki-laki.


"Kamu kenapa sih, Ar? Minum dulu!" kata Mega sambil memberikan segelas air kepada Argha.


Argha menerimanya dan langsung mereguk minuman tersebut. Sungguh dia dibuat salah tingkah dengan perbuatan Mega yang terlalu berani. Mungkin ini yang namanya senjata makan tuan. Argha kini terjebak dengan permainannya sendiri.


Argha menatap Gintani dan Alex bergantian. Berharap jika salah satu dari mereka bisa menyelamatkan dia dari situasi ini. Namun, kedua orang itu hanya mengalihkan pandangannya, berpura-pura tidak tahu.


Rasain kamu, Mas!


Bersambung


Jangan lupa like, vote n komennya yaa 🙏🤗

__ADS_1


__ADS_2