Takdir Gintani

Takdir Gintani
Hot Rain


__ADS_3

...Area 21+...


...Mohon bijak dalam membaca!...


...Belum cukup umur? Mohon skip!...


"Gin...!" panggil Argha.


Gintani menghentikan gerakannya. Seketika dia membalikkan badan begitu mendengar seseorang memanggil namanya.


"Mas...! Sudah pulang? Katanya mau lembur?" tanya Gintani, menatap heran suaminya yang telah pulang di jam segini.


Bukannya menjawab, Argha malah terpana melihat lekukan tubuh Gintani yang tergambar jelas di hadapannya. Baju gamis berbahan chiffon tipis yang dikenakan Gintani, tampak menyatu dengan tubuhnya, sehingga menampilkan silhouette tubuh yang sangat indah. Argha menelan salivanya dan berusaha untuk mengatur detak jantungnya yang berpacu dengan cepat.


"Mas...! Kok melamun?" tanya Gintani lagi.


"Eh, aku ... aku pulang karena mencemaskan keadaan kamu. Tapi ternyata, kamu malah asyik bermain hujan," jawab Argha berusaha menutupi kegugupannya.


"Mencemaskan Gintan? Kenapa?" tanya Gintani dengan wajah polosnya.


"Bukankah kamu takut petir? Jadi Mas buru-buru pulang, karena cemas meninggalkan kamu sendirian di saat hujan begini," jawab Argha.


"Ha...ha...ha... Gintan memang takut petir, Mas!Tapi ... Gintan suka hujan kok, Mas!" lanjutnya.


"Ya sudah, berhenti main hujan-hujanannya! Nanti kamu bisa masuk angin," ujar Argha sedikit berteriak, karena hujan semakin deras.


"Sebentar lagi, Mas! Gintan belum puas! Ayo sini Mas, kita main hujan-hujanan!" ajak Gintani.


"Ogah! Aku masih waras ya, Gin! Aku bukan bocah kek kamu!" jawab Argha.


Byurrrr.....


Tiba-tiba, Gintani menyemburkan genangan air yang dari tadi ditampung di tangannya ke arah Argha.


"Eh, Gin! Kamu gi_"


"Ha... ha...ha...."


Umpatan Argha terpotong kala melihat gelak tawa Gintani. Karena merasa gemas, tanpa sadar Argha mengayunkan langkahnya mendekati istrinya. Argha mengambil air yang tergenang di dekat saluran pembuangan. Dia kemudian mencipratkan air tersebut ke wajah istrinya.


"Rasakan ini!" teriak Argha.


Gintani terkejut, dia berlari untuk menghindari cipratan air yang dilemparkan suaminya. Tanpa sadar, mereka seperti sepasang bocah yang tengah asyik bermain hujan-hujanan


"Kena kamu!" ujar Argha seraya menangkap tubuh Gintani dari belakang.


"Aha...ha... ha..., lepas Mas! Aku capek!" teriak Gintani. Dia meronta berusaha melepaskan dirinya dari dekapan Argha.

__ADS_1


"Enak saja... aku tidak akan melepaskan kamu sebelum aku menghukummu!" Argha tak kalah berteriak. Derasnya air hujan, menenggelamkan suaranya.


Argha membalikkan tubuh Gintani hingga mereka saling berhadapan.


Wajah mungil itu semakin tampak cantik di bawah kucuran air hujan. Argha benar-benar tak mampu lagi menahan diri. Dia mulai mendekat dan mencium bibir mungil Gintani yang mulai tampak kebiruan. Semakin lama, ciuman itu semakin dalam. Argha menekan tubuh Gintani hingga punggung istrinya menempel di dinding.


Argha melepaskan pagutannya untuk meraup oksigen lebih banyak lagi. Sejurus kemudian, dia kembali menyesap bibir tipis itu. Argha mulai menyapu bibir itu dengan indera perasanya. Tangan Argha mulai membuka hijab Gintani dan membiarkan terjatuh begitu saja.


Argha melepaskan ciumannya. Dia membalikkan tubuh Gintani hingga membelakanginya kembali.


"Gin....!" bisik Argha di telinga Gintani.


"I... iya, Mas..!" jawab Gintani seraya memejamkan mata. Darahnya mulai berdesir merasakan hangat hembusan napas suaminya. Tubuh Gintani terasa panas di antara dinginnya kucuran air hujan.


Indera perasa milik Argha mulai menari-nari di belakang telinga Gintani. Sesekali Argha memberikan gigitan kecil di daun telinga istrinya.


Gintani mulai mengeluarkan suara-suara aneh yang mengalun merdu di telinga Argha.


"Mas... Ishh...."


"Iya, Gin...!"


Tangan Argha mulai membuka resleting belakang baju Gintani sehingga menampakkan punggung Gintani yang putih mulus. Indera perasanya mulai turun menyusuri leher Gintani. Kedua tangan Argha menyibakkan pakaian itu sampai dada Gintani.


Gintani tersadar. Spontan dia memegang bajunya yang hampir luruh.


"Aku mohon, Gin! Biarkan semuanya mengalir seperti apa yang kita inginkan. Aku menginginkanmu, Gin! Aku menginginkan kamu untuk memasuki hatiku," ucap Argha di sela-sela ciumannya.


"Ta... Tapi mas! Per_"


"Jangan ingatkan aku pada semua kebodohanku! Kita akan mencobanya Gin! Kita sama-sama belajar untuk saling memiliki. Aku mohon...!"


Argha memotong kalimat Gintani. Tangan dan bibirnya semakin gencar bergerilya di sekujur tubuh Gintani.


Pada akhirnya, Gintani pasrah dengan perlakuan suaminya. Dia hanya mampu menggigit bibir bawahnya saat Argha melepaskan satu persatu helaian kain yang menutupi tubuhnya.


Kabut gairah mulai menyelimuti mata Argha. Puas memainkan indera perasanya di sekitar punggung Gintani, Argha berjongkok. Dia mulai memberikan kecupan demi kecupan pada kedua bongkahan padat milik Gintani.


Argha kembali membalikkan tubuh Gintani. Kini, bukit yang dipenuhi rumput kehitaman itu tampak jelas di hadapannya. Argha mulai memberikan kecupan penuh kelembutan di sekitar bukit. Sesekali, dia menggigit kecil kedua lembah di bukit itu.


"Mas... Isshhh...."


Gintani tak mampu lagi menahan kenikmatan yang diberikan suaminya. Kembali dia menggigit bibir bawah agar tidak mengeluarkan suara-suara aneh. Gintani hanya mampu menjambak pelan rambut suaminya saat kenikmatan itu semakin menjalari tubuhnya.


Gintani merenggangkan kedua kakinya saat merasakan indera perasa Argha membelah kedua lembah miliknya. Kedua tangan Gintani menempel kuat di dinding. Dia pun menengadahkan wajahnya, menikmati hisapan-hisapan kecil yang diberikan Argha pada benda pipih yang terselip di antara kedua lembahnya.


"Mas... Gi... Gintan mau pipis...." lirih Gintani.

__ADS_1


Argha menghentikan aksinya.


"Keluarkan, Sayang!" titahnya seraya kembali menyusuri belahan lembah itu.


"Ma... Mas.... Aah... Gi... Gintan nggak kuat... Aah..."


Argha tersenyum saat semburan lava hangat berwarna bening mulai menyentuh indera perasanya. Sejenak, Argha menarik wajahnya dari himpitan kedua pangkal paha itu. Argha menyeka bibirnya, lalu berdiri berhadapan dengan istrinya.


Argha menatap Gintani penuh damba. Telunjuknya menyapu wajah Gintani begitu lembut. "Gin... boleh, kan?" pinta Argha


"Mas... Gi... Gintan belum solat Asar," ucap Gintani polos.


Argha semakin melebarkan senyumannya. "Kita berjamaah di sini dulu ya, Gin? Setelah itu kita berjamaah di mushola," jawab Argha


Gintani mengangguk.


Tangan Argha mengangkat kaki kanan Gintani dan menaruhnya di atas paha kirinya. Perlahan Argha mulai membenamkan Perkututnya memasuki goa gelap penuh kenikmatan.


"Ishhh....!"


Gintani meringis merasakan sakit yang luar biasa. Ini kedua kalinya Gintani merasakan goanya diterobos masuk sang Perkutut yang perkasa.


"Sakit....?" tanya Argha.


Gintani mengangguk.


"Tahan ya, Gin!" pinta Argha.


Kembali Gintani mengangguk.


Argha mencoba menerobos goa itu dengan penuh penghayatan. Dirinya tidak ingin melewatkan momen-momen berharga saat mengecap nikmatnya syurga dunia.


"Aahhh...!" teriak Gintani saat sang Perkutut telah sempurna memasuki goa miliknya.


Seketika Argha membungkam mulut Gintani dengan bibirnya. Gerakan berirama mulai tercipta di antara kedua insan yang tengah memadu kasih diiringi kucuran air hujan yang jatuh ke bumi. Alam pun menjadi saksi atas kisah yang sebenarnya telah dimulai sejak lama.


"Apa yang kamu rasakan, Sayang?" bisik Argha di telinga Gintani.


"Hot rain," jawab Gintani tersipu malu.


Bersambung....


Deg... deg... derrr....


Semoga lolos.... semoga lolos....


Batin othor, harap-harap cemas...

__ADS_1


Jangan lupa jejaknya yaaa... 🙏🤗


__ADS_2