
"Apa ini karena sebuah kesucian ?" tanya tuan Jaya.
Prangg...!!
Cangkir yang sedang dipegang oleh kakek Wira seketika terlepas begitu saja. Kakek Wira sangat terkejut mendengar kalimat yang diucapkan tamunya. Namun dia mencoba berusaha menenangkan hatinya.
Dia terus melangkahkan kakinya menuju dapur. Kakek Wira mengambil pengki dan sapu. Tak lama kemudian, dia datang kembali untuk membersihkan lantai dari pecahan cangkirnya.
Tak ingin mendapatkan penolakan lagi, tuan Jaya segera bangkit dan menghampiri kakek Wira yang sedang membersihkan pecahan cangkirnya di lantai.
"Aku mohon yah, kita harus bicara !" pinta tuan Jaya.
"Sudahlah nak Ami, ayah mohon jangan terlalu ikut campur dengan permasalahan yang ada dalam keluarga ayah !" jawab lemah kakek Wira.
"Tidak bisa ayah ! Aku berhak ikut campur, bahkan aku sangat berhak untuk memutuskan kehidupan Gintani selanjutnya !" ucap tegas tuan Jaya.
Kakek Wira semakin terkejut mendengar ucapan tuan Jaya. Namun dia enggan untuk membahasnya lebih jauh. Bagaimanapun juga, ini tentang aib cucunya. Sudah selayaknya kakek Wira menutup rapat aib ini.
"Ayah tidak mengerti apa yang kamu katakan. Tapi jujur saja, ayah tidak ingin mengerti. Sudahlah nak Ami, jangan membuang waktumu lagi ! Ayah tidak mungkin mengatakan hal yang buruk tentang Gintan. Bagaimanapun juga, semua ini salah ayah yang tak bisa melindunginya. Satu yang bisa ayah katakan, cucu ayah bukanlah jodoh terbaik untuk anakmu. Ayah mohon, pergilah !" ujar kakek Wira, memohon.
"Ayah, izinkan Argha menikah dengan Gintani. Dia harus bertanggung jawab, ayah. Dia harus mempertanggungjawabkan semua perbuatannya !"
"Apa maksud mu, nak ?" kakek Wira kembali terkejut dengan ucapan tuan Jaya yang penuh teka-teki.
Tuan Jaya hanya menundukkan wajahnya. Dia merasa malu atas semua perbuatan anaknya.
Memahami ada hal yang disembunyikan, akhirnya kakek Wira kembali mengajak tamunya untuk duduk.
__ADS_1
"Ada apa ini nak Ami ? Apa kejadian yang menimpa cucuku ada hubungannya dengan anakmu ?" tanya kakek Wira.
"Maafkan aku ayah ! Aku memang bukan orang tua yang baik. Sejak kematian istriku, aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku, hingga aku mengabaikan Argha. Ku pikir dengan menikah lagi, aku bisa memberikan kasih sayang seorang ibu untuk Argha. Tapi aku salah, istri kedua ku tidak pernah menyayangi Argha dengan tulus. Karena itulah Argha tumbuh menjadi seorang pria yang arogan."
"Lalu, hubungannya dengan cucuku?"
"Ayah..., aku benar-benar tidak tahu jika Argha akan bertindak serendah itu. Dia sudah berani memanfaatkan kelemahan Gintani. Bertahun-tahun aku mencari Gintani, yah! Aku ingin meminta maaf atas semua perbuatan bejat anakku ! Aku mencari Gintan agar aku bisa menjadikannya sebagai menantuku. Aku tidak bisa membiarkan Argha berbuat semena-mena terhadap Gintan. Aku mohon yah, restui niatku untuk menjodohkan mereka ! Dan ampuni kesalahan anakku !" pinta tuan Jaya seraya duduk bersimpuh di hadapan kakek Wira.
Kakek Wira hanya bisa meremas dadanya yang mulai terasa sakit. Dia sendiri bingung harus berbuat apa. Dia tidak ingin melihat cucunya harus menanggung kesalahannya sendirian. Tapi dia juga tidak berhak menuntut Argha bertanggung jawab. Gintani bilang, kejadian itu hanya sebuah transaksi jual beli. Bagaimana jika laki-laki itu memang tidak ingin bertanggung jawab. Haruskah dia mengorbankan hidup Gintani bersama seorang pria yang tidak pernah mencintainya ?
Untuk sesaat, kakek Wira hanya bisa terdiam.
"Nak, cucuku bilang, dia tidak pernah mengenal anakmu. Dan kejadian malam itu, dianggapnya sebagai sebuah transaksi jual beli. Jadi, bagaimana mungkin aku bisa menuntut anakmu untuk menikahi cucuku. Meskipun terasa sakit, tapi aku telah mengikhlaskan nya. Biarkan cucuku hidup sesuai dengan jalan yang dipilihnya. Aku tidak bisa menikahkan Gintan dengan lelaki yang tidak pernah mencintainya. Sekalipun lelaki itu adalah orang yang telah merenggut masa depannya. Tapi aku sadar jika semua itu bukan sepenuhnya kesalahan anakmu."
"Tidak ayah ! Aku tidak akan membiarkan anakku bersikap pengecut seperti itu. Bagaimanapun juga, Argha harus menikahi Gintani ! Dia harus bertanggung jawab ! Aku mohon, jangan menolak lagi ayah !"
"Cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu, ayah !" jawab tuan Jaya.
"Tapi, nak...?"
"Ayah tenang saja. Aku tahu apa yang harus aku lakukan. Saat ini aku hanya butuh bantuan ayah untuk meyakinkan Gintani agar mau menerima perjodohan ini. Ayah setuju kan ?"
"Terserah kamu saja, nak ! Tapi ayah tidak bisa berjanji jika ini akan berhasil. Gintani bukan orang yang mudah untuk dibujuk. Dia sangat mewarisi sifat ayahnya yang selalu teguh pada pendiriannya sendiri."
"Aku tahu itu Ayah. Karena itu aku semakin yakin jika Gintani adalah calon istri yang terbaik untuk Argha."
Setelah pembahasan tentang perjodohan selesai. Tuan Jaya pun pamit undur diri, karena besok dia harus segera kembali ke Jakarta.
__ADS_1
🍀🍀🍀
Begitu tiba di Jakarta, tuan Jaya segera menghubungi anaknya untuk membicarakan tentang rencana perjodohan ini. Malam ini, tuan Jaya meminta anaknya untuk makan malam bersama.
"Apa Argha sudah datang, Fa ?" tanya tuan Jaya kepada putrinya yang sedang duduk seraya menonton film kartun kesukaannya.
"Belum pah, mungkin sebentar lagi !" jawab Nadhifa seraya melirik jam tangannya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 18.45. Namun orang yang diundang makan malam belum juga menampakkan batang hidungnya.
"Kenapa kakakmu lama sekali, Fa ?"
"Sabar saja, pah ! Mungkin kak Argha kejebak macet." jawab Nadhifa, berusaha menenangkan ayahnya.
"Mungkin juga !" ucap tuan Jaya seraya duduk di samping putrinya.
"Memangnya ada apa sih pah ? Tumben papah ngundang kak Argha makan di sini !" ujar Nadhifa penuh selidik.
"Idih, anak kecil dilarang kepo ya !" ujar tuan Jaya seraya memijit pelan hidung putrinya.
"Yeaay papah ! Kak Argha kan kakaknya Nadhifa, wajar lah kalau Dhifa kepo !" rungut Nadhifa manja.
"Ayah ingin membicarakan tentang perjodohan kak Argha dengan calon kakak iparmu." jawab tuan Jaya penuh semangat.
"Uhuk... Uhuk...!"
Bersambung....
__ADS_1
Hiatus dulu ya.... 🙏🙏🙏