Takdir Gintani

Takdir Gintani
Ancaman


__ADS_3

Gintani membersihkan dirinya di kamar mandi begitu tiba di rumah. Sedangkan Argha pergi ke dapur, membuat susu panas untuk menghangatkan tubuh Gintani. Saat tiba di kamar, Argha melihat Gintani tengah mengeringkan rambutnya. Darahnya berdesir begitu melihat tengkuk mulus milik istrinya. Namun Argha mencoba menahan diri. Dia tahu jika Gintani masih berada dalam mode diam saat ini.


"Diminum susunya, Gin. Mumpung masih hangat," ucap Argha sambil menyodorkan segelas susu coklat ke arah Gintani.


Gintani menerima susu buatan suaminya. Perlahan dia mulai mereguknya. Rasa hangat menjalari tubuhnya yang sempat kedinginan. Setelah manaruh gelasnya, Gintani pun duduk berselimut di atas ranjang. Kedua kakinya terasa dingin dan membeku. Dia kemudian membuka laci nakas dan mengambil minyak kayu putih untuk menggosok kakinya.


"Mas bantu, ya!" ucap Argha mengambil minyak kayu putih itu dari tangan Gintani.


Gintani tak menolak, dia membiarkan Argha menggosok-gosok kakinya agar terasa hangat. Gintani menyandarkan punggungnya di dashboard ranjang. Dia kemudian memejamkan matanya. Rasanya benar-benar melelahkan.


"Apa kamu lapar?" tanya Argha.


Gintani menggelengkan kepalanya.


"Istirahatlah! Mas mandi dulu," ucap Argha seraya membetulkan selimut yang membalut tubuh sang istri.


Gintani diam. Dia sama sekali enggan menyahuti ucapan suaminya. Dia pun membiarkan Argha pergi ke kamar mandi. Rasa dingin dan lelah benar-benar membuat matanya mengantuk. Sejurus kemudian, dia mulai terlelap untuk merangkai mimpi.


🍀🍀🍀


Dua hari telah berlalu. Ilona sudah diperkenankan untuk pulang. Menurut dokter yang merawatnya, kondisi Ilona sudah cukup stabil. Dokter Richard tak pernah menyerah untuk membujuk Ilona agar ikut bersamanya kembali ke Amerika. Namun Ilona bersikukuh untuk tetap tinggal di negaranya. Sekali pun dia harus tinggal seorang diri di negara ini.


Ilona melajukan kendaraannya menuju rumah sahabatnya. Hari ini mereka memiliki janji temu dengan seorang lelaki yang dulu ditemuinya di sebuah rumah tua. Ya, siapa lagi kalau bukan Nando.


Tin-tin!


Ilona membunyikan klakson mobilnya, tak lama kemudian seorang wanita cantik berambut sebahu keluar dari rumah.


"Apa kamu tidak ingin masuk dulu, Tik?" tanya Celine, menunduk di depan pintu kemudi.


"Sudah siang, sebaiknya kita segera pergi. Aku sudah tidak punya banyak waktu lagi," jawab Ilona ketus.


"Baiklah, aku ambil tas dulu. Tunggu sebentar!" Celine kembali ke dalam rumahnya untuk mengambil tas. Tak lama kemudian, dia pun datang dan langsung memasuki mobil Ilona.

__ADS_1


Ilona kembali melajukan mobilnya membelah jalanan ibu kota. Hari ini hari minggu, volume kendaraan pun tidak sepadat di hari kerja.


Tiga puluh lima menit kemudian, mereka tiba di sebuah kafe. Setelah memarkirkan mobilnya, Ilona dan Celine menuju lantai atas. Mereka memasuki sebuah private room yang memang sudah dipesan sebelumnya.


Ceklek!


Pintu terbuka, tampak laki-laki itu tengah duduk bersilang kaki seraya mengepulkan asap rokoknya.


"Hmm, tumben datang tepat waktu," sindir Ilona pada laki-laki itu.


Nando hanya menatap Ilona sejenak, kemudian dia kembali mengalihkan pandangannya ke depan jendela.


"Kau tuli, hah? Sampai tidak bisa menjawab ucapanku!" hardik Ilona.


Nando menghela napasnya. "Katakan, apa yang lo inginkan dari gue!" ucap Nando tak ingin berbasa-basi.


Ilona menarik salah satu kursi, sejurus kemudian dia menduduki kursi tersebut. "Sudah sejauh mana realita dari rencanamu?" tanya Ilona, langsung pada intinya.


Nando merogoh saku jaketnya. Dia kemudian mengeluarkan amplop berwarna coklat itu. "Sorry, gue nggak bisa lanjutin perintah kalian," ucap Nando, menggeser amplop itu ke hadapan Ilona.


"Ish, apa-apaan ini? Kenapa semuanya jadi begini?" ucap Ilona, tak terima dengan kekalahan Nando sebelum berperang.


"Apa kamu merasa iba padanya? Atau kamu merasa takut dengan kekuatan Argha?" tanya sinis Ilona yang mulai kembali menyepelekan kemampuan Nando.


Brak!


Ilona dan Celine terkejut melihat Nando murka dan menggebrak meja. "Dengar ya, gue nggak pernah takut terhadap siapa pun!" ucap Nando penuh ketegasan.


"Kalau begitu, buktikan! Buktikan bahwa kamu memang bukan seorang pengecut!" teriak Ilona.


"Kau!" Nando mendekati Ilona. Telunjuknya mengarah pada hidung Ilona. Gemeletuk giginya terdengar jelas menahan amarah yang mulai membuncah.


"Jangan pernah berani melawanku!" ucap Ilona menepis kuat telunjuk Nando. Ilona melemparkan selembar cek dengan nominal yang cukup fantastis. "Ambil ini! Aku rasa itu cukup untuk pengobatan anakmu. Jangan kamu kira aku tidak tahu kesusahan kamu selama ini," ucap Ilona dengan nada dingin.

__ADS_1


"Dengar Tuan Nando yang terhormat, sekali kamu menerima tawaranku, maka kamu tidak akan pernah bisa bebas begitu saja. Akan aku lenyapkan semua orang yang kamu sayang jika sampai kamu tidak menunaikan tugasmu. Camkan itu!" ancam Ilona.


Sebuah ancaman yang membuat bulu kuduk Nando seketika berdiri mendengarnya. Memang benar apa yang dikatakan Celine sang mantan kekasih. Ilona bukan wanita sembarangan. Dia sangat kejam, dan dia mampu menghalalkan berbagai macam cara hanya untuk mencapai tujuannya. "Gila, benar-benar sangat gila!" gerutu Nando seraya memungut cek itu.


Nando kembali menyambar amplop yang tergeletak di meja. Entah apa yang akan dia lakukan. Satu-satunya yang dia inginkan hanyalah terlepas daei jeratan wanita iblis itu.


🍀🍀🍀


Setelah mengetahui kebenarannya, Jessica akhirnya memutuskan untuk ikut bersama ibu kandungnya. Kehangatan yang diberikan seorang ayah sambung, membuat Jessica merasa nyaman. Hingga akhirnya, dia memutuskan untuk menerima tawaran Umi Kulsum.


Hari ini, dibantu Bik Sumi, Jessica mulai mengemasi barang-barangnya. Rencananya, besok mereka akan pergi ke kampung halaman ustadz Hasan. Sebuah kampung yang sudah dijadikan tempat tinggal yang baru oleh Umi Kulsum.


"Sudah selesai membereskan pakaiannya, Nak?" tanya Umi Kulsum yang tiba-tiba sudah berdiri di ambang pintu kamar Jessica.


"Eh, sudah Umi. Ini hanya tinggal memasukkan foto-fito papa sama mama saja."


"Ah, syukurlah."


"Umi, apa Jessi boleh minta izin keluar hari ini?"


"Kamu mau pergi ke mana?"


"Jessi ingin menemui Gintani. Jessi ingin berpamitan padanya."


"Ah, tentu saja boleh. Apa bisa Umi temani? Umi sendiri sudah sangat lama tidak bertemu dengan Gintani. Umi merindukannya."


"Sebaiknya jangan, Mi." Tiba-tiba ucapan ustadz Hasan mengejutkan keduanya.


"Loh, kenapa Abi?" tanya Umi Kulsum yang merasa heran mendengar suaminya melarang dia untuk menemui Gintani.


"Umi, Gintani pasti akan merasa canggung bertemu Umi. Apa Umi sudah lupa dengan kejadian dulu? Abi nggak mau Gintani kembali merasa bersalah. Ya, memang Tuhan yang telah mengatur jodoh. Tapi Abi tahu sifat dan watak Gintania. Abi nggak mau, dia teringat kembali pada masa yang telah memberikan dia jarak dengan kita," jawab ustadz Hasan menjelaskan.


"Hmm, Umi mengerti, Abi."

__ADS_1


Bersambung


Jangan lupa like, vote n komennya, yaa


__ADS_2