
Argha mulai merasa khawatir saat mengetahui istrinya belum pulang. Argha sudah tidak bisa berkonsentrasi lagi dalam bekerja. Akhirnya dia memutuskan untuk menghentikan lemburnya.
"Kita lanjutkan besok, Bram!" ucap Argha pada asistennya.
Bram menaikan alisnya, "Kenapa?" tanya Bram, heran.
"Aku mencemaskan Gintani. Mama bilang, dia belum pulang ke rumah," jawab Argha.
Bram melirik jam tangannya. "Selarut ini?"
Argha mengangguk. "Ya, tidak biasanya dia seperti ini. Aku khawatir terjadi sesuatu padanya," jawab Argha.
Bram menutup laptopnya, dia kemudian membereskan kertas-kertas yang berserakan di atas meja. "Ayo, aku antar kamu mencarinya!" ajak Bram.
"Papa ikut, Nak!"
Bram dan Argha terkejut mendapati Tuan Jaya telah berdiri di depan pintu.
"Papa? Kapan Papa datang?" tanya Argha, heran.
"Baru saja. Papa hendak pulang, tapi dalam perjalanan pulang, Papa mendapatkan telepon dari Rosma, katanya Gintani belum pulang. Karena itu Papa meminta Jamal untuk membelokkan mobilnya ke kantor kamu," ucap Tuan Jaya.
"Ya, sudah. Ayo kita cari dia sebelum terlalu malam!" ajak Pak Jamal.
Argha dan Bram mengangguk. Mereka pun pergi untuk melakukan pencarian terhadap Gintani.
"Apa kamu sudah menghubungi ponselnya?" tanya Tuan Jaya pada anaknya.
"Sudah, Pa. Tapi nomornya tidak aktif," jawab Argha.
Tuan Jaya hanya manggut-manggut. Tak lama kemudian, pintu lift terbuka. Bram dan ayahnya segera mengambil mobil masing-masing.
"Kita ke apartemen Kevin dulu, Bram?" perintah Argha.
"Baik, Bos! Tak ingin berbasa-basi, Bram melajukan mobilnya menuju apartemen salah satu sahabatnya.
Perjalanan ke apartemen Kevin hanya membutuhkan waktu sekitar empat puluh menit. Tiba di sana, dengan langkah lebarnya Argha langsung menaiki lift dan menekan nomor lantai apartemen sahabatnya. Argha menekan bel apartemen begitu tiba di depan pintu apartemen Kevin. Lima menit kemudian, pintu apartemen terbuka.
Ar, ngapain malam-malam kemari?" tanya Kevin yang masih menguap karena mengantuk.
"Itu karena lo nggak angkat telepon gue," gerutu Argha kesal.
"Sorry, ar ... ketiduran," jawab Kevin cengengesan.
"Ya sudah, cepat berikan alamat pesta kalian tadi siang!" pinta Argha.
"Lah, mau ngapain?" tanya Kevin, heran.
__ADS_1
"Bini gue belum pulang, gue mau ngecek ke sana." Argha menjawab pertanyaan Kevin.
"Ish, nggak mungkin kakak ipar belum pulang, orang tadi dia pulang duluan, kok," jawab Kevin.
Argha makin gusar mendengar jawaban Kevin. "Ya sudah, cepat berikan alamatnya!" pinta Argha.
"Sebentar!" Kevin masuk ke dalam, tak lama kemudian dia keluar lagi dengan secarik kertas di tangannya. "Nih!" Kevin menyodorkan kertas itu kepada Argha.
Setelah menerima alamat dari Kevin, Argha segera berlari menuju mobilnya.
"Gempita Resto N Hotel, Bram!" ucap Argha seraya menunjukkan alamat yang diberikan Kevin.
"Di tempat itu?" tanya Bram.
Argha mengangguk.
"Oke." Bram menginjak pedal gasnya. Tak lama kemudian, mobil pun melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi. Jalanan yang cukup sepi membuat mereka tiba di tempat hanya dalam waktu setengah jam.
"Benarkah si curut mengadakan pesta di tempat seperti ini?" tanya Bram kepada Argha.
Argha hanya menggedikkan bahunya.
"Ish, kenapa tempatnya seperti sebuah club malam?" tanya Bram lagi begitu mereka memasuki tempat itu.
"Entah apa yang merasuki pikiran si curut sehingga dia ngajak bini gue ke tempat seperti ini," umpat Argha dengan kesalnya.
"Coba kita tanyakan pelayan saja," usul Bram.
"Permisi Mbak, apa benar tadi siang ada sebuah acara pesta di tempat ini. Kalau tidak salah, yang booking tempat namanya Kevin, seorang foto model," tanya Argha pada pelayan itu.
"Ah, ya benar. Tapi maaf, Mas. Pestanya sudah berakhir," jawab pelayan itu.
"Oh, ya. Kapan?"
"Tadi, menjelang magrib."
"Apa Mbak melihat gadis ini di pesta itu?" Argha mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto Gintani pada pelayan itu.
"Wanita ini, aku lihat tadi sore dia memasuki salah satu kamar di atas."
Deg-deg-deg!
Jantung Argha berpacu dengan cepat saat mendengar penuturan pelayan itu.
"Sendirian?" tanya Bram.
"Tidak. Dia bersama seorang pria dan se–"
__ADS_1
Argha berlari menuju tangga yang menghubungkan ke lantai atas.
"Hey Mas! Ih, kok main pergi saja," gerutu pelayan itu.
Seperti orang kesetanan, Argha membuka pintu kamar satu per satu. Tentu saja dengan kekuasaan yang dia miliki, bukan hal yang sulit bagi Argha untuk mendapatkan semua kunci duplikat yang ada di hotel itu. Semua kamar telah dia buka, beberapa di antaranya terdapat penghuni yang sedang memadu kasih. Argha semakin geram dibuatnya. Hingga kamar terakhir,...
Brakk!
Argha menendang pintu kamar itu sekuat tenaga. Engsel pintu rusak dan mengakibatkan pintu terbuka dengan sangat lebar. Mulut Argha terbuka lebar saat matanya menatap wajah yang tak asing sedang terlelap dalam pelukan seorang pria asing.
"Gintani!" teriak Argha.
Suara Argha menggelegar di ruangan itu hingga membangunkan kedua insan yang sedang terlelap.
Gintani mengerjapkan matanya. "Eh Mas, sudah pulang?" tanya Gintani yang belum menyadari keadaan.
"Apa-apaan ini Gintani?" tanya Argha, dingin.
"Ada apa, Mas? Kenapa? Ish...." Gintani mencoba bangun, namun dia meringis saat merasakan sakit di kepalanya.
"Siapa sih, berisik banget." Tiba-tiba suara serak orang bangun tidur mengagetkan Gintani.
"Astaghfirullah hal adzim!" pekik Gintani. "Kau? sedang apa kau di ru–"
Gintani mengedarkan pandangannya, "Tunggu! Ini bukan rumahku. Di mana aku? Mas, di mana kita?" tanya Gintani keheranan. Saat dia hendak bangun, dia pun baru menyadari jika tubuhnya tak mengenakan sehelai benang pun. "Astaghfirullah! Apa yang terjadi padaku? Mas, kenapa aku bisa sampai begini?" teriak Gintani.
"Cukup Gintan! Jangan pernah bersandiwara lagi di hadapanku! Kau keterlaluan, benar-benar menjijikkan, cih!" Argha meludah di hadapan Gintani. Amarahnya memuncak melihat tubuh polos istrinya berada dalam pelukan pria lain.
"Kau! Dasar laki-laki bajingan!" teriak Bram memukuli Nando tanpa ampun.
Nando hanya diam tak bersuara. Dia pasrah menerima perlakuan apa pun dari asistennya Argha.
"Cukup!"
Hingga akhirnya, teriakan Tuan Jaya menghentikan pukulan Bram.
"Papa?" gumam Gintani.
"Pakai bajumu dan pulanglah!" perintah Tuan Jaya seraya berlalu pergi meninggalkan tempat itu. Dadanya terasa sakit melihat pemandangan yang baru saja dilihatnya. Hatinya ingin memungkiri kejadian itu, namun matanya tak mampu berbohong. Ya kedua mata yang telah melihat menantunya berada dalam pelukan laki-laki lain tanpa busana.
Nando segera berlari begitu ada kesempatan. Bram hendak mengejar, namun Argha menghentikannya.
"Mas, aku bisa menjelaskan semuanya. Ini tidak seperti yang Mas kira. Aku sendiri tidak tahu kenapa aku bisa berada di sini," ucap Gintani.
"Cukup Gintani, aku tidak butuh penjelasan apa pun lagi. Bagiku, semua ini sudah sangat jelas," ucap Argha, dingin.
"Demi Tuhan Mas, aku tidak melakukannya!"
__ADS_1
Bersambung
Jangan lupa like, vote n komennya 🙏🤗