Takdir Gintani

Takdir Gintani
Apa Ini?!


__ADS_3

Ilona membantingkan ponselnya saat mengetahui Argha tengah makan siang dengan istrinya.


"Tidak! Ini tidak boleh terjadi!" teriak Ilona dengan kesal. "Kamu! Cepat kamu telepon Tuan Argha dan katakan aku tak sadarkan diri!" perintah Ilona kepada perawat yang dipekerjakan Argha.


"Ta-Tapi, Nona," ucap perawat itu seperti keberatan.


"Cepat telepon dia!"


"Maaf Nona, bukankah Nona baik-baik saja. Nona tidak mengalami keluhan apa pun, kan?" tanya perawat itu memastikan.


"Jangan banyak bicara, cepat telepon dia atau akan aku adukan kepada pihak rumah sakit tentang ketidakbecusan kamu menjaga pasien. Mau kamu, diberi SP, hah?" ancam Ilona.


Dengan sangat terpaksa, akhirnya perawat itu menghubungi Argha.


"Hallo, Pak! Ini dengan suster Amel. Saya ingin memberitahukan jika Nona Ilona tiba-tiba pingsan."


".... "


"Saya sendiri tidak tahu, Pak. Kenapa Nona Ilona tiba-tiba tak sadarkan.


"... "


"Baik, Pak. Saya tunggu." Suster Amel menutup teleponnya.


"Bagaimana, apa dia mau datang?" tanya Ilona.


Suster Amel mengangguk.


Ilona tampak tersenyum gembira. "Baguslah!" jawabnya.


🍀🍀🍀


Argha membanting stirnya ke kiri saat tanpa sengaja dia hendak menyenggol kendaraan lain.


"Mas, ih! Hati-hati!" pekik Gintani.


"Maaf, Gin," jawab Argha terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Ya Tuhan Mas. Sebegitu berharganya Ilona bagi kamu, sampai-sampai kamu tidak bisa fokus seperti itu, batin Gintani. Entah kenapa, ada rasa cemburu yang terselip di hatinya saat ini.


Argha segera memarkirkan mobilnya begitu tiba di halaman apartement Ilona. Dengan menggenggam erat tangan istrinya, Argha menaiki lift dan menekan tombol menuju apartement Ilona.


Tok-tok-tok!


Argha sengaja mengetuk pintu apartement Ilona. Sebenarnya Argha hapal betul pasword pintu apartement Ilona. Tapi dia tidak mau Gintani curiga dan beranggapan buruk tentangnya.


"Se-Selamat siang, Tuan," ucap perawat Amel saat membuka pintu apartement.


"Selamat siang, Sus. Bagaimana keadaan Ilona sekarang?" tanya Argha.


"No-Nona Ilona, di-dia, emmh...."


"Dia kenapa, Sus?" Argha melewati perawat itu dengan terburu-buru untuk memasuki kamar Ilona.


"A-Anu, Nona Ilona, di-dia." Si suster masih ragu untuk berbicara.

__ADS_1


Argha membuka pintu kamar Ilona. Tampak Ilona sedang berdiri di depan jendela sambil memandangi jalanan ibu kota.


"Kenapa berdiri, bukankah seharusnya kamu beristirahat?" ucap Argha menghampiri Ilona.


Tiba-tiba saja Ilona memeluk Argha. "Kakak ke mana saja, aku sangat merindukan Kakak," ucap Ilona.


Gintani terhenyak mendengar sikap dan perkataan Ilona. Sejurus kemudian, dia melepaskan tangannya dari genggaman Argha, namun Argha malah semakin kuat menggenggamnya.


"Jangan seperti ini Ilona. Ingatlah Kakak adalah lelaki yang telah beristri. Jangan terlalu jauh menafsirkan semua yang Kakak lakukan untukmu," jawab Argha mencoba melepaskan pelukan Ilona.


Ilona mengurai pelukannya. Dia melihat Gintani berada di samping Argha. Hatinya kembali bergemuruh karena rasa cemburu.


"Untuk apa Kakak datang?" tanya Ilona dengan nada sinis.


"Perawat menelepon Kakak dan mengatakan jika kamu pingsan, karena itu Kakak datang untuk melihat kondisi kamu." jawab Argha


"Aku baik-baik saja," jawab Ilona dingin. Dia merasa kesal karena kedatangan Argha tidak seperti apa yang dia harapkan.


"Apa kamu sudah minum obat?" tanya Argha.


"Sudahlah! Sebaiknya Kakak pergi. Tidak usah sok-sok peduli sama aku. Urus saja istri Kakak yang selalu mengekor ke mana pun Kakak pergi," jawab Ilona dengan nada yang naik satu oktaf.


Mendengar ucapan Ilona, Gintani menyadari jika Ilona tidak menyukai kehadirannya. "Mas, sebaiknya Gintan tunggu di luar."


"Tunggu!" cegah Argha. "Ilona sudah tidak apa-apa, kita pulang saja," ucap Argha. "Ya sudah, karena kamu baik-baik saja, Kakak sama istri Kakak pamit pulang dulu, ya! Jangan lupa diminum obatnya."


Namun saat mereka hendak keluar kamar, tiba-tiba Ilona menjerit kesakitan sambil memegang perutnya.


"Kamu kenapa?" tanya Argha terlihat panik.


Di saat yang bersamaan, ponsel Gintani berbunyi.


"Assalamu'alaikum," sapa Gintani kepada seseorang di ujung telepon.


"Wa'alaikumsalam. Apa kabar, Gin?"


"Alhamdulillah, baik, Dok."


"Oh, iya. Kamu di mana? Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu. Apa kamu punya waktu luang siang ini?"


"Mohon maaf, Dok, sepertinya saya tidak bisa. Kebetulan saat ini kami sedang di apartement Ilona."


"Kami? Apartemen Ilona?"


"Iya Dok. Saya dan mas Argha. Tadi perawat Ilona menelepon mas Argha, katanya Ilona tak sadarkan diri. Kami pun segera datang kemari untuk melihat kondisi Ilona."


"Benarkah? Bagaimana keadaannya sekarang?"


"Entahlah Dok, tapi saat ini Ilona sedang kesakitan. Dia berteriak-teriak sambil memegangi perutnya."


"Baiklah, tunggu aku! Dua puluh menit lagi, aku sampai. Assalamu'alaikum!"


"Wa'alaikumsalam." Gintani menutup teleponnya.


"Kita ke rumah sakit sekarang!" ajak Argha pada Ilona.

__ADS_1


"Ti-Tidak Kakak. Aku tidak mau ke rumah sakit," jawab Ilona.


"Cukup Ilona, jangan membantah! Aku tidak bisa membiarkanmu terus kesakitan seperti ini," ucap Argha.


"Mas, sebaiknya kita tunggu dokter Richard. Dia baru saja telepon dan mengatakan hendak datang kemari."


"Menunggu katamu? Kamu suruh Ilona menunggu? Apa kamu tidak lihat jika dia sudah sangat kesakitan seperti ini?" Tanpa sadar, Argha membentak istrinya.


Gintani terkejut. Apa ada yang salah dengan ucapanku? Kenapa Mas Argha berbicara kasar seperti itu? Kenapa dia malah membentak aku? batin Gintani.


Argha segera menggendong Ilona dan membawanya turun.


"Buka!" perintah Argha kepada Gintani.


Dengan perasaan tak menentu, Gintani membuka pintu mobil belakang. Argha segera mendudukkan Ilona di kursi belakang. Setelah itu, dia mengelilingi mobilnya dan membuka pintu kemudi. "Apa kau mau ikut?" tanya Argha kepada Gintani.


Hei, pertanyaan macam apa itu. Bukankah aku istrinya. Haruskah dia bertanya sebelum mengajak aku pergi? Gintani terkesima melihat sikap Argha.


"Cepatlah Kakak, aku sudah tidak tahan lagi. Rasanya sakit sekali," rintih Ilona.


"Ya sudah, Mas antar dulu Ilona. Kamu pulanglah!" ucap Argha seraya menyalakan mesin mobilnya.


"Tunggu ... Mas."


Namun mobil melaju dengan kencangnya.


Gintani bergeming. Dia benar-benar tidak menyangka dirinya akan ditinggal begitu saja oleh suaminya. Apa ini?! Ya Tuhan, apa arti semua ini? Apa persahabatan jauh lebih penting daripada ikatan suami istri? Ke-Kenapa mas Argha tega memperlakukan aku seperti ini? Apa dia tidak sadar jika sikapnya sudah menjatuhkan harga diriku sebagai seorang istri? Berbagai macam pertanyaan kembali menyeruak dalam dada Gintani.


Tin-tin!


Hingga akhirnya bunyi klakson mobil memecah lamunannya.


"Kenapa di luar?" tanya dokter Richard menyembulkan kepalanya dari balik jendela mobil.


"Eh, Dok!" Gintani terkejut. "Sebaiknya kita segera menyusul mereka, Dok," ucap Gintani.


"Menyusul mereka?"


"Iya Dok, mas Argha baru saja membawa Ilona pergi ke rumah sakit."


"Loh, kamu sendiri kenapa ada di sini? Kenapa kamu tidak ikut dengan Argha."


"Aku-aku memang sengaja menunggu Dokter untuk memberitahukan hal ini."


"Kamu ini ada-ada saja, bukankah kamu bisa menelepon aku untuk memberi kabar?"


"Ahaha,... Gintan hanya takut mengganggu konsentrasi Dokter saat menyetir. Bisa-bisa Dokter kecelakaan kalau mengangkat telepon dari Gintan."


"Kamu itu, ngeles terus. Ya sudah, cepat naik. Kita susul mereka."


Gintani segera membuka pintu mobil dokter Richard. Tak lama kemudian, mereka pergi ke rumah sakit.


Bersambung


Jangan lupa like, vote n komennya ya 🤗🙏

__ADS_1


__ADS_2