
"What!!" pekik ketiga sahabat Argha berbarengan. Mereka pun saling pandang, berusaha mencerna ucapan Argha.
"Atas alasan apa, istri lo meminta hal itu?" tanya Kevin.
"Gintani itu wanita yang baik, Kev. Dia tidak pernah membutuhkan sebuah alasan untuk menolong seseorang," ucap Alex.
Argha menatap tajam Alex, kenapa dia sepertinya sangat mengenal sekali sifat istriku, batin Argha, geram.
Alex yang melihat tatapan tajam sahabatnya, segera membenarkan ucapannya. "Tidak usah menatapku seperti itu, Ar! Aku mengenal sifat Gintani, karena dia pernah menjadi karyawanku. Apa kau lupa itu?"
Argha menarik napasnya panjang, kemudian menghembuskannya dengan kasar. Dia pun kembali menghempaskan punggungnya di sandaran sofa. Matanya tertutup merasakan kepalanya yang terasa berat karena memikirkan keberadaan Jessica di rumahnya.
Hubungan Argha dan istrinya tidak begitu baik. Dan Argha yakin, jika keberadaan Jessica akan semakin memperkeruh segalanya.
"Sekarang, apa yang akan lo lakukan, bos?" tanya Bram.
"Entahlah?" jawab Argha, frustasi.
"Sebaiknya kamu berterus terang tentang masa lalumu dengan Jessica, agar istrimu tidak salah paham, Ar!" saran Alex.
"Dia sudah tahu, Al."
"Apa!!"
Kembali ketiga sahabat itu dibuat terkejut oleh pernyataan Argha.
"Jadi, lo sudah mengaku pada Gintani, kalau Jessi adalah mantan kekasih lo? Wah, bro ... i'm froud of you!"
"Siall!!" Argha melemparkan bantal sofa ke arah Kevin. "Apa lo pikir gua punya keberanian buat nyakitin perasaan bini gua, hah?" dengus Argha, kesal.
"Terus?" tanya Kevin.
"Gintan dan Jessi pernah bertemu sebelum kami menikah. Gintan mengakui, jika Jessi sendiri yang mengatakan semua masa lalu kami padanya."
__ADS_1
"Astaga! Benar-benar nekat tuh cewek! Terus?" timpal Bram.
"Sejujurnya, pernikahan gua terjadi karena perjodohan. Saat ini, hubungan gua sama Gintani masih seperti benang kusut. Gua takut, hubungan gua sama dia, akan semakin buruk karena keberadaan Jessica."
"Kenapa kamu tidak membawa istrimu pergi dari mansion?" usul Alex.
"Maksud lo?" tanya Argha, tak mengerti.
"Ar, perjalanan rumah tangga akan jauh lebih baik jika dilewati bersama di rumah sendiri. Pepatah orang tua bilang. Setelah kita menikah, sebaiknya kita tinggal terpisah dari orang tua. Entah itu orang tua kita sendiri, ataupun orang tua istri kita. Dengan begitu, kita akan semakin dewasa dan bertanggung jawab dalam membina rumah tangga. Tidak sedikit pasangan yang harus berpisah karena kedua orang tuanya terlalu mencampuri urusan rumah tangga anaknya." nasihat Alex.
Sejenak, Argha diam. Dia mencoba mencerna nasihat sahabatnya. Ya! Di antara keempat pria itu, Alex lah yang paling bisa bersikap bijaksana. Dia selalu menjadi teman, kakak dan guru bagi sahabat-sahabatnya.
"Apa yang harus gua lakukan, Al?" tanya Argha lagi.
"Kamu bawa Gintani pindah dari sana!"
"Maksud lo?"
"Tapi bokap pasti nggak ngizinin, Al! Dia bahkan minta gua untuk balik lagi ke rumah jika gua sudah punya istri."
"Itu kan dulu, Ar! Jauh sebelum Jessi datang ke rumah kamu. Sekarang, urusannya telah berbeda. Aku yakin, om Jaya bisa mengerti keputusan kamu." ucap Alex. "Ayolah Ar, kamu sudah menjadi kepala keluarga sekarang. Jadi, pikirkan yang terbaik untuk kalian berdua!"
Kembali Argha merenungi semua ucapan sahabatnya.
🍀🍀🍀
Mansion utama.
Gintani sadar jika dia belum menunaikan kewajibannya. Dia pun pergi ke kamar mandi untuk berwudhu. Selesai berwudhu, dia menuju ruangan yang dijadikan mushola di dalam kamarnya. Gintani menunaikan kewajibannya dengan khusu. Selesai solat dan melepaskan mukenanya, Gintani duduk di sudut ruangan.
Dia mulai mengambil Al-Quran dan membacanya. Saat ini, dalam hatinya tengah dilanda kegelisahan yang luar biasa. Gintani tidak memungkiri jika kehadiran Jessica, membuat perasaannya kacau. Gintani takut jika suatu saat nanti, Jessica akan menceritakan kebenaran tentang dirinya kepada keluarga Argha. Apalagi setelah Gintani mengetahui jika Jessica adalah mantan pacar suaminya. Apa reaksi Jessica, jika pada saat mereka berpacaran, Argha justru mengkhianati Jessica dengan membeli kesuciannya? Ya Tuhan ... bagaimana jika mbak Jessica tahu jika aku pernah menyerahkan tubuhku pada kekasihnya. Tanpa terasa, mata Gintani hangat, karena buliran bening air mata telah menggenang di kedua sudut matanya.
__ADS_1
Gintani menyandarkan punggungnya, dan membuka Al-Quran yang dipegangnya. Gintani mulai melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran dengan perlahan. Sambil terisak, Gintani terus mengaji, berusaha untuk mendapatkan kedamaian dari Kalam Illahi.
Bunyi Shalawat Nabi terdengar nyaring di kamarnya. Bunyi nada dering yang berasal dari ponselnya. Gintani segera keluar dari mushola. Dia meraih ponselnya. Tertera nama "Tuan Arrogant" di layar kacanya. Gintani pun menggeser icon berwarna hijau.
"Assalamu'alaikum!"
"Bersiaplah! Sebentar lagi asistenku akan menjemputmu!
Gintani mengernyitkan dahinya.
"Menjemputku? Kemana?"
"Sudahlah, jangan banyak tanya! Tugas istri itu cukup menuruti apa kata suaminya!"
Tut... Tut... Tut...
Wajah Gintani memerah, menahan amarahnya karena sang suami memutuskan sambungan telponnya begitu saja. "Dasar pria sombong, tak bisakah dia mengucapkan salam?? Gggrrhhh...."
Gintani menggenggam kuat telponnya untuk melampiaskan kekesalannya.
Sementara itu, di waktu yang sama, di ruang kerja tuan Jaya. Lelaki itu tampak menengadah seraya memejamkan matanya.
Maafkan Ayah, bun! Ayah tidak bisa memenuhi amanah bunda! Ayah terpaksa mengizinkan Argha pindah dari rumah ini untuk menjalani rumah tangganya sendiri. Mungkin untuk sekarang, ini adalah jalan yang terbaik untuk Argha dan istrinya. Tapi Ayah janji, Ayah akan selalu memantau mereka, batin Tuan Jaya.
Tok... Tok... Tok....
Bersambung....
Sampai jumpa lagi di episode terbarunya. Tetap simak di sini ya kakak! Episode-episode yang penuh keuwuan dan menguras emosi akan segera dimulai...
Jangan lupa, tinggalkan jejaknya yaaa...
Makasih 🤗🤗
__ADS_1