Takdir Gintani

Takdir Gintani
Konferensi Pers


__ADS_3

Menjelang tengah malam, para wartawan semakin banyak berkumpul di depan gerbang kediaman Tuan Jaya. Merasa semua tak mungkin berakhir tanpa diakhiri, akhirnya Tuan Jaya memberi perintah kepada Bram untuk menemui para wartawan itu.


"Apa yang harus saya katakan pada mereka, Om?" tanya Bram, takut salah langkah.


"Katakan padanya jika kita akan mengadakan konferensi pers terkait skandal yang melibatkan putra saya," ucap Tuan Jaya, tegas.


"Baiklah, Om," jawab Bram.


Setelah berpamitan, Bram kemudian pergi untuk menemui para wartawan itu.


Tiba di halaman depan, para wartawan kembali berteriak-teriak memanggil nama Argha dan dirinya. Dengan didampingi dua orang bodyguard, Bram mengayunkan langkahnya menghampiri kerumunan wartawan itu.


"Bagaimana, Tuan Bram? Apa Tuan Argha ada di dalam?" tanya wartawan pertama.


"Tolong klarifikasinya Tuan, apakah benar wanita itu kekasih gelap Tuan Argha?" Wartawan kedua menimpali ucapan wartawan pertama.


"Tuan Bram merupakan orang kepercayaan Tuan Argha. Apa Tuan Bram tahu jika selama ini Tuan Argha berselingkuh?" Wartawan yang lainnya ikut bicara.


Berbagai macam pertanyaan keluar dari mulut para wartawan itu. Pertanyaan yang Bram sendiri tidak tahu harus bagaimana menjawabnya.


"Dengarkan saya baik-baik para wartawan yang budiman. Dengan tidak mengurangi rasa hormat, saya mohon kepada kalian untuk bisa membubarkan diri dengan tenang. Apa kalian tidak sadar jika kalian sudah menggangu privasi orang rumah?" ucap Bram.


"Mohon maaf, Tuan. Tapi ini sudah pekerjaan kami. Seandainya Tuan Argha mau bersikap kooperatif dan mengklarifikasi skandal yang telah dia lakukan, kami pun tidak akan berkerumun di sini sehingga menganggu kenyamanan kalian," ujar salah satu wartawan.


"Baiklah, saya paham tentang hal itu. Dan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan Anda sekalian, saya sebagai asisten pribadinya Tuan Argha, dengan ini menyatakan bahwa jawaban yang ingin kalian dengar itu, nanti bisa kalian simak dalam konferensi pers yang akan kami laksanakan," ucap Bram.


"Kapan itu, Tuan Bram?" tanya wartawan pertama.


"Jika tidak ada halangan, Insya Allah besok pukul 5 sore kalian bisa berkumpul menunggu kami di ballroom hotel Crown," jawab Bram.


"Apakah itu pasti?" tanya wartawan itu lagi.


"Ya," jawab Bram, tegas.


"Apa Anda tidak akan mangkir dari apa yang telah Anda ucapkan?" Wartawan kedua ikut bertanya.


"Insya Allah, konferensi pers pasti akan dilaksanakan. Sekarang silakan kalian pulang dan susun pertanyaan-pertanyaan yang akan kalian tanyakan esok sore. Atas perhatiannya, saya ucapkan terima kasih," ucap Bram.


"Huuuuu....."


Bram kembali ke mansion dengan diiringi sorakan kecewa dari para wartawan.


🍀🍀🍀


Keesokan harinya di ruang makan.


"Papa harap, nanti sore kamu tidak akan pergi ke mana-mana, Ar," ucap Tuan Jaya pada putranya.


Argha hanya diam tak menanggapi ucapan ayahnya.


"Apa kamu dengar apa yang Papa ucapkan?" tanya Tuan Jaya terlihat kesal.


"Iya Pa, Argha dengar, dan Argha tahu nanti sore kita akan pergi ke mana dan melakukan apa," jawab Argha.


"Baguslah kalau begitu. Jangan lupa, ajak wanita itu untuk mengklarifikasi semuanya. Papa tidak mau ada kesalahan apa pun dalam acara nanti," ucap Tuan Jaya dengan tegas.

__ADS_1


"Ish, kenapa harus melibatkan Ilona juga sih, Pa?" tanya Argha, merasa keberatan dengan keputusan ayahnya.


"Karena kalian pemeran utamanya," ucap Tuan Jaya melap mulutnya dan berlalu pergi meninggalkan ruang makan.


Argha, Bram dan Nadhifa hanya bisa saling pandang melihat sikap ayahnya. Sedangkan Nyonya Rosma tersenyum puas dengan keputusan suaminya.


🍀🍀🍀


"Hai Gin, apa kabar?" sapa Jessica begitu dia bertemu dengan Gintani.


"Alhamdulillah, baik Mbak. Tumben main ke sini?" tanya Gintani yang merasa heran Jessica bertandang ke rumahnya.


"Iya nih, aku kesepian di rumah. Umi sama abi. Lagi pergi ketemuan sama calon besannya," jawab Jessica.


"Maksud Mbak, calon mertua Mbak?" tanya Gintani menyelidik.


"Enak aja ... aku mah belum mikirin nikah, Gin. Itu, buat Husni," jawab Jessica.


"Loh, dilangkahi dong!" ucap Gintani, terkejut.


"Nggak pa-pa Gin ... sebagai kakak yang baik, aku sangat ikhlas kalau emang Husni mau nikah duluan, asaaaal...."


"Asal apa mbak?" tanya Gintani, penasaran.


"Asal dia siap ngasih apa yang aku minta. Hahaha...." Jessica menjawab pertanyaan Gintani sambil tertawa terbahak-bahak.


"Ish, itu mah sama aja bohong." Gintani menggerutu sambil melemparkan bantal sofa.


"Sepi nih Gin, nyalain donk TV-nya," ucap Jessica.


"Ah, bisa aja kamu Gin." Jessica mengambil remote dan menyalakan TV-nya.


"Pemirsa, hari ini kita akan mengadakan konferensi pers terkait skandal yang melibatkan seorang pengusaha muda Argha Putra Adisastra."


Klik!


Layar TV tiba-tiba berubah menjadi hitam karena Jessica telah mematikannya.


"Ish, kenapa dimatikan mbak?" Gintani protes.


"Sudahlah, jalan-jalan ke kebun Pepaya, yuk Gin!" ajak Jessica mengalihkan perhatian Gintani.


"Tolong nyalakan Mbak, Gintan mau lihat," pinta Gintani.


"Tapi Gin."


"Mbak, please...!" Gintani memohon seraya mengatupkan kedua telapak tangannya.


Jessica menyerah. Dia pun kembali menyalakan televisinya. Terlihat dengan jelas bintang utama dalam skandal sang CEO didampingi oleh Tuan Jaya dan seorang moderator.


🍀🍀🍀


Di ballroom hotel Crown.


"Baiklah, sekarang saya persilakan kepada rekan-rekan para wartawan yang ingin bertanya tentang kejadian malam itu," ucap moderator.

__ADS_1


Puluhan tangan terangkat pertanda ingin mengajukan pertanyaan. Sepertinya, para pemburu berita itu sudah tak sabar ingin mencehcar para pemain utama tentang kejadian penggerebekan yang mereka alami.


"Kalau boleh tahu, siapa nama Anda, Nona?"


Pertanyaan pertama ternyata ditujukan kepada sang pemain wanita.


Ilona terlihat gugup, namun anggukan dari Argha membuat dia kembali tenang.


"Nama saya Ilona ... Chantika Ilona Prasetya," jawab Ilona.


"Apa Anda kekasih dari Tuan Argha?" tanya wartawan lain.


"Saya ... saya...."


"Mohon maaf, saya rasa itu privasi kami. Jadi Anda tidak berhak menanyakan hal itu," jawab Argha


Maaf Tuan, kalau boleh tahu, sedang apa Tuan berada di sana? Apa Tuan memang sengaja mengajak simpanan Tuan ke hotel Mawar untuk melakukan yg enak-enak?"


Seketika wajah Argha dan Ilona terlihat memerah. Ya, siapa pun pasti akan merasa malu dituduh yang bukan-bukan di hadapan publik.


"Tutup mulut Anda!"


Argha menggebrak meja seraya berdiri. Emosinya memang labil jika sudah menyangkut harga diri.


Tuan Jaya memegang tangan Argha untuk menenangkannya. "Duduklah, Nak!" perintah Tuan Jaya.


Tolong pertanyaannya dikondisikan, ya, teman-teman ... agar tidak terjadi salah paham." Moderator itu berusaha menengahi.


"Jawab saja, Ar," ucap Tuan Jaya.


"Waktu itu, saya mabuk berat, dan teman saya membawa ke hotel itu karena dia merasa jika dia membawa saya ke rumah, orang tua saya pasti akan kecewa melihat kondisi saya seperti itu," jawab Argha.


"Lalu, apakah Anda berbuat yang enak-enak di kamar itu, mengingat di sana hanya ada Anda dan wanita Anda. Dan kalian terkena razia pada saat keadaan Anda hanya mengenakan jubah handuk dan wanita Anda memakai selimut, benarkah itu?"


"Hahahaha...."


Suasana semakin tidak kondusif dengan pertanyaan wartawan wanita itu. Hingga rahang Argha mulai mengeras.


"Jika itu memang benar, lalu apa urusannya dengan kalian?" teriak Argha. Suaranya menggema di dalam ruangan itu.


Semua orang tampak bergeming mendengar teriakan sang CEO.


"Sabarlah, Nak!" pinta Tuan Jaya.


"Ini sudah tidak bisa dibiarkan, Pa," jawab Argha.


"Tapi Nak...."


"Sudahlah Papa, aku mau pulang."


"Bagaimana dengan istri Anda?"


Bersambung


Jangan lupa like, vote n komennya yaa 🤗🙏

__ADS_1


__ADS_2