
"Kak Argha!" teriak Nadhifa yang begitu terkejut saat melihat kakaknya keluar dari ruang pemeriksaan bersama dengan seorang wanita yang tengah duduk di kursi roda. Sejurus kemudian, dia pun menghampiri Argha. "Apa-apaan ini, Kak? Siapa yang dimaksud istri, hah?" Nadhifa kembali berteriak.
Argha terkejut mendengar teriakan adiknya. Dia lebih terkejut lagi saat melihat Gintani duduk di samping adiknya. "Gin," gumam Argha yang masih bisa didengar oleh Ilona. Sebersit rasa cemburu menyelinap di hati Ilona. Dadanya selalu bergemuruh saat melihat wanita anggun berhijab itu.
"Jawab Fa, kenapa Kakak bisa ada di sini bersama wanita ular itu?" ujar Nadhifa ketus, telunjuknya menunjuk ke arah Ilona.
Mendengar teriakan Nadhifa, semua pasien mengarahkan pandangannya kepada mereka. Tak terkecuali dengan seorang perawat yang baru saja mengantarkan Argha dan Ilona keluar.
"Ada apa ini?" ucap perawat itu melihat heran ke arah mereka bertiga.
Gintani segera berdiri. Dia pun melangkah mendekati Nadhifa. "Sudah, Fa ... jangan bikin keributan di sini. Sebaiknya kita duduk kembali, bukankah kamu sedang sakit?" ucap Gintani dengan bibir yang bergetar karena mencoba menguasai hatinya yang terasa panas.
"Tidak bisa seperti itu, Kakak," bantah Nadhifa. "Kak Argha harus menjelaskan apa artinya semua ini? Dan siapa yang dia akui sebagai istrinya?" lanjut Nadhifa, tidak terima dengan semua perlakuan plin-plan sang kakak.
"Aku paham, tapi sebaiknya kita bahas semua itu di rumah saja," ucap Gintani mencoba meredakan amarah adik iparnya.
"Benar, Nona. Tolong jangan buat keributan di sini. Ini rumah sakit, bukan tempat pribadi!" timpal sang perawat dengan nada bicara yang sedikit ketus.
"Diam!" bentak Nadhifa kepada perawat itu. "Ini urusan keluarga aku, jadi jangan ikut campur!" lanjut Nadhifa.
"Benar kata Mbaknya, kalau memang ini urusan keluarga Nona, sebaiknya Nona selesaikan di rumah saja, jangan di sini! Ini rumah sakit, tempat umum. Jika Anda membuat keributan di sini, dengan sangat terpaksa, saya akan memanggil security untuk mengamankan Anda!" ancam perawat itu dengan kesalnya.
"Sudahlah, ayo kita kembali duduk!" ajak Gintani meraih tangan Nadhifa.
"Gin, tunggu!" ucap Argha.
Tapi,
"Arghh!" Tiba-tiba Ilona menjerit sambil membungkukkan badannya.
"Ilo, kamu kenapa?" tanya Argha terlihat cemas.
"Da-darah," gumam perawat itu saat melihat noda darah keluar dari belahan rok Ilona.
Argha semakin terlihat panik sedangkan Nadhifa dan Gintani hanya saling tatap melihat kejadian itu.
__ADS_1
"Saya, kan, sudah bilang. Jaga emosi istri Anda, jangan sampai dia merasa tertekan dan stress. Beginilah akibatnya, pendarahan lagi, kan? Ayo cepat bawa dia ke ruang pemeriksaan, biar segera ditangani oleh dokter!" ucap perawat itu.
Argha hanya bergeming tak terlalu fokus dengan perintah sang perawat.
"Kenapa Anda hanya diam saja, cepat bawa istri Anda ke ruang obgyn!" bentak perawat itu yang merasa sangat kesal terhadap Argha.
Tanpa berkata apa pun, Argha segera mendorong kursi roda Ilona untuk pergi ke poli obgyn.
"Mohon maaf atas keributan kecil ini, mohon bersabar menunggu," ucap perawat tersebut kepada para pasien yang sedang menunggu antrian. "Huh, suami macam apa dia, lalai sekali menjaga istrinya," dengus perawat itu dengan kesalnya.
"Apa kamu bilang?" Nadhifa menarik tangan perawat itu karena merasa kesal dengan ucapannya. "Istri? Istri siapa yang kamu maksud. Asal kamu tahu, dia bukan is--"
"Fa, sudahlah!" cegah Gintani memotong kalimat adik iparnya.
"Tapi kakak,"
Gintani menggelengkan kepalanya. " Tolong maafkan sikap adik saya, Sus!" ucap Gintani seraya membungkukkan badan.
"Ya sudah, silakan duduk kembali untuk menunggu antrian. Mohon jangan membuat keributan lagi," jawab perawat itu dengan judesnya.
Gintani mengangguk, dia kemudian memapah Nadhifa untuk kembali duduk di kursi tunggu.
Gintani mengerutkan keningnya. "Tapi ... rasa sakitmu?" tanya Gintani yang merasa heran atas ajakan Nadhifa.
"Sudahlah kakak, tidak usah pedulikan kondisi Fa. Dhifa nggak mau Kakak lebih sakit hati lagi melihat kelakuan Kak Argha," tukas Nadhifa dengan nada kesal yang masih bisa terdengar.
"Fa, kita datang ke sini untuk memeriksakan keadaan tubuhmu. Apa pun yang kita lihat hari ini, Kakak yakin kalau mas Argha pasti punya alasannya. Sudah biarkan saja, tidak usah hiraukan mereka!" ucap Gintani berusaha menguatkan hati adik iparnya, meskipun hatinya sendiri telah rapuh karena kecewa.
"Ya Tuhan, Kakak ... sebenarnya, terbuat dari apa hatimu itu? Melihat suami lebih memperhatikan wanita lain, Kakak hanya menanggapinya dengan rasa percaya terhadap kak Argha. Apa Kakak tidak takut jika kak Argha telah mengkhianati Kakak?" tanya Nadhifa yang tidak mengerti dengan sikap kakak iparnya.
"Sudahlah, tidak usah dipikirkan. Nanti tambah sakit badanmu," ucap Gintani mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Ish!"
Nadhifa bersungut kecil melihat kebaikan hati seorang Gintani. Dia sendiri sangat merutuki sikap kakaknya yang bodoh karena telah mengabaikan hati seorang istri.
__ADS_1
🍀🍀🍀
"Jadi, mereka meninggal dunia dalam kecelakaan pesawat tersebut?" tanya Umi Kulsum dengan nada sedih.
Jessica mengangguk. Sesekali dia menyeka air matanya yang selalu keluar saat bercerita tentang kecelakaan pesawat yang menimpa kedua orang tuanya.
Melihat putrinya menangis, Umi Kulsum pun meraih Jessica dan membawanya ke dalam pelukan. Kedua bola matanya berkaca-kaca saat untuk pertama kalinya dia bisa memeluk sang buah hati. Tak lama kemudian, mereka saling menguraikan pelukannya.
"Maaf, sebenarnya Tante siapa?" tanya Jessica yang baru menyadari jika dia tidak mengenali kedua tamunya.
"Se-sebenarnya a-aku adalah i--"
"Kami kerabat jauh dari orang tuamu," sela Ustadz Hasan sambil memegang tangan istrinya.
Umi Kulsum menatap heran pada suaminya, tapi Ustadz Hasan hanya menggelengkan kepalanya sebagai isyarat.
"Oh, iya, Nak. Ngomong-ngomong, apa kami boleh berziarah ke makam kedua orang tua kamu?" lanjut Ustadz Hasan.
"Om dan Tante mau ke sana?" tanya Jessica, memastikan.
"Iya, Nak. Sudah lama kami tidak bertemu. Sekalinya dapat kesempatan untuk bersilaturahmi, kami kaget karena ternyata mereka telah tiada. Mumpung kami berada di sini, tidak ada salahnya kami menyempatkan diri untuk berziarah ke makam mereka," ucap Ustadz Hasan.
Jessica mengangguk. "Sebentar Om, Tante, Jessica ganti baju dulu, permisi!" pamitnya.
Ustadz hasan dan Umi Kulsum mengangguk.
"Kenapa Abi melarang Umi untuk memberitahu Nandita tentang kenyataan yang sebenarnya?" tanya Umi Kulsum sedikit protes kepada suaminya.
"Belum saatnya, Mi. Pelan-pelan, kita akan memberitahu dia tentang siapa kamu yang sebenarnya," ucap Ustadz Hasan menggenggam erat tangan istrinya.
"Terserah abi saja," jawab Umi Kulsum, pasrah.
Tak lama kemudian, Jessica turun dengan anggunnya mengenakan pakaian tertutup beserta hijab senada. Umi Kulsum tersenyum menatap putrinya yang terlihat semakin cantik saat berhijab. Semoga Allah segera memberikan hidayah untukmu, Nak, batin Umi Kulsum.
"Ayo!"
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa like, vote n komennya yaaa 🙏🤗