
Ilona cemberut, dia merasa kesal saat Argha meracau tentang Gintani. Namun, dia harus bisa bersabar jika memang ingin mendapatkan hati sang lelaki pujaan.
"Ayo kita pulang, Kakak!" ajak Ilona sambil meraih tangan Argha dan menaruhnya di atas pundak.
"Tunggu! Apa dia kakakmu?" tanya sekuriti kedua.
Ilona tampak ragu untuk menjawab, tapi jika dia tidak berbohong, persoalan akan semakin rumit. Bisa saja para sekuriti itu tidak melepaskan Argha, pikir Ilona. Akhirnya Ilona memutuskan untuk berbohong.
"Iya, Pak. Dia memang kakak saya. Mm ... sebenarnya dia sedang ada masalah dengan istrinya, karena itu dia lari ke tempat ini untuk mencari ketenangan," jawab Ilona.
"Huh, ketenangan apanya, yang ada, justru dia malah membuat keributan di sini," dengus sekuriti kedua dengan kesalnya.
"Atas nama kakak, saya meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada Bapak-Bapak sekalian atas kekacauan yang telah kakak saya perbuat," ucap Ilona sambil membungkukkan badannya.
"Ya sudah, bawa kakak kamu pergi dari sini. Jangan lupa, berikan dia air jeruk lemon untuk meredakan kondisi hangover-nya." Sekuriti kedua memberikan saran kepada Ilona.
"Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu," pamit Ilona.
Ilona merasa kesulitan untuk membuat Argha bangun dari sofa. Ditambah lagi rasa sakit yang mendera perut bagian bawahnya, membuat Ilona semakin kepayahan. Melihat hal itu, kedua sekuriti tersebut membantu Ilona memapah Argha menuju tempat parkir. Tiba di sana, Argha yang sudah tidak sadarkan diri, segera dimasukkan ke dalam mobil Ilona.
Setelah memberikan tanda terima kasih, Ilona pun membawa Argha pergi dari club malam itu.
__ADS_1
Selama dalam perjalanan, Ilona tampak berpikir harus ke mana dia membawa Argha pergi? Pulang ke rumah orang tua Argha? Jelas itu bukan solusi yang terbaik. Argha pasti akan kena marah habis-habisan oleh Tuan Jaya. Melihat seburuk apa pun keluarga itu, tapi tak pernah ada alkohol dalam hidup mereka. Mau dibawa pulang ke apartemennya pun, tidak mungkin. Apa reaksi sang perawat nanti jika dia membawa Argha dalam keadaan mabuk.
Akhirnya, dengan berbagai macam pertimbangan, Ilona pun membawa Argha ke sebuah hotel. Tepatnya hotel tempat untuk para kupu-kupu malam berbuat mesum.
Tiba di hotel tersebut, Ilona segera melakukan chek in. Setelah itu, dia meminta penjaga keamanan hotel untuk memapah Argha ke kamarnya.
"Sebenarnya, apa yang terjadi pada laki-laki ini, Nona? Kenapa dia bisa sampai semabuk ini?" tanya penjaga keamanan di hotel Mawar.
"Sudahlah, jangan banyak tanya! Cukup lakukan saja apa yang aku perintahkan padamu!" Ilona membentak penjaga keamanan itu.
"Ish, galak sekali kau, Nona. Ya sudah, jam berapa aku harus menggedor pintu kamarmu?" tanya penjaga keamanan itu lagi.
"Nanti aku beri tahu lagi. Yang terpenting, kamu harus tetap stanby di depan," jawab Ilona.
Ilona membuka pintu kamar hotel yang disewanya. Dia kemudian meminta penjaga keamanan untuk membaringkan Argha di atas ranjang.
Setelah si penjaga hotel keluar, Ilona pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Dia berdiri di depan cermin wastafel, menatap wajahnya yang mulai memucat. Sejenak dia menatap Argha dari balik pintu kamar mandi yang tengah terbuka. Laki-laki bertubuh tegap itu sedang tidak sadarkan diri.
Ini waktu yang tepat untuk menjebak dia kembali. Jika dulu jebakan yang aku rencanakan gagal total, maka sekarang ... akan aku pastikan kali ini pasti berhasil. Aku tidak punya banyak waktu lagi untuk memikirkan cara yang lebih halus. Aku rasa, sekarang adalah waktu yang tepat untuk memgikat kak Argha selamanya, batin Ilona.
Ilona meraih bathrobe yang terlipat rapi di dalam lemari. Dia pun kembali ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Beberapa menit kemudian, dia keluar dan menghampiri Argha yang masih tak sadarkan diri di atas ranjang.
__ADS_1
Ilona membuka jaket tebal milik Argha. Setelah itu, dia melepaskan satu per satu kancing kemeja milik laki-laki itu. Dengan cekatan, Ilona menyingkap kemeja yang membalut tubuh kekar milik Argha. Pemandangan indah pun terpancar di depan mata Ilona. Dada Argha yang bidang, perutnya yang sixpack, membuat jantung Ilona berdetak tak karuan.
Jari-jemari lentik Ilona mulai menari di atas dada bidang itu. Sesekali bibir sensualnya mengecup kotak demi kotak bak sobekan roti tawar yang tergambar di perut Argha. Puas menyusuri area atas, tangan lincah Ilona mulai sibuk membuka ikat pinggang milik Argha. Tanpa sengaja, Ilona menyentuh gundukan daging yang terbalut kain.
Syerrrr...
Darahnya berdesir cepat melewati setiap pembuluh. Tak ingin melewatkan kesempatan enas, Ilona memegang dan sedikit memecal onggokan daging yang masih terbungkus kain itu. Hawa panas mulai menyerang tubuhnya. Ini ...! Inilah yang dia nantikan dalam hidupnya. Bersatu dengan orang yang dicintainya, merupakan impian terbesar dalam hidup Ilona. "It's my dream, Kak. Not her!" bisik Ilona di telinga Argha sambil terus melancarkan aksinya melucuti celana panjang milik Argha.
Ilona segera membuka bathrobe yang ia kenakan. Perlahan tapi pasti, dia mulai mendekati hamparan putih nan hangat yang terpampang jelas di depan matanya. Onggokan daging yang ternyata perkutut yang sedang tertidur, terlihat begitu menawan di mata Ilona.
Perkutut itu dia elus-elus sedemikian rupa. Sejenak si perkutut berdiri dengan jemawanya, tapi saat sarangnya telah siap terbuka, tiba-tiba kepala si perkutut terkulai lemah. Seolah mengalami patah tulang sebelum bertempur.
Ilona mendengus kesal, tapi dia tidak patah semangat. Dia mulai melakukan serangan dari atas. Kecupan demi kecupan dia layangkan di sekitar wajah Argha. Hingga akhirnya kecupan itu bermuata di atas bibir tebal nan sexy milik Argha. Ilona mulai memagut dan mengisapnya, sesekali dia memberikan gigitan kecil. Namun sayangnya, Argha masih belum bereaksi.
Masih tak ingin menyerah, Ilona mulai menyusuri leher Argha. Menyesap wangi aroma parfum tubuh Argha dengan kuat. Indera perasanya kembali menari-nari pada hamparan putih yang semakin terlihat menarik. Hingga rangsangan yang dibuat Ilona berhasil menggerakkan hamparan putih itu.
Geliat tubuh Argha begitu terlihat erotis, membuat Ilona semakin menggila. Karena tak sanggup lagi menahan hasratnya, Ilona pun melakukan berbagai macam cara untuk membangunkan sang perkutut. Dimulai dengan mengecup, menggigit, hingga memasukkanya ke dalam goa tanpa cahaya, dia lakukan. Namun sayangnya, reaksi Argha tak lebih dari sekedar menggeliat. Sang perkutut tetap masih asyik dalam tidur panjangnya, atau ... mungkinkah dia sedang mati suri?
Satu setengah jam beraksi tanpa reaksi, akhirnya membuat Ilona menyerah. Dengan mendengus kesal, Ilona pergi ke kamar mandi untuk menuntaskan hasratnya. Hmm ... mungkin inilah yang disebut senjata makan tuan.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa like, vote n komennya ya 🤗🙏