
Untuk sementara, kedua polisi itu hanya menggambar sketsa kecelakaan sesuai dengan apa yang disampaikan Gintani. Setelah itu, mereka pergi ke rumah sakit untuk mencari barang bukti.
"Selamat siang, Pak. Ada yang bisa kami bantu?" tanya salah seorang pegawai front office rumah sakit.
"Bisakah kami bertemu dengan manager di rumah sakit ini?" pinta salah seorang polisi itu.
"Sebentar, Pak!" Petugas front office rumah sakit itu menghubungi kantor manager. Lalu tak lama kemudian dia meminta salah satu penjaga keamanan untuk mengantarkan kedua polisi itu ke ruang manager.
Tok-tok-tok!
Penjaga keamanan mengetuk pintu ruangan manager.
Masuk!" Perintah seseorang dari dalam ruangan itu.
Penjaga keamanan membuka pintu ruangan. "Permisi, Pak! Di luar ada tamu dari kepolisian. Katanya ingin bertemu dengan Anda," ucap manager itu dengan sopan.
Manager rumah sakit mengerutkan keningnya.
"Polisi?" tanyanya, heran.
Penjaga keamanan mengangguk.
"Mau apa mereka datang kemari?" Manager rumah sakit itu bertanya.
"Waduh, saya kurang tahu, Pak. Apa perlu saya tanyakan?" tanya penjaga keamanan.
"Ah, tidak usah. Suruh saja mereka masuk!" perintah manager.
"Baik, Pak," jawab penjaga keamanan.
"Penjaga keamanan itu pamit ke luar untuk memanggil para polisi tersebut. Tak lama kemudian, kedua polisi itu memasuki ruangan manager.
"Selamat siang, mohon maaf mengganggu waktunya," ucap salah seorang polisi.
"Tidak apa-apa, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" tanya manager.
"Begini, Pak. Kami hendak memeriksa CCTV yang berada di depan rumah sakit ini. Mohon kerja samanya," ucap polisi yang bernama Satyo.
Manager rumah sakit mengerutkan keningnya. CCTV, bukankah kemarin sore pihak kepolisian sudah mengamankan bukti rekaman CCTV tersebut? batin manager itu.
__ADS_1
"Bagaimana, Pak? Apa Bapak bisa membantu kami?" tanya polisi itu lagi.
"Mohon maaf, Pak. Tapi, bukankah kemarin sore pihak kepolisian sudah mengambil rekaman CCTV itu?" Manager rumah sakit itu malah balik bertanya.
Kini, giliran kedua polisi yang mengerutkan keningnya.
"Anda jangan main-main dengan kami!" ucap polisi tersebut. Nada suaranya terdengar tidak bersahabat.
Demi Tuhan, saya tidak main-main, Pak. Kemarin sore, dua orang polisi datang kemari untuk memeriksa CCTV di rumah sakit kami. Dan kedua polisi itu telah mengamankan bukti rekaman CCTV kami," jawab manager rumah sakit.
"Bagaimana mungkin pihak kepolisian datang kemarin sore ke rumah sakit ini? Kami sendiri baru menerima laporan kecelakaan lalu lintas ini tadi pagi," jawab polisi itu.
"Tapi saya tidak berbohong, Pak! Bapak bisa tanyakan sendiri kepada bagian pengawas pusat CCTV di rumah sakit ini. Mari, saya tunjukkan ruangannya."
Pihak manager mengajak kedua polisi tersebut untuk menemui penjaga keamanan di ruang pengawasan CCTV. Sepanjang jalan menuju sana, pihak polisi mengajukan beberapa pertanyaan terkait kecelakaan lalu lintas dua hari yang lalu.
"Pak, mereka dari kepolisian yang ingin melihat rekaman kejadian tabrak lari itu," ucap manager kepada penjaga keamanan ruang kontrol CCTV.
"Loh, bukannya kemarin sore sudah diambil oleh pihak kepolisian untuk dijadikan barang bukti?" tanya penjaga keamanan itu merasa terkejut.
Kedua polisi itu kembali saling pandang. "Tolong jangan mempermainkan pihak aparat. Apa Anda tidak tahu jika Anda bisa dikenakan tuntutan jika sampai memberikan kesaksian palsu?" ucap polisi itu tegas.
Kini, kedua polisi itu menatap sang manager rumah sakit. "Benarkah?" tanya Pak Setyo.
Manager rumah sakit mengangguk. "Benar Pak, kemarin sekitar pukul lima sore, ada dua orang polisi yang datang kemari. Mereka meminta data rekaman CCTV dari kamera yang kami pasang di depan dan sudut sebelah kanan rumah sakit. Karena saya pikir mereka adalah orang-orang yang sedang menyelidiki kasus kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan dokter terbaik kami meninggal, maka saya pun mengantarkan mereka ke ruangan ini," jawab sang manager.
"Apa mereka menunjukkan surat perintah seperti ini?" Salah seorang polisi bertanya sambil memperlihatkan surat perintah pemeriksaan dari pihak kepolisian.
Manager rumah sakit itu menggelengkan kepalanya.
"Ish, kenapa Anda ceroboh sekali? Mereka tidak menunjukkan surat perintah pemeriksaan. Apa mereka memberitahu dari pihak kepolisian mana mereka datang?" tanya Pak Setyo.
Lagi-lagi manager itu menggelengkan kepalanya.
"Kenapa Anda bisa dengan gegabah mempercayai polisi gadungan seperti mereka?" tanya pak Setyo dengan nada kesalnya.
"Mohon maaf Pak, tapi kami sendiri tidak tahu jika mereka polisi gadungan."
Bapak manager mencoba membela diri. Pembelaan yang hanya disambut oleh decak kesal para polisi itu. Karena tidak mendapatkan barang bukti apa pun, akhirnya kedua polisi itu meninggalkan rumah sakit.
__ADS_1
🍀🍀🍀
Baiklah, untuk sementara waktu aku harus membiarkan mereka sibuk dengan penyelidikannya. Aku tidak boleh mengganggu kak Argha. Akan aku beri ruang bagi kak Argha agar dia tidak merasa curiga padaku. Hmm, aku harus mulai fokus untuk merencanakan misi selanjutnya. Kali ini aku tidak boleh gagal. Akan aku buat wanita itu lebih hina daripada seorang wanita murahan, batin Ilona menyeringai licik.
Ilona meraih ponsel di atas meja riasnya. Dia mulai menghubungi seseorang.
"Dengar! Aku tidak ingin mendengar alasan apa pun lagi. Aku tekankan sekali lagi, hancurkan wanita itu hingga dia tidak akan pernah sanggup untuk bangkit kembali. Paham!" teriak Ilona.
Ilona menutup teleponnya. Sebentar lagi. Aku yakin, sebentar lagi dia akan terpuruk hingga tidak bisa menampakkan wajah lagi di keluarga itu, batin Ilona, menggenggam erat ponselnya.
🍀🍀🍀
Sementara itu, di sebuah gedung bertingkat, tampak seorang pria paruh baya yang sedang duduk menyilangkan kakinya. Pikirannya masih terus dipenuhi pertanyaan, kenapa kecelakaan itu bisa terjadi? Apakah itu kecelakaan biasa, atau memang kecelakaan yang disengaja. Tiba-tiba dering ponsel membuyarkan lamunan pria itu. Tuan Jaya segera meraih ponselnya.
"Hallo!" sapa Tuan Jaya
".... "
"Apa?!" teriak Tuan Jaya, tak percaya dengan apa yang dia dengar. "Tapi, bagaimana bisa hilang?" tanyanya lagi.
".... "
"Ya, sudah. Kalau begitu, saya akan menghubungi putra saya untuk membicarakan hal ini," jawab Tuan Jaya. Sejurus kemudian, dia menutup teleponnya.
Tuan Jaya segera menghubungi pak Jamal dan meminta datang ke ruangannya.
"Anda memanggil saya, Tuan?" tanya Pak Jamal begitu tiba di ruangan bosnya
"Siapkan mobil! Saat ini juga kita harus bertemu dengan Hanzel," ucap Tuan Jaya, keluar dari ruang kerjanya
"Tapi, ada apa Tuan. Kenapa terburu-buru?" tanya Pak Jamal, mengimbangi langkah Tuan Jaya.
Tuan Jaya menghentikan langkahnya. Dia menatap tajam ke arah asistennya.
"Semua barang buktinya hilang!"
Bersambung
Jangan lupa like, vote n komennya.. 🙏🤗
__ADS_1