Takdir Gintani

Takdir Gintani
Aku Mencintaimu


__ADS_3

Selesai berfoto mereka pun segera menaiki mobil Heru. Beberapa menit yang lalu, Alex mengabari jika acara sudah siap dilaksanakan. Hanya tinggal menunggu Putri saja yang akan menjadi princess utama dalam acara itu.


10 menit perjalanan, akhirnya mereka tiba di panti asuhan Mutiara Bunda. Gintani dan Heru menuntun Putri menuju aula panti. Mereka terlihat sangat serasi. Seperti pasangan muda yang baru memiliki seorang anak.


Tiba di aula panti, bu Ningsih menyambut kedatangan mereka. Anak-anak pun bersorak gembira melihat Putri berlari menghampiri mereka. Putri memang anak yang periang. Bahkan bu Ningsih merasa jika Putri adalah miniatur Gintani ketika masih kecil. Selalu ceria dan ramah terhadap siapa pun juga.


"Putri, salim dulu sama Eyang, Nak!" teriak Gintani, mengingatkan Putri yang lupa menghampiri orang yang lebih tua terlebih dahulu.


Bocah kecil itu menepuk jidatnya sendiri. "Ups! Maaf Eyang, Putli lupa," ucapnya cadel. Dia pun kembali berlari menghampiri bu Ningsih.


"Tidak apa-apa, Nak. Selamat ulang tahun, ya. Semoga panjang umur, murah rezeki, sehat dan selalu menjadi anak yang berbakti kepada orang tuanya," ucap bu Ningsih sambil mencium kedua pipi Putri.


"Telima kacih, Eyang. Mama, apa sekalang Putli boleh gabung cama teman-teman?" Putri meminta izin kepada Gintani untuk menghampiri anak-anak panti.


"Iya, boleh Sayang. Tapi sebelumnya, Putri sapa Om Alex sama Tante Geisha dulu, ya. Tuh, Bang Dendi juga ada di sana!" ucap Gintani seraya menunjuk ke arah Alex, Geisha dan anaknya.


"Oke, Ma," jawab Putri.


Putri kembali menghampiri anak-anak panti yang sudah berkerumun menantinya.


"Hallo Om, hallo Tante, hallo Bang Dendi!" sapa Putri menyalami mereka satu per satu.


"Hallo Putri, selamat ulang tahun ya, semoga semakin solehah," ucap Alex mengusap pucuk kepala Putri.


"Hai ponakan Tante yang cantik. Selamat ulang tahun sayang. Tambah pintar dan selalu menjadi kebanggaan Mama, ya," timpal Geisha sambil memeluk Putri.


"Makasih Tante, makasih Om," jawab Putri. Dia kemudian melirik ke arah Dendi. "Abang nggak ucapin celamat ulang tahun cama Putli?" tanyanya kepada Dendi.


"Selamat ulang tahun adik Abang yang bawelnya nggak ketulungan. Kok, makin gendut aja sih, pipi kamu," ucap Dendi sambil mencubit pelan kedua pipi Putri.


"Abang ... cakit ..." rengek Putri.


"Alhasil, Dendi pun mendapat teguran dari ibunya. Geisha memang paling tidak bisa mendengar rengekan Putri.

__ADS_1


"Sudah dong, Bang ... jangan digangguin adeknya!" tegur Geisha pada anaknya.


Dendi melepaskan cubitannya. Sejurus kemudian, Putri segera berlari ke arah Geisha dan kembali merajuk.


"Pokoknya, nanti Tante papung (pukul) Abang, ya ... pipi Putri jadi tambah tembem gala-gala Abang."


"Iya-iya, Putri tenang saja. Nanti Bang Dendi Tante jewer sekalian, biar kapok. Ya sudah, sekarang Putri ke depan dulu, ya. Kita mau berdoa dulu. Abis itu, tiup lilin sama potong kuenya." Geisha mengajak Putri ke depan untuk mengikuti acara pengajian bersama anak-anak Panti.


🍀🍀🍀


Awalnya Argha berpikir jika pengakuannya akan membuat hubungan dia dan Miki semakin baik. Namun, ternyata Argha salah. Meskipun dia telah mengakui Miki sebagai anaknya di depan semua orang, itu tak membuat sikap Miki berubah. Anak itu justru tumbuh semakin dingin dan pendiam.


Argha sengaja memasukkan Miki ke sebuah Sekolah Dasar yang sangat elit dan populer di kota Jakarta. Sekolah itu bahkan menjadi salah satu sekolah terfavorit di kota metropolitan. Namun, semua itu tak merubah sifat Miki sama sekali. Bahkan, di sekolahnya pun, dia dikenal sebagai anak pendiam dan tidak suka bergaul.


Miki memang bukan pembuat onar. Namun, dia akan berubah menjadi seseorang yang meresahkan orang tua jika dirinya sudah merasa terganggu. Pernah suatu hari Argha dipanggil pihak sekolah karena Miki telah memukul temannya hingga gigi depannya rontok. Untunglah uang bisa mengalahkan segalanya. Karena uang ganti rugi yang dikeluarkan Argha cukup besar, kedua orang tua dari anak itu pun tak sampai membawa kasus kenakalan Miki ke pihak hukum.


"Mau ke mana kamu?" tanya Bram ketika melihat Miki hendak menaiki tangga darurat di kantor APA Architecture.


Bram membuka pintu ruangan Argha dengan wajah yang ditekuk.


"Kenapa pagi-pagi wajahmu sudah kusut seperti itu?" tegur Argha.


"Gimana muka gue nggak bakalan kusut, gue nanya baik-baik, jawabannya malah bikin gue darah tinggi," tutur Bram.


"Siapa?" tanya Argha


"Siapa lagi kalau bukan anak lo! Ponakan gue yang manisnya melebihi gula," dengus Bram kesal.


Argha hanya terkekeh mendengar keluhan adik iparnya. Apa lo nggak sadar kalau itu juga kelakuan lo terhadap orang-orang yang nggak lo kenal baik, batin Argha.


"Sudahlah, nggak usah ditanggapi. Namanya juga anak kecil," jawab Argha.


"Huh, anak kecil sin anak kecil ... tapi lo juga harus ngajarin dia gimana caranya bersikap sopan sama orang dewasa," gerutu Bram kesal.

__ADS_1


"Iya-iya, nanti gue ajarin. Sekarang, di mana dia?" tanya Argha.


"Gue lihat dia tadi menaiki tangga darurat. Mungkin dia mau pergi ke rooftop. Dia, 'kan kek burung walet, doyan hinggap di atap," celetuk Bram.


"Emang lo nggak kek dia," gumam Argha.


.


.


.


Miki berdiri di atas rooftop gedung APA Architecture. Matanya menatap nyalang pada hamparan kota metropolitan di bawahnya. Kedua tangannya dia sembunyikan di saku celananya. Entah apa yang dia pikirkan. Namun, guratan wajahnya terlihat jelas jika dia tengah bertekad tentang sebuah pembuktian.


Di atas langit masih ada langit. Itu memang benar. Namun, kita lihat saja nanti. Akulah yang akan menjadi langit itu, tekad Miki dalam hatinya.


🍀🍀🍀


Acara tasyakur ulang tahun Putri pun telah selesai. Sekarang tinggal acara hiburan dan permainan. Seperti biasa, ada dua orang badut yang akan menghibur anak-anak. Sementara itu, orang dewasa diperkenankan untuk menikmati hidangan yang tengah tersaji sambil menikmati acara hiburan tersebut.


Saat acara tengah berlangsung. Diam-diam Heru mengajak Gintani pergi ke taman belakang. Terdapat sebuah bangku panjang di bawah pohon rindang di taman itu. Heru pun mengajak Gintani duduk di sana.


"Kita mau ngapain sih, kemari?" tanya Gintani kepada Heru.


"Duduklah!" perintah Heru.


Gintani mendaratkan bokongnya di atas bangku itu. Tiba-tiba dia sangat terkejut melihat Heru berjongkok di hadapannya.


"Gin, Mas minta maaf jika Mas telah lancang. Namun, Mas tidak bisa menutupi perasaan Mas lagi. Mas sudah tidak sanggup memendam semua ini sendirian. Mas tahu, mungkin setelah ini, kamu akan merasa kecewa terhadap Mas. Tapi Mas tidak punya pilihan lain. Mas ...." Heru menundukkan kepalanya sejenak. Sejurus kemudian, dia mendongak dan menatap Gintani dengan tajam. "Mas mencintaimu, Gin. Maukah kamu menjadi pendamping hidup Mas untuk selamanya?"


Bersambung


Jangan lupa like, vote n komennya yaa 🤗🙏

__ADS_1


__ADS_2