Takdir Gintani

Takdir Gintani
Coffee Break


__ADS_3

"Karena kita akan selalu menyelesaikannya di atas ranjang," ucap Argha.


"Sudahlah Mas...jangan selalu membawaku terbang tinggi. Karena aku tidak akan sanggup bangkit jika harus terjatuh lagi," balas Gintani.


"Kau tidak percaya padaku?" tanya Argha.


Gintani menggelengkan kepalanya.


"Lalu, apa artinya semua ini? Percintaan kita? Kenapa kau mau melakukan semua ini denganku?" tanya Argha kecewa.


"Apa aku bisa menolakmu? Kamu selalu datang dan pergi sesuka hatimu. Kamu itu seorang arrogant yang tak pernah ingin mengalah, sekalipun kamu memang bersalah. Kamu selalu bisa meruntuhkan keyakinanku, Mas. Lagipula, aku tidak ingin munafik, aku pun menginginkan semua ini," jawab Gintani, datar.


"Tanpa rasa?" tanya Argha lagi.


Gintani membalikkan tubuhnya menghadap sang suami. "Aku selalu punya rasa untukmu, Mas. Meski aku tidak yakin rasa apa yang sebenarnya aku miliki. Kamu tahu Mas, menikah denganmu seperti sebuah petualangan bagiku. Seperti sedang menaiki sebuah wahana yang memacu adrenalin. Always up and down. Kadang menyebalkan, hingga membuat aku menangis. Kadang menyenangkan, hingga membuat aku terhanyut dalam kebahagiaan. Terkadang...sesaat rasanya ingin berhenti karena lelahnya berjuang dalam menanti hatimu yang terus menjauh. Namun, aku sadar...hidupku tidak akan jauh lebih baik tanpamu. Terlepas dari berapa tahun aku akan menjalani pernikahan ini, aku selalu punya rasa untukmu, Mas," ucap Gintani seraya menatap teduh netra suaminya.


Sungguh, sebuah tatapan yang mampu membuat jiwa Argha luruh seketika. Argha begitu terharu mendengar semua ungkapan hati istrinya. Sakit... rasanya sangat menyakitkan jika dia harus kehilangan kebersamaan ini. Aku harus melakukan sesuatu, batin Argha.


Argha mengecup kening Gintani. Dia mengurai pelukannya. "Aku ke ruang kerjaku dulu, ya!" pamitnya.


Setelah mendapat anggukan Gintani, Argha segera bangkit dan meraih bathrobe istrinya yang tergantung di balik pintu. Sejurus kemudian, dia pun menghilang.


Gintani hanya menatap punggung suaminya dengan mata berkaca-kaca. "Aku mencintaimu, Mas.... Tapi aku tidak ingin berharap terlalu banyak. Aku takut jika aku tidak pernah bisa ikhlas melepaskanmu pada waktunya," gumam lirih Gintani.


.


.


.


Tiba di ruang kerja, Argha segera mendaratkan bokongnya di kursi kebesarannya. Dia menengadahkan wajah. Menatap kosong langit-langit ruang kerjanya. Pikirannya mencoba mencerna setiap perkataan Gintani tentang rasa yang dimilikinya.


Argha menarik napasnya dalam, lalu menghembuskan dengan perlahan. Tidak adil jika aku harus menggantung semua rasa yang dia miliki. Toh aku juga memiliki sebuah rasa untuknya. Maafkan aku Na, aku tidak bisa menepati janjiku. Aku tidak ingin menghancurkan kebahagiaan yang sudah berada di tanganku. Bagiku, kau tetap cinta pertamaku. Namun dia..., dia cinta terakhirku. Aku tidak pernah ingin berpaling lagi, Na. Aku mencintai istriku, dan aku ingin menjalani hari bersamanya hingga akhir hayatku.


Argha menarik laci meja kerjanya. Dia kemudian merobek foto kecil Na dan membuangnya ke tempat sampah. Setelah itu, Argha membuka brankas yang menempel di dinding belakang kursinya. Setelah menekan password-nya, brankas itu pun terbuka. Argha menarik map berwarna merah dan mengeluarkan isinya. Sekilas dia membaca lembaran perjanjian yang telah ditandatanganinya bersama Gintani. Tangan kekarnya merobek kertas itu menjadi dua bagian.

__ADS_1


.


.


.


Ribuan burung seolah terbang mengitari kepalanya saat Gintani mengingat semua kata yang diucapkan Argha. Benarkah dia akan melupakan Na? Sanggupkah dia menghapus nama Na dari hatinya? Sementara, Na sudah sangat berjasa dalam mengembalikan warna di hidupnya. Lalu, apa yang akan terjadi jika Na muncul kembali di hadapannya? Akankah dia mempertahankan aku sebagai istrinya? Atau justru menendangku begitu saja?


Sungguh, berbagai macam pertanyaan yang tak mampu di jawabnya, terus berkecamuk dalam hati Gintani. Membuat sakit di kepalanya kembali kambuh. Gintani memegang kepalanya dengan kuat. Dia mencoba mengatur napas untuk mengurangi rasa sakit di kepala. Saat ritme jantungnya mulai berdetak beraturan, Gintani bangkit dan berjalan menuju lemari pakaian. Dia menarik kimono tidur berwarna ungu lalu mengenakannya. Setelah itu, dia mengayunkan langkahnya menuju dapur.


Tiba di dapur, Gintani membuat secangkir coffee latte kesukaannya. "Pecinta kopi...mana suaranya...?" gumam Gintani, tersenyum mengingat kenangan indah bersama Alya saat dia sedang bekerja sebagai office girl di kantor suaminya dulu.


"Suka kopi juga?"


Tiba-tiba, suara bariton suaminya mengejutkan Gintani hingga kopi yang sedang diaduk tersenggol dan tumpah di paha kanan Gintani.


"Awww...!"


Gintani memekik pelan dan langsung berdiri seraya mengibas-ngibaskan kimono tipis yang basah akibat tumpahan coffee latte


"Jangan dibuka, Mas!" seru Gintani.


"Kenapa?" tanya Argha, heran.


"Aku...mmm...anu...aku...aku tidak pakai daleman," jawab Gintani tersipu malu.


"Argha tersenyum tipis, dia semakin gemas melihat rona wajah Gintani yang memerah. "Kemarilah!" Argha menuntun Gintani dan menyuruhnya duduk. Setelah Gintani duduk, argha berjongkok di hadapan istrinya dan menyibakkan kimono yang dikenakan Gintani. Warna kemerahan terpampang jelas di paha kanan Gintani yang putih bersih. Argha meraih tisu dan membasahinya dengan air dingin. Dia pun mulai mengompres paha Gintani yang terkena tumpahan kopi panas.


Gintani memejamkan matanya, merasakan panas dan perih menjadi satu di area itu. Dia meringis saat tangan Argha menyentuh kulit pahanya.


"Sakit?" tanya Argha, menatap cemas istrinya.


"Perih, Mas," jawab Gintani seraya menggigit bibir bawahnya, menahan sakit.


Argha meniupi perlahan, sesekali dia mengecup paha yang memerah itu. "Gimana sekarang...mendingan?" tanya Argha, kembali menatap istrinya seraya mengusap-usap paha Gintani.

__ADS_1


Gintani tersenyum. Namun seketika matanya melotot saat tangan Argha menyusup lebih dalam lagi.


"Mas.... Ih...!" Gintani memukul pelan tangan nakal suaminya.


He...he...he...," Argha terkekeh melihat ekspresi Gintani yang semakin menggemaskan.


"Lagi yuk, Gin!" ajak Argha seraya menyeringai.


"Apaan?" tanya Gintani mengernyitkan keningnya.


Argha menarik tangan Gintani dan membawanya ke arah kitchen bar. Dia menghimpit tubuh mungil itu hingga terjebak. Tangannya mulai membelai pipi Gintani. Entah kenapa, setiap inci milik istrinya, seolah telah menjadi candu bagi Argha.


"Gin...aku menginginkanmu!" ucap Argha parau.


"Di sini?" tanya Gintani, terkejut.


Argha mengangguk.


"Ta...tapi Mas... A...aku... sedang membuat kopi." jawab Gintani yang bergidik geli saat pipi dingin suaminya menempel di pipinya.


"Kita coffee break dulu sebentar! bisik Argha seraya menarik tali kimono Gintani.


Gintani hanya bisa pasrah menerima perbuatan suaminya. Seulas senyum terukir di bibirnya saat Argha memulai penyatuan mereka. Apa yang suaminya lakukan, sungguh selalu diluar penalarannya. Argha selalu bisa membuat Gintani tersenyum geli kala mengingat percintaan mereka yang di luar kelaziman. Besok-besok, entah ruangan mana lagi yang akan menjadi saksi bisu percintaan panas mereka.


"Ish..." Gintani memegang kuat tepi bar, saat Argha kembali mengeluarkan pasukannya.


Argha tersenyum penuh kemenangan. Dia pun mengecup bibir manis itu sebagai dessert.


"I love you...."


Bersambung....


Makasih sudah mau mendukung karya ini yaaa


Jangan lupa, like, vote n komennya 🙏🤗

__ADS_1


__ADS_2