Takdir Gintani

Takdir Gintani
Kejutan


__ADS_3

Kedua office boy yang sedang bergosip itu sangat terkejut mendengar pertanyaan Gintani.


"Nyo-Nyonya Gintan?" gumam mereka terkejut melihat kedatangan Gintani yang tiba-tiba.


"Apa benar, kemarin kakek saya datang ke kantor ini?" tanya Gintani kepada kedua office boy itu.


"Be-Benar Nyonya," jawab office boy pertama.


"Apa dia bertemu dengan Argha?" tanya Gintani lagi.


"I-Iya, bukan hanya dengan Tuan Argha, tapi Tuan Wira juga bertemu dengan Nyonya besar dan...." Office boy itu menggantungkan kalimatnya.


"Dan?" tanya Gintani.


"Itu, anu ... dan seorang gadis yang mengaku kekasihnya Tuan Argha," jawab office boy pertama.


Jessica terhenyak mendengar jawaban office boy itu.


"Gin...," ucap Jessica, tapi Gintani tak menghiraukannya.


"Apa kamu tahu bagaimana kejadiannya?" tanya Gintani, menyelidik.


"Saya ... saya ...." Office boy itu terlihat ragu-ragu untuk menjawab pertanyaan Gintani.


"Katakanlah! Aku hanya ingin tahu kebenarannya saja. Aku janji, aku tidak akan mengadukan kamu pada bosmu," jawab Gintani.


"Sa-Saya tidak tahu kejadian pastinya, Nyonya. Kebetulan saya hanya sedang melewati ruangan Tuan Argha. Ruangannya terbuka, tanpa sengaja saya melihat Tuan Wira berlutut di hadapan bos, tapi bos malah pergi begitu saja," ucap office boy itu, menjelaskan apa yang dilihatnya kemarin.


Gintani mengepalkan jari-jemarinya, "Keterlaluan...," gumam Gintani. "Sekarang, apa bos kalian ada di dalam?" tanya Gintani.


"Tuan Argha tidak masuk hari ini, Nyonya. Kabarnya, beliau sedang sakit," jawab office boy itu.


Gintani menatap Jessica. "Mbak, kita ke rumah mas Argha," ajak Gintani.


"Gintan, tunggu!" Jessica berlari mengejar Gintani. "Ada apa ini, Gin? Aku benar-benar tidak mengerti dengan ucapan office boy tadi," ucap Jessica.


Gintani menghela napasnya, "Ceritanya panjang, Mbak."


"Gin, kita baru saja sampai. Setidaknya istirahatlah dulu, dan ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi agar aku tidak menduga-duga," kata Jessica lagi.


"Tapi Mbak, Gintan harus bertemu dengan mas Argha. Gintan yakin, mas Argha yang bertanggung jawab atas kematian kakek," tegas Gintani.


"Ish, Gin ... aku memang tidak tahu ada masalah apa di antara kalian. Tapi aku tidak akan membiarkan kamu mengambil tindakan yang akan merugikan diri kamu sendiri. Dengar, sekarang kita ke rumahku. Kita istirahat sebentar. Setelah kamu merasa tenang, baru kita pergi ke rumah Argha. Ingat Gin, kamu sedang hamil, jaga kondisi kamu. Jangan sampai stress dan emosi."


"Baiklah, terserah Mbak saja."


🍀🍀🍀


Tingtong! Tingtong!


Bel di kediaman keluarga Amijaya terus berbunyi.

__ADS_1


"Siapa yang datang, Bik?" tanya Nadhifa.


"Bibik nggak tahu, Non," jawab Bik Siti.


"Ya sudah, tolong bukakan pintunya!" pinta Nadhifa.


Bik Siti mengangguk, dia kemudian lari tergopoh-gopoh untuk membukakan pintu utama.


"Maaf, cari siapa, ya?" tanya Bik Siti.


Ilona membalikkan badannya saat seseorang bertanya.


"Apa tante Rosma ada?" tanya Ilona.


"Oh, ada Non. Maaf, Non siapa?" Bik Siti bertanya lagi.


"Saya Ilona, calon istrinya kak Argha," jawab Ilona penuh keyakinan.


Bik Siti terkejut mendengar ucapan gadis itu. Bagaimana mungkin den Argha akan menikah lagi, bukankah dia masih memiliki istri? pikirnya


"Apa boleh saya masuk?" tanya Ilona membuyarkan lamunan Bik Siti.


"Eh, i-iya ... masuklah!" jawab Bik Siti tergagap.


Ilona memasuki mansion itu.


"Tunggu sebentar, saya panggil nyonya besar dulu," ucap Bik Siti. Dia pun pergi meninggalkan Ilona di ruang tamu.


"Hallo Ilona Sayang, apa kabarmu, Nak?" sapa Nyonya Rosma seraya memeluk tubuh Ilona dan bercipika-cipiki.


"Hallo Tante, kabar saya baik. Bagaimana dengan keadaan Tante?" Ilona balik bertanya.


"Seperti biasanya, kabar Tante selalu baik," jawab Nyonya Rosma. "Ayo-ayo, silakan duduk!" Nyonya Rosma mempersilakan tamunya duduk.


"Siti! Tolong bawakan minuman sama camilannya, ya!" teriak Nyonya Rosma.


Tak lama berselang, Bik Siti pun datang membawa jus dan beberapa toples camilan.


Untuk beberapa saat, mereka ngobrol tentang masa lalu Ilona. Hingga akhirnya Bik Siti datang dan mengatakan jika makan malamnya telah siap. Nyonya Rosma pun mengajak Ilona untuk makan malam bersama.


"Loh, Argha belum turun bik? tanya Nyonya Rosma yang tak melihat putranya berada di meja makan.


"Den argha katanya kurang ebak badan, Nyah. Dia minta makanannya dibawa ke kamar saja," jawab Bik Siti.


"Biar saya yang bawakan Tante." Ilona menawarkan diri untuk membawa makanan ke kamar Argha.


"Ah, kamu baik sekali, Nak. Tapi sebaiknya, kamu makan saja dulu. Nanti setelah makan, baru kamu bawakan makanan untuk Argha," saran Nyonya Rosma.


"Tapi tante."


"Sudah jangan berdebat lagi, duduklah!" perintah Tuan Jaya.

__ADS_1


Ilona terkejut mendengar suara tegas Tuan Jaya. Mau tidak mau, dia pun duduk mengikuti perintah Tuan Jaya. Mereka akhirnya makan tanpa mengeluarkan suara.


Selepas makan malam, Ilona meminta izin untuk membawakan makan malam Argha ke kamarnya.


Tok-tok-tok!


"Masuk!"


Ilona membuka handle pintunya. Dia kemudian masuk ke kamar Argha.


"Ilona? Sedang apa kamu di sini?" tanya Argha yang terkejut melihat Ilona masuk ke kamarnya.


"Aku membawakan makanan untuk Kakak. Mama Rosma bilang, Kakak kurang enak badan, makanya tidak turun untuk makan malam bersama," jawab Ilona, menaruh nampannya di atas meja rias.


"Bukan itu. Maksudku, sedang apa kamu berada di rumahku?" tanya Argha.


"Oh, itu ... aku diundang mama kamu untuk makan malam bersama. Tapi aku kecewa Kakak, karena Kakak tidak ikut makan bersama kami. Huh, menyebalkan," rengut Ilona. "Ish," Ilona meringis untuk beberapa detik.


"Ilona, apa kamu baik-baik saja? Apa kamu merasa sakit lagi?" tanya Argha, cemas.


"Tidak Kakak, hanya sedikit," jawab Ilona.


"Apa kamu melakukan pengobatanmu secara teratur?" tanya Argha lagi.


"Iya, Kakak tidak usah khawatir. Suster yang Kakak kirim itu sungguh cerewet sekali. Apa Kakak tahu? Dia tidak pernah membiarkan Ilona bolos terapi. Huh ... benar-benar menyebalkan," gerutu Ilona.


"Hehehe, itu artinya dia bertanggung jawab dengan pekerjaannya," ucap Argha terkekeh.


"Iya-iya, aku tahu. Sekarang makanlah, biar aku suapi!"


🍀🍀🍀


Sementara itu, Jessica tampak tertegun mendengar kisah Gintani. Dia tidak menyangka jika Gintani akan menalami nasib yang begitu buruk.


"Demi Tuhan, Mbak. Gintan sendiri tidak tahu kenapa Gintan bisa berada di kamar itu," ucap Gintani.


"Apa kamu sudah mencari orang yang bernama Nando itu?" tanya Jessica.


Gintani menggelengkan kepalanya.


"Tapi kenapa?" tanya Jessica, heran.


Gintan tidak punya kesempatan untuk mencari Nando. Gintan sudah menghubungi nomornya, tapi tidak aktif. Mas Argha dan papanya tidak pernah memberikan Gintan kesempatan untuk membuktikan jika Gintan tidak bersalah. Keesokan harinya, mereka mengembalikan Gintan ke rumah kakek," jawab Gintani.


"Ish, Argha memang seperti itu. Dia sangat egois dan selalu mempercayai apa yang dia lihat tanpa ingin tahu alasan dibalik sebuah kejadian. Lihat saja nanti, aku yakin dia akan menyesal karena tidak mempercayai kamu," ucap Jessica.


Gintani tersenyum kecut. "Gintan tidak mengharapkan apa pun lagi dari hubungan ini, Mbak. Jika dia ingin bercerai, maka akan Gintan kabulkan apa yang menjadi keinginannya," ucap Gintani tegas.


Bersambung


Jangan lupa like, vote n komennya, yaaa 🤗🙏

__ADS_1


__ADS_2