
Matahari mulai condong ke arah barat. Berpanduan maps, taksi yang ditumpangi Gintani akhirnya sampai juga di panti asuhan Mutiara Bunda. Setelah membayar ongkos taksinya, Gintani segera turun dan memasuki halaman panti yang cukup luas.
"Permisi, Dek!" sapa Gintani kepada anak-anak panti asuhan yang tengah bermain di halaman depan.
Serentak anak-anak itu menoleh kepada Gintani.
"Apa ada yang tahu, siapa pemilik panti asuhan ini?" tanya Gintani kepada anak-anak itu.
Kelima anak yang tengah bermain itu, saling pandang. Namun, seorang anak perempuan yang paling tinggi di antara mereka, maju beberapa langkah menghampiri Gintani.
"Maksud Kakak, Bu Ningsih?" tanya anak itu.
Gintani mengernyitkan keningnya, nama itu seolah tidak asing di telinganya. Hal tersebut semakin menguatkan tekad Gintani untuk menemui pemilik panti asuhan ini.
"Ah, iya ... Bu Ningsih, ada?" tanya Gintani lagi.
"Bu Ningsih ada di kantornya Kak," jawab anak kecil itu.
"Emmh ... kantornya di sebelah mana, ya?" Gintani kembali bertanya.
"Mari Kak, saya antar!" Anak kecil itu menawarkan diri untuk mengantarkan Gintani menuju kantor Bu Ningsih.
Setelah berjalan beberapa meter, mereka akhirnya tiba di kantor ketua yayasan. Anak kecil itu mengetuk pintu kantor, kemudian membukanya.
"Assalamu'alaikum Bu, boleh Ima masuk?" Anak yang bernama Ima itu meminta izin dengan sopan.
"Iya, Ma. Masuk saja!" perintah Bu Ningsih.
"Ini Bu, ada Kakak yang mau ketemu Ibu," ujar Ima.
Bu Ningsih mengerutkan keningnya begitu melihat Gintani. Dia sedikit menurunkan kacamatanya, hingga akhirnya mata tua yang mulai rabun itu terlihat berkaca-kaca saat mengenali orang yang berada di hadapannya.
"Na?" ucap Bu Ningsih, lirih.
Gintani mengerutkan keningnya. Na? Nama siapa sebenarnya yang dia panggil, batin Gintani.
__ADS_1
"Na..., masya Allah, kamu Nia, 'kan?" tanya Bu Ningsih mendekati dan langsung meraih Gintani ke dalam pelukannya.
Meskipun tak mengerti, tetapi Gintani merasakan kehangatan yang sama dari pelukannya. Tapi di mana? Siapa?
Ma-Maaf, Bu saya ... emm ... sebenarnya, nama saya bukan Na, tapi Gintan," ucap Gintani.
Bu Ningsih melonggarkan pelukannya. Sejenak dia menatap Ima dan menyuruhnya kembali bermain.
"Duduklah, Na!"
Bu Ningsih membawa Gintani ke meja tamu. Mereka kemudian duduk berdampingan.
"Ibu tahu, nama lengkap kamu adalah Gintania Nur'aini. Bu Ati selalu memanggilmu dengan sebutan Nia. Tapi karena waktu itu kamu masih kecil dan masih belajar berbicara, kamu memanggil dirimu sendiri dengan sebutan Na. Sejak saat itu, semua orang yang berada di panti ini memanggilmu Na. Ngomong-ngomong, kenapa kamu baru datang kemari. Apakah kakekmu tidak mengizinkan kamu menjenguk kami di sini?" tanya Bu Ningsih.
Gintani semakin tidak mengerti dengan apa yang diucapkan wanita paruh baya yang berada di hadapannya. Sedikit pun dia tidak mengingat apa yang baru saja wanita itu katakan.
"Maaf Bu, kedatangan Gintan kemari, sebenarnya ... Gintan ingin mencari tahu kebenaran tentang ini." Gintani mengeluarkan amplop yang berisi surat izin adopsi, dia kemudian menyerahkan amplop tersebut kepada wanita itu.
Bu Ningsih menerima amplop tersebut dan membukanya. Sejurus kemudian dia mengernyitkan keningnya. "Ada apa dengan surat ini, Na?" tanya Bu Ningsih, heran.
"Jadi benar, Gintan pernah tinggal di sini kemudian diadopsi oleh kakek Wira?" tanya Gintani dengan perasaan tidak menentu.
"Maafkan Gintan Bu, tapi Gintan memang tidak bisa mengingat apa pun. Dan kakek ... Kakek sama sekali tidak pernah menceritakan masa lalu Gintan," jawab Gintani.
"Begini, Na. Kamu memang pernah tinggal di sini. Bahkan ibu sendiri yang merawat kamu dari bayi. Pemilik panti ini, yamg bernama ibu Ati, menemukan kamu di depan pintu panti. Namun, saat kamu berumur 5 tahun, tiba-tiba ada seorang lelaki yang mengaku kakek kamu. Awalnya bu Ati meragukan itu. Tapi setelah dia melihat bukti-bukti yang dia bawa. Bu Ati pun menyerahkan kamu kepada beliau.
"Apa dia kakek Wira?" tanya Gintani.
Bu Ningsih mengangguk.
"Apa dia bercerita siapa orang tua kandung Gintan?" tanya Gintani lagi.
"Ya, dia menceritakan semuanya tentang orang tua kandung kamu. Menurut pengakuan beliau, ayah kamu meninggal saat kamu masih berada dalam kandungan ibumu. Karena merasa tidak mampu memberikan kehidupan yang layak kepadamu, akhirnya ibumu menaruh kamu di depan panti ini. Pertemuan tanpa sengaja kakekmu dengan ibumu berlangsung. Hingga pada akhirnya, ibumu menitipkan kamu kepada kakekmu," jawab Bu Ningsih.
"Lalu di mana ibuku? Ke mana dia?" Gintani bertanya
__ADS_1
"Beliau bilang, ibumu sudah meninggal. Karena itu beliau menjemput kamu atas wasiat dari ibumu," jawab Bu Ningsih
Jantung Gintani seakan berhenti berdetak mendengar ucapan Bu Ningsih. Sekarang, dia semakin yakin jika dia hidup sebatang kara di dunia ini.
"Sudahlah Na, jangan bersedih seperti itu. Seharusnya kamu bersyukur karena kamu masih memiliki kakek yang luar biasa. Dia sangat menyayangi kamu, Na," ucap Bu Ningsih, menghibur Gintani.
"Tapi ... kakek Wira sudah meninggal, Bu," ucap Gintani, sedih.
Bu Ningsih terkejut mendengar perkataan Gintani.
"Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Ibu turut berduka atas kepergian kakek kamu, Na," kata Bu Ningsih.
Gintani mengangguk. "Terima kasih, Bu."
"Lalu, kenapa kamu tidak bisa mengingat apa pun tentang masa lalu kamu di tempat ini, Na?" tanya Bu Ningsih, penasaran
"Sebelumnya Gintan minta maaf, Bu. Semuanya di luar kehendak Gintan. Kakek bilang, Gintan pernah mengalami kecelakaan setahun setelah Gintan tinggal bersama kakek," jawab Gintani.
"Astaghfirullah! Jadi itu alasannya kamu tidak pernah berkunjung kemari? Apa kamu hilang ingatan?" tanya Bu Ningsih lagi.
"Entahlah, Bu. Gintan tidak tahu, tapi terkadang, bayangan-bayangan dua anak kecil sering muncul dalam ingatan Gintan. Apa Gintan punya teman karib di sini?" tanya Gintani, penasaran.
"Kamu itu anak yang periang. Hampir semua teman-teman kamu di sini, sangat menyukai kamu, Na," jawab Bu Ningsih.
"Tak adakah yang lebih dekat, Bu?" Gintani kembali bertanya.
Bu Ningsih menggelengkan kepalanya.
"Entahlah Bu, sepasang anak kecil selalu muncul dalam pikiran Gintan. Tapi Gintan tidak tahu siapa mereka. Aargh!" Gintani memegang kepalanya saat dia kembali berpikir tentang anak itu.
Bu Ningsih merangkul pundak Gintani. "Sudahlah Na, jangan terlalu dipikirkan. Sebaiknya, sekarang kamu beristirahat. Ayo, Ibu antar kamu ke kamar! Besok kita lanjutkan lagi pembicaraan kita," kata Bu Ningsih.
Gintani mengangguk. Dia pun memutuskan untuk menginap di panti ini dengan harapan bisa menemukan petunjuk tentang siapa anak-anak kecil yang sering melintas dalam pikirannya.
Tiba di kamarnya, Gintani menaruh tas jinjingnya di dalam lemari. Dia mulai mengamati kamar kecil itu. Kamar yang mungkin jika dia tidak kehilangan ingatan, akan memberikan kenangan indah masa kecilnya.
__ADS_1
Bersambung
Jangan lupa like, vote n komennya yaa 🙏🤗