Takdir Gintani

Takdir Gintani
Fitnah Tetangga


__ADS_3

"So, are you my Dad?" tanya bocah kecil itu menatap Argha dengan sangat dingin.


Sejenak lidah Argha terasa kelu mendengar pertanyaan bocah laki-laki berusia 7 tahun itu. Tatapannya yang begitu dingin sempat menusuk hati Argha. Raut mukanya terlihat sangat suram, berbeda dengan bocah seusia dia pada umumnya.


"Sorry, i can't answer your question right now?" jawab Argha.


Anak kecil itu tersenyum sinis. "Hmm, sudah kuduga. Dia memang seorang pembohong. Dan seumur hidup, dia akan terus membohongi aku," ucap anak kecil itu seraya berlalu meninggalkan Argha.


Bingung! Sudah pasti, hanya kebingungan yang mampu Argha rasakan. Sikap dinginnya memang mengingatkan Argha pada sosok Bram yang tidak terlalu pandai beradaptasi dengan orang yang belum terlalu dikenalnya.


Sejenak, Argha mengelus dada. Dia kemudian pergi menuju kantor ketua panti asuhan untuk mengutarakan maksudnya.


.


.


.


Michael, nama yang sangat pendek, tanpa embel-embel nama marga atau keturunan seorang ayah. Hanya nama itu yang dia punya, dan dia lebih suka dengan nama panggilan yang diberikan ibu panti, Miki.


Anak itu duduk berselonjor di bawah pohon beringin yang cukup rindang. Pikirannya kembali melayang pada kejadian setahun silam.


"Kakak berjanji, Ki. Kakak akan membawa ayah kamu untuk menjemputmu dari sini."


"Tapi kapan?"


"Nanti setelah Kakak menikah."


"Kenapa harus menunggu Kakak menikah? Bukankah ayah Kakak adalah ayah Miki juga?"


"Setelah kamu dewasa, Kakak akan menceritakan semuanya padamu."


Miki mendengus kesal mengingat obrolan dia dengan sang kakak.


Tidak harus menunggu aku dewasa, kak. Aku bukan anak bodoh yang tidak bisa mencium gelagat kakak setiap kali aku menanyakan ayah dan ibuku. Aku sudah tahu yang sebenarnya. Satu hal yang tidak aku ketahui, kenapa kamu tidak mau mengakui aku sebagai anakmu? batin Miki.


Rasa pilu kembali bergelayut dalam benaknya. Seandainya dia tidak mengalami kecelakaan di tebing itu, tentu sampai saat ini dia tidak akan pernah mengetahui siapa ibu kandungnya.

__ADS_1


"Ibu mohon, Na. Jenguk Miki walau hanya sekali."


Samar-samar Miki mendengar ibu panti berbicara dengan seseorang. Dia pun tetap memejamkan mata untuk menguping pembicaraan mereka. Entah apa yang orang itu katakan hingga memancing emosi ibu panti.


"Cukup Ilona Prasetya! Sejauh apa pun kamu menghindar, itu tidak akan mengubah takdirmu jika Miki adalah anakmu, darah dagingmu! Aku tidak peduli dengan kebencian kamu terhadap laki-laki yang telah menghamili kamu. Tapi jangan lampiaskan amarahmu kepada Miki. Dia tidak bersalah. Sudah cukup dia menderita karena ayahnya tidak mengakui dia. Dan sekarang, apa kamu juga akan mengingkari dia sebagai putramu sendiri, hah?"


Ibu panti terdengar emosi, tapi Miki tak mau membuka matanya. Meskipun hatinya terasa sakit, tapi air mata seolah enggan keluar.


"Baiklah jika itu maumu. Mulai sekarang, lupakan jika kamu pernah melahirkan anak cerdas seperti Miki. Jika sampai suatu hari nanti ada orang tua yang akan mengadopsi dia, aku tidak akan pernah meminta persetujuan darimu. Seperti yang kamu katakan tadi, dia bukan siapa-siapa kamu. Ingat itu Ilona!"


Dan sekarang ... air mata yang yang dulu tidak ingin keluar, akhirnya tumpah ruah juga membanjiri kedua pipinya.


Dunia memang kejam. Bukan hanya kamu yang tidak mau mengakui aku. Tapi laki-laki itu pun tak mau mengakui aku, batin Miki.


.


.


.


"Jadi, seperti itu ceritanya?" tanya bu Maria pemilik panti asuhan itu.


Ibu Maria menerimanya dan mulai membaca isi surat tersebut. Beberapa menit kemudian dia melipat kertas itu dan menyerahkan kembali kepada Argha.


"Apa Anda akan mengurus anak itu dengan baik?" tanya bu Maria.


"Saya akan berusaha," jawab Argha.


"Baiklah, dua hari lagi Anda bisa datang kemari. Saya akan menyiapkan surat adopsinya terlebih dahulu," ucap bu Maria.


Argha mengangguk. Dia pun segera berpamitan. Sebelum dia pergi dia ingin menemui Miki terlebih dahulu. Namun sayangnya, anak itu tak mau menemui Argha.


🍀🍀🍀


Sepanjang hari, Imelda terus memikirkan bagaimana caranya membuat wanita itu meninggalkan rumah Heru. Dia sendiri sudah merasa muak setiap sore harus menyaksikan canda tawa keluarga itu. Awalnya, Imelda merasa sudah kehilangan kesempatan untuk bisa memiliki Heru. Namun, mendengar gosip para asisten rumah tangga tempo hari, dia pun kembali bersemangat untuk merebut Heru dari wanita itu.


Tiba-tiba senyum menyeringai tersungging di kedua sudut bibir Imelda. Sepertinya dia sudah mengetahui apa yang harus dia lakukan. Keesokan harinya, Imelda menghampiri penjual sayur yang sedang berhenti di depan rumah tetangganya. Kebetulan pedagang sayur tersebut sedang dikerumuni oleh ibu-ibu rempong. Dengan semangat empat lima, Imelda pun mendekati mereka.

__ADS_1


"Halo ibu-ibu, lagi pada belanja, ya?" sapa Imelda pada ibu-ibu yang sedang mengerumuni tukang sayur.


"Eh, iya nih Jeng Imel. Jeng mau beli sayuran juga?" tanya bu RT.


"Eh, ada Bu RT juga. Wah kebetulan nih kita ketemu di sini, ada yang mau saya tanyakan loh, sama Bu RT," kata Imelda.


"Oh ya, ada apa ya, Jeng?" tanya bu RT.


"Itu, loh Bu ... soal pak Heru, yang rumahnya di komplek B. Apa dia sudah lapor ke ibu tentang tamu wanitanya itu?" tanya Imelda lagi.


"Tamu wanita? Siapa?" tanya tetangga Imelda.


"Itu, Gintani," ucap Imelda.


"Loh, bukannya jeng Gintani itu istrinya pak Heru?" ucap bu RT.


"Ish, kata siapa, Bu. Gintani itu hanya seorang janda. Ya, aku sih nggak tahu hubungan mereka seperti apa. Tapi, ibu-ibu bisa bayangkan sendiri, 'kan, apa yang akan terjadi jika seorang janda dan lelaki dewasa tinggal dalam satu atap? Hmm, masa iya kita akan diam saja jika ada warga kita yang kumpul kebo?" Imelda mulai memprovokasi para ibu-ibu di sana.


"Waah, bisa nggak berkah nih rumah kita," ucap ibu-ibu yang mengenakan daster.


"Iya, malahan aku pernah dengar loh, jika warga sebuah kampung melakukan zina, maka 40 rumah di sekitarnya akan terkena imbasnya," lanjut Imelda.


Semua ibu-ibu di sana tampak terprovokasi oleh Imelda. Akhirnya mereka menuntut ibu RT untuk segera bertindak.


"Tenang ibu-ibu, saya akan membicarakan hal ini dengan suami saya dulu. Setelah itu kami akan membuat keputusan untuk jeng Gintani," ucap bu RT.


"Jangan ditunda lagi Bu, apa Ibu mau, komplek kita kena azab karena ada warga yang kumpul kebo?" tanya ibu-ibu berdaster.


"Begini saja Bu, jika Ibu RT tidak sanggup bertindak. Maka, biarkan kami saja yang bertindak," timpal ibu yang lainnya.


"Biar saya yang urus, tapi saya minta waktu barang sehari atau dua hari. Kita tidak boleh bertindak gegabah, karena ini menyangkut nama baik seseorang," ucap bu RT.


"Sudah, terserah Ibu saja. Tapi saya tekankan pada Ibu RT, jika saya tidak sudi mempunyai tetangga komplek yang suka berzina seperti itu. Titik!" ucap ibu berdaster sambil berlalu pergi.


Melihat temannya pergi, yang lain pun ikut membubarkan diri. Tinggal Imelda sendirian, tersenyum penuh kemenangan.


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa like, vote n komennya yaa 🤗🙏


__ADS_2