Takdir Gintani

Takdir Gintani
Meminta Bantuan


__ADS_3

Nando akhirnya kembali ke rumah. Sepanjang perjalanan dia berpikir, dan akhirnya tiba pada sebuah keputusan yang dia anggap baik. Di dunia ini, ayah mana yang sanggup kehilangan sang buah hati. Melihat tubuh anaknya semakin lemah tak berdaya, Nando pun terpaksa membuka kembali amplop coklat pemberian dari Ilona.


Nando mengeluarkan selembar cek yang ia simpan bersamaan dengan uang yang diberikan Ilona tempo itu. Mau tidak mau, Nando akhirnya pergi ke Bank untuk mencairkan cek tersebut. 'Persetan dengan kejahatan, yang penting nyawa anak selamat!' Mungkin hanya itulah yang ada dalam pikiran Nando saat ini.


"Mohon maaf menunggu lama, Pak!" ucap teller cantik itu.


"Tidak apa-apa, Mbak," jawab Nando.


"Ini uang yang Bapak minta. Sisanya sudah saya transfer ke rekening Bapak. Apa ada yang bisa saya bantu lagi?" tanya teller itu.


"Tidak, saya rasa cukup semua ini sudah cukup. Terima kasih!" jawab Nando.


"Sama-sama, Pak," jawab teller itu


"Kalau begitu, saya permisi. Mari!" pamit Nando.


"Silakan, Pak! Terima kasih atas kepercayaan Bapak kepada lembaga kami," ucap teller itu lagi seraya mengatupkan kedua telapak tangannya.


"Ya." Nando menjawab dengan singkat.


Setelah keluar dari Bank, Nando segera kembali ke klinik Mahardika Heart Centre. Dia kemudian menemui pihak dokter yang merawat anaknya. Nando mengetuk pintu ruangan dokter Guna."


"Silakan masuk!" perintah dokter Guna dari dalam ruangannya.


Nando membuka pintu ruangan. "Maaf mengganggu waktunya, Dok!" ucap Nando.


"Ah, Pak Nando. Silakan duduk! Ada yang bisa saya bantu?" tanya dokter Guna dengan senyuman khasnya yang menampilkan kedua lesung pipit di pipinya.


"Begini, Dok. Saya ingin membicarakan tentang operasi transplantasi jantung untuk anak saya. Apa sudah ada pendonornya?" tanya Nando.


"Sebenarnya, minggu kemarin sudah ada. Namun karena bapak belum mengizinkan kami mengambil tindakan, maka kami memberikannya kepada pasien lain," jawab dokter Guna.


"Oh, begitu," ucap Nando, lesu.


"Memangnya ada apa, Pak?" tanya dokter Guna lagi.


Sebenarnya, saya sudah berhasil mengumpulkan biaya untuk melakukan operasi transplantasi jantung anak saya. Jika Dokter berkenan, tolong bisa ditindak secepatnya," pinta Nando penuh harap.


"Begitu ya, Pak. Baiklah, saya akan coba tanyakan ke beberapa rumah sakit di kota ini. Bapak berdo'a saja, supaya kita bisa menemukan pendonor yang tepat untuk putra Bapak. Akan kami kabari kembali jika pendonornya sudah ada," ucap dokter Guna.

__ADS_1


"Terima kasih, Dok. Kalau begitu, saya permisi dulu!" pamit Nando.


"Baik, Pak. Silakan!" jawab dokter Guna dengan ramahnya.


Nando tersenyum, sejurus kemudian dia keluar dari ruangan dokter Guna.


🍀🍀🍀


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya Ilona tiba di sebuah villa yang cukup terpencil. Penjagaan di villa itu ternyata cukup ketat. Ilona bisa melihat ada empat orang pria berkulit hitam dan bertubuh tegap. Mereka berjalan mondar-mandir di depan gerbang utama villa. Ilona pun turun dari mobilnya.


"Permisi! Apa Tuan Hendra ada di dalam?" teriak Ilona dari luar gerbang.


Salah satu pria bertubuh tegap itu menghampiri Ilona.


Siapa kamu? Ada urusan apa kamu menanyakan tuan kami? Apa kamu sudah membuat janji dengan beliau?" tanya bodyguard itu.


"Belum. Katakan saja kalau Chantika Ilona Prasetyo datang untuk menemuinya!" perintah Ilona tak kalah tegasnya.


"Dasar wanita gila. Berani-beraninya nyuruh-nyuruh aku, hah!" bentak pria itu, mendekati Ilona.


"Dengar botak hitam, aku tidak takut padamu! Jadi jangan pernah berbicara kasar di hadapanku. Apa kau mengerti!" ucap Ilona, menarik dasi pria hitam botak itu.


Bodyguard yang lain cukup terkejut melihat temannya diperlakukan seperti itu. Mereka pun segera berlari menghampiri temannya yang sedang bersitegang dengan seorang gadis.


Tiba-tiba, seorang pria paruh baya berteriak dari teras villa itu. Seorang bodyguard berlari menghampiri pria tersebut.


"Maaf, Bos. Di luar ada seorang gadis yang ingin bertemu dengan Bos. Namun saat saya mengusirnya, dia malah mengancam saya. Sepertinya dia bukan gadis biasa, Bos," ujar bodyguard kedua.


"Siapa dia? Untuk apa dia mencariku?" tanya pria paruh baya tersebut.


"Maaf Bos, saya kurang tahu. Dia hanya meminta saya menyampaikan pada Bos jika Chantika Ilona Prasetyo ingin bertemu dengan Bos." Bodyguard itu menirukan ucapan Ilona.


Senyum menyeringai terpancar dari raut wajah pria paruh baya itu. "Biarkan dia masuk!" perintahnya pada sang bodyguard.


Bodyguard itu kembali berlari mendekati gerbang. "Biarkan dia, masuk!" Dia memberikan perintah kepada temannya.


"Tapi, Bos!" Sang teman protes.


"Bos Besar yang menyuruh dia masuk," ucap bodyguard itu seraya membuka pintu gerbang. "Masuklah!" perintahnya kepada Ilona.

__ADS_1


Dengan pongahnya, Ilona berjalan melewati para bodyguard itu. Tiba-tiba dia melemparkan kunci mobil kepada salah seorang bodyguard. "Parkirkan mobilku!" perintah Ilona kepadanya.


Geram dan tak mengerti. Mungkin itu yang para bodyguard rasakan. Namun mereka tak dapat berbuat apa-apa. Toh bos sendiri yang mempersilakan gadis itu masuk. Si bodyguard yang memegang kunci hanya bisa mendengus kesal.


"Masuk! Masuklah keponakan kecilku!" teriak pria itu dari dalam rumahnya.


Ilona hanya memutar kedua bola matanya, jengah. Jika bukan karena dia membutuhkan pertolongan laki-laki itu, dia tidak akan pernah sudi datang ke tempat ini lagi.


Ilona terus melangkahkan kakinya menuju ruang keluarga. Tampak sang paman sedang duduk bertumpang kaki di sebuah sofa yang cukup besar.


"Aku butuh bantuan darimu!" ucap Ilona tanpa basa-basi.


Hahaha,... Tidak bisakah kau berbasa-basi terlebih dahulu, Chantika? Kau tidak ingin menanyakan kabar pamanmu ini? Kau tidak merindukan pamanmu yang sudah tua renta ini?" tanya orang itu bertubi-tubi.


"Aku tidak punya cukup banyak waktu untuk semua itu." Ilona menjawab pertanyaan laki-laki itu dengan sinisnya.


"Tika-tika ... Dari dulu, tabiatmu memang tidak pernah berubah. Judes dan selalu dingin. Hahaha...," tawa ejek sang paman.


"Aku datang bukan untuk mendengar ocehanmu. Kau mau mau membantuku atau tidak?" Kali ini Ilona bertanya dengan nada tinggi.


"Sabarlah Chantika, Sayang! Dengar, meskipun hubungan kita tidak baik, tapi Om pasti akan membantumu. Katakan! Apa yang kamu inginkan dari Om?" tanya laki-laki itu.


"Aku ingin Om menjual mobilku di pasar gelap," pinta Ilona.


"Apa mobilmu habis melenyapkan nyawa seseorang?" tanya laki-laki itu dengan wajah yg berubah serius.


"Ti-Tidak! A-Aku hanya ingin menggantinya saja!" Ilona gugup mendengar pertanyaan seperti itu.


"Oh, ayolah Chantika ... kamu pikir Om orang baru terjun di dunia hitam? Jika kamu hanya ingin menggantinya saja, kenapa tidak kamu jual sendiri? Dan kenapa juga harus di pasar gelap, hah?" bentak Om Hendra.


Ilona tertunduk.


"Katakan! Ada masalah apa? Aku ini Pamanmu, dan aku pasti akan membantumu," bujuk orang itu.


"Hmm, Paman yang tega merebut harta keponakannya sendiri," gumam Ilona.


"Jahahaha"


Laki-laki itu hanya terbahak-bahak mendengar gumaman Ilona.

__ADS_1


Bersambung


Jangan lupa like vote n komentnya 🤗🙏


__ADS_2