
Pukul 10 tepat, Heru mengajak Gintani dan putrinya menuju bangsal anak, tempat acara pesta ulang tahun Putri diselenggarakan. Putri digendong oleh pengasuhnya sedangkan Heru mendorong kursi roda Gintani. Tiba di sana, Heru segera mengambil alih Putri dari pangkuan Mina.
Kue ulang tahun beserta bingkisan telah tersedia di ruangan itu. Heru juga menyewa badut untuk menghibur para pasien anak yang berada di sana. Meskipun acaranya cukup sederhana, tak ada tarian ataupun nyanyian, tapi anak-anak cukup merasa senang dengan kehadiran dua orang badut itu. Para badut itu juga memberikan atraksi sulap sebagai pelengkap hiburan yang mereka persembahkan.
Putri terlihat sangat senang dengan penampilan badut-badut itu. Pun juga dengan pasien anak yang merasa terhibur dengan keberadaan badut itu. Sejenak, mereka melupakan rasa sakit yang dideritanya. Heru dan Gintani tersenyum bahagia melihat gelak tawa Putri yang sedang berinteraksi dengan kedua badut itu.
"Sepertinya, putrimu akan tumbuh menjadi seorang pemberani, Gin," ucap Heru.
"Benarkah? Dari mana Mas bisa menyimpulkan hal tersebut?" tanya Gintani.
"Kamu lihat saja! Dia sama sekali tidak merasa takut dengan badut-badut itu," tutur Heru.
Gintani melihat ke arah Putri yang tengah dipangku oleh salah seorang badut. Putri tampak tertawa lepas, berbanding terbalik dengan Mina yang berekspresi sedikit meringis tatkala badut-badut itu mendekati dirinya.
Hmm, lucu sekali, batin Gintani.
Mata Gintani tak lepas memandang putrinya yang cantik seperti seorang princess dari negeri dongeng. Entah siapa yang memilihkan baju itu untuknya. Namun yang jelas, aura seorang putri makin terpancar jelas dalam diri gadis kecil itu.
Nyanyian selamat ulang tahun mengiringi gadis kecil itu untuk meniup lilinnya. Setelah itu, dibantu Heru, Putri memotong kue ulang tahunnya yang tersusun tiga tingkat dengan karakter kuda poni mengelilingi kue tart itu. Heru memberikan potongan pertama kue itu kepada Putri.
Keharuan terjadi untuk beberapa detik saat tangan mungil itu menyodorkan potongan kue tersebut ke depan wajah Gintani.
"Apa ini untuk Mama?" tanya Gintani.
Ya...ya..ya...ya.." Celoteh Putri seraya mengangguk-anggukan kepalanya.
Gintani tersenyum, sejurus kemudian dia membuka mulutnya.
Putri semakin mengulurkan tangannya. Dengan bantuan Heru, akhirnya potongan kue tersebut berhasil mendarat di mulut Gintani. Putri semakin terbahak melihat cream kue belepotan di sekitar mulut ibunya.
"Hmm, kamu nakal, ya ... ngerjain ibu kamu sendiri," ucap Heru sambil mengusap sudut bibir Gintani yang kotor akibat krim kue yang menempel.
Pandangan mereka beradu. Rasa canggung pun mulai menyelimuti keduanya.
"Ma-maaf," ucap Heru seraya menurunkan tangannya.
"Ti-tidak apa-apa," jawab Gintani seraya menurunkan pandangannya.
Tak ingin merusak suasana, Heru pun kembali ke tengah-tengah acara.
"Ayo anak-anak, siapa yang mau bingkisan dari Putri?" tanya Heru kepada para pasien anak-anak di bangsal itu.
"Saya ...! Saya ...!" teriak anak-anak tersebut.
"Baiklah, sekarang kalian duduk yang rapi di ranjangnya masing-masing, ya. Nanti Dedek Putri akan membagikan bingkisannya ke atas ranjang kalian. Oke!" ucap Heru.
Semua anak dengan sigap duduk bersila di ranjangnya masing-masing. Heru pun kembali menggendong Putri dan bersiap untuk membagikan bingkisannya.
🍀🍀🍀
"Selamat siang, dengan Tuan Argha?" ucap seorang sipir wanita yang sedang menjaga Ilona di rumah sakit.
"Ya, saya sendiri. Maaf, saya berbicara dengan siapa?"
"Saya sipir dari penjara wa–"
__ADS_1
Tiba-tiba Ilona merebut telepon dari tangan sipir wanita tersebut.
"Hallo, Kakak! Kak Argha, kenapa Kakak tidak menjenguk aku. Sekarang aku sedang berada di rumah sakit. Apa Kakak tidak ingin tahu bagaimana kondisi aku selama ini?" tanya Ilona.
Hening
"Kakak ... Hallo ... Kakak ....!"
Tut.. Tut.. Tut...
Sambungan terputus. Sepertinya Argha memang tidak ingin berbicara lagi dengannya. Ilona marah, dia kemudian melempar ponsel milik sipir wanita itu hingga hancur berantakan.
"Aarhh!"
Tiba-tiba Ilona berteriak sambil memegangi perutnya. Setelah itu, dia pun jatuh tak sadarkan diri.
🍀🍀🍀
Keesokan harinya.
"Jadi, saya sudah diperbolehkan pulang, Dok?" tanya Gintani kepada dokter yang telah selesai memeriksanya.
"Alhamdulillah, Anda sudah bisa pulang hari ini juga, Bu," jawab dokter.
"Alhamdulillah, terima kasih, Dok," ucap Gintani.
"Sama-sama, saya permisi dulu ya, Bu," pamit dokter itu.
"Kalau begitu, saya telepon tuan Heru untuk memberitahukan kepulangan Nyonya," ujar Mina.
"Biasanya jam 5 sore tuan Heru sudah ada di rumah. Setelah beristirahat sebentar, dia baru pergi ke rumah sakit untuk menunggui Nyonya," jawab Mina.
"Tolong rahasiakan kepulanganku kepada tuanmu," pinta Gintani kepada Mina.
"Maksud Nyonya?" tanya Mina tak mengerti.
"Aku ingin membuat kejutan untuk tuanmu. Sekarang, berikan Putri padaku. Tolong kamu cek biaya perawatanku selama di sini," ucap Gintani.
"Anda tidak usah khawatir, suami Anda telah melunasi biaya perawatan Anda hingga Anda pulih total," ucap salah seorang perawat yang datang untuk membuka jarum infus Gintani.
Gintani terkejut. Dia benar-benar tidak menyangka akan kebaikan yang tidak terkira dari orang yang telah menolongnya. Sekali lagi, aku sangat berhutang budi padamu, mas, batin Gintani.
Setelah perawat itu membuka infusannya, Gintani pun segera membereskan barang-barangnya. Tak lama kemudian, seorang perawat datang dengan membawa kursi roda.
"Apa sudah siap semuanya, Bu?" tanya perawat itu.
"Iya, Sus," jawab Gintani.
"Mari, saya antar ke depan!" Perawat itu menawarkan diri untuk membantu Gintani.
"Terima kasih, Sus. Tapi saya ingin berjalan kaki saja, supaya terbiasa," jawab Gintani.
"Apa Anda yakin?" tanya perawat itu, memastikan.
Gintani mengangguk penuh kepastian.
__ADS_1
"Ya sudah, biar saya bantu papah sampai lobi depan," ucap perawat itu lagi.
"Terima kasih, Sus," jawab Gintani.
Mereka kemudian keluar dari kamar itu. Kamar yang menjadi saksi, Gintani tidur selama setahun.
🍀🍀🍀
Heru menyandarkan punggung di kursi kerjanya. Hari ini, begitu banyak hal yang harus dia urus. Dimulai dari pengiriman hasil produksi ke beberapa agen di luar kota, hingga datangnya bahan baku secara besar-besaran.
"Aaah ... rasanya tulang-tulangku seakan remuk," ucap Heru.
Alex hanya tersenyum melihat tingkah Heru. Dia juga merasakan lelah yang sama. Tapi namanya juga bekerja, tidak ada yang tidak lelah dalam melakukan pekerjaan.
"Sabar Bos, hari ini memang pekerjaan terasa berat, mungkin karena pengaruh beberapa karyawan yang tidak masuk juga," ucap Alex.
"Hmm, kamu benar. Banyak karyawan kita yang jatuh sakit akibat pergantian musim," jawab Heru.
"Oh iya Her, aku baru ingat. Hari ini kemungkinan aku pulang awal, karena harus mengantar Dendi ke rumah sakit," ujar Alex.
"Memangnya Dendi kenapa?" tanya Heru.
"Biasa, penyakit bocah. Batuk pilek," jawab Alex.
"Oh ya sudah, pulanglah sekarang. Lebih cepat diperiksa, itu lebih baik," jawab Heru.
"Tapi, pekerjaan kita masih banyak, Her," kata Alex.
"Sudah tidak usah khawatir, aku bisa menyelesaikannya sendirian," ujar Heru.
"Tapi ...."
"Sudah-sudah, kesehatan keponakanmu lebih penting. Pulanglah!" perintah Heru.
Alex tak bisa menolak perintah Heru. Bagaimanapun juga, Heru seseorang yang sangat tegas dan selalu menomorsatukan kesehatan. Akhirnya Alex mengalah dan berpamitan pada Heru.
.
.
.
Setelah menjemput Dendi, Alex pergi ke rumah sakit. Setengah jam berlalu. Mereka tiba di rumah sakit daerah. Selepas membayar ongkos taksinya, Alex segera turun dengan menggendong Dendi.
"Mari Nyonya, taksinya sudah datang," ucap Mina.
"Biar Putri saya yang gendong, Min. Kamu tolong bawakan tas saya saja," ucap Gintani seraya memasuki taksi.
Deg!
Alex terkejut mendengar suara yang begitu familiar di telinganya. Seketika dia membalikkan badan untuk melihat si empunya suara. Sayangnya, begitu Alex menengok, wanita itu telah memasuki taksinya sehingga Alex tidak bisa melihat wanita itu dengan jelas.
"Kamu mikir apa toh, Lex. Tidak mungkin Gintani berada di sini," gumamnya. Alex pun kembali melangkahkan kakinya menuju rumah sakit.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa like, vote n komennya 🤗🙏