Takdir Gintani

Takdir Gintani
Permainan Takdir


__ADS_3

“Cih….! Sekali pelacur, tetaplah akan selalu menjadi pelacur !”


Teriakan seorang lelaki, menghentikan isak tangis Gintani. Dia pun mulai menyeka air mata yang meleleh di pipinya. Gintani berdiri dan hendak pergi untuk menghindari lelaki itu. Namun ternyata, pergerakannya kalah cepat dengan sambaran tangan laki-laki bertubuh tegap itu.


Brugh….!


Tarikan tangannya kembali menghempaskan tubuh Gintani ke dalam dada bidangnya. Argha menarik tengkuk Gintani sehingga gadis itu mendongakkan wajahnya. Tanpa aba-aba, dia mulai mencium bibir tipis itu dengan kasarnya.


Gintani terkejut, tangan mungilnya memukul-mukul dada bidang lelaki itu untuk menghentikan perbuatannya. Namun hal itu malah membuat Argha semakin menggila. Dia menahan tengkuk Gintani dan memperdalam ciumannya. Bibirnya mel***t habis bibir mungil gadis itu. Merasa kehabisan napasnya, Argha pun melepaskan ciumannya.


Plak....!!


Sekali lagi tangan mungil Gintani mendarat keras di pipi Argha. Argha menatapnya tajam.


“Berani sekali kau menamparku !” teriak Argha kembali mencekal lengan Gintani.


“Dan kau ! Berani sekali kau mencium ku, hah !” teriak Gintani.


Argha memelintir tangan Gintani ke belakang, sehingga membuat Gintani terpaksa membalikkan badannya, memunggungi lelaki itu.


“Dengar ! Kau adalah milikku ! Hanya milikku ! Apa kau lupa jika aku telah membeli harga dirimu ?” bisik Argha tepat di telinga Gintani.


“Lepaskan tanganku !” teriak Gintani.


Bukannya melepaskan tangan Gintani, tangan kiri Argha justru malah melingkar di leher Gintani. Dia menarik tubuh mungil itu hingga punggung Gintani menempel di dada bidang miliknya.


“Aku tidak suka orang lain menyentuh apa yang pernah menjadi milikku ! Jangan pernah memancing kemarahan ku, atau aku akan menghabisi mu !” bisik Argha seraya mendorong kasar tubuh gintani hingga terjerembab ke tanah.


“Aww….!”


Gintani meringis kesakitan saat telapak tangannya mengenai batu runcing yang bertebaran di sekitar tanah. Namun hati Argha tidak tergerak melihat hal itu. Kemarahan telah menyelimuti jiwanya. Argha hanya mendengus kesal seraya berjalan melewati Gintani begitu saja.


🍀🍀🍀


Selama perjalanan menuju kota Jakarta, Argha hanya bisa diam. Ocehan Bram tentang hasil rapat dengan para petinggi daerah setempat, sama sekali tak digubrisnya. Pikirannya melayang pada kejadian saat Gintani dengan beraninya mencium laki-laki bersorban itu. Sungguh Argha merasa tidak nyaman melihat kebersamaan mereka. Apalagi Argha bisa melihat jika pria itu memperlakukan Gintani dengan sangat lembut. Hati Argha meradang melihat semua itu.


"Shitt…! Berani-beraninya dia bersikap seperti itu di hadapan ku ! Dasar murahan ! Arrggghhh!” dengus Argha kesal seraya menjambak rambutnya.


Bram hanya bisa melongo menyaksikan semua kekesalan bos nya. Ada apa dengannya ? Kenapa dia terlihat kesal sekali ? gumam Bram dalam hati.


“Bos, are you oke ?” tanya Bram hati-hati. Takut jika pertanyaannya akan memancing kemarahan Argha. Bram tahu jika Argha sedang tidak baik-baik saja saat ini.

__ADS_1


"Siapkan draf kontrak kerja sama untuk proyek pembangunan taman wisata yang diajukan mereka !” perintah Argha.


“Tapi bos ? Bukankah kita harus menunggu dulu kepulangan ayah bos ? Lagi pula, aku dengar-dengar ada beberapa warga yang belum mau melepaskan tanahnya untuk perluasan kawasan wisata, bos !” jawab Bram.


“Aku tidak peduli ! Kau urus saja semuanya. Aku ingin, bulan depan kontrak kerjasama itu harus sudah kita tanda tangani." jawab Argha, kesal.


“Yang benar saja bos ? bulan depan kan hanya tinggal 5 hari lagi !" gerutu Bram seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Bisa tidak, kalo gue beri perintah lo langsung jawab siap !” teriak Argha semakin merasa kesal.


" Iya…iya…iya…..!" Bram mengalah dan meng-iyakan keinginan pria arogan itu. memberi saran pun percuma jika keadaan Argha terlihat sangat kacau seperti itu.


🍀🍀🍀


Suara teriakan seorang wanita masih terus menggema di salah satu kamar sebuah mansion mewah di negara yang mendapat julukan gedung putih.


“Keluarkan aku, brengsek ! Cepat keluarkan aku dari sini ! Aku tidak mau berada di tempat ini ! Keluarkan aku !” teriak wanita itu.


Brugh....!


“Ish…!”


Kakinya menendang kuat pintu yang terbuat dari kayu jati itu. Namun sejurus kemudian, dia meringis kesakitan saat ujung jari kakinya mencium pintu tersebut.


Jessica memejamkan matanya. Bayangan kejadian seminggu yang lalu kembali melintas dalam ingatannya.


Jessica mengerjapkan matanya saat dia mendapati silaunya matahari menerpa wajahnya. Sejenak dia termenung mendapati suasana kamar yang sangat asing. Saat dia berupaya untuk mengumpulkan semua kesadarannya, tiba-tiba seorang wanita muda berpakaian seragam pelayan memasuki kamar Jessica seraya membawa nampan berisi makanan.


“Selamat pagi nona Jessica." ucap pelayan berwajah bule namun terdengar fasih mengucapkan sapaan dalam bahasa Indonesia.


"Si…siapa kamu ?” tanya Jessica sedikit ketakutan karena merasa asing dengan pelayan itu.


Tiba-tiba…


"Ah, baguslah kamu sudah bangun Jes !” ujar seorang pria bermata biru yang tiba-tiba telah memasuki kamarnya.


“Kevin !” ucap Jessica terkejut.


“Saya permisi, tuan !” pamit pelayan itu setelah melihat kedatangan tuannya.


Kevin hanya mengibaskan tangannya sebagai jawaban.

__ADS_1


“Apa yang kau lakukan di sini ? Di mana aku ?” tanya Jessica.


“Makan dulu, nanti aku jelaskan semuanya ! Kau pasti sangat kelaparan setelah seharian pingsan." jawab Kevin seraya mengambil piring dari atas nampan dan menyerahkannya kepada Jessica.


"Aku tidak lapar ! Aku mau pulang !” ujar Jessica seraya beranjak dari atas tempat tidur. Namun tubuhnya kembali terhempas saat Kevin menarik paksa tangannya.


"Diam di tempat dan makanlah !” teriak Kevin.


"Aku tidak mau !” Jessica membalas teriakan kevin dengan kencangnya.


Prangg…..


Kevin melemparkan piring yang berada di tangannya.


"Turuti perintahku, atau aku akan menjual mu ke Texas !” bentak Kevin seraya mencengkram kuat kedua rahang Jessica.


Jessica meringis kesakitan. Tiba-tiba dia ingat jika dia sedang makan malam bersama mantan kekasihnya.


“Argha….di mana Argha ? Apa yang terjadi padanya ? Di mana dia ?” ujar Jessica.


Kevin melepaskan cengkraman tangannya.


“Argha telah membuangmu ke temat ini, Jessi ! Berhentilah berharap padanya ! Dia sudah tidak mencintai kamu lagi !”


“Bohong ! Kamu pasti bohong ! Aku tau Argha sangat mencintai aku ! Izinkan aku pulang, Kev ! Argha kesakitan, dan aku harus merawatnya.” pinta Jessica yang kembali terbayang akan lenguhan Argha yang tengah merasakan sakit di kepalanya.


"Ha…ha…ha…! Kamu memang bodoh Jessi ! Aku tidak pernah menyangka jika cinta benar-benar menghilangkan kepintaran mu ! Lihatlah ini !”


Kevin merogoh ponselnya dari dalam saku celananya. Dia menggulirkan beberapa video dalam galerinya. Setelah itu dia menyerahkan ponselnya kepada Jessica dan menekan tombol play.


"*A**pa kabar Jessica ! JIka kau melihat rekaman video ini, aku yakin kau telah bangun dari tidur panjang mu ! Aku minta maaf karena telah berlaku kasar padamu ! Tapi maafkan aku Jessi, sampai kapan pun juga, hubungan kita tidak akan pernah kembali ! Jika kau menganggap ku telah membuang mu ke negara yang kau tinggali saat ini, semua itu terserah padamu ! Tapi percayalah, itu adalah jalan yang terbaik bagimu ! Takdirku bukan untuk bersamamu ! Hiduplah dengan benar di sana Jessi ! Aku yakin Kevin akan menjagamu dengan baik* !"


"Arrggghhh…...!!


Prakkkk…


Jessica berteriak kesal seraya melemparkan ponsel milik Kevin ke lantai.


"Aku pasti membalas mu Argha ! Suatu hari nanti, aku pasti kembali ke negaraku. Kita lihat saja, siapa yang akan bertekuk lutut dalam permainan takdir ini !" gumam pelan Jessica


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa like, vote n komennya yaaa.. 🙏


__ADS_2