Takdir Gintani

Takdir Gintani
Temukan Dia!


__ADS_3

Pagi ini mereka lewati dengan cara tak biasa. Tak ada percakapan yang menghangatkan suasana meja makan. Tak ada tato yang akan membuat mereka saling melempar senyum penuh arti. Bahkan tak ada kecupan hangat yang selalu mereka berikan untuk saling menyemangati dalam menjalani hari. Semuanya tenggelam dalam pemikirannya masing-masing.


Mereka saling menyadari perubahan yang terjadi. Namun sekali lagi keegoisan lebih berkuasa atas diri mereka. Argha yang masih penasaran dengan sang pemilik foto, dan Gintani yang masih tenggelam dalam merutuki cinta semunya, membuat kesalahpahaman itu semakin melebar.


🍀🍀🍀


Tok... Tok... Tok...


Bram mengetuk pintu ruangan Argha. Tujuannya hanya untuk memberikan ponsel yang semalam diminta bosnya.


"Masuk!" titah Argha dari dalam ruangan.


Ceklek...!


Bram membuka pintu ruangan Argha. Dia sedikit terkejut melihat aura wajah Argha yang terlihat tak bersahabat.


"Ini ponsel yang lo minta semalam!" ucap Bram meletakkan ponsel itu di meja kerja Argha.


Argha menerima benda pipih berwarna grey. Sejenak dia membolak-balikkan benda itu. "Apa ini keluaran terbaru?" tanya Argha.


"Sesuai permintaanmu, Sultan!" jawab Bram seraya mendaratkan bokongnya di kursi. "Memangnya, kenapa dengan ponsel lama lo?" tanya Bram.


"Ponselnya jatuh dan sudah tidak berfungsi lagi," jawab Argha.


"Huh, dasar kang ceroboh!" cibir Bram.


"Hei, ponsel gua nggak bakalan rusak kalau saja lo nggak nelpon gua malam tadi!" sungut Argha, kesal.


"Lah, kok malah jadi gua yang disalahin?" tanya Bram seraya mengernyitkan dahinya.


"Ya, karna emang lo yang salah. Coba lo nggak telpon gue. Gadis itu nggak mungkin nabrak gua dan bikin ponsel gua jatuh," jawab Argha, geram.


"Gadis?" tanya Bram.


Argha terkejut menyadari ucapannya. Tiba-tiba saja, dia teringat akan foto yang dia temukan. Argha kemudian membuka tas kerjanya. Dia mengambil foto itu dan menggesernya ke hadapan Bram.


Bram meraih foto tersebut. Dia sangat kaget dengan gadis kecil yang tersenyum manis dalam foto itu.


"Gila lo, Ar! Lo masih nyimpen foto ini? Gimana kalau bini lo liat ni foto? Lo udah nikah Ar, come on, Ar... move on...! Kasihan bini lo! Lo hargai dia dikit napa, Ar!" cerocos Bram.


Argha menghela napasnya. "Sudah, ngomongnya?" tanya Argha datar.

__ADS_1


"Ish, sialan lo Ar! Gua udah ngomong panjang lebar, dan cuma gitu aja tanggapan lo? Lagian lo ya, Ar... baru kemaren lo nyuruh gua berhenti cari informasi tentang Na. Terus, kenapa sekarang lo malah ngasih ni foto ma gua? Gua pikir, lo udah bakar foto ini."


"Itu bukan punya gua, Bram. Gua bersumpah, gua udah bakar foto itu sejak gua memutuskan untuk menerima Gintani dalam hidup gua."


"Terus, foto ini?" tanya Bram.


"Semalam, di pesta bokap, ada seorang gadis yang nabrak gua. Dan foto itu..., sepertinya, itu foto miliknya," jawab Argha.


"Jadi... apa... apa gadis itu, Na?" tanya Bram, terkejut.


Argha menggedikkan bahunya.


"Terus?"


"Gua minta, lo temukan dia!"


"What!! Gila lo, Ar!" pekik Bram.


"Please, Bram! Gua cuma pengen mastiin aja. Apa dia Na atau bukan?" Argha memohon kepada sahabatnya.


"Apa yang akan lo lakukan jika dia memang Na?" tanya Bram dingin. Jujur dia mulai tidak suka dengan perintah atasannya kali ini.


"Gua... gua..." Argha tak bisa menyelesaikan ucapannya.


Argha diam.


"Sialan lo, Ar! Lo nggak mikirin apa, Gimana perasaan Gintani jika sampai tahu lo mencari gadis itu?" Bram semakin geram melihat diamnya Argha.


"Dengar, Ar! Saran gua, sekalipun gadis itu adalah Na, lupakan dia! Lo udah punya Gintani. Jangan lo sia-siain dia, atau lo akan menyesal!"


Argha menyandarkan punggungnya.


"Tapi aku penasaran sama dia, Bram. Aku ingin tahu apa dia masih mengingatku atau tidak. Aku juga ingin memastikan perasaanku padanya. Apa semuanya ada yang berubah atau tidak?"


Brakk...


"Lo gila, Ar! Lo benar-benar gila!!"


Bram bangkit. Dia pun pergi dari ruang kerja sahabatnya dengan perasaan jengkel.


🍀🍀🍀

__ADS_1


"Hai mom! How are you?" sapa seorang pemuda tampan berperawakan tinggi. "You know, mom? Finally, i come back to this town," lanjutnya. Senyum tipisnya terpatri jelas di wajahnya. Jari jemari nan lentik, mengusap pusara itu dengan lembut. "I miss you, mom!"


"Kau tahu mom? Semalam aku bertemu dengan Adi. Tak ada yang berubah dalam diri Adi selain statusnya yang sudah beristri. Dia masih tetap Adi yang sama... Adi yang selalu membenciku atas kematian bunda Dewi. Ah, mom... seandainya waktu bisa aku ulang kembali... aku tidak akan bertindak bodoh untuk mengejar seseorang yang sangat mirip dengan tante Jenny. Aku tidak tahu jika tindakan itu justru membuat bunda Dewi menemui ajalnya. Aku benar-benar menyesal, mom..."


Pria yang tak lain adalah Richard, mulai terisak di depan pusara ibunya. Satu persatu, bayangan masa kecilnya kembali terlintas dalam ingatannya.


"Ayo Adi, kita beli mainan! Bukankah Adi ingin robot-robotan yang sama dengan punya Bang Richie?" bujuk Richard kecil saat melihat Adi mulai merengek meminta pulang. Usia Richard dan Adi terpaut 3 tahun lebih tua.


Saat sedang memilih mainan, tiba-tiba sang mommy meminta izin untuk pergi ke toilet. Setelah mendapatkan mainannya, Adi kecil pun kembali merengek. Akhirnya sang bunda mengajak mereka untuk mencari mommy Richard.


Saat mereka sedang mencari mommy Jelita. Tiba-tiba Richard melihat tante Jenny tengah menuruni tangga escalator. Tante Jennyta adalah adik kandung dari ibunya. Tante Jenny sudah berbulan-bulan meninggalkan rumah bersama seorang pria yang tidak pernah diketahui asal-usulnya.


Richard berlari untuk memanggil tante Jenny. Namun siapa sangka, jika bunda Dewi mengejarnya. Saat bunda Dewi hendak menangkap tubuh Richard kecil, justru heels bunda Dewi tersangkut hingga akhirnya bunda Dewi terjatuh ke lantai bawah.


Tragedi di depan mata itu membuat Richard mengurung dirinya selama hampir dua tahun. Sayangnya, di saat dia dinyatakan sembuh dari depresi, sang mommy tercinta harus pergi untuk selamanya karena menyimpan sebuah penyesalan yang berujung kematian.


Akhirnya, sang ayah membawa Richard pindah ke negara asalnya untuk memulai kehidupan baru. Perlahan namun pasti, Richard mulai bisa melupakan semua trauma yang menyelimutinya selama bertahun-tahun. Meskipun terkadang dia merasa kesal dengan sikap sang ayah yang selalu mencari daun muda hanya untuk melupakan kesedihan atas kepergian ibunya.


Drrt... Drrt... Drrt...


Getaran ponsel di saku celananya, seketika membuyarkan lamunan Richard. Dia kemudian merogoh ponselnya. Senyumnya terbit tat kala melihat nama si pemanggil.


"Hallo!"


"Hallo rich! Seminggu lagi, tolong jemput aku di bandara!"


"Kamu sudah diizinkan pulang?"


"Iya, dokter bilang, besok aku sudah bisa pulang. Tapi sayangnya, pasporku baru keluar minggu depan. Jadi aku bisa kembali minggu depan. Jemput aku ya, Rich!"


"Ok! Hati-hati kamu di sana! Jangan bertindak gegabah, dan jangan pernah menemui sugar daddy-mu lagi!"


"Oke, honey! Lagipula, aku sudah mendapatkan apa yang aku inginkan. Tidak usah khawatir... aku pasti akan meninggalkan si tua itu."


Syukurlah.


"Ya sudah ya Rich. Aku mau istirahat dulu. Bye!"


"Oke, see you!"


Richard menutup telpon ya. Seulas senyum tipis kembali terukir di wajahnya. Semoga kamu segera mendapatkan apa yang kamu inginkan, agar daddy bisa segera terlepas dari jeratanmu...

__ADS_1


Bersambung....


Jangan lupa like, vote n komennya yaaa... 🙏🤗


__ADS_2