
"Dengar tuan, aku tidak ingin berdebat lagi denganmu. Sebaiknya kita segera sarapan. Perjalanan Tasik-Jakarta itu sangat jauh," ucap Gintani seraya melangkahkan kakinya menuju rumah panggung itu.
Meski masih kesal, namun Argha tak punya pilihan lain. Dia pun merasa lapar karena emosi tak beralasan nya telah menguras tenaganya.
Tiba di meja makan, Gintani melihat sepiring nasi yang telah mengembang akibat genangan kuah sop. Dia pun segera membawanya ke dapur. Setelah itu dia kembali ke meja makan, dan ternyata suaminya telah duduk manis di salah satu kursi di ruang makan itu.
Gintani segera menyendok nasi beserta lauk pauk, lalu menyerahkannya kepada suaminya. Setelah itu Gintani melakukan hal yang sama untuk dirinya sendiri. Dia pun duduk di kursi samping kanan suaminya. Mereka bersantap pagi tanpa mengeluarkan obrolan sedikit pun.
Selesai makan, Gintani segera membawa piring-piring kotor itu ke dapur dan mencucinya. Setelah itu dia membereskan sisa makanan di atas meja makan. Gintani membuat nasi timbel untuk makan siang mereka di jalan. Meski Gintani yakin jika seorang pria angkuh seperti Argha, akan lebih memilih singgah di restoran daripada di tepi jalan untuk menyantap bekalnya. Namun Gintani tak peduli.
Setelah dirasa semua persiapan beres, akhirnya Gintani dan Argha pergi ke kebun belakang untuk menemui mang Rakib dan bik Susan.
"Titip rumah ya, bik! Di dalam masih ada makanan, nanti diambil ya buat makan siang kalian!" ujar Gintani.
"Iya neng! Neng sama tuan muda, Hati-hati di jalan, ya!" jawab bik Susan.
"Nanti Argha akan mengirimkan jemputan. Bibik dan mamang datang ya, di resepsi pernikahan kami!" ucap Argha.
"Insya Allah tuan, kami pasti akan datang!" Kali ini mang Rakib yang menjawab permintaan Argha.
Akhirnya, setelah berpamitan dengan orang yang selama ini menjaga lahan perkebunan milik kakeknya, Gintani dan Argha pun segera memasuki mobil.
Perlahan, Argha melajukan mobilnya keluar dari pekarangan luas itu. Sejurus kemudian, dia menambah kecepatan mobilnya saat mendapati jalanan desa begitu sepi.
🍀🍀🍀
Brakk.....
Prang.....
Prakk....
Celine memasuki kamar Gintani dan memporak-porandakan isi kamar adik sepupunya itu. Dia benar-benar tidak terima ketika Gintani melangkahinya menikah. Baginya, Gintani adalah rivalnya. Dan dia tidak boleh kalah dari Gintani dalam hal apa pun. Termasuk dalam hal jodohnya.
Celine memberantakkan barang-barang yang tengah berjajar rapi di meja rias. Dia lalu melemparkan foto kecil Gintani ke arah cermin riasnya. Seketika, cermin itu pecah. Dia kembali melemparkan buku-buku novel, koleksi pribadinya Gintani.
__ADS_1
"Arrgghhh.....! Brengsek....!" teriak celine.
Belum puas membuat kamar sepupunya menjadi kapal pecah, celine pun membuka lemari Gintani. Dia kembali mengacak-acak sisa pakaian milik Gintani. Merobek dan mengguntingnya seraya menangis histeris.
Sementara itu di ruang keluarga. Bibi Shella tampak berkacak pinggang di depan ayah mertuanya.
"Apa ayah sudah puas sekarang, hah?" teriak bibi Shella.
"Apa maksud kamu Shella?" ucap kakek Wira tak mengerti arah pembicaraan menantunya.
"Ayah datang kemari hanya untuk menghina anakku yg belum mendapatkan pasangan, kan? Sekarang celine menjadi seperti orang kesurupan, apa ayah puas?" Kembali shella berbicara dengan nada yang tinggi.
"Hhhh.... "
Kakek Wira hanya menghela napasnya melihat sikap tidak sopan sang menantu. Dia kemudian melirik ke arah Arman yang masih menundukkan wajahnya.
"Dengar Arman, ayah datang kemari bukan untuk berdebat dengan istrimu. Ayah hanya ingin mengambil barang-barang ayah yang tertinggal. Urusan pernikahan Gintani, ayah sendiri merasa heran, kenapa kalian harus merasa terusik dengan kabar pernikahannya? Bukankah ini kabar yang baik bagi kalian? Setelah Gintani menikah, kalian tidak harus bertanggung jawab lagi atas kehidupannya. Ah, aku lupa! Sebagai seorang wali, kamu memang tidak pernah bisa bertanggung jawab terhadap keponakan mu sendiri, huh!" dengus kakek Wira.
Arman merasa tertampar oleh ucapan ayahnya. Namun seperti biasa, dia hanya bisa diam tanpa ingin melawan ucapan kakek Wira.
"Maaf tuan besar, semua barang yang tuan minta, sudah Inem masukkan ke dalam koper ini," ucap bik Inem.
"Apa barang Gintani yang ketinggalan sudah juga kamu masukkan, Nem?" tanya kakek Wira.
"Anu tuan, itu ... Inem nggak berani masuk ke kamar non Gintan," jawab bik Inem gugup.
"Baiklah, nanti tolong kamu carikan buku milik Gintani yang berwarna biru beserta album foto masa kecilnya. Setelah ketemu, tolong paketkan ke tempat saya. Nanti saya kirimkan alamatnya.
"Baik tuan!"
"Arman!" panggil tuan Wira kepada anaknya.
"Iya yah," jawab Arman.
"Ayah akan kembali ke hotel. Untuk resepsi pernikahan Gintani, kau bisa datang jika kau mau. Nanti ayah kirimkan undangannya."
__ADS_1
"Apa tidak sebaiknya ayah tidur di sini sampai acara Gintani dilaksanakan?"
Kakek Wira tersenyum seraya menepuk bahu anaknya. "Terima kasih nak, tapi ayah lebih nyaman tinggal di hotel. Ayah permisi, assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumsalam."
🍀🍀🍀
"Kita berhenti dulu di bukit itu, tuan!" ucap Gintani seraya menunjukkan daerah perbukitan yang sedang mereka lintasi.
"Untuk apa?" tanya Argha, heran.
"Makan siang."
"Astaga Gintan! Aku masih sanggup mengajakmu makan di sebuah restoran mewah. Menjijikkan sekali!"
"Aku rasa, bus ke Jakarta masih banyak di jam segini. Jika tuan mau, tuan bisa menurunkan aku di bukit itu. Biar nanti aku lanjutkan perjalanan untuk kembali ke kota dengan menggunakan bus saja!"
Gila...., aku ternyata menikahi wanita yang sangat nekat dan gila. Batin Argha. Tanpa banyak bicara lagi, Argha pun segera membelokkan mobilnya untuk menepi di bahu jalan. Sebuah pesona alam yang tampak indah pun tergambar jelas di hadapan mereka
Tiba di sana, Gintani segera membawa bekal nya. Dia kemudian memasuki sebuah lapak kosong yang sudah tidak digunakan oleh penjualnya. Dia mulai mengeluarkan nasi timbel yang dibawanya dari rumah.
"Kau tidak ingin bergabung bersamaku, tuan?" teriak Gintani.
Argha hanya mendengus kesal dan masih bergeming di balik kemudinya.
Tak mendapat jawaban dari suaminya, Gintani hanya diam dan melanjutkan makan siangnya. Selesai makan, Gintani segera membereskan sampah bekas bungkusan nasi itu. Saat dia hendak membuangnya di gundukan sampah yang terdapat di belakang lapak, Gintani terpana melihat pemandangan alam di sekitar bukit. Dia kemudian duduk sejenak sambil merebahkan kepalanya. Senyumnya mengembang melihat indahnya ciptaan Illahi.
Tanpa dia sadari, Argha telah berdiri di belakang Gintani. Argha mengeluarkan ponselnya dan tanpa izin, dia pun mengambil foto Gintani. Sejenak, Argha terpaku melihat hasil karya Sang Pencipta yang tengah duduk menyandarkan kepalanya dengan senyum memukaunya. Kedua lesung pipitnya, semakin menambah kesempurnaan senyum wanita yang telah sah menjadi istrinya.
"Sampai kapan kau akan duduk di sini? Bukankah kau bilang jika perjalanan kita masih panjang?"
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa like vote n komennya yaaa 🙏