Takdir Gintani

Takdir Gintani
Cinta Segitiga


__ADS_3

"Ada apa ini, Ar? Apa yang terjadi padanya? Kenapa Gintani sampai tidak sadarkan diri?" tanya Tuan Jaya begitu tiba di kamar Argha.


Beberapa menit sebelumnya.


Tuan Jaya menerima panggilan dari asisten rumah tangganya. Sang asisten memberitahukan tentang apa yang sedang terjadi di rumahnya. Seketika, Tuan Jaya membatalkan jamuan makan malamnya dan kembali ke mansion.


Tiba di mansion, Tuan Jaya melihat Gintani yang sedang ditangani oleh dokter keluarga. Tak lama berselang, sang dokter pun pamit undur diri karena tugasnya telah selesai.


Tuan Jaya mendekati anaknya. Dia mencoba menggali informasi tentang apa yang telah terjadi di rumahnya.


Argha menatap wajah ayahnya. Sinar kemarahan masih terpancar jelas di kedua matanya. Namun Argha masih enggan untuk menceritakan semua kebenaran. Pikirannya masih terfokus akan keselamatan sang istri.


"Jaga kakak iparmu, Fa!" perintah Tuan Jaya kepada putrinya. "Ikutlah dengan Papah!" lanjut Tuan Jaya, menepuk bahu Argha.


Argha mengangguk. Dengan langkah gontai, dia segera mengikuti ayahnya menuju ruang kerja.


Hamparan rumput hijau terlihat sangat indah dipandang mata. Seorang gadis kecil berusia sekitar 5 tahun, tengah asyik duduk sendirian di bawah pohon yang rindang. Dia sedang memainkan boneka barbienya. Seorang anak laki-laki duduk di bangku kayu yang tak jauh dari pohon rindang tersebut. Tiba-tiba saja,


"Berikan boneka itu padaku!" ucap seorang anak berusaha tujuh tahun seraya merebut boneka barbie dari tangan si anak kecil.


"Jangan, Kak! Itu punyaku!" teriak gadis kecil itu seraya berlari mengejar anak perempuan yang tengah mengacung-acungkan boneka barbie yang dirampasnya.


"Ini punyaku, nenekku yang telah membeli boneka ini. Jadi, ini punyaku!" jawab si anak perempuan.


"Tapi, Bu Ati telah memberikannya untukku," jawab si anak kecil. "Kembalikan boneka aku, Kak!" pintanya, memelas.


Tak!


Bukannya mengembalikan, anak perempuan itu malah mematahkan leher boneka barbie dan melemparkannya ke sembarang arah.


Seorang anak laki-laki yang sedari tadi memperhatikan mereka, merasa geram. Dia kemudian mendekati anak perempuan itu.


Plak!


Anak laki-laki itu menampar pipi anak perempuan hingga menangis. Namun bukannya melepaskan, dia malah mencengkram kedua rahang anak perempuan itu.


"Kenapa kamu mengganggunya, hah? Bukankah dia tidak pernah menggangu kamu dan teman-temanmu? Tapi kenapa kamu senang sekali menggangu anak kecil itu?" tanya anak laki-laki dengan nada dinginnya.


"Tolong! Tolong! Kakak ini mau mencekik aku, tolong!"


Anak perempuan itu berteriak-teriak minta tolong hingga mengundang perhatian orang-orang dewasa yang tengah melintas di sana.


"Hei, apa-apaan ini? Apa kamu ingin jadi jagoan, hah? teriak seorang ibu yang sedang menggendong bayinya.


"Sudah Bu, kita laporkan saja bocah nakal itu kepada polisi! Kemarin, dia juga memukul anak saya." timpal ibu-ibu berdaster.


"Ya? Anda benar. Dasar anak kota tidak ada akhlak! Apa kedua orang tuanya tidak pernah mengajari dia sopan santun,huh?" dengus ibu yang menggendong bayi itu lagi.

__ADS_1


"Pak! Tolong bawa dia ke kantor polisi!" perintah ibu-ibu berdaster kepada satpam pabrik yang tengah beristirahat di warung dekat bukit.


Sang satpam bertubuh tegap itu segera menghampiri anak laki-laki tersebut. Dia mencekal tangan mungilnya, lalu menyeret anak tersebut. Anehnya, tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir anak laki-laki itu. Yang ada hanya sebuah senyum sinis yang dia layangkan untuk orang-orang di sekitar bukit.


"Tidak! Jangan bawa Kakak! Jangan! Tidak! Kakak! Kakak! Jangan pergi! Jangan bawa Kakak!"


"Jangaaaan!"


Napas Gintani tersengal begitu tersadar dari mimpinya. Kakak... Kakak... si-siapa anak-anak itu? Siapa mereka?


"Kakak ipar?"


Gintani melirik ke arah pintu, tampak Nadhifa tengah membawa nampan berisi air minum.


"Kakak kenapa?" Nadhifa segera menghampiri Gintani yang terlihat pucat. "Apa yang terjadi padamu, Kakak? Kenapa wajahmu berkeringat seperti ini?" tanya Nadhifa seraya menyeks bulir keringat di pelipis Gintani dengan kedua telapak tangannya.


"A-aku tidak apa-apa. Di-mana Kakakmu, Fa? A-apa dia baik-baik saja?" tanya Gintani.


"Kak Argha baik-baik saja. Kenapa Kakak masih mencemaskan Kak Argha? Harusnya Kakak mencemaskan diri kakak sendiri. Apa kakak merasa pusing? Apa kepala bagian belakang Kakak terasa sakit?"


Gintani meraba kepala belakangnya. Keningnya sedikit mengernyit saat tangannya menyentuh benjolan kecil di kepala bagian belakangnya.


"Sakit?" tanya Nadhifa lagi.


"Tidak apa-apa!" jawab Gintani. "Fa, bagaimana keadaan Mbak Jessica, apa dia baik?"


"Tapi aku benar-benar mencemaskan dia, Fa. Mas Argha...ta-tadi di_"


"Sudahlah Kak, jangan selalu mencemaskan orang lain. Cemaskanlah diri kakak sendiri!"


Gintani menatap heran kepada adik iparnya.


"Kakak...," ucap Nadhifa sembari menyelipkan rambut Gintani di belakang telinganya. "Kak Bram sudah menceritakan semuanya. Gadis itu telah kembali. Aku tahu apa yang Kakak rasakan saat ini. Karena aku pun merasakan kekhawatiran yang sama. Aku takut Kak...aku takut jika hubunganku yang baru saja sehari, tidak akan pernah berlanjut lebih jauh lagi," ucap Nadhifa pilu.


Gintani mengernyitkan keningnya. "Fa, Kakak tidak mengerti maksud kamu? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kamu bicara seperti itu?"


"Kak bram...ta-tadi dia sudah mengatakan semuanya, Kak."


"Maksud kamu?"


"Kakak...hu..hu..hu...."


Tiba-tiba, Nadhifa memeluk Gintani dan mulai menangis.


Gintani hanya mampu mengusap-usap punggung adik iparnya. Dia membiarkan Nadhifa menumpahkan semua perasaannya terlebih dahulu. Beberapa menit kemudian, setelah terlihat jika Nadhifa mulai bisa menguasai emosinya. Gintani pun bertanya. "Kenapa, Dek? Coba ceritakan pada Kakak! Siapa tahu Kakak bisa membantumu."


"Gadis itu... Gadis itu telah kembali Kakak. Aku takut...hiks...aku takut dia kembali untuk mengambil hati Kak Bram lagi."

__ADS_1


"Gadis itu?" tanya Gintani,heran. "Siapa, Fa? Mantan pacar Kak Bram?"


Nadhifa menggelengkan kepalanya.


"Lalu...?"


"Di-dia...dia wanita yang dicintai Kak Bram. Dan...dia juga wanita yang mencintai Kak Argha."


Jeddar!


Bagaikan tersambar petir di siang bolong, jantung Gintani berdegup kencang.


Gintani mengurai pelukannya, dia menatap Nadhifa. "I-Ilona?"


Nadhifa mengangguk.


"Maksud kamu...mereka...."


"Me-mereka bersahabat sejak SMA, kak. Dan mereka...mereka..hiks..hiks..." Nadhifa kembali menangis.


Gintani memeluk adik iparnya. Tanpa harus mendengarkan penjelasan Nadhifa, Gintani pun bisa menarik kesimpulan sendiri tentang apa yang telah terjadi. "Sungguh cinta segitiga yang begitu rumit," guman Gintani.


🍀🍀


"Sial! Sial!"


Jessica memukuli bantal bertubi-tubi untuk melampiaskan amarah. Kebenciannya terhadap Argha semakin menjadi. "Lihat saja, Argha! Suatu hari nanti, aku pasti bisa menghancurkan kamu!" guman Jessica seraya merobek foto dirinya dan Argha yang masih tertinggal.


Kini, tak ada lagi cinta yang tersisa untuk Argha di hati Jessica. Yang ada hanya sebuah kebencian. Jessica menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Aku harus membuat rencana untuk menghancurkan laki-laki itu, batin Jessica seraya memejamkan matanya.


Ting!


Sebuah pesan notifikasi, masuk di nomor whatsapp Jessica.


Mbak, bisakah kita bertemu besok di taman kota, jam 10.00?


Jessica tersenyum sinis setelah membaca pesan itu.


"Benar-benar gadis yang sangat polos."


Bersambung....


Hai.... Hai.... Hai....!!


Othor balik lagi yaaa...


Jangan lupa, like vote n komennya yaaa 🙏🤗

__ADS_1


__ADS_2