
Bunyi azan subuh membangunkan kedua insan yang kembali melakukan pertempuran semalam.
"Ish... katanya mau mengobati luka di faraj Gintan, tapi ... ini mah malah nambahin luka, huh!" gerutu pelan Gintani saat dia kesulitan melangkahkan kakinya akibat rasa tak nyaman di sekitar farajnya.
Hup...!
"Eh, Mas! Turunkan! Kamu kenapa sih, dikit-dikit... main gendong terus?" umpat Gintani kesal.
"Ya abisnya, kamu terus menggerutu. Kek nggak ikhlas ngelayanin suami," balas Argha tak kalah kesalnya.
"Bukannya gitu Mas, Gintan ikhlas layani Mas. Apalagi ini adalah ibadah. Tapi nggak kek gini juga kali... bisa rontok tulang-tulang Gintan kalau digempur sehari tiga kali sama Mas. Nggak nyadar apa, tubuh Mas segede gini!" ucap Gintani seraya menonyor pelan bahu suaminya yang berotot.
"Iya Sayang... Mas cuma becanda kok! Ya udah, mandi bareng yuk!" ajak Argha.
"Tapi jangan macam-macam, ya!" pinta Gintani.
"Nggak macam-macam kok, Gin! Satu macam aja ... boleh yaa?" Kembali Argha mengedipkan sebelah matanya.
"Ish, Mas!" Gintani memukul pelan dada bidang suaminya.
🍀🍀🍀
"Hatsyi...!! Hatsyi...!"
Gintani bersin-bersin saat melipat mukenanya.
"Kamu sakit, Gin?" tanya Argha, meraba kening istrinya. "Hangat, Gin!" pekik Argha, terkejut.
"Cuma masuk angin kali, Mas. Nggak apa-apa, rehat sebentar, pasti sembuh," jawab Gintani.
"Ya sudah, kamu tidur lagi, sana!" perintah Argha.
"Nggak usah, Mas. Gintani mesti nyiapin sarapan buat kita," jawab Gintani.
"Eit, nggak usah ngebantah! Nanti aku pesen makanan online saja buat sarapan kita. Kamu istirahat, biar cepat sembuh!"
"Ta... tapi Mas...."
Hup...!
Argha kembali menggendong istrinya ala bridal style. Setelah itu, dia merebahkan Gintani di atas kasur.
"Mas... hatsyi..!!"
"Sudah ... Tidurlah! Aku buatkan teh jahe dulu, ya!"
Gintani mengangguk.
Setelah menyelimuti istrinya, Argha segera pergi ke dapur.
"Hatsyi...!"
"Hatsyi...!"
"Argha menggesek-gesek hidungnya yang terasa gatal akibat bersin-bersin barusan. Eh, apa gua flu juga? batin argha. Ah ini pasti gara-gara main hujan kemarin, rutuk Argha dalam hati. Namun sejurus kemudian, senyumnya mengembang saat mengingat momen manis di bawah guyuran air hujan kemarin.
Sambil membuat teh jahe, Argha memainkan ponselnya. Dia mengirim beberapa pesan untuk sekretaris dan asistennya. Setelah itu, dia pun mengetik beberapa menu sarapan di aplikasi layanan makanan online.
Selesai dengan kegiatannya di dapur, Argha segera membawa hasil karyanya menuju kamar.
Kreet....
Argha mendorong pintu kamar dengan kakinya. Netranya menangkap Gintani yang tengah mengenakan kimono tidurnya.
__ADS_1
"Mau kemana, Yang?" tanya Argha, heran.
"Gintan mau mengambil pakaian kita yang kemarin tertinggal di balkon samping, Mas," jawab Gintani, lemah.
"Sudahlah, tidak usah dipikirkan. Biar nanti aku yang membereskannya ... ha...hatsyi..!" Argha kembali bersin.
"Kamu flu juga, Mas?" tanya Gintani sedikit terkejut.
"Sedikit," jawab Argha seraya meletakkan nampan yang berisi dua cangkir teh jahe.
"Maaf ya, Mas! Gara-gara Gintan, Mas jadi sakit."
"Sudahlah ... lagipula hujan itu berkah. Karena hujan kita bisa saling menerima satu sama lain," Argha mendekati istrinya. "Minumlah!" perintah Argha, menyodorkan cangkir teh jahe milik istrinya.
Gintani menerima cangkir itu. Dia kemudian menyeruputnya sedikit demi sedikit. Rasa hangat mulai menjalari tenggorokan hingga ke perutnya. Setelah itu, Gintani kembali merebahkan dirinya di atas ranjang.
Puas meminum teh jahe, Argha menghampiri istrinya. Dia sedikit menyibakkan selimut yang sedang membalut tubuh Gintani, kemudian merangkak masuk ke dalam selimut.
"Mas, mau ngapain?" tanya Gintani heran.
"Tidur," jawab Argha santai.
"Mas nggak kerja?" Gintani bertanya lagi.
"Aku sakit, Gin! Masak tega sih disuruh kerja...," rengek Argha
"Uuh... dasar manja!" gerutu Gintani.
"Tapi suka, kan... dimanjain?" ledek Argha seraya menarik tubuh Gintani dan memeluknya. "Berbalik, Gin!" titahnya.
"Mau ngapain?" tanya Gintani.
"Aku mau peluk kamu dari belakang. Biar kamu cepat sembuh," jawab Argha.
"Ish mas! Tangannya jangan nakal kek gini, ah!" seru Gintani memukul pelan tangan jahil Argha yang mulai menyusup di balik kimononya.
"Biar anget, Gin!" bisik Argha di telinga Gintani.
Gintani memejamkan matanya saat hembusan napas Argha menyapu tengkuknya. "Isshhh... Mas...." Dia kembali mendesis saat jari jemari nan jahil itu memilin puncak bukit layaknya memainkan plastisin.
Argha terkekeh melihat bahasa tubuh istrinya yang sudah seperti cacing kepanasan. Namun dia tak sampai hati untuk melanjutkan permainannya. Istrinya butuh istirahat. Argha pun mengusap Perkututnya yang sudah setengah berdiri. Sabar ya, dik! Masih banyak berjuta kesempatan untuk kita, batin Argha.
Argha pun menghentikan aksinya. "Tidurlah!" titahnya seraya mendekap erat tubuh Gintani.
🍀🍀🍀
"Fa, pulang kerja jadi ikut ke apartemen bos, kan?" tanya Bram.
"Iya Kak, Fa khawatir sama mereka. Aneh ... sakit kok bisa barengan," keluh Nadhifa. "Padahal, kemarin Fa lihat, kak Argha baik-baik saja. Kenapa sekarang malah sakit?" gumam Nadhifa.
Bram hanya menggedikan kedua bahunya mendengar ocehan gadis berambut panjang itu.
"Ya sudah, lebih baik kita bersiap-siap! Siang ini, kita ada meeting dengan perusahaan Bimasakti Grup. Setelah itu, baru kita ke tempat pak Argha," ujar Bram.
Nadhifa mengangguk. Dia pun mulai membereskan berkas-berkas yang akan dibawa meeting siang nanti.
🍀🍀🍀
Pukul 4 sore, Nadhifa dan Bram tiba di apartemen Argha. Mereka masuk setelah Argha membuka pintu apartemen.
"Kak Gintan mana?" tanya Nadhifa dengan suara cemprengnya.
"Ssst....! Kakak iparmu baru saja tidur!" jawab Argha.
__ADS_1
"Oh... Kalian sakit apa sih? Kok bisa barengan gitu? Perasaan, kemarin Kakak sehat-sehat saja. Kenapa sekarang jadi sakit?" cerocos Nadhifa.
"Bawel! Itu namanya senasib sepenanggungan. Istrinya sakit, ya suaminya harus sakit juga, biar bisa saling merasakan," jawab Argha seraya menaik turunkan kedua alisnya bergantian.
"Huh, filosofi darimana, tuh? Aneh!" dengus Nadhifa, kesal.
"Udah ah, nyerocos terus. Mana pesanan Kakak?" tanya Argha.
"Nih!" Nadhifa menyerahkan paper bag hitam kepada kakaknya.
Argha mengambil paper bag itu dan membawanya ke dapur. Tiba di dapur, Argha mengeluarkan satu persatu isi paper bag yang ternyata makanan. Setelah itu dia mengajak asistennya ke ruang kerja.
Tiba-tiba...
"Eh, ada tamu?" ucap Gintani yang keluar kamar karena samar-samar dia mendengar percakapan di ruang keluarga.
"Kakak ipar..!" Nadhifa memanggil Gintani seraya menghampirinya. "Kok, Kakak bangun sih? Kakak, kan masih sakit!" ucap Nadhifa yang mencemaskan keadaan Gintani.
"Tidak apa-apa, Fa! Tadi Kakak sudah minum obat, jadi sekarang sudah mendingan. Kamu datang sendirian, Fa?" tanya Gintani.
"Nggak, Fa sama kak Bram," jawab Nadhifa.
"Di mana Bram?" tanya Gintani seraya mengedarkan pandangannya mencari keberadaan asisten sang suami.
"Dia lagi di ruang kerja sama kak Argha. Oh iya, Kakak sudah makan? Fa bawain soto lamongan tuh, Kakak mau?" tawar Nadhifa.
"Boleh, kebetulan Kakak belum makan."
"Ya sudah, ke dapur yuk! Biar Fa siapkan buat Kakak.
Kedua wanita yang terpaut usia satu tahun itu, berjalan berdampingan menuju ruang makan.
Sementara, di ruang kerja Argha. Para lelaki tengah berbincang-bincang tentang pekerjaan. Argha tengah asyik menandatangani beberapa berkas yang kemarin tertunda. Sedangkan Bram tampak membolak-balikkan sebuah proposal proyek yang diajukan oleh PT Bimasakti Grup. Sebuah anak cabang perusahaan Sanjaya Grup yang bergerak di bidang properti. Rencananya, mereka akan bekerja sama untuk membangun sebuah rumah susun bagi masyarakat yang berada di bantaran sungai kota Jakarta.
"Oh iya, Ar... tadi siang bokap lo telpon gua. Beliau mengundang perusahaan kita menghadiri sebuah pesta untuk merayakan keberhasilan proyek beliau yang berada di Washington DC.
"Ya, gua tahu itu. Tadi juga, dia sudah ngasih tahu gua tentang pesta itu," jawab Argha tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas-berkas yang sedang ditandatangani.
"Apa lo kenal tuan Alejandro Hanzel?" tanya Bram lagi.
"Yang gua tahu, beliau adalah rekan kerja papah yang juga sahabat papah sedari SMA," jawab Argha. "Memang, ada apa dengannya?" tanya Argha.
"Aku dengar, beliau akan membangun sebuah rumah sakit berstandar internasional di kota kita. Dan bokap lo merekomendasikan perusahaan kita untuk merancang desain bangunannya."
"Benarkah? Kenapa gua nggak pernah tahu kabar itu? Untuk apa tuan Hanzel membangun rumah sakit di sini? Setahu gua perusahaannya tidak bergerak di bidang itu."
"Entahlah, tapi yang gua tahu. Perusahaan itu kelak akan dipimpin oleh anaknya."
Deg...
Jantung Argha seakan berhenti berdetak begitu mendengar ucapan asistennya.
"Darimana lo dapat kabar itu?" tanya Argha, dingin.
"Bokap lo yang ngasih tahu gua."
"Hhhh...."
Argha menghela napasnya. Dia menyandarkan punggung di sandaran kursi kebesarannya. "Itu artinya, Richard akan kembali ke kota ini," gumam Argha seraya mengepalkan tangannya.
Bersambung....
Semoga masih suka ceritanya yaaa...
__ADS_1