Takdir Gintani

Takdir Gintani
Jangan Ganggu Dia!


__ADS_3

"Gi-Gintan!" ucap Argha terkejut begitu mendapati Gintani berada di hadapannya. Argha semakin terkejut melihat keadaan Gintani yang tengah duduk di kursi roda. Argha hendak menurunkan Ilona. Namun gadis itu malah melingkarkan kedua tangannya di leher Argha.


Gintani sudah tidak sanggup lagi menahan rasa sesak di dadanya. Hatinya semakin terasa sakit saat melihat wanita itu menyusupkan kepala di dada bidang suaminya. Dengan napas terengah menahan amarah, Gintani memutus tatapannya. "Fa, antarkan Kakak pulang!" ujar Gintani tanpa ingin melihat suaminya lagi.


Paham akan situasi yang mulai memanas, dokter Richard memanggil salah seorang perawat untuk membawakan sebuah brankar.


"Baringkan dia di atas brankar!" perintah dokter Richard dengan nada yang terdengar sangat kesal.


Argha mengangguk. Dia pun membaringkan Ilona di atas brankar.


Dokter Richard menatap tajam Ilona. "Bawa pasien ke ruang pemeriksaan!" Kembali dokter Richard memberikan perintah kepada perawat itu.


Dengan dibantu temannya, akhirnya kedua perawat itu membawa Ilona ke ruang pemeriksaan umum.


"Antarkan istrimu pulang!" perintah dokter Richard.


"Tapi, apa yang terjadi padanya?" tanya Argha, gusar. Dia semakin cemas karena Gintani sudah keluar dari lobi rumah sakit.


"Biar dia yang menjelaskan. Saranku, jaga dia baik-baik. Jangan sampai kepalanya mengalami cedera lagi, karena akan berakibat fatal untuknya," ucap dokter Richard seraya menepuk pelan bahu Argha.


Sejenak, Argha bergeming mendengar perkataan dokter Richard. "Ada apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi?" gumam Argha. Namun, belum juga Argha mendapatkan jawaban dari semua pertanyaannya. Tiba-tiba...


Bugh!


Sebuah pukulan mendarat di pipi kanan Argha. Seketika, Argha jatuh tersungkur. "Shitt!!" umpat Argha kesal. Dia segera bangkit dan hendak membalas si pemukul.


"Alex?" Argha terkejut mendapati Alex telah berdiri di hadapannya.


"Iya, aku? Kenapa? Terkejut, hah? Lo benar-benar brengsek, Ar!" teriak Alex kembali memukul Argha


Bugh!


Bugh!


Bugh!


Alex terus melayangkan pukulannya di beberapa bagian tubuh Argha.

__ADS_1


Karena mendengar keributan di lobi rumah sakit, akhirnya dua orang satpam yg sedang berjaga, memasuki lobi. Keduanya memegangi Argha dan Alex.


"Apa kalian sudah gila, hah? Ini rumah sakit, bukan ring tinju!" teriak satpam yang terlihat lebih senior.


Mendengar teriakan melengking dari dalam lobi. Gintani meminta Nadhifa untuk menghentikan kursi roda yang tengah di dorong. Dia menajamkan pendengarannya. "Fa, sepertinya...ada keributan di dalam," ujar Gintani.


Samar-samar Gintani mendengar suara teriakan seseorang yang sudah sangat dikenalinya. Suara orang yang tengah mengumpat seseorang. "Itu seperti suara Bang Alex, Fa. Ayo kita lihat!" ajak Gintani.


Nadhifa mengangguk. Dia kembali mendorong kursi roda Gintani dan memasuki lobi rumah sakit.


Gintani terkejut saat melihat Alex tengah dicekal oleh kedua satpam. "Bang Al!" teriak Gintani.


Alex seketika menepiskan lengannya. Dia membenarkan pakaiannya yang terlihat berantakan. Setelah itu, dia menghampiri Gintani.


"Maafkan aku, Gin! Aku baru tahu tadi pagi jika kamu mengalami kecelakaan dua hari yang lalu," ucap Alex penuh penyesalan.


"Apa? Gintani kecelakaan?" gumam Argha, pelan.


Argha segera bangkit, dia kemudian mendekati istrinya. "Ka-kamu kecelakaan Gin, dimana? Kapan? Kenapa kamu tidak memberitahu aku?" tanya Argha, beruntun.


"Mbak Jessica," ucap Gintani menatap Jessica yang tengah berdiri di sampingnya.


"Bolehkah aku menginap di rumah Mbak untuk beberapa hari?" tanya Gintani.


Jessica menatap Nadhifa. Dia merasa bingung harus menjawab apa.


"Bicara apa kamu, Gin? Ayo kita pulang?" tegur Argha seraya mengambil alih kursi roda yang sedang dipengang adiknya.


"Bagaimana Mbak? Jika Mbak keberatan, Gintani nggak apa-apa Kok, Mbak!" ujar Gintani. "Bang Al, bisa carikan Gintani kontrakan kecil?" Kini Gintani melirik Alex.


"Cukup, Gin! Aku tidak suka dengan cara kamu menghukum kesalahan aku. Kita akan pulang sekarang!" bentak Argha, geram. Dia kemudian mendorong kursi roda Gintani.


Tiba-tiba saja, Gintani menurunkan kedua kakinya hingga dia limbung karena tertabrak kursi roda yang didorong Argha.


"Aww...!" Gintani menjerit. Sedetik kemudian, dia terjatuh ke dalam pelukan Jessica.


"Lo apaan sih, Ar! Lo nggak sadar apa, perbuatan lo bisa membahayakan Gintani!" bentak Jessica, kesal.

__ADS_1


"Cukup! Lo nggak usah ikut campur urusan rumah tangga gua!" Argha malah berteriak kepada Jessica.


"Ish...!" Tiba-tiba, Gintani meringis seraya memegangi kepalanya.


"Diam kalian!" teriak Nadhifa. "Ayo kakak ipar, Dhifa akan mengantar Kakak ke rumah Kak Jessica!" ucap Nadhifa. "Dan Kak Ar, nggak usah ngikutin kita! Biarkan kakak ipar istirahat dulu di rumah Kak Jessica. Dhifa beneran muak sama kelakuan Kakak!" ucap Nadhifa penuh ketegasan


Nadhifa segera memapah Gintani untuk keluar dari lobi rumah sakit. Tak lama kemudian, Bram menyusul mereka. Tapi sebelum Bram keluar, dia menatap tajam ke arah Argha. Jangan tanya kenapa Bram berbuat demikian, karena sedari tadi, Bram sudah menyaksikan apa yang telah terjadi.


Bram sangat terkejut mendapati Argha yang tengah memasuki lobi rumah sakit dengan menggendong Ilona. Namun saat Bram hendak menegur Argha, penjaga apotek memanggilnya untuk menerangkan tata cara pasien meminum obat.


Bram hanya mendengus kesal melihat drama perkelahian antara Argha dan Alex. Sedikit pun dia tidak berniat untuk melerainya.


"Kali ini, aku benar-benar akan merebut Gintani dari sisimu, Ar. Aku tidak akan pernah membiarkan Gintani terluka lagi oleh semua sikapmu!" bisik Alex di telinga Argha. Setelah itu, Alex segera menyusul mobil Bram yang telah keluar dari halaman rumah sakit.


Sementara itu, di ruang pemeriksaan, Ilona mulai memaki dokter Richard.


"Kenapa kamu membiarkan dia pergi dengan wanita itu, Rich?" tanya Ilona terlihat kesal.


"Karena memang, dia istrinya Argha," jawab dokter Richard masih berdiri di samping ranjang.


"Darimana kamu tahu jika wanita itu istrinya? Kak Argha itu belum menikah. Dia bukan istrinya Kak Argha! Dia hanya wanita pelakor yang ingin merebut Kak Argha dariku!" teriak Ilona.


"Cukup, Na! Semua orang di kota ini tahu jika seorang Argha Putra Adisastra pemilik APA Architecture, dia telah menikah. Dan semua orang juga tahu jika wanita itu adalah istrinya. Bukankah resepsinya dihadiri banyak pihak? Mau sampai kapan kamu menyangkal kenyataan itu, Na?" tanya dokter Richard yang sudah mulai jengah dengan kelakuan Ilona.


"Tidak! Kak Argha tidak pernah mencintai wanita itu. Cinta sejatinya hanya aku, Rich. Hanya aku!" Ilona kembali berteriak.


Na, jangan seperti pungguk merindukan bulan. Kamu bisa melepaskannya dan mencari kebahagiaan kamu sendiri." Dokter Richard mulai memberikan nasihat.


"Tidak bisa! Aku tidak akan melepaskan wanita itu. Bagaimanapun caranya, aku akan merebut Kak Argha darinya. Aku pasti bisa mendapatkan Kak Argha kembali. Jika wanita itu tidak bisa memberikan Kak Argha dengan baik-baik, maka aku akan memaksanya. Aku punya 1001 cara untuk mendapatkan keinginanku."


"Cukup, Na! Jangan ganggu dia, atau...!"


"Atau apa, hah? Atau apa?" teriak Ilona seraya menarik kerah jas putih dokter Richard.


"Atau aku akan membongkar semua kelakuan kamu selama di Amerika," ucap dokter Richard seraya menurunkan tangan Ilona dari kerah jasnya.


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa like, vote n komennya ya 🙏🤗


__ADS_2