Takdir Gintani

Takdir Gintani
Karma


__ADS_3

Nando berbalik. Dia terkejut saat Gintani sudah berdiri di hadapannya.


"Tan! Ka-kamu ada di sini?" tanya Nando tergagap.


"Bagaimana keadaan Sarah?" tanya Gintani tak ingin berbasa-basi.


"Dari mana kamu tahu jika Sarah berada di sini?" tanya Nando lagi.


"Aku rasa itu bukanlah hal yang penting. Bagaimana keadaan dia sekarang?" Kembali Gintani bertanya.


"Sarah sudah sedikit lebih tenang sekarang," jawab Nando.


"Boleh aku melihatnya?" tanya Gintani lagi.


"Silakan," ucap Nando seraya membuka lebar daun pintu kamar rawat adiknya.


Gintani masuk. Sejenak dia tampak tertegun melihat seorang gadis berwajah pucat sedang tidur meringkuk layaknya anak kecil berusia enam tahun. Gintani mendekati ranjang Sarah, perlahan dia membelai lembut rambut Sarah. Hatinya terenyuh melihat kondisi Sarah. Cukup lama Gintani menatap wajah sayu itu. Hingga akhirnya, ketukan di pintu kamar memaksa Gintani mengalihkan tatapannya.


"Sorry, ganggu," ucap laki-laki yang tadi mengetuk pintu.


"Ah, tidak apa-apa, Bro. Masuklah!" jawab Nando.


Kevin memasuki kamar, dia kemudian mendekati ranjang Sarah.


"Bagaimana keadaan dia?" tanya Kevin, dagunya menunjuk ke arah Sarah yang tengah terlelap.


"Sudah jauh lebih tenang, Kev," jawab Nando.


"Syukurlah, gue ikut senang mendengarnya," ucap Kevin. "Oh iya, Kakak ipar. Aku mau ke kantin, apa Kakak mau ikut?" tanya Kevin kepada Gintani.


"Tidak, Kev. Aku tunggu di sini saja," jawab Gintani.


"Kamu?" Kevin mengalihkan pandangannya kepada Nando.


"Aku di sini juga, Bro," jawab Nando.


"Ok, kalau gitu, gue ke kantin dulu," pamit Nando.


Hening. Hanya itu yang terjadi antara Nando dan Gintani setelah kepergian Kevin

__ADS_1


🍀🍀🍀


"Kamu mau pergi ke mana? Ayo, aku antarkan!" ucap Argha pada Ilona.


"Se-sebenarnya aku mau pulang ke apartment," jawab Ilona.


"Ya sudah, aku antar, ya?!" ucap Argha.


"Kakak, boleh kita makan siang dulu? Perutku rasanya lapar sekali," rengek Ilona.


Argha tersenyum, dia kemudian memanggil pelayan untuk memesan makanan bagi Ilona.


Ilona merasa senang melihat Argha masih menaruh perhatian untuknya. Tidak sulit bagi Ilona untuk menaklukkan seorang Argha. Ilona tahu pasti kelemahan seorang Argha Putra Adisastra.


"Apa Kakak tidak keberatan, aku meminta Kakak untuk menemaniku makan siang?" tanya Ilona menatap penuh harap kepada Argha.


Argha melirik jam tangannya. Sebenarnya waktu jam makan siang telah habis. Namun dia sendiri tidak enak menolak permintaan Ilona. Sudahlah, toh aku sendiri bosnya, batin Argha.


"Makanlah! Aku akan menunggumu sambil mengerjakan pekerjaanku," ucap Argha. Sedetik kemudian, dia kembali mengeluarkan laptopnya dan asyik berkutat dengan benda tersebut.


🍀🍀🍀


"Semua ini salahku, Tan," jawab Nando menatap iba kepada adiknya.


Gintani menghela napasnya. "Ada apa, Nan? Apa yang terjadi padanya? Kenapa Sarah bisa berada di sini?" tanya beruntun Gintani yang masih penasaran dengan keadaan Sarah.


"Mungkin ini yang namanya karma," ucap Nando.


Gintani mengerutkan keningnya pertanda tak mengerti. Dia menatap Nando penuh selidik.


"Dulu, aku tidak pernah membatasi pergaulan Sarah. Aku tidak pernah menanyakan kemana dia pergi, atau pergi dengan siapa? Selama dia masih pulang ke rumah, aku rasa semua aman-aman saja. Bahkan aku sendiri tidak tahu siapa teman pria yang dekat dengannya. Dari pergaulan bebas itulah, Sarah mengalami pelecehan oleh beberapa teman prianya hingga menyebabkan dia hamil. Malangnya, tak ada satupun dari pria-pria itu yang mau bertanggung jawab. Hal itu membuat Sarah depresi, hingga dia melahirkan seorang anak perempuan. Sayangnya, anaknya meninggal karena pengaruh obat-obatan yang dia konsumsi saat ingin menggugurkan kandungannya. Semakin hari, Sarah semakin tidak bisa mengendalikan emosinya. Dia terkadang keluar rumah dan menyakiti para tetangga yang dia pikir mencemoohnya. Atas permintaan warga yang merasa terancam, akhirnya aku memasukkan dia ke rumah sakit jiwa ini," jelas Nando panjang lebar.


Gintani hanya termangu mendengar penjelasan mantan kekasihnya. Dia tidak pernah menyangka jika nasib seorang Sarah, gadis yang sangat ceria, aktif, dan ramah, harus berakhir tragis di rumah sakit jiwa.


Ya, memanglah benar jika karma itu selalu ada. Dulu, kakaknya yang sering melecehkan para perempuan. Sekarang adiknya yang mendapatkan hukuman atas perbuatan sang kakak. Gintani menghela napasnya sejenak.


"Aku turut prihatin atas apa yang telah menimpa adikmu," ucap Gintani penuh ketulusan. Sejak kecil, Gintani memanglah bukan type orang pendendam.


"Terima kasih, Tan. Karena itulah aku sangat mengharapkan maaf dari kamu. Setidaknya, dengan mendengar kata maafmu, rasa bersalahku atas apa yang menimpa adikku bisa sedikit berkurang," ucap Nando, mengiba.

__ADS_1


Gintani menarik napas panjang dan mengembuskannya dengan perlahan. "Sudahlah, Nan. Lupakan saja apa yang pernah terjadi di antara kita. Aku sudah tidak ingin mengingat apa pun lagi tentang kita," ucap Gintani penuh ketegasan.


"Apa itu artinya, kamu memaafkan aku?" tanya Nando.


Gintani mengangguk.


"Terima kasih, Tan. Terima kasih karena mau menjenguk adikku. Terima kasih juga karena sudah mau memaafkan aku," ucap Nando dengan wajah yang sumringah.


"Sama-sama," jawab Gintani.


🍀🍀🍀


Hari demi hari terus berganti. Umi Kulsum tak mampu lagi menyembunyikan semua kegelisahannya. Semenjak anaknya, yaitu Ustadz Husni pergi ke Mesir untuk menuntut ilmu, hidupnya semakin terasa hampa. Kerinduan dia kepada bayi yang sempat dia tinggalkan, kini semakin menggebu. Pada akhirnya, Umi Kulsum sering melamun memikirkan nasib kedua anaknya yang berada jauh dari sisinya.


Perubahan Umi Kulsum membuat Ustadz Hasan merasa khawatir. Istrinya memang selalu tersenyum jika sedang melayani semua kebutuhannya. Tapi Ustadz Hasan bisa merasakan jika senyum itu terasa sangat hambar.


"Ayo kita berkemas, Mi!" ajak Ustadz Hasan selepas solat subuh.


"Maksud Abi?" tanya Umi Kulsum yang merasa tidak memahami ucapan suaminya. Keningnya sedikit berkerut karena merasa heran dengan ajakan sang suami.


"Hari ini kita akan menemui keluarga itu," jawab Ustadz Hasan.


"Keluarga siapa?" tanya Umi Kulsum semakin tak mengerti.


"Keluarga yang membesarkan putrimu," jawab Ustadz Hasan.


"Ta-tapi Abi ... semua itu tidak mungkin. Mereka pasti akan sangat marah dengan kedatangan kita nanti," jawab Umi Kulsum penuh keraguan.


Ustadz Hasan menggenggam erat kedua tangan istrinya. "Biar nanti, Abi yang akan bicara dengan mereka. Kalaupun mereka tidak mengizinkan kamu membawa Nandita, tapi setidaknya kamu bisa melepaskan kerinduan kamu terhadap Nandita meskipun hanya sekedar melihatnya saja," ucap Ustadz Hasan mencoba memotivasi istrinya.


"Ba-baiklah, terserah Avi saja," jawab Umi Kulsum, pasrah.


Ustadz Hasan mengangguk. Dia kemudian mengecup kening istrinya. "Tidak usah khawatir. Allah bersama kita, Mi. Bismillah saja," bisiknya di telinga Umi Kulsum.


Umi Kulsum tersenyum, dia kemudian menyandarkan tubuhnya di dada suaminya. "Terima kasih, Abi," ucapnya lembut.


Bersambung


Jangan lupa like, vote n komennya yaaa 🙏🤗

__ADS_1


__ADS_2