
"Tapi, Gin ... aku salut sama kamu. Hebat kamu Gin, bisa memberikan pelajaran pada pria sombong itu," ucap Jessica seraya mengacungkan kedua jempolnya.
Gintani tersenyum kecut, "Semut pun jika diinjak pasti akan menggigit, Mbak. Apalagi manusia. Sudah cukup mas Argha memperlakukan Gintan seperti sampah. Gintan tidak akan pernah memberikan dia kesempatan lagi untuk menghina Gintan. Terlebih lagi setelah mendengar perlakuan dia terhadap kakek Wira. Jika memang ada yang harus Gintan sesali dalam takdir Gintan, itu adalah pertemuan Gintan dengan laki-laki itu. Tapi Gintan bisa apa? Tidak ada seorang pun manusia yang bisa memungkiri takdirnya, ucap Gintani panjang lebar.
Jessica hanya mengangguk-anggukan kepalanya mendengar penuturan Gintani. Ya, tak ada seorang pun yang bisa mengelak dari takdirnya. Setiap manusia memiliki garis takdir masing-masing. "Ya sudah, ini sudah malam. Sebaiknya kita tidur. Perjalanan kita masih jauh," ucap Jessica.
Gintani menganggguk. Dia kemudian membereskan piring bekas camilan dan membawanya ke dapur. Gintani mencuci piring-piring tersebut agar besok pekerjaan Bik Sumi tidak terlalu berat. Selesai mencuci piring-piring kotor, Gintani pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Selesai membersihkan wajahnya, Gintani pun mulai menyusup ke dalam selimut yang tengah dipakai Jessica. Dia mulai terlelap menuju alam mimpi.
πππ
Sementara itu di sebuah club malam terbesar di kota metropolitan, tampak Argha sedang duduk di depan meja bartender. Sesekali dia menenggak minumannya dari seloki yang berada di tangannya. Dua botol kosong whiskey tergeletak di meja itu.
"Anda sudah terlalu mabuk Tuan, sebaiknya Anda pulang. Biar aku pesankan taksi untuk Anda," ucap sang bartender.
"Tidak ... tidak...! Aku tidak mau pulang .... Biarkan aku minum di sini sampai puas. Aku akan membayar berapa pun yang kamu minta, oke! Tapi biarkan aku tetap minum di sini sampai, Tuan yang baik hati.... Argha terus meracau dalam keadaan mabuk.
"Tapi ini sudah sangat malam Tuan. Sebentar lagi, clubnya akan segera tutup," jawab bartender.
"Hahaha.... Apa kamu pikir aku orang bodoh! Mana ada sebuah club malam tutup. Heh, club malam itu gunanya untuk bersenang-senang sepanjang malam. Jadi, dia tidak boleh tutup ... harus selalu buka sampai pagi. Apa kamu mengerti? Hahaha.... Ayo, mari ... mari semuanya ... kita bersenang-senang malam ini...! Jangan hiraukan semua masalah hidup kalian. Bersenang-senanglah...! Musiiik.... Mainkan!" Argha masih terus meracau sambil berjalan sempoyongan. Tangannya menjepit leher botol dan mulutnya sesekali menenggak botol minuman tersebut. Tingkahnya semakin menggila. Dia terus berjalan menuju lantai dansa.
Brugh!
Tiba-tiba seorang wanita yang tengah berjoget, tanpa sadar menubruk Argha hingga Argha terjatuh.
"Ups! Maaf, Tuan!" ucap wanita itu sekilas. Dia kemudian kembali asyik berjoget.
Argha segera bangkit. Dia menghampiri wanita itu.
"Hei kamu! Dasar pelacur murahan! Berani kamu menyentuh tubuhku, hah!" teriak Argha sambil mencengkeram rahang si wanita.
"Ish, dasar pemabuk bodoh! Singkirkan tanganmu!" Wanita itu balas berteriak sambil berusaha menurunkan tangan Argha.
"Apa kamu bilang? Kamu bilang aku pemabuk? Cih, dasar wanita kotor. Kamu pikir kamu siapa? Kamu itu tidak lebih dari seorang lon'te murahan! Kamu hanya mengobral tubuhmu untuk mendapatkan kesenangan. Dasar murahan!" Argha kembali membentak wanita itu.
__ADS_1
Bugh!
Seseorang menarik Argha dan memukulnya.
"Berani kamu menghina kekasihku, hah! Dasar pemabuk sialan!" teriak seorang laki-laki.
Bugh!
Lelaki itu kembali memukuli Argha hingga Argha terkapar di sudut ruangan. Beruntungnya, para penjaga keamanan datang untuk memisahkan perkelahian itu.
Argha dibawa ke ruang VIP untuk diamankan. Sedangkan lelaki itu digelandang ke pos penjagaan untuk dimintai keterangan.
Di ruang VIP, Argha masih terus meracau. Sesekali dia menangis, tak jarang dia mengumpat dan merutuki nasib pernikahannya. Hingga kedua sekuriti itu hanya bisa saling pandang melihat tingkah Argha.
"Ish, gimana ini? Apa kita antarkan saja dia ke rumahnya?" tanya sekuriti pertama.
"Coba kamu cek ponselnya! Barangkali ada nomor yang bisa dihubungi," ucap sekuriti kedua.
Sekuriti pertama pun menggeledah jaket Argha. Dia menemukan benda pipih yang tiba-tiba menyala.
"Coba diangkat, semoga saja kita dapat petunjuk ke mana kita harus mengantarkan pria mabuk ini!" perintah sekuriti kedua.
Sekuriti pertama pun mengangkat ponsel Argha
"Hallo, Kak Argha ... ah, akhirnya Kakak angkat telepon aku juga. Kakak di mana? Aku benar-benar cemas memikirkan keadaan kamu. Kakak baik-baik saja, 'kan? Katakan posisi Kakak saat ini, biar aku menyusul ke sana," cerocos seorang wanita di ujung telepon.
"Maaf, Nona. Lelaki pemilik telepon ini teβ"
"Siapa kamu? Kenapa ponsel Kak Argha bisa berada pada kamu?" Ilona memotong kalimat sekuriti itu.
Saya penjaga keamanan night club. Kebetulan si pemilik telepon adalah pelanggan kami, dan sekarang dia sedang diamankan di ruangan kami." Sekuriti pertama menjelaskan keadaan Argha.
"Diamankan? Apa maksudnya ini?" tanya Ilona dengan nada terkejut.
__ADS_1
"Maaf Nona, pemuda ini terlalu mabuk, hingga dia membuat keributan di club kami," ucap sekuriti itu lagi.
"Ya Tuhan. Tolong jaga dia ya, Pak. Sebentar lagi saya akan menjemputnya. Dan tolong sharelock juga tempatnya. Terima kasih."
"Sama-sama, Nona."
Setelah menutup teleponnya, sekuriti itu segera mengirimkan alamat club.
πππ
Sementara itu, Ilona tampak semakin gusar setelah mendengar kabar Argha mabuk. Sekali pun Argha adalah seorang pengusaha terkenal, selalu memenangkan tender dan membuat pesta. Namun, Argha tak pernah menyentuh alkohol. Berbeda dengan dirinya yang sudah terbiasa minum sejak pindah ke Amrik.
Ting!
Sebuah notifikasi pesan whatsapp masuk. Ilona membuka ponselnya. Ternyata pesan itu dari nomor Argha yang mengirimkan lokasi club malam yang sedang dia kunjungi.
Ah, mungkin sekuriti itu yang mengirimkannya, pikir Ilona. Dia kemudian segera berbalik arah untuk menjemput Argha di night club itu.
Dua puluh menit kemudian, Ilona sampai di sebuah club malam termegah di kota ini. "Ish, kenapa aku baru tahu jika ada club semegah ini di sini," dengus Ilona kesal. Dia kemudian menghampiri pos penjagaan dan mengutarakan maksudnya.
"Sebentar, Mbak. Saya tanyakan dulu," ucap sekuriti yang sedang berjaga di pos.
Ilona mengangguk. Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya sekuriti itu mengantarkan Ilona ke sebuah ruangan VIP.
"Mari silakan nasuk, Nona!"
Ilona mengangguk. Dia menekan handle pintu hingga pintu terbuka. Ilona cukup terkejut melihat Argha tengah bersandar tak berdaya di atas sofa. Wajahnya babak belur akibat pukulan dari orang yang tadi bermasalah dengannya.
"Ish, Kakak ... kenapa bisa seperti ini?" tanya Ilona menghampiri Argha.
Argha membuka matanya, "Ah Sayang ... akhirnya kamu datang juga," ucap Argha sambil mengulurkan tangannya untuk menggapai wajah Ilona dan mengelusnya. "Aku merindukanmu, Gin. Aku sangat merindukan kamu." Argha yang sedang berilusi, kembali meracau tentang Gintani. "Sayang, jangan pergi ... aku mohon jangan pergi...!"
Brugh!
__ADS_1
Bersambung
Jangan lupa like, vote n komennya ya π€π