
"Sepertinya aku harus memeriksakan kepalaku lagi," gumam Gintani sambil memegangi kepala bagian belakang yang kembali terasa sakit. Sejurus kemudian, dia mengeluarkan ponselnya dari dalam tas selempang. Gintani mulai menghubungi nomor rumah sakit yang tertera di sana.
"Selamat siang, dengan rumah sakit Harapan. Ada yang bisa kami bantu?" tanya seseorang di ujung telepon.
"Selamat siang, bisakah saya membuat janji untuk pemeriksaan?" tanya Gintani.
"Maaf, dengan Mbak siapa?" tanya pihak rumah sakit.
"Gintani. Gintania Nur'aini," jawab Gintani.
"Oh iya, kalau boleh tahu, pemeriksaan untuk poli apa?"
"Bedah syaraf."
"Untuk jadwal poli bedah syaraf hari Selasa dan hari Kamis. Mbak mau pilih di hari apa?"
"Kamis saja."
"Sebentar, saya cek dulu ya, Mbak!"
"Silakan." Untuk sejenak, Gintani menunggunya.
"Untuk jadwal hari Kamis, masih tersisa satu orang lagi dengan nomor urut terakhir, apa Mbak ingin mengambilnya?"
"Kira-kira, prakteknya sampai jam berapa, ya?"
"Sampai jam 6 sore, Mbak."
"Baiklah, saya ambil."
"Oke, saya daftarkan sekarang. Atas nama Mbak Gintania Nur'aini?
"Iya, Mbak."
"Sudah selesai Mbak. Pendaftaran poli bedah syaraf dengan dokter Andre Gunawan nomor urut 6 atas nama Mbak Gintania Nur'aini. Ada yang bisa saya bantu lagi?"
"Tidak, untuk sementara cukup itu dulu."
"Baiklah. Terima kasih sudah menghubungi kami. Selamat siang!"
"Selamat siang!" Gintani menutup ponselnya. Setelah itu, dia pun segera pergi dari taman.
🍀🍀🍀
Ilona semakin gusar saat Argha tak menemuinya beberapa hari ini. Tubuhnya memang telah melemah namun tekadnya untuk merebut Argha semakin kuat.
__ADS_1
Berbagai macam cara dia lakukan untuk menarik perhatian Argha. Namun sayangnya, kesibukan Argha akan proyek pembangunan rumah sakit bertaraf internasional, membuat Argha tak memiliki waktu untuk menemui Ilona. Lagi pula, Argha selalu percaya jika perawat yang dia sewa, dapat menjaga Ilona dengan baik.
Di samping itu, Argha tidak ingin menemui Ilona karena dia tidak mau ada salah paham lagi antara dirinya dengan sang istri. Bagaimanapun juga, Argha sangat mencintai Gintani, dan dia tidak ingin melukai hati istrinya lagi.
"Kak Argha, apa Kakak bisa menemani aku kontrol hari Kamis nanti?" pinta Ilona di ujung telponnya.
"Maaf, Ilona. Kakak tidak bisa menemani kamu, hari Kamis depan, Kakak harus pergi untuk memantau pembangunan rumah sakit," jawab Argha.
"Tidak bisakah Kakak menghentikannya sejenak untukku?" Ilona mulai merengek, memasang jurus ampuhnya.
Terdengar Argha menghela napasnya, "Kakak minta maaf, Ilo! Tapi Kakak benar-benar sibuk. Lagi pula, kamu bisa minta perawat untuk mengantarkan kamu kontrol ke rumah sakit." Argha mencoba berbicara sehalus mungkin agar tidak menyinggung perasaan Ilona.
"Ya sudah, terserah kakak saja!" Ilona merengut, sejurus kemudian dia pun mematikan teleponnya.
Dengan kasarnya, Ilona membanting ponsel itu hingga hancur berantakan.
"Aku tahu, kamu hanya ingin menghindar dariku. Lihat saja kakak, semakin kakak membuat aku kecewa, maka aku akan membuat istri kakak semakin menderita," tekad Ilona.
🍀🍀🍀
Hari demi hari terus berlalu. Hubungan Argha dan Gintani sudah mulai membaik. Argha terkadang pulang ke rumah untuk makan siang. Seperti siang ini, mereka sedang asyik makan siang seraya berbincang ringan.
"Mas, nanti sore Gintan izin pergi ke rumah sakit, ya?" pinta Gintani.
"Ngapain?" tanya Argha, heran.
"Astaghfirullah! Kenapa kamu nggak bilang sebelumnya, Gin? Kalau kamu bilang, Mas nggak akan pergi ke proyek sore ini."
"Nggak pa-pa, Mas. Gintan bisa berangkat sendiri, kok."
"Tapi Sayang, Mas khawatir sana kamu. Ya sudah, Mas batalkan saja kunjungan sore ini," ucap Argha mengeluarkan ponselnya.
"Ish, nggak usah Mas! Beneran, Gintan nggak pa-pa kok, berangkat sendiri! Lagian, nggak enak juga sama om Hanzel. Papa bilang, kunjungan hari ini bareng om hanzel, kan? Kasian, beliau sudah datang jauh-jauh ingin bertemu Mas, masak nggak jadi gara-gara hal sepele, sih?"
"Ya Tuhan, Gin. Nemenin istri, kok kamu anggap hal sepele."
"Udah deh, Mas.nggak usah lebay, Mas fokus saja sama pekerjaan Mas!"
"Ya sudah, nanti Mas usahain cepet beres. Biar Mas bisa jemput kamu ke rumah sakit."
"Ya, sudah. Gintan tunggu nanti."
"Oke. Eh tolong bungkus makanan ini, Gin!"
"Dibungkus? Untuk apa?"
__ADS_1
"Mas mau bagikan ke anak-anak proyek, nanti."
"Oh, baiklah." Gintani pun pergi ke dapur untuk mengambil beberapa lembar kertas nasi. Dengan cekatan, dia membungkus makanan yang diminta Argha.
Pukul 5 sore, dengan menggunakan taksi online, Gintani pergi ke rumah sakit. Pemeriksaan baru dimulai saat Gintani tiba di depan ruang pemeriksaan poli bedah syaraf.
"Maaf, baru nomor urut ke berapa?" tanya Gintani pada salah seorang pasien yang duduk di sampingnya.
"Nomor urut 3, Mbak," jawab pasien tersebut.
"Berarti tinggal menunggu 3 orang lagi dengan pasien yang sedang berada di dalam," gumam Gintani.
Poli bedah syaraf adalah poli yang membatasi pasiennya sedikit sekali. Setiap praktik, dokter Andre hanya menerima 6 orang pasien. Entahlah, Gintani sendiri tidak mengerti. Padahal, jika dilihat dari berbagai macam kasus, banyak sekali pasien yang membutuhkan penanganan seorang dokter bedah syaraf.
Brak!
Saat Gintani tengah asyik membaca majalah fashion, tiba-tiba seseorang datang menggebrak majalah yang sedang dibacanya.
"Kamu, kan, yang sudah melarang kak Argha agar tidak menemui aku lagi, hah?!" teriak wanita itu.
Gintani begitu terkejut mendapati perlakuan kasar seseorang di tempat umum. Sejurus kemudian, dia mendongak untuk melihat siapa orang yang telah melabraknya. Gintani tampak terkejut melihat Ilona tengah berkacak pinggang di hadapannya.
"Mohon maaf, Anda salah orang," ucap Gintani dengan santainya sambil memungut kembali majalah yang sempat terjatuh tadi.
Ilona menyambar majalah itu dan melemparkannya begitu saja. "Jangan pura-pura nggak tahu. Aku tahu kamu yang sudah membuat kak Argha berubah. Sejak dia menikah denganmu, dia sudah banyak berubah. Dia sudah tidak peduli lagi padaku. Semua itu gara-gara kamu. Dasar istri nggak tahu diri!" teriak Ilona.
"Hey Nona! Kenapa kamu marah-marah di tempat umum. Lagi pula, ada masalah jika seorang istri melarang suaminya menemui wanita lain?" ucap seorang ibu paruh baya yang sedari tadi memperhatikan keributan yang ada.
"Diam, jangan ikut campur!" Ilona malah membentak ibu tersebut.
"Hahaha, aneh sekali. Maaf anak muda, saya tidak bermaksud ikut campur urusan kalian. Tapi saya rasa, hal yang wajar jika seorang istri melarang suaminya untuk menemui wanita yang bukan mahramnya. Apa Anda tahu itu? Lagi pula, saya heran sama Anda. Apa Anda bangga menjadi seorang pelakor, sampai berani membentak istri sah di tempat umum? Lucu sekali, ternyata zaman sudah terbalik, ya? Saat ini, sepertinya lebih galak pelakor daripada istri sah, hehehe...."
"Aku bilang diam! Ini bukan urusanmu!"
"Ada apa ini?"
Tiba-tiba seorang dokter muda datang menghampiri mereka.
"Ini, Dok. Ada pelakor yang sedang beraksi. Berani-beraninya dia melabrak seorang istri di tempat umum," lapor ibu paruh baya tersebut.
Dokter Richard menghela napasnya saat melihat Ilona yang tampak merah padam karena menahan amarah.
"Ikut aku!"
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa like, vote n komennya, yaa 🙏🤗