
Sinar mentari pagi menyeruak melalui celah-celah jendela kamar yang masih tertutup gorden. Sang empunya kamar mengerjapkan matanya karena merasa silau. Bukannya terbangun, dia malah membalikan badannya untuk membelakangi jendela. Sejurus kemudian, dia kembali terlelap.
Tok….tok…tok…
“Adi, apa enin boleh masuk ?”
Ceklek !
Seorang perempuan tua yang tadi mengetuk pintu dan meminta izin untuk memasuki kamar cucunya, tiba-tiba telah berdiri di hadapan cucunya yang masih terlelap. Karena tak mendapatkan jawaban, akhirnya enin Muzdalifah yang biasa di panggil nin Ifah, memasuki kamar cucu tunggalnya.
Enin Ifah duduk di tepi ranjang cucunya. Dengan penuh kasih sayang, dia membelai cucunya yang sudah bertahun-tahun tak bertemu. Semenjak kematian putri tunggalnya, Adi tinggal bersama ayahnya karena sang ayah lebih memilih menikah lagi dengan gadis pilihannya.
Mendapat sentuhan dingin di kulit pipinya. Pemuda berusia 24 tahun itu menggeliatkan badannya. Dia pun mulai mengerjapkan matanya. Tatapan hangat milik sang nenek sangat meneduhkan hatinya. Pemuda itu pun menggeser kepalanya dan menjadikan pangkuan sang nenek menjadi bantalnya.
“Apa kau tidak ingin bangun, nak ? Hari sudah semakin siang.” tanya enin Ifah.
“Sebentar lagi, nin ! Badan Adi rasanya sakit banget.” jawab pemuda itu.
Enin Ifah tersenyum, "Ya sudah, tidurlah kembali !” ucapnya seraya membelai lembut rambut cucu satu-satunya itu.
Setelah melihat cucunya kembali terlelap, enin Ifah pun membenarkan kepala cucunya di atas bantal. Setelah itu dia kembali ke dapur untuk menyiapkan sarapan.
“Adi masih belum bangun juga, ambu ?” tanya aki Surya suaminya.
“Belum bah, katanya masih mengantuk.” jawab enin Ifah.
“Oh, ya sudah. Biarkan dia tidur lagi. Semalam dia datang dalam kondisi yang sangat buruk. Sepertinya dia sedang banyak masalah.” ucap aki Surya.
“Ya, abah benar. Mungkin memang anak itu sedang ada masalah dengan ayahnya. Kita sendiri tahu, sejak ibunya meninggal, Adi selalu menutup dirinya.”
“Ambu benar. Abah menyesal, seandainya dulu kita tidak mengijinkan menantu kita membawa Adi, mungkin Adi tidak akan tumbuh menjadi anak yang tertutup seperti itu.”
“Sudahlah, bah ! Semuanya sudah berlalu. Ibu sangat senang. Ternyata Adi masih mengingat kita. Ini pertama kalinya dia datang lagi ke rumah ini, semenjak dia pindah ke kota."
Aki Surya tersenyum melihat binar kebahagiaan terpancar di kedua bola mata istrinya.
Sementara itu di kamar yang berukuran 2 x 2 m itu, bunyi telpon di atas nakas terus bergetar. Dengan mata yang masih terpejam, pemuda itu meraih ponselnya di atas nakas. Dia memicingkan sebelah matanya untuk melihat siapa orang yang tengah menelponnya. Nama papah terpampang jelas di layar ponselnya. Dia kemudian menaruh kembali ponselnya ke atas nakas. Setelah itu, dia menyusupkan kepalanya di bawah bantal.
Untuk beberapa menit telpon masih bergetar. Hingga akhirnya benda pintar itu berhenti bergetar. Mungkin saja si penelpon sudah merasa bosan dan memutuskan sambungan telponnya. Pemuda itu tak menyia-nyiakan kesempatan. Dia kemudian meraih kembali ponselnya dan mematikannya.
“Aman !” gumam pemuda itu.
Getaran telpon membuat kantuknya menghilang. Pemuda itu menggeliatkan tubuhnya untuk melemaskan kembali urat syarafnya yang terasa kaku. Setelah itu dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Mata pemuda itu tertegun ketika mereka melihat bercak darah kering di benda pusakanya.
Bayangan saat dia menggagahi wanita itu pun kembali berkelebat dalam ingatannya. Dadanya terasa sesak saat dia mengingat isak tangis wanita itu. Dia mulai memukul-mukul dadanya, berharap himpitan yang dirasakannya sedikit menghilang.
Perlahan dia mulai membasuh benda pusakanya. Pemuda itu sedikit meringis menahan perih saat air mengenai senjatanya. Ternyata, bukan hanya wanita yang akan merasa sakit ketika dia kehilangan keperawannanya. Pria pun sama bisa merasakan perih saat dia mulai memutuskan melepaskan keperjakaannya.
Perjaka ? Aku sudah tidak perjaka ? Aku tidak bisa menjaga diriku untukmu. Lalu apa kau masih bisa menjaga dirimu untukku ?
__ADS_1
Perasaan menyesal kembali menyeruak di hati pemuda itu. Sejenak, pemuda itu berjongkok dan menyandarkan punggungnya di tembok kamar mandi. Perlahan dia mulai membasuh tubuhnya. Berharap jika air bisa membersihkan semua kebejatan yang dia lakukan semalam.
Keningnya sedikit berkerut.
Kenapa ? Kenapa aku bisa dengan mudahnya menyentuh gadis itu ? Padahal 2 tahun aku menjalin hubungan dengan Jessica, tubuhku tak pernah bereaksi terhadap dirinya. Jika dibandingkan dengan gadis itu, tubuh Jessica jauh lebih di atas segalanya. Tapi kenapa aku malah merasa tidak suka jika Jesicca menyentuhku ? Jangankan berhubungan intim, menciumnya pun aku tak berselera. Tapi gadis itu ? Dia mampu membuatku hilang kendali. Bibirnya, ya...! bibir mungilnya yang tipis. Bibir yang membuatku ingin me****tnya saat pertama kali dia memarahiku di mall itu. Dan ternyata, bibir itu benar-benar manis sekali.” Batin pemuda yang tak lain adalah Argha.
Sedikit tersenyum tipis, tangan Argha mengusap bibirnya sendiri seraya memejamkan matanya. Tiba-tiba darahnya berdesir, saat dia membayangkan kembali penyatuan yang dilakukannya dengan gadis itu semalam.
Mungkin memang dia sedikit lebih memaksa. Namun dia sadar betul, jika dia berhasil menyatukan tubuhnya pada saat emosi mulai mereda dan memperlakukan gadis itu penuh kelembutan.
Brakk….!
Argha melemparkan gayung yang dipegangnya. "Shit ! Kenapa tubuhku harus bereaksi saat bersamanya ! apa yang terjadi padaku ?" umpatnya
“Adi…! Kamu kenapa nak ? Apa kamu baik-baik saja ?” tanya aki Surya yang mendengar suara keributan dari kamar mandi.
“Eh, i…iya ki ! Adi baik-baik saja !” jawab Argha tergagap.
"Syukurlah ! Cepatlah mandi, setelah itu kita sarapan !" perintah aki Surya kepada cucunya.
“Iya ki !” jawab Argha.
Byur….
Byur….
Argha pun mulai mengguyur tubuhnya dengan air dingin pegunungan di kampung halaman almarhumah ibunya.
Pukul 09.45. Gintani tiba di pub tempat dia menginap. Kecemasan mulai melandanya saat dia mengetuk pintu pub yang memang tertutup. Berulang kali Gintani mengetuk, namun tak ada jawaban. Sepi, hanya itu yang Gintani dapatkan.
"Mungkin memang bang Alex sedang tidak ada di dalam." gumam Gintani.
Gintani pun merogoh saku tasnya dan mengeluarkan kunci cadangan yang pernah diberikan Alex.
Pintu terbuka, Gintani segera masuk dan menuju kamarnya. Tiba di kamar, Gintani mulai mengepak barang-barangnya. Dia memisahkan surat-surat penting miliknya juga beberapa potong pakaian, dan memasukannya ke dalam sebuah koper yang agak kecil. Sedangkan pakaian yang lainnya, dia satukan ke dalam koper yang besar.
Tak lupa Gintani memasukkan amplop tebal yang berisi uang 500 juta untuk menebus nyawa kakeknya. Sisanya dia masukkan ke dalam tasnya. Gintani sendiri tidak mau ambil pusing dengan sisa pembayaran yang masih berada dalam rekening Alex. Dia sudah tidak ingin lagi bertemu dengan Alex. Terlebih lagi saat dia mengetahui jika Alex dan Argha saling mengenal.
Dengan terburu-buru, Gintani segera meninggalkan tempat itu. Setelah mengunci pintu pub, Gintani menyelipkan kunci itu di celah pentilasi di atas pintu. Gintani mendorong kopernya keluar dan segera menghentikan taksi yang sedang melintas di hadapannya.
“Jln Mawar, pak !” ucap Gintani seraya menyerahkan peta lokasi yang telah dikirimkan tuan Broto.
Tanpa menunggu waktu lama, sopir taksi pun mulai melajukan mobilnya membelah jalanan ibu kota yang mulai terasa padat. Di tengah jalan, Gintani melihat seorang ibu paruh baya yang sedang memunguti botol-botol plastik bekas minuman. Gintani menyuruh sopir taksi berhenti.
Setelah mobil berhenti, dia pun turun seraya menarik koper besar yang berisi pakaiannya. Gintani menghampiri ibu itu dan memberikan pakaian miliknya kepada sang ibu. Ucapan terima kasih dan lantunan do'a yang panjang mengalir deras dari mulut ibu paruh baya tersebut.
"Aamin…"
Hanya satu kata yang bisa Gintani ucapkan. Setelah itu, Gintani kembali lagi ke taksinya dan meminta sang sopir untuk melanjutkan perjalanannya kembali.
__ADS_1
Pukul 11.21, Gintani tiba di tempat yang telah ditentukan. Tempat itu terlihat sangat sepi. Tak ada satu pun kendaraan umum yang melintas di sini. Gintani pun meminta sang sopir taksi untuk menunggunya. Dia takut jika dia tidak bisa mendapatkan angkutan umum lagi.
“Pak, saya ada keperluan sebentar ! Bisakah bapak menunggu saya ?” tanya Gintani sopan.
“Baiklah neng.” jawab sang sopir tidak keberatan dengan permintaan penumpangnya.
“Tapi tolong tunggu di tempat yang agak jauh ya. Pak ! Nanti jika urusan saya sudah selesai, saya akan mengubungi bapak, lagi ! tolong catat no ponsel bapak di sini !” ujar Gintani seraya menyerahkan ponselnya.
Sang sopir menerima ponsel itu dan muai mencatat nomor pribadinya di ponsel Gintani. Setelah selesai, Gintani pun mulai melangkahkan kakinya menuju gudang kosong. Sedangkan taksi itu mulai melaju dan berhenti di sebuah warung sekitar 2 km dari tempat dia menurunkan penumpangnya.
Setengah jam menunggu. Datang mobil Van berwarna putih dan berhenti di depan gudang kosong itu. Gintani yang sedang duduk di sebuah kursi kayu di depan gudang, Seketika berdiri melihat mobil van berhenti. Keluarlah 2 orang pria bertubuh kekar sedang mengapit kakek Wira yang terlihat pucat pasi.
“Kakek !” ujar Gintani seraya menghambur ke arah kakeknya.
"Berhenti ! salah satu pria itu memberikan perintah yang langsung membuat Gintani menghentikan langkahnya.
"Serahkan uangnya dulu !” teriak pria itu seraya menadahkan tangannya.
Mungkin Gintani lemah, tapi dia masih bisa berpikir jernih.
"Bagaimana aku percaya kamu akan melepaskan kakekku jika aku menyerahkan uang ini terlebih dahulu !” teriak Gintani.
“Ish, dasar kau bocah ingusan ! Berani melawan kami, hah ! Atau kamu mau melihat kematian kakekmu saat ini juga !” pria itu menggertak Gintani dengan suara meggelegarnya.
“Begini saja. Dalam hitungan ketiga, aku lemparkan uang ini, dan kamu serahkan kakekku, bagaimana ?” tawar Gintani.
“Baik ! Cepatlah ! Aku masih banyak urusan !” jawab pria itu.
“Satu..., dua..., tiga...!"
Gintani segera melempar uang itu, sedangkan pria yang sedari tadi memegang kakek Wira, mendorong tubuh kakek Wira hingga terhuyung ke arah Gintani.
“Kakek !" pekik Gintani seraya memeluk tubuh kurus kakeknya yang hendak tersungkur ke tanah.
Si pria tadi tersenyum lebar setelah mendapatkan uangnya. Akhirnya mereka pun meninggalkan Gintani dan sang kakek di depan gudang kosong itu.
“Gi…Gintan…! Te…terima kasih su...sudah menyelamatkan kakek ! Maafkan..ka...kek, su.. sudah banyak me..repotkanmu !" ujar kakek Wira, lemah.
“Tak apa, kakek ! Sudah kewajiban Gintan untuk membebaskan kakek, dari orang-orang jahat itu.” jawab Gintani seraya tersenyum hangat.
Kakek Wira membalas senyum Gintani. Namun karena kondisi badannya yang semakin lemah, kakek Wira pun terjatuh tak sadarkan diri dalam pelukan Gintani.
Gintani segera merogoh ponselnya dari dalam tas.
"Tolong jemput kami di tempat tadi !"
Bersambung....
Semoga masih suka ceritanya yaaa..
__ADS_1
Jangan lupa like vote n komennya 🙏🤗