
Senja mulai menghilang. Ilona masih asyik duduk di tepi balkon seraya memandang hamparan kota yang mulai terang benderang oleh cahaya lampu. Kalimat yang diucapkan Dokter Richard tadi pagi masih terngiang di telinganya. Ilona berusaha tegar, namun bulir air mata tak mampu ia tahan.
Rasa sesak mulai menghimpit dadanya. Tanya yang tak mampu mendapat jawaban terus menggema di hatinya. Kenapa, kenapa dan kenapa takdirnya harus selalu berada dalam keburukan, begitulah kira-kira apa yang ada dalam benak Ilona.
Sekilas dia melirik kertas-kertas yang masih berserakan di meja bundar yang diapit dua buah kursi rotan. Kertas-kertas itu adalah hasil diagnosa tentang penyakit yang dideritanya saat ini. Senyum misteri tersungging di kedua sudut bibirnya. Entah apa yang sedang dia pikirkan dengan semua kertas-kertas tersebut.
Ilona berjalan ke arah meja itu. Sejurus kemudian, dia mendaratkan bokongnya di salah satu kursi. Tangan kanannya mulai meraih bungkus rokok dan mengeluarkan sebatang rokok. Ilona meraih pemantik api dan mulai menyalakan rokoknya. Detik berikutnya, dia mulai mengisap penuh rokok tersebut. Kepulan asap pun mulai keluar dari mulutnya.
Sejenak Ilona memejamkan matanya sambil membolak-balikan batang rokok yang tengah menyala itu. Kertas-kertas ini akan aku jadikan senjata untuk mencapai tujuanku, gumam Ilona, tersenyum sinis.
🍀🍀🍀
Gintani membenarkan bantalnya untuk mencari posisi yang terbaik. Pergerakan itu membuat Argha yang sedang membaca menjadi terusik. Dia pun melirik ke arah istrinya yang masih sibuk menepuk-nepuk bantal yang menurutnya keras.
"Bantalnya kesakitan loh, Gin!" ledek Argha.
"Ah, Mas bisa saja," jawab Gintani sambil mengerucutkan bibirnya.
Argha tertawa melihat ekspresi wajah Gintani. Tiba-tiba pandangannya terkunci pada bekas luka di pergelangan tangan Gintani yang sudah sejak lama ingin dia tanyakan.
"Gin," kata Argha, menutup bukunya.
"Ya," jawab Gintani menghentikan kegiatannya.
"Kenapa pergelangan tanganmu bisa ada bekas luka seperti itu? Aku lihat, sepertinya itu bekas luka benda tajam, apa kamu pernah terjatuh?" tanya Argha.
Gintani melirik bekas luka di pergelangan tangan kanannya. Bayangan hitam masa lalu pun kembali melintas. Gintani hanya mampu diam untuk beberapa saat.
"Ada apa, Gin? Kok diam?" Argha kembali bertanya.
"Ini?" kata Gintani seraya memperlihatkan pergelangan tangannya.
Argha mengangguk.
"Hhh...." Gintani menghela napasnya. Dia kemudian menyandarkan punggungnya di bagian kepala ranjang. "Beberapa tahun yang lalu, seseorang pernah berniat melecehkan Gintan. Demi mempertahankan harga diri, Gintan nekat melukai pergelangan tangan Gintan dengan pecahan beling," jawab Gintani.
Argha terkejut mendengarnya. Dia mendekati istrinya dan menarik tangan Gintani untuk mengamati luka itu. Keningnya sedikit mengerut saat melihat warna aneh dibekas sayatan itu.
"Gin, apa kamu punya tanda lahir?" tanya Argha, penasaran.
"Gintan_"
Drrrtt... Drrttt....
Kalimat Gintani terpotong saat ponsel di atas nakas bergetar. "Sebentar, Mas," ucapnya sambil meraih ponselnya. "Kakek" gumam Gintani. Seketika senyumnya pun mengembang mendapati nama kakeknya tertera di layar ponsel.
__ADS_1
"Mas, Gintan angkat telepon dari kakek dulu, ya?" izinnya pada sang suami.
Argha mengangguk.
🍀🍀🍀
Minggu pagi. Entah kenapa sejak semalam Jessica sangat merindukan kedua orang tuanya. Semenjak mami dan papinya meninggal dalam sebuah kecelakaan pesawat, Jessica hidup sebatang kara.
Keluarga papinya tidak mau menerima Jessica. Menurut mereka, Jessica bukanlah keturunan yang diharapkan. Sedangkan keluarga maminya tidak ingin merawat Jessica yang sudah yatim piatu, karena menurut mereka, Jessica hanyalah anak pembawa sial. Untungnya, ada Bik Sumi yang sudah menjadi asisten rumah tangga papi maminya jauh sebelum Jessica lahir.
Malam itu, hujan disertai angin kencang dengan bunyi petir yang menggelegar saling bersahutan. Seorang wanita muda yang sedang menggendong bayi tampak berlari di bawah derasnya air hujan.
Ting tong! Ting tong!
Suara bel pintu di rumahnya, membuat Arini terpaksa melangkahkan kakinya ke ruang tamu. Siapa yang bertamu malam-malam begini? batin Arini.
Saat Arini membuka pintu, dia begitu terkejut mendapati seorang wanita basah kuyup yang sedang berusaha mendiamkan bayi yang menangis dalam gendongannya.
"Maaf, Anda siapa?" tanya Arini.
"Apa aku bisa bertemu dengan Tuan Iskandar?" tanya wanita muda itu.
Arini mengerutkan keningnya, kenapa wanita itu menyebutkan nama suaminya? Siapa dia?
Tiba-tiba.
"Mas, a-aku diusir dari rumah," ucap wanita itu dengan bibir bergetar.
"Ma-mas?" ucap Arini yang begitu terkejut akan kelancangan wanita itu memanggil suaminya. "A-ada apa sebenarnya ini, Pa?" tanya Arini pada suaminya.
"Di-dia...."
Oeeek... Oeeekkk... Oeeek....
Belum sempat Iskandar memberikan penjelasan, tiba-tiba bayi yang berada dalam gendongan wanita itu, kembali menangis.
Arini menatap bayi tersebut. Entah kenapa hatinya merasa hangat dengan tangisan bayi itu. "Sebaiknya kalian masuk dulu. Kasihan bayinya," ucap Arini.
Mereka pun akhirnya masuk. Arini memberikan handuk dan pakaian ganti untuk wanita tersebut. Setelah itu dia menggendong bayi mungil itu dan mengganti pakaiannya.
Entah kenapa, sang bayi merasa nyaman selama berada dalam pangkuan Arini. Hingga dia pun terlelap. Beberapa menit kemudian, Arini menidurkan bayi itu di kamar tamu. Tak lama, dia kembali lagi ke ruang keluarga.
Saat dia tiba di pintu batas ruang keluarga, samar-samar Arini mendengar perdebatan antara suami dan wanita itu. Jantungnya berdegup kencang saat mencoba mencerna satu per satu dari kalimat yang mereka debatkan.
Pertahanan Arini runtuh, seketika dia menghampiri kedua insan yang telah memadu kasih di belakangnya.
__ADS_1
"Wow, Mas..., sungguh hadiah pernikahan yang sangat luar biasa," ucap Arini dingin. Dia benar-benar tidak menyangka di usia perkawinannya yang hari ini menginjak 10 tahun, justru mendapatkan kabar perselingkuhan suaminya dengan wanita lain.
"A-Arini...." gumam Iskandar. "Arini, aku bisa jelaskan semuanya." Iskandar menghampiri istrinya. Dia memegang erat kedua tangan Arini.
"Jangan sentuh aku!" teriak Arini seraya menepiskan kedua tangan suaminya. "Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu itu!" Kembali Arini berteriak.
"Arin, aku mohon...maafkan aku! Aku khilaf," ucap Iskandar memelas.
"Khilaf katamu? Kekhilafan seperti apa hingga bisa menghasilkan seorang anak, hah?" Arini semakin kalap. "Tega kamu, Mas. Tega kamu mengkhianati aku. Selama ini aku sudah banyak berkorban untuk kamu. Aku berani melawan orang tuaku demi Kamu. Aku serahkan semua hasil kerja kerasku untuk modal usaha kamu. Tapi kenapa di saat kamu telah berjaya, kamu tega memberikan sebuah pengkhianatan kepadaku, kenapa?"
"Mbak, aku minta maaf, a-aku_"
"Diam kamu! Aku tidak sedang berbicara padamu," teriak Arini.
"Katakan padaku Mas, apa kurangnya aku dibandingkan wanita itu? Apa, Mas? Kamu benar-benar brengsek, kejam kamu, Mas!"
Arini berteriak-teriak seraya memukul dada bidang suaminya. Hatinya benar-benar sakit setelah beberapa menit yang lalu mereka memadu kasih, namun detik ini dia mendapati kenyataan jika sang suami pernah menyentuh tubuh wanita lain.
"Aku minta maaf. Jujur, kamu wanita yang sempurna Ar, bahkan wanita yang sangat sempurna dibandingkan dengan wanita lain. Ta-tapi aku sudah tidak bisa menahan keinginan ku lagi, Ar. Aku menginginkan gelak tawa seorang anak di rumah ini."
Deg...!
Bersambung....
Mohon maaf, author telat up, karena kemarin author memiliki kepentingan keluarga yang sangat menguras waktu dan tenaga. Semoga masih suka ceritanya yaaa...
Jangan lupa like, vote n komennya... 🤗🙏
Oh iya ni readers, author punya sesuatu untuk kalian nih....
Karya baru dari teman author yang tentunya tak kalah seru dengan cerita-cerita beliau sebelumnya.
Harap bijak membaca, novel ini hanya karya fiktif belaka.
Beeve adalah wanita berparas cantik yang baru saja lulus SMA, ia yang ingin melanjutkan studi harus terhalang karena mendapati dirinya tengah mengandung anak dari hubungan terlarang dengan sang kekasih yang berbeda keyakinan.
Alih-alih di nikahi oleh yang ia cintai, Beeve yang malang justru di campakkan bagai sampah.
Keluarganya yang tahu akan kondisi Beeve langsung sigap menikahkannya pada sepupunya Andri, pria tampan mapan dan dermawan, tentunya dengan menyembunyikan kenyataan yang ada.
Akankah pernikahan Beeve dan Andri berjalan dengan lancar? Atau putus di tengah jalan?
Ikuti terus Alur cerita Jangan Salahkan Takdir.
__ADS_1
Jangan lupa dikunjungi, yaaaa....