
“Kamu gimana sih Jes, masak meluluhkan satu cowok saja susah banget, huh, dasar payah !” dengus nyonya Rosma.
"Hhhh…..," Jessica hanya mampu menghela napasnya mendengar keluhan calon ibu mertua yang tak jadi.
“Sudahlah tan, lupakan saja rencana tante itu !” ujar Jessica, kesal.
“Jadi kamu nyerah gitu aja, hah !” teriak nyonya Rosma tak terima.
“Ya, Jessi harus berbuat apalagi ? Apa tante tahu, Argha itu seorang pria yang sangat mengerikan. Dia bahkan sampai tahu semua kegiatan Jessi. Jessica takut jika Jessica terus memaksakan diri, maka semua yang Jessica bangun dari awal, akan lenyap seketika !" ujar Jessica seolah mengikrarkan dirinya jika dia telah menyerah dengan semua usahanya.
“Huh, jadi hanya sampai di sana nyalimu !” dengus nyonya Rosma semakin kesal. "Omonganmu saja yang besar, tapi buktinya kosong !” gerutu nyonya Rosma semakin kesal.
“Apa maksud tante ?” tanya Jessica yang mulai terpancing emosi.
“Benar kan, dulu kamu berkoar-koar jika Argha adalah cinta matimu. Tapi buktinya, baru digertak seperti itu, nyalimu sudah menciut !” ujar nyonya Rosma memprovokasi Jessica.
“Oke…! Oke..! Nanti aku usaha lagi, puas !” teriak Jessica semakin terpancing emosi.
Dengan perasaan dongkol, Jessica pun meninggalkan nyonya Rosma di kafe tempat mereka bertemu.
Meskipun mendapati sikap tidak sopan dari seorang Jessica, nyonya Rosma hanya bisa tersenyum menyeringai, melihat usahanya untuk memprovokasi Jessica telah berhasil.
🍀🍀🍀
"Sudah seberapa jauh kerjasama kita dengan dinas pariwisata di kabupaten itu, Mal ?” tanya tuan Jaya kepada asistennya.
“Mungkin sekitar 95% tuan, hanya tinggal menunggu finishing saja. Bahkan saya dengar, jika pemerintahan daerah setempat telah membuka Wisata Alam Batu Mahpar itu." jawab pak Jamal.
“Benarkah ? Kenapa aku tidak pernah mendengar tentang hal itu ?” tanya tuan Jaya.
“Maaf tuan ! Beberapa minggu yang lalu saya telah menaruh laporannya di atas meja tuan. Mungkin tuan lupa untuk memeriksanya." jawab pak Jamal.
“Ah, karena terlalu memikirkan gadis itu, Konsentrasiku jadi semakin menurun.” ujar tuan Jaya seraya menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kebesarannya.
“Apa kau sudah menemukan gadis itu, Mal ?” tanya tuan Jaya lagi seraya menatap langi-langit ruangannya.
__ADS_1
Pak Jamal hanya bisa menundukkan kepalanya. “Maaf tuan, saya belum menemukannya." jawab pak Jamal
“Hhhh…., kenapa susah sekali untuk mencari gadis itu ?” ucap tuan Jaya seraya menghela napasnya, berat.
"Sebenarnya aku sendiri bingung, Mal ! Di satu sisi, istriku berniat menjodohkan Argha dengan mantan kekasihnya. Sedangkan di sisi lain, aku telah berjanji kepada sahabatku untuk menjodohkan anak-anak kami. Tapi kamu sendiri tahu, kesalahan yang telah Argha perbuat. Semua ini benar-benar membuat kepalaku seakan mau pecah." ucap lirih tuan Jaya.
“Sebaiknya jangan terlalu banyak dipikirkan tuan! Biarkan semuanya mengalir sesuai rencana Tuhan. Tuan bisa sakit jika terlalu memikirkan masalah tuan muda." saran pak Jamal.
“Yah, kamu benar, Mal ! Tapi aku benar-brnar kesal dengan sikap anak itu. Sudah tahu salah, tapi tetap tak mau mencari gadis itu. Bahkan semakin hari, obsesi untuk menemukan cinta masa kecilnya semakin menggila. Aku bisa melihat jika anakmu, Bram, sampai di buat kewalahan oleh perintah gila anakku." ujar tuan Jaya dengan penuh kekesalan.
Pak jamal hanya bisa tersenyum mendengar keluhan atasannya tentang putra sulungnya yang selalu memberikan sebuah pekerjaan yang hampir 16 tahun tidak mampu dikerjakan oleh anaknya, Bram.
"Ya ! Perintah tuan muda memang terlalu rumit, seakan mencari sebuah jarum dalam tumpukan jerami." ujar pak Jamal.
"Hmm kau benar, Mal ! Aku sendiri tidak mengerti dengan semua sikapnya. Entah kenapa aku selalu merasa jika semua sikapnya itu seolah hanya ingin menguji kesabaranku saja !” ujar tuan Jaya.
“Yah, namanya juga anak-anak, tuan ! Selain titipan, dia juga ujian bagi kita sebagai orang tuanya.” timpal pak Jamal.
“He…he…kau benar, Mal ? Oh iya, ngomong-ngomong, di mana laporan tentang Taman Wisata Alam itu ?” tanya tuan Jaya.
Tuan Jaya mulai membuka map yang berisi tentang laporan perkembangan proyek pembangunan taman wisata alam yang sedang trend di kalangan dunia bisnis. Ya! Saat ini banyak sekali para investor yang tertarik dengan pembangunan tempat-tempat wisata alam yang bisa mendongkrak keuntungan yang sangat pesat. Tak jarang mereka rela berinvestasi ratusan milyar hanya untuk menciptakan sebuah tempat wisata dengan background alam sebagai pusatnya. Seperti Taman Wisata Batu Mahpar yang terletak di kecamatan Sariwangi kabupaten Tasikmalaya.
Tuan Jaya tampak takjub dengan keindahan alam itu. "Wah, sepertinya kita harus berkunjung ke sana, Mal ? Kelihatannya udaranya sangat bersih. Pasti akan sangat menyegarkan pikiran kita yang telah dipenuhi oleh kepenatan pekerjaan." ucap tuan Jaya terlihat sangat bersemangat.
“Ya, tuan benar ! Sepertinya kita memang sangat butuh rekreasi untuk melepas lelah setelah bertahun-tahun bekerja ?” jawab pak Jamal.
“Hmm...., apa kau sedang menyindirku ?” tanya tuan Jaya yang merasa jika beberapa bulan terakhir dia memang tak pernah membiarkan asistennya untuk mengambil cuti.
__ADS_1
“Ahahaha…., bukan begitu maksud saya, tuan ! Tolong jangan diambil hati !” ujar pak Jamal seraya terkekeh.
“Huh, bilang saja kau sedang protes padaku karena aku tak pernah mengizinkanmu untuk mengambil cuti selama 3 tahun ke belakang ini !” dengus tuan Jaya.
“ha…ha…ha…! Tuan bisa saja !” pak Jamal tergelak mendengar gerutuan kesal atasannya.
“Baiklah. Persiapkan dari sekarang ! Sebulan lagi kita akan berkunjung ke sana. Sekalian meninjau lokasi yang beberapa bulan kemarin diajukan pemda setempat tentang adanya sebuah air terjun yang masih sangat perawan, karena belum terjamah oleh para wisatawan.” ujar tuan Jaya.
“Apa tuan hendak melanjutkan kembali Proyek Wisata Alam ?” tanya pak Jamal seraya mengerutkan keningnya.
“Ya, aku rasa tidak ada salahnya. Bukankah itu bisnis yang sangat menguntungkan?” jawab tuan Jaya.
“Saya tahu, tuan. Tapi lokasi air terjun itu sangat terpencil. Belum ada akses kendaraan umum yang bisa menjangkau lokasi itu. Saya takut, hasilnya tidak akan sesuai dengan apa yang telah kita keluarkan." ujar pak Jamal.
“Ha…ha…ha…, jika memang tidak sesuai, anggap saja kita akan membuat Villa di sana untuk menikmati hari tua kita, Mal !”
“Ah, tuan ini ada-ada saja.”
“Ha…ha…, jangan terlalu serius, Mal ! Nanti kamu tambah tua !” ujar tuan Jaya.
“Hmm..., apa tuan tidak sadar jika kita memang sudah tua dan sudah sangat pantas untuk menimang cucu !” gerutu Jamal yang merasa kesal dengan gurauan bos sekaligus sahabatnya.
“Iya, kamu benar, Mal ! Kita begitu mendambakan cucu dari anak-anak kita ! Tapi kenapa, anak-anak kita sepertinya betah sekali untuk melajang. Padahal usia mereka sudah cukup matang untuk berumah tangga." keluh tuan Jaya.
“Entahlah, tuan ! Saya sendiri tidak tahu. Mungkin jaman mereka berbeda dengan jaman kita muda dulu." ujar pak Jamal seraya menyesap kopi hitamnya.
“Aku punya ide, Mal ! Bagaimana kalau kita jodohkan anakmu dengan putriku ?”
Brruurr……
Seketika kopi hitam itu menyembur kuat dari mulut pak Jamal hingga mengenai wajah atasannya….
Bersambung....
Jangan lupa like, vote n komennya ya 🙏
__ADS_1