
"Segeralah berkemas, Gin. Kalau tidak, kita akan ketinggalan pesawatnya," perintah Argha kepada istrinya.
"Sepenting itukah berbulan madu?" tanya Gintani menatap suaminya.
"Memangnya, kamu tidak senang kita berbulan madu?" Argha malah balik bertanya.
"Hmm, Mas...kita bukan pasangan yang baru menikah kemarin sore. Lagi pula, pekerjaan Mas pasti sudah menumpuk akibat sakit kemarin. Memangnya Mas nggak takut, apa, jika perusahaan terkena masalah?" jawab Gintani.
"Sudahlah, tidak usah terlalu dipikirkan. Urusan perusahaan, kan ada Bram yang bisa meng-handle. Dibantu Nadhifa, mereka pasti bisa mempertahankan perusahaan untuk tetap menjadi yang terbaik. Lagi pula, pernikahan kita, kan baru seumur jagung. Jadi, tidak ada kata terlambat untuk berbulan madu," jawab Argha panjang lebar.
Gintani hanya tersenyum mendengar penjelasan Argha. Si Tuan Arrogant ini memang sulit dibantah jika sudah memiliki keinginan.
"Tidak usah buru-buru, Nak. Bukankah kalian perginya menggunakan pesawat pribadi?" tanya Tuan Jaya saat melihat persiapan anaknya yang hendak pergi berbulan madu.
"Tidak bisa seperti itu, Pa. Meskipun menggunakan transportasi pribadi, tapi kita tetap harus berdisiplin waktu," bantah Argha.
"Hmm, bilang saja kamu ngebet pingin berduaan sama istrimu. Benar, kan?" cibir Tuan Jaya.
"Ish, Papa ini, sok tahu!" bantah Argha.
"Ya, tahulah..., Papa, kan pernah muda, Ar. Memangnya, apa yang Papa lakukan sama Bunda kamu, sampai-sampai kamu bisa ada di permukaan bumi ini, heh?" ledek Tuan Jaya. "Dan sekarang, kamu juga harus melakukan hal yang sama supaya Papa bisa segera menimang cucu. Bisa, kan?" tanya Tuan Jaya penuh penekanan.
"Tenang saja, Pa. Argha gempur tiap waktu, Insya Allah, pulang nanti, Argha dan Gintan pasti bawa kabar baik. Iya, kan, Gin?"
Gintani hanya menundukkan wajahnya mendengar percakapan norak suami dan mertuanya.
"Gin, kok diam?" tanya Argha menyelidik.
"Insya Allah, Mas," jawab Gintani. "Ini, sudah selesai Mas," tunjuk Gintani pada kopernya.
"Sini, biar aku yang bawa," kata Argha seraya meraih koper yang ukurannya cukup besar.
🍀🍀🍀
Matahari mulai terbenam di ufuk barat. Dua orang wanita masih tampak berjalan hilir-mudik di depan sebuah rumah tua yang telah lama kosong.
"Apa kamu yakin dia akan datang?" tanya Ilona.
"Dia pasti datang, Tik. Tenanglah!" jawab Celine, mencoba menenangkan Ilona yang sedari tadi mondar-mandir tak karuan.
"Ish, bagaimana aku bisa tenang. Sudah hampir tiga jam kita menunggu tanpa kabar seperti ini," gerutu Ilona dengan kesalnya.
Brak!
Ilona menendang keras kursi reyot yang berada di hadapannya hingga terjungkal.
Celine terkejut, namun dia hanya bisa menghela napas melihat sikap Ilona. Bertahun-tahun terpisah membuat dia semakin tak mengenali Ilona. Sedari dulu, Ilona memang wanita yang sangat berprinsip jika waktu adalah uang. Dia sangat tidak menyukai keterlambatan. Namun Celine cukup terkejut melihat kekasaran yang ditampakkan Ilona.
__ADS_1
Dua puluh lima menit kemudian.
"Sorry, gue telat!" ucap seorang laki-laki dengan napas yang masih tersengal.
"Nggak, pa-pa, Nan," jawab Celine.
"Nggak apa-apa, apanya? Kamu nggak nyadar kalau kita sudah jamuran nunggu dia tiga jam lebih," gerutu Ilona semakin kesal. "Oh, jadi ini pria yang mau kita ajak kerja sama? Kamu yakin nggak, kalau dia memiliki skill yang cukup untuk membereskan musuh kita?" tanya Ilona, meremehkan.
Nando mulai jengah melihat kesombongan gadis berambut pendek itu.
"Gue balik, Cel," pamit Nando seraya berbalik arah.
"Eh, tunggu!" Celine mencekal lengan mantan kekasihnya itu. "Tolong jangan tersinggung, temanku memang sifatnya seperti itu." Celine berusaha memberikan pemahaman kepada Nando.
"Tapi lu lihat sendiri betapa angkuhnya sahabat lu itu. Dia pikir dia siapa, berani-beraninya meremehkan kemampuanku, " sarkas Nando.
"Aku tahu kamu hebat, Nan. Sudah, jangan hiraukan dia, setidaknya demi aku. Please!" Celine memohon.
Nando menghempaskan tangannya. "Dengar, seandainya saja aku tidak memiliki keperluan mendesak, aku tidak akan pernah sudi berhubungan dengan gadis sombong itu," dengus Nando.
"Aku tahu. Sudahlah, ayo kita hampiri dia!" ajak Celine.
Dengan raut wajah yang masih terlihat kesal, Nando pun mengikuti Celine dari belakang. Tak lama berselang, mereka segera memasuki rumah tua itu. Tampak Ilona yang telah duduk di sebuah kursi tua dengan menyilangkan kakinya.
"Duduk!" perintah Ilona dengan nada dinginnya.
Nando hanya mendengus kasar seraya mendaratkan bokongnya di kursi yang berada di hadapan Ilona. Jarak keduanya hanya terhalang meja kecil sehingga Nando bisa melihat jelas paras cantik yang penuh kelicikan.
"Jadi, namamu Nando?" tanya Ilona berbasa-basi.
"Hmm." Hanya itu yang keluar dari mulut Nando sebagai jawaban.
"Apa aku bisa mempercayaimu?" tanya Ilona lagi, meremehkan.
Brak!
Nando memukul meja di hadapannya.
"Apa-apaan ini? Jika lu memang nggak percaya sama gue, ngapain lu panggil gue kemari, hah?" ujar Nando dengan kasarnya
Prakk!
Ilona balas menendang meja tersebut hingga terjungkal.
"Jangan pernah berani meninggikan suaramu di hadapanku," ucap Ilona, geram.
"Issh, kalian ini!" Bentak Celine. "Bisakah kalian menurunkan ego kalian masing-masing. Ingat, kita di sini memiliki tujuan yang sama. Bukankah kita sama-sama memiliki dendam terhadap gadis itu? Setidaknya, untuk kali ini saja, berhentilah berdebat! Pikirkan misi kita!" teriak Celine yang sudah cukup muak melihat ego kedua orang tersebut. Sahabat dan mantan kekasihnya.
__ADS_1
Nando menarik napasnya. Dia mencoba mengatur kembali amarah yang sempat memuncak.
"Baiklah, apa yang harus gue lakukan?" tanya Nando.
Ilona yang sempat berdiri karena marah, akhirnya duduk kembali di atas kursi tua itu.
"Dekati mereka dan hancurkan!" ucap Ilona seraya melemparkan sebuah foto ke hadapan Nando.
Nando meraih foto tersebut. Senyumnya mengembang tatkala melihat orang dalam foto itu.
"Apa yang akan aku dapatkan jika misi ini berhasil?" tanya Nando menyeringai.
Pluk!
Ilona melemparkan sebuah amplop tebal ke atas meja.
"Itu baru setengahnya," ucap Ilona dengan nada sinis. "Setengahnya lagi aku lunasi setelah kamu benar-benar membereskan semua tugasmu. Paham?!"
Nando meraih amplop tebal berwarna coklat dan membukanya. Hmm, lumayan, batinnya. Sejurus kemudian, dia melipat kembali amplop tersebut.
"Baiklah, aku minta waktu dua minggu untuk menyelesaikan misi ini."
"What?! Are you crazy?" pekik Ilona.
"No, i'm not!" jawab Nando lugas. "Ayolah, Nona. Aku sangat mengenal Gintani. Dia bukan wanita yang mudah untuk di dekati. Aku sendiri bahkan tidak yakin apa dengan waktu sesingkat itu, misi ini akan berhasil."
"Apa? Lalu untuk apa aku membayar kamu jika kamu merasa tidak yakin seperti itu?!" teriak Ilona dengan kesalnya. "Kembalikan uangku!" lanjutnya seraya mengulurkan tangan untuk mengambil kembali amplop yang sedang dipegang Nando.
"Ups, sorry!" jawab Nando sambil memasukkan amplop itu ke dalam saku jaketnya.
Nando berdiri dan mencondongkan badannya ke hadapan Ilona.
"Dengar Nona, sebaiknya kurangi amarahmu, dan tunggu kabar baik dariku. Permisi!" pamit Nando seraya menyentuh pelan hidung mancung milik Ilona.
"Shiitt!" umpat Ilona sembari menepiskan tangan Nando
"Hahaha,... Bye!" Nando melangkah pergi sambil melambaikan tangan kanannya.
"Laki-laki sialan!" dengus Ilona. "Berani-beraninya dia menyentuhku. Aku sumpahi, suatu hari tangannya akan patah karena sudah berani berbuat lancang padaku," kutuk Ilona.
Celine hanya menghela napasnya. "Sudahlah Tik, kita pergi yuk! Hari sudah mulai gelap, nih," ajak Celine seraya menarik tangan Ilona.
"Huh, dasar penakut...."
Bersambung....
Makasih yang sudah mau mendukung karya recehan ini...
__ADS_1
Tetap semangat untuk sehat paripurna...
Love you all....