Takdir Gintani

Takdir Gintani
Merayakan Kemenangan


__ADS_3

Gintani tergamam mendengar perkataan Argha. Sungguh, apa yang baru saja dia dengar, bak petir di siang hari. Gintani tidak percaya jika Argha sanggup berkata seperti itu hanya untuk membuat hatinya luluh. Gila, dia pasti sudah tidak waras, batin Gintani seraya berlalu pergi meninggalkan Argha.


Helaan napas Argha terdengar sangat berat saat melihat Gintani seolah tak menggubris ucapannya. Untuk sejenak, dia bergeming. Argha mencoba menguasai ritme jantungnya yang tak beraturan karena menahan rasa emosi. Argha sadar, mungkin setelah semua yang dia lakukan terhadap Gintani, tidak akan mudah bagi Argha untuk mendapatkan kembali kepercayaan wanita itu lagi.


.


.


.


Waktu satu jam yang diberikan oleh panitia, berlalu begitu cepat. Dan kini para ayah dan anak itu telah kembali berdiri di tempat masing-masing. Salah satu utusan panitia naik ke atas panggung untuk membacakan hasil penjurian.


"Assalamu'alaikum warohmatulohi wabarakatuh. Baiklah, saya akan membacakan hasil keputusan juri tentang kegiatan memasak bersama ayah. Keputusan juri ini bersifat mutlak, ya ... tidak dapat diganggu gugat. Saya ucapkan terima kasih kepada para ayah yang telah meluangkan waktunya untuk menemani kegiatan putra-putrinya. Semoga dengan adanya kegiatan ini, bisa lebih mempererat hubungan antara ayah dan anak. Baiklah anak-anakku sekalian, untuk mempersingkat waktu, kita akan bacakan hasil kejuaraan lomba dengan tema Cooking with My Dad. Baiklah ... untuk juara ketiga, jatuh kepada nomor undian... 02!"


Suara tepukan tangan semakin riuh saat satu per satu kejuaraan lomba itu disebutkan. Hingga di kejuaraan pertama, nomor undian yang dimiliki Putri tidak juga disebutkan. Terlihat gurat kekecewaan di wajah imut gadis kecil itu.


"Tidak apa-apa Sayang, yang penting Putri sudah berusaha semaksimal mungkin," ucap Gintani memberi semangat kepada putrinya.


"Dan, inilah juara favorit dari kegiatan memasak bersama ayah hari ini. Juara yang mendapatkan penilaian spesial dari para juri. Penilaian tersebut tidak hanya terpaku pada cita rasa makanan yang mereka masak saja, tapi juga lebih kepada kekompakan, rasa solid dan ekspresi kebahagiaan dan kedekatan antara ayah dan anak. Dan, juara favorit itu jatuh kepada nomor undian ... tiga ... belas!" teriak sang juri.


Putri yang sedang memeluk ibunya karena merasa kecewa tidak mendapatkan juara, seketika melonjak kegirangan.


"Itu nomor undian Putri, Ma!" teriak Putri, girang.


Gintani tersenyum. "Iya Sayang, itu nomor kamu," ucap Gintani.


"Untuk nomor undian 13 atas nama Adina Putri Adisastra beserta ayahanda tercinta, silakan naik ke atas panggung untuk menerima penghargaan dan hadiah alakadarnya dari pihak sekolah," ucap perwakilan para juri itu.


Argha menggenggam tangan Putri. Pasangan ayah dan anak itu naik ke atas panggung dengan wajah penuh keceriaan.


.


.

__ADS_1


.


"Om, apa kita bisa merayakan kemenangan ini?" tanya Putri kepada Argha begitu mereka menuruni tangga panggung.


"Tentu saja, Sayang. Katakan, apa yang kamu inginkan untuk merayakan kemenangan kamu ini, Nak?" Argha balik bertanya.


"Putri mau makan di restoran MD, yang terkenal di kota ini," ucap Putri dengan riangnya.


"MD?" ulang Argha seraya mengernyitkan keningnya.


"Iya, Om. Itu restoran baru yang paling mewah di sini. Kata Eca, makanannya enak-enak. Terus di tengah restoran itu ada danaunya. Nah, di tengah danau itu ada perahu buat tempat makan kita. Putri mau ke sana, Om. Pasti seru. Selama ini, mama selalu sibuk bekerja. Jadi enggak pernah punya waktu buat ajak Putri jalan-jalan," ucap Putri panjang lebar.


Argha menatap sendu ke arah Putri. Anakku yang malang. Selama ini ibu kamu pasti sudah sangat bekerja keras untuk menghidupi kalian. Hingga, dia lupa untuk meluangkan waktunya dan menyenangkan kamu, batin Argha.


Argha berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan Putri.


"Baiklah, hari ini juga kita akan pergi ke restoran itu," ucap Argha.


"Benarkah?" tanya Putri.


Putri terlihat senang melihat tanggapan Argha. "Om, apa Putri boleh ajak mama dan om Alex juga?" tanya Putri lagi.


Saat gadis kecil itu menyebutkan mamanya, senyum Argha langsung mengembang. Namun, saat nama Alex terucap dari bibir mungilnya, senyum Argha pun sirna seketika.


"Memangnya om Alex tidak sibuk?" tanya Argha.


"Hari ini om Alex bilang, om Alex akan menghabiskan waktu bersama Putri," jawab Putri bersemangat.


Argha pun hanya bisa pasrah menanggapi ucapan anaknya. "Terserah Putri kalau begitu. Selama Putri senang, Om akan mengikuti semua keinginan Putri," kata Argha.


"Terima kasih, Om," ucap Putri.


"Put, bisakah kamu memanggil Om dengan sebutan Papa?" pinta Argha, penuh harap.

__ADS_1


Putri tertegun mendengarnya. Jujur saja, dia sendiri masih sangat terkejut dengan pengakuan Argha. Dan Putri belum sempat untuk bertanya langsung tentang kebenaran ini kepada sang ibu. Putri tampak ragu untuk menjawab.


Argha mengetahui keraguan Putri. Dia kemudian menghela napasnya. "Papa mengerti, kamu pasti butuh waktu untuk menerima semua kenyataan ini. Tidak usah khawatir, Papa tidak akan memaksa kamu. Panggil Papa senyaman kamu saja," ucap Argha.


"Maafkan Putri, Om. Tapi Putri akan berusaha untuk membiasakan diri. Terima kasih atas pengertian Om," jawab Putri.


Argha mengacak rambut Putri dengan penuh kasih sayang. "Tidak apa-apa, Sayang. Terima kasih sudah mau memberikan Papa kesempatan untuk memperbaiki diri," ucap Argha.


Putri mengangguk. "Ayo, Om! Kita temui mama dan om Alex," ajak Putri menuntun tangan ayahnya.


Argha mengikuti Putri tanpa banyak membantah.


.


.


.


"Mama, Om Alex! Hari ini Om Ar ... eh, maksud Putri, Papa Argha akan mentraktir kita semua di restoran MD yang terkenal itu untuk merayakan kemenangan kita. Mama sama Om Alex, pasti mau ikut, 'kan?" tanya Putri dengan memasang wajah puppy eyes-nya.


Gintani sangat terkejut mendengar Putri meralat panggilannya kepada Argha. Dia pun semakin geram terhadap sikap Argha yang semena-mena. Kalau boleh jujur, Gintani sangat tersinggung dengan langkah Argha yang mendekati Putri tanpa seizinnya.


"Maaf Sayang, Mama tidak bisa ikut, karena masih banyak pekerjaan yang harus Mama selesaikan," jawab Gintani.


Putri terlihat kecewa mendengar jawaban Gintani. Seketika wajahnya memerah karena menahan tangis.


Melihat hal itu, Alex meralat ucapan Gintani. "Tentu saja, Mama dan Om Alex akan ikut sama kalian. Tapi, Putri harus mengerti ya, jika Mama tidak bisa menemani kalian berlama-lama dalam merayakan kemenangan kalian. Putri sendiri tahu Mama masih punya tanggung jawab untuk menyelesaikan pesanan orang-orang tepat waktu. Apa Putri tidak merasa kasihan sana Mama, jika Mama kena omel pelanggannya karena jahitan mereka tidak selesai tepat waktu?" tanya Alex kepada Putri.


Paham dengan penjelasan Alex, akhirnya Putri mengangguk. "Tidak apa-apa, Om. Tidak sampai selesai juga tidak apa-apa, yang penting Mama bisa ikut merayakan kemenangan Putri dan Om Argha," jawab Putri.


Argha hanya tersenyum kecut mendengar ucapan Alex.


Hmm, licik sekali kamu, Al.

__ADS_1


Bersambung


Jangan lupa like, vote n komennya yaa 🤗🙏


__ADS_2