
Gintani mengerjapkan matanya saat merasakan hembusan hangat menyentuh kulit dadanya. Jantungnya berdegup kencang saat mendapati dirinya tengah memeluk sebuah guling bernyawa. Gintani menatap ukiran wajah sempurna milik suaminya. Perlahan, jari telunjuknya terangkat untuk menyusuri pahatan sang Maha Kuasa.
Grep.... !
Argha menangkap telunjuk Gintani dengan cepat. Sejurus kemudian, dia meremas tangan istrinya, meraihnya dan mengecupnya penuh kelembutan. "Morning, Sweety!" ucap Argha, masih dengan memejamkan matanya.
Gintani menatapnya tajam, apa dia sedang mengigau? Apa yang tengah dipanggilnya itu adalah cinta pertamanya? Ya Tuhan, aku bisa gila dengan semua ini! batin Gintani. Perlahan, Gintani mulai menarik tangannya.
Namun Argha tak melepaskannya begitu saja. Semakin Gintani bergerak, semakin dalam pula Argha menyusupkan pipinya di dada Gintani. Tanpa sadar, bibir Argha menempel di salah satu bukit kembar milik Gintani. Hembusan napasnya, membuat bulu kuduk Gintani berdiri.
"Tu ... Tuan! Ba ... bangunlah!" ucap Gintani, pelan.
Argha tersenyum mendengar suara lembut istrinya. Sedari tadi Argha memang telah bangun, namun rasa nyaman yang diberikan istrinya, membuat dia enggan membuka matanya. Pipinya terasa hangat menyentuh benda kenyal itu. Benda yang sebenarnya ingin dia lahap sejak semalam.
Argha semakin mengencangkan pelukannya, "wait a minute, Sweety!" ucapnya.
"Tu ... Tuan, I'm not Na! And i'm not your Sweety!"
"I know! You are my beautiful wife. And you are my sweet heart, my Sweety, from now until forever."
"Ish..., dasar gila! Bahkan dalam tidur pun dia masih bisa nyambung diajak bicara. Apa cintanya pada Na begitu besar?" dengus Gintani, kesal.
Hup.... !
Argha membalikkan tubuh Gintani sehingga kini posisi istrinya berada di atas tubuh kekar miliknya. Dia menatap tajam istrinya. Tangan kanannya melingkar erat di pinggang Gintani, sedangkan tangan kirinya meraih tengkuk istrinya. Argha mengecup bibir mungil istrinya sekilas.
"Sweety, adalah panggilanku untukmu. Dan aku harap, kamu bisa membiasakan diri untuk mendengarnya," ucap Argha seraya menyapu bibir Gintani yang terlihat basah.
Gintani hanya menatap Argha seraya mengernyitkan keningnya. Dia benar-benar tidak mengerti dengan sikap Argha saat ini. Apa semalam dia salah makan? batin Gintani.
"Kenapa diam?" tanya argha.
Gintani sedikit meronta, meminta Argha melepaskan pelukannya. "Tolong jangan bersikap seperti ini, Tuan! Apa Tuan tidak ingat dengan perjanjian kita?" tanya lirih Gintani.
"Damm!!" Argha kembali mendengus kesal. Kenapa di saat dia ingin mulai memperbaiki hubungan, istrinya selalu mengingatkan dia akan hal itu. Pada akhirnya, Argha melepaskan pelukannya. Dengan perasaan kesal, dia pun bangun dan segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Akhirnya, pagi itu mereka lalui dengan saling diam.
__ADS_1
🍀🍀🍀
"Segera bereskan barangmu!" perintah Argha di hari ketiga mereka menginap di hotel.
"Apa kita akan pulang sekarang?" tanya Gintani heran. Pasalnya, pada malam resepsi itu, Argha bilang jika mereka akan menginap di sini selama seminggu. Tapi sekarang, baru tiga hari, Argha sudah menyuruhnya untuk membereskan pakaian mereka.
"Kenapa? Apa kau masih betah tinggal di sini?" tanya Argha seraya mendekati istrinya. Tangannya mulai bermain-main di rambut panjang nan hitam milik Gintani. Jika sedang berada di kamar, Gintani memang selalu melepaskan kerudungnya atas permintaan suaminya.
Gintani memejamkan matanya saat merasakan hembusan napas suaminya di seputar wajahnya.
Melihat istrinya terpejam, Argha semakin mendekatkan wajahnya. Bibirnya menyentuh sudut bibir istrinya. Lidahnya mulai menyapu bibir bagian bawah Gintani. Manis ... Sungguh terasa manis, bibir mungil ini. Argha menggigit pelan bibir bawah itu, sehingga menimbulkan sedikit suara desisan dari mulut Gintani.
"Ishh..... "
Segera Argha melepaskan pagutannya saat menyadari jika dia telah menyakiti istrinya.
"Maaf!"
Hanya itu yang keluar dari mulut Argha. Setelah itu, dia berlalu meninggalkan Gintani yang masih bergeming di tempatnya.
Beberapa menit kemudian, Gintani telah selesai mengemasi barang-barangnya. Setelah itu, dia keluar untuk menemui suaminya yang tengah asyik di depan laptop.
"Semuanya sudah siap, Tuan," ucap Gintani.
Argha mendongakkan wajahnya. Terlihat Gintani telah bersiap dengan memegang koper di tangan kiri dan kanannya. Argha pun segera mematikan laptopnya. Dia menghampiri Gintani dan membantu Gintani mendorong koper-koper itu.
Tiba di depan kamar, Argha segera mengunci pintu kamarnya. Dia menggenggam erat tangan istrinya. "Ayo!" ajaknya.
"Kopernya?"
"Biar bellboy yang mengurusnya!"
🍀🍀🍀
Empat puluh lima menit melakukan perjalanan, akhirnya mereka tiba juga di mansion utama. Mereka datang bertepatan dengan waktu makan siang. Tuan Jaya menggiring anak dan menantunya menuju meja makan.
"Ayo, mari ... Nak! Kalian pasti sudah sangat lapar, ya!" ujar Tuan Jaya.
__ADS_1
Gintani tersenyum melihat kehangatan yang terpancar dari setiap ucapan ayah mertuanya.
Argha menarik kursi yang berada di samping kanan. Dia mempersilahkan istrinya untuk duduk. Setelah itu dia duduk di kursi depan, tepat berhadapan dengan ayahnya.
Tiba-tiba, ibu tirinya masuk ke ruang makan dengan membawa seorang gadis cantik yang sudah tidak asing lagi.
"Mbak Jessica!" gumam Gintani yang masih bisa didengar suaminya.
Seketika, Argha menoleh melihat ibu tirinya tengah menggandeng sang mantan pacar. Nadhifa hanya mampu mendelikkan matanya, menatap kesal ke arah sang ibu.
"Selamat siang semuanya!" sapa Nyonya Rosma. "Oh iya, Gintani sayang ... perkenalkan, ini namanya Jessica Amanda. Dia seorang model internasional. Dan kebetulan, mm ... dia mantan kekasihnya Argha," ucap Nyonya Rosma, tanpa merasa bersalah.
Jessica menjadi salah tingkah mendengar salam perkenalan Nyonya Rosma untuk menantunya. "Tan..., itu ... mm ... itu hanya masa lalu. Sekarang, masa depan Argha adalah Gintani. Lagipula, aku sudah mengenal Gintani. Kami sudah berteman semenjak dia belum menikah," jawab Jessica, mengikis kecanggungan di antara mereka.
"Benarkah? Kalau begitu, kamu nggak keberatan kan, jika Jessica tinggal di sini untuk beberapa waktu, Tan?" tanya Nyonya Rosma.
Gintani gelagapan mendengar pertanyaan ibu mertuanya. Apa maksudnya semua ini? batin Gintani.
"Tan?" Nyonya Rosma memanggil Gintani penuh penekanan.
"Kenapa tanya Gintani? Bukankah seharusnya mamah tanya papah, apakah papah mengijinkan Jessi tinggal di sini atau tidak?" ucap Tuan Jaya, kesal.
"Kalau untuk Papah, Mamah sudah nggak harus nanya lagi. Mamah yakin kok, Papah pasti bakal mengizinkan." jawab Nyonya Rosma. "Mama meminta persetujuan Gintani, karena mengingat kedekatan Argha sama Jessica dulu. Mamah nggak mau Gintani salah paham dan cemburu sama Jessi."
Trangg...!!
Argha melemparkan sendoknya.
"Waah ... sambutan yang luar biasa!" dengus Argha, geram. Dia mengayunkan langkahnya meninggalkan ruang makan. Rasa laparnya seketika hilang melihat ulah ibu tirinya.
"Maaf, permisi!"
Bersambung
Jangan lupa untuk selalu like, vote n komen cerita ini...
Makasih....
__ADS_1