Takdir Gintani

Takdir Gintani
Rencana Perjodohan


__ADS_3

"A... ayah...!" gumam lirih tuan Jaya, saat melihat kakek Wira.


Sekali lagi, kakek Wira mengernyitkan keningnya. "Maafkan saya, apa saya mengenal kamu, nak ?" tanya kakek Wira.


"Ayah, apa ayah sudah tidak mengenali aku ?" tuan Jaya balik bertanya. "Aku Amijaya, yah ! Disastra Amijaya, temannya putra ayah, Arya !" ucap tuan Jaya.


Kakek Wira semakin mengerutkan keningnya. Dia benar-benar tidak mengenali lelaki yang tiba-tiba saja memeluknya. Wajar jika dia tidak mengenali tuan Jaya. Mereka dulu bertemu, pada saat usia tuan Jaya dan Arya masih berusia lima tahun. Setelah itu, kakek Wira ditugaskan ke daerah terpencil. Beberapa tahun kemudian, saat dia kembali, istri dan anaknya telah pergi meninggalkan rumahnya.


Namun pertemanan tuan Jaya dan Arya, kembali terjalin pada saat mereka mengenyam bangku SMA. Hingga akhirnya, mereka berkuliah di tempat yang berbeda. Komunikasi masih tetap berjalan hingga mereka sama-sama menikah. Sejak istri tuan Jaya mengandung, entah kenapa Arya malah mengemukakan ide perjodohan antara anak-anak mereka.


"Permisi kakek Wira, boleh kami masuk ?" tanya pak Jamal mencoba mencairkan suasana.


"Ah, iya... iya...! Masuklah !"


Akhirnya kakek Wira mempersilakan ketiga pria paruh baya itu memasuki rumahnya.


"Duduklah ! " ujar kakek Wira mempersilakan mereka duduk.


Pak Jamal dan pak Iman memilih duduk berdampingan di sofa panjang. Sedangkan kakek Wira dan tuan Jaya duduk di sofa kecil yang berhadapan.


"Tan..! Gintan ! Tolong buatkan teh manis beserta cemilannya ya, nak !" teriak kakek Wira kepada cucunya.


Tuan Jaya dan pak Jamal saling melempar pandang. Apa mungkin dia Gintan yang sama, seperti yang sedang kita cari selama ini ? Isyarat mata tuan Jaya kepada asistennya.


Pak Jamal hanya menggedikkan bahunya mendapatkan tatapan penuh makna milik atasannya.


Tak berapa lama, seorang gadis berhijab membawa nampan berisi beberapa cangkir teh manis dan sepiring kue basah makanan khas kampungnya. Dia mulai meletakkan isi nampan tersebut di atas meja tamu.


"Nak...! "


Ucap berat seorang laki-laki yang samar-samar dia kenali suaranya, membuat Gintani mendongakkan wajahnya.


"Om..! " gumamnya dengan sangat terkejut.


"Syukurlah, aku bisa menemukanmu !" ujar tuan Jaya dengan perasaan yang teramat senang.


Gintani hanya bisa menundukkan wajahnya. Ingatannya kembali pada pertemuan terakhir dengan lelaki paruh baya itu.


"Apa kau mengenal cucuku ? " tanya kakek Wira kepada tuan Jaya.


Deg... deg... deg...


Jantung tuan Jaya berpacu dengan ritme yang lebih cepat. Jadi dia cucu ayah Wira ? Apa mungkin jika gadis itu adalah anaknya Arya ? Ya Tuhan, jika dia memang anak Arya, aku benar-benar malu sekali terhadap mendiang Arya dengan kelakuan bejat anakku. Mungkin memang ini jalan yang Tuhan tunjukkan agar aku bisa mewujudkan rencana perjodohan putra putri kami. Batin tuan Jaya.


Setelah bercakap-cakap sejenak tentang pembuatan taman wisata yang akan memakan lahan yang cukup luas, mereka akhirnya pamit undur diri.

__ADS_1


🍀🍀🍀


Malam harinya. Tuan Jaya kembali mengunjungi rumah kakek Wira. Saat mobilnya hendak memasuki pekarangan rumah, dia melihat Gintani keluar dari pintu gerbang.


Tin... tin...!


Tuan Jaya membunyikan klakson mobilnya.


Gintani yang tengah berjalan keluar, seketika menghentikan langkahnya untuk melihat orang yang berada di dalam mobil sedan berwarna hitam itu.


Tuan Jaya membuka pintu mobilnya. Dia berjalan menghampiri Gintani. Tuan Jaya tersenyum kepada Gintani, membuat gadis itu merasa kikuk hingga menundukkan wajahnya.


"Kamu mau pergi kemana, nak ?" tanya tuan Jaya yang merasa heran melihat Gintani mendekap Al-qur'an.


"Gintan mau ngaji di surau depan, om." jawab Gintani masih dengan mode menundukkan wajahnya.


"Oh, ya sudah. Pergilah !" ucap tuan Jaya.


Gintani mengangguk. Setelah mengucapkan salam, dia pun segera pergi dari hadapan tuan Jaya.


Tuan Jaya kembali melangkahkan kakinya menuju mobil. Dia menyalakan mesin mobil dan segera membelokkan mobilnya menuju pekarangan rumah panggung itu. Setelah memarkirkan mobilnya, tuan Jaya segera keluar untuk menemui kakek Wira.


Tok... tok... tok...


"Assalamu'alaikum !" sapanya.


"Wa'alaikumsalam !" jawab kakek Wira seraya membuka pintu rumahnya.


"Kamu ? Untuk apa kamu datang lagi, nak ? Bukankah sudah aku tegaskan jika aku tidak akan pernah menjual lahan perkebunan ku !" ucap dingin kakek Wira.


"Apa saya boleh masuk, yah ?" tanya tuan Jaya.


Mau tidak mau, akhirnya kakek Wira mempersilakan tamunya masuk.


"Maaf yah, saya kemari bukan untuk membicarakan tentang lahan itu." ujar tuan Jaya, membuka pembicaraan.


"Lalu ?" tanya kakek Wira masih dengan ekspresi tak bersahabat nya.


"Apa ayah sama sekali tidak mengenali wajahku ?" tuan Jaya kembali bertanya.


"Maaf, nak ! Ayah sudah tua, dan ayah benar-benar tidak ingat padamu. Apa sebelumnya kita pernah bertemu ?" kakek Wira malah balik bertanya.


"Nama saya Disastra Amijaya. Putra dari Teguh Amijaya, pemilik usaha bakery di kampung Cisewu, Garut. Apa ayah mengingatnya ? Dulu, saya dan Arya sering bermain di pabrik milik ayah saya." tuan Jaya mulai membuka kenangan masa kecilnya.


Kakek Wira terkejut mendengar nama Teguh Amijaya, sahabatnya. "Jadi, kamu Ami, putra dari sahabatku ?" tanya kakek Wira.

__ADS_1


"Iya, yah, saya Ami." jawab tuan Jaya.


Bening hangat mulai menggenang di kedua sudut mata kakek Wira. Kedatangan Amijaya kembali mengingatkan dia kepada almarhum putranya.


"Maafkan ayah, karena faktor usia, hingga ayah tidak bisa mengenalimu, nak !" ujar kakek Wira.


"Tidak apa-apa, yah ! Ami juga minta maaf jika kedatangan Ami bukan di waktu yang tepat." ucap tuan Jaya. "Mungkin ayah membenci Ami, karena Ami telah memberikan perintah untuk penggusuran lahan itu. Ami minta maaf, yah !" lanjut tuan Jaya menyesali perbuatannya.


"Sudahlah, nak ! Selalu ada hikmah di balik semua peristiwa." jawab kakek Wira.


"Ayah, boleh Ami tanya sesuatu ?" ucap tuan Jaya.


"Silakan, nak !" ujar kakek Wira.


"Emm, apa... Gintani itu putri dari mendiang Arya ?" tanya tuan Jaya, hati-hati.


Sejenak, kakek Wira menghela napasnya. "Benar, dia putri tunggal dari almarhum anakku." jawab kakek Wira


"Jika ayah tidak keberatan, berkenankah ayah melanjutkan rencana perjodohan putraku dengan putri almarhum Arya ?" tanya tuan Jaya penuh harap.


Kakek Wira mengernyitkan keningnya. "Ayah tidak mengerti nak Ami. Bisa lebih diperjelas lagi !" pinta kakek Wira.


"Saya dan Arya pernah berniat untuk menjodohkan anak-anak kami. Sayangnya, kami lost contact sampai akhirnya saya mendengar jika Arya telah meninggal. Waktu itu, saya berusaha untuk mencari Maya dan putrinya. Tapi saya tidak berhasil menemukannya, yah."


Mata kakek Wira semakin berembun mendengar penuturan Amijaya. Bayangan Maya yang tengah terbaring, berjuang melawan kesakitannya, kembali menyeruak dalam ingatannya. Namun yang membuat hati kakek Wira sakit, adalah rencana perjodohan yang tidak akan pernah terwujud.


"Maafkan ayah, nak ! Sepertinya keinginan kalian itu sangat mustahil untuk diteruskan." jawab kakek Wira seraya menatap kosong ke arah sebuah jendela kaca yang tengah terbuka.


"Tapi kenapa, yah ? Apa Gintani telah memiliki calon pendamping ?" tanya tuan Jaya, cemas.


Kakek Wira hanya tersenyum miris mendengar pertanyaan tuan Jaya.


"Sudahlah, nak ! Sebaiknya urungkan saja niatmu itu ! Anakmu pantas untuk mendapatkan gadis yang lebih baik lagi dari cucuku."


"Tapi, yah?"


"Sudah larut malam, pulanglah !" perintah kakek Wira seraya pergi meninggalkan tamunya dengan membawa cangkir kopinya.


"Apa ini karena sebuah kesucian ?"


Prang....!!


Bersambung....


Terima kasih atas dukungannya ya....

__ADS_1


__ADS_2