Takdir Gintani

Takdir Gintani
Pulang


__ADS_3

Dengan tergesa-gesa, Gintani mengayunkan langkahnya keluar dari kantin. Pesan WhatsApp yang baru saja dia terima dari suaminya, sungguh membuat dia merasa tak nyaman untuk melewati jam makan siangnya.


"Dasar baby boy, tidak bisakah dia membiarkan pengasuhnya menikmati waktu sejenak saja?" gerutu Gintani yang merasa kesal dengan ulah sang suami.


Brugh!


Karena tak memperhatikan langkahnya, Gintani pun menabrak seseorang yang sedang melangkah gontai keluar dari kantin.


"Ups! Maaf!" pekik pelan Gintani. "Biar aku bantu!" ucapnya seraya berjongkok memunguti lembaran kertas yang berserakan di lantai. Sejenak, Gintani tertegun saat membaca nama yang tertera pada lembaran kertas itu. "Chantika Ilona Prasetya?" gumamnya.


Gintani mendongak. "Dokter Richard?" tanya Gintani sedikit terkejut saat menyadari orang yang telah ditabraknya adalah dokter kenalannya.


"Gi-Gintan! Sedang apa kamu di sini?" tanya dokter Richard, cukup terkejut melihat Gintani yang tengah berjongkok di hadapannya.


"Di kantin, ya cari makan, lah, dok. Hehehe,..." Gintani terkekeh menanggapi pertanyaan dokter Richard.


"Ah, ya!" Sejenak, dokter Richard menggaruk kepalanya yang tak gatal. Sungguh, bertemu dengan gadis berhijab yang memiliki lesung pipit di kedua pipinya itu, selalu membuat dirinya menjadi salah tingkah. "Ba-bagaimana keadaan Argha?" tanya dokter Richard seraya membereskan kertas-kertas yang berceceran.


"Alhamdulillah, kondisinya sudah semakin membaik," jawab Gintani.


"Syukurlah, kalau begitu, saya permisi dulu, Gin!" pamit dokter Richard.


"Tunggu, dok!" Gintani menghentikan langkah dokter Richard.


"Apa, pemilik nama itu adalah Ilona temannya Mas Argha?" tanya Gintani, hati-hati.


Dokter Richard mengangguk.


"Cancer?" Gintani kembali bertanya.


"Hhh...." Dokter Richard menghela napasnya sejenak, sebelum akhirnya dia membuka suara.


"Kanker ovarium stadium akhir," jawab dokter Richard, pelan.


"Astagfirullah hal adzim!" Gintani menutup mulutnya tak percaya mendengar jawaban dokter Richard. "Separah itukah?" tanya Gintani lagi.


Dokter Richard kembali mengangguk.


"Apa dia bisa bertahan?"


Dokter Richard hanya menggedikan kedua bahunya untuk menjawab pertanyaan Gintani.

__ADS_1


"Maksud dokter? Apa tidak ada harapan untuk dia sembuh?" Gintani kembali bertanya dengan raut wajah yang terlihat cemas.


"Tipis sekali, Gin," jawab dokter Richard terkesan pasrah.


"Berapa lama?" tanya Gintani.


"Bisa 3 bulan, 5 bulan, 8 bulan, yang jelas kurang dari satu tahun. Tapi itu secara medis, ya. Umur kita, Tuhanlah yang menentukan," jawab dokter Richard.


"Gintan paham. Apa Gintan boleh menjenguknya?" tanya Gintani yang merasa bersimpati dengan nasib yang sedang diderita Ilona.


"Maaf, Gin. Sepertinya tidak bisa," jawab dokter Richard, lemah.


"Tapi, Kenapa dok? Gintan janji Gintan tidak akan mengganggunya. Gintan hanya ingin menyemangati dia. Mudah-mudahan kami bisa berteman baik. Bisakah dokter Richard membantu Gintan?" pinta Gintani, memelas.


"Maaf, Gin. Aku bukan tidak ingin membantumu. Hanya saja..." Dokter Richard menggantung kalimatnya.


"Hanya saja?" Gintani mengulang ucapan dokter Richard sambil mengerutkan keningnya.


"Hanya saja, saat ini aku sendiri tidak tahu Ilona berada di mana," jawab dokter Richard.


"Maksud dokter?" tanya Gintani, heran.


"Apa? Be-benarkah itu?" Kembali Gintani bertanya penuh ketidakpercayaan kepada dokter Richard.


"Ya. Sejak kemarin, Ilona pergi dari sini. Tak ada seorang pun perawat yang tahu kemana di pergi. CCTV hanya mampu merekam pergerakannya hingga dia keluar dari rumah sakit. Selebihnya, kami benar-benar tidak tahu dia pergi kemana," jawab dokter Richard panjang lebar.


"Ya Tuhan, kira-kira, kemana perginya dia, dok?" tanya Gintani.


"Entahlah. Setahuku, dia tidak memiliki keluarga di kota ini," jawab dokter Richard.


"Biar nanti, Gintan tanyakan sama Mas Argha. Mungkin, Mas Argha tahu tempat-tempat yang biasanya Ilona singgahi. Kalau begitu, Gintan permisi dok!" lamit Gintan seraya mengayunkan langkahnya.


"Gintan! Tunggu!"


Gintani menghentikan langkahnya. Dia menoleh ke arah dokter Richard. "Ya, kenapa dok?" tanya Gintani.


"Jangan beri tahu apa pun tentang Ilona pada Argha!" pinta dokter Richard.


"Tapi kenapa, dok?" tanya Gintani heran.


"Tolong jangan salah paham dulu. Aku tahu persis bagaimana sikap Argha. Aku tidak mau permasalahan Ilona akan memperburuk hubungan kalian. Jujur saja, Gin. Ilona adalah pasienku sejak berada di Washington. Dulu, dia mengalami luka bakar, dan akulah yang menangani operasi bedah plastiknya. Sedikit banyak, Ilona pernah bercerita tentang kehidupannya, termasuk tentang cinta dalam hidupnya. Dan satu-satunya orang yang menjadi alasan dia melakukan operasi plastik, itu adalah Argha. Dia kembali juga untuk Argha. Jadi, aku mohon, jangan katakan apa pun tentang Ilona. Atau kamu akan memberikan kesempatan pada Ilona untuk memasuki kehidupan Argha lagi."

__ADS_1


Gintani tergaman mendengar ucapan dokter Richard. "Jadi ternyata benar dugaan Gintan. Dia masih mencintai Mas argha?" tanya Gintani.


Dokter Richard menggelengkan kepalanya. "Bukan mencintai, Gin. Lebih tepatnya, dia masih terobsesi untuk memiliki Argha. Jadi aku sarankan, jaga baik-baik suamimu. Karena Ilona, dia adalah wanita yang bisa melakukan cara apa pun untuk mendapatkan keinginannya," saran dokter Richard. "Pergilah!" ucapnya lagi.


Baik dok. Terima kasih atas nasihatnya. Sejurus kemudian, Gintani pun pergi dari hadapan dokter Richard.


🍀🍀🍀


Sementara itu di dalam kamar, Argha terlihat kesal karena istrinya belum juga kembali.


"Sabarlah sedikit, Ar. Biarkan istrimu beristirahat sejenak. Apa kamu pikir dia robot yang bisa terus saja melayani kamu tanpa jeda?" peringat Tuan Jaya.


"Tapi, Pa. Dia pamitnya hanya untuk makan siang. Ini sudah hampir satu jam. Tapi kenapa dia belum kembali? Makan apa sih, dia? Sampai melupakan suaminya seperti ini," rengek Argha.


"Ck!" Nyonya Rosma yang melihat sikap kolokan putra sambungnya, hanya berdecak kesal.


Tak lama kemudian.


"Assalamu'alaikum!" sapa Gintani seraya membuka pintu kamar rawat suaminya.


"Kamu dari mana saja, sih? Kok, lama banget makannya," gerutu Argha terlihat kesal.


Gintani hanya bisa tersenyum menanggapi sikap manja suaminya. "Makasih ya, Pa, Ma, sudah menemani Mas Argha."


"Iya, sama-sama, Nak. Toh ini juga sudah kewajiban Papa. Tapi sepertinya, suamimu hanya bisa diam jika ditemani sama kamu. Dari tadi dia terus merengek seperti anak kecil," ledek Tuan Jaya pada anaknya.


Argha semakin memasang wajah suntuknya mendengar ledekan sang ayah.


"Sudah-sudah, tidak usah diledek lagi, Pa," ucap Nyonya Rosma yang sudah mulai merasa jengah berada di antara suami, anak dan menantunya itu. "Cepat bereskan pakaian Argha, Gin! Tadi dokter sudah mengizinkan suamimu pulang," perintah Nyonya Rosma.


"Benarkah? Syukur alhamdulillah..., iya, Ma." Dengan cekatan, Gintani menaruh barang belanjaannya dan segera mengemasi pakaian milik dia dan suaminya.


"Pokoknya, hari ini Papa tidak mau mendengar alasan apa pun lagi. Papa akan tagih janji kamu, Ar. Sesuai kesepakatan kita tempo hari, kalian pulang ke rumah Papa sekarang juga!" tekan Tuan Jaya.


Gintani menghentikan kegiatannya. Dia menatap suaminya penuh tanda tanya. Sedangkan Argha, dia hanya bisa membuang muka melihat tatapan istrinya.


Bersambung


Terima kasih karena masih setia menunggu kisah Gintani. Terima kasih atas like, vote dan komentarnya...


love you... ❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2