Takdir Gintani

Takdir Gintani
Terjebak Cinta yang Semu


__ADS_3

Seorang gadis tampak tergesa-gesa berlari keluar ruangan. Tanpa sengaja dia menabrak Argha dari arah belakang.


Brugh...!!


Praakk...!


Benda pipih yang sedang dipegang Argha terjatuh, bersamaan dengan dompet sang gadis.


"Eh... ma.. maaf...!" ucap sang gadis seraya membungkukkan badannya. Setelah itu dia berjongkok untuk mengambil dompetnya.


"Tidak apa-apa!" jawab Argha tanpa memandangnya.


"Permisi...!" pamit gadis itu seraya berlari keluar ballroom hotel.


Argha mengambil ponselnya yang terjatuh. Namun netranya terkunci pada benda berwarna putih yang tergeletak di lantai. Argha meraih benda tersebut .


"Nona, tunggu! Barangmu terja__Na!!" pekiknya tertahan. Argha sangat terkejut mengenali wajah kecil yang berada di balik benda putih yang ternyata sebuah foto.


"Bagaimana mungkin foto ini bisa berada di tangannya. Hanya aku dan Na yang memiliki foto ini," gumam Argha.


Argha melirik foto itu. Foto yang sama persis seperti yang telah dia bakar beberapa hari yang lalu. Tapi kenapa sekarang foto ini masih ada? Apa mungkin ini foto milik Na? Jika memang benar. Itu artinya... wanita itu... Apa dia Na..? Argha bermonolog dalam hatinya. Seketika bayangan masa lalunya kembali menari-nari dalam ingatannya.


"Na...! Na...! Tunggu....!" teriak Argha.


Argha berlari seraya memanggil-manggil nama teman masa kecilnya. Dia terus berlari menuju lobi hotel, berharap akan segera menemukan gadis yang mulai dia lupakan sedikit demi sedikit. Namun sayangnya, gadis itu telah menghilang dalam kegelapan malam.


"Damn!' teriak Argha, kesal seraya meninju udara. Dia melirik ponselnya yang ternyata mati akibat terjatuh tadi.


Di ballroom hotel.


Gintani masih setia menunggu suaminya di lantai dansa. Namun karena kesendiriannya mengundang tatapan penuh tanya dari para tamu undangan yang sedang berdansa, akhirnya Gintani menepi. Dia pun mulai mencari makanan yang sekiranya bisa mengganjal perutnya. Sejak bertempur tanpa rencana dengan suaminya, Gintani belum sempat menyentuh makanan.


"Huh, aku butuh tenaga ekstra untuk menghadapi mas Argha yang semakin hari semakin gencar memberiku serangan pajar," gumam Gintani.

__ADS_1


Gintani mulai memilih aneka kue yang tersaji di atas meja panjang. Dia kemudian menaruhnya ke dalam piring kue dan membawanya menuju sebuah meja kecil. Gintani mencari tempat duduk, karena jujur saja, dia tidak bisa melakukan standing party.


Ketika sedang asyik mengunyah makanannya. Tiba-tiba Gintani dikejutkan oleh kedatangan Richard di depan mejanya.


"Boleh gabung?" tanya Richard yang memegang dua gelas minuman segar di tangannya.


Gintani melirik pria itu sekilas. Dia tersenyum, sejurus kemudian, Gintani menganggukan kepalanya. Dia pikir, Richard dan Argha pun bersahabat seperti ayah mereka.


"Aku membawakan jus buah naga untukmu, mungkin saja kau akan menyukainya," ujar Richard seraya menyodorkan segelas jus yang dipegangnya sedari tadi.


"Terima kasih!" jawab Gintani seraya menerima jus buah naga yang diberikan oleh Richard.


"Aku tidak menyangka jika pria arrogant itu akan menikahi gadis seperti kamu," ucap Richard memulai pembicaraannya.


Gintani menghentikan kunyahannya. Dia mereguk jus buah naganya. Setelah itu, meletakkan kembali di atas meja. Gintani menatap tak suka kepada pria yang menurutnya terlalu blak-blakan itu.


"Kenapa? Apa aku tidak pernah pantas untuk menjadi pendampingnya?" tanya Gintani, dengan ekspresi tak sukanya.


"Eh... bukan seperti itu maksudku! Tolong jangan salah paham dulu! Aku hanya tidak menyangka saja ada seorang wanita yang mampu meluluhkan hati pria sombong itu. Terlebih lagi, dia menjatuhkan pilihannya kepada seorang gadis berhijab. Mohon maaf sebelumnya, Gin. Aku tahu jika Argha bukanlah type orang yang menyukai gadis tertutup. Terakhir... dia berpacaran dengan seorang model papan atas. Jadi mustahil bagi dia untuk jatuh cinta padamu!" jawab Richard panjang lebar.


"Mas? Sudah selesai, terima telponnya?" tanya Gintani kaget, melihat suaminya datang dengan tiba-tiba.


"Kenapa? Apa kau menyesal karena kedatanganku menggangu kebersamaan kalian?" tuding Argha sinis.


"Bu... bukan begitu, Mas! Aku dan Kak Richard ha_"


"Ayo kita pulang!"


Tanpa ingin mendengar penjelasan dari istrinya, Argha memotong kalimat Gintani dan menarik tangan Gintani dengan kasar. Dia mengajak Gintani pulang.


"Eh Mas, sebentar! Tas tanganku!" ucap Gintani menahan tangan suaminya.


Argha melepaskan tangan istrinya dan membiarkan Gintani kembali ke meja itu untuk mengambil tasnya. Tak lama kemudian, mereka pun berjalan melangkahkan kakinya, keluar dari lobi hotel.

__ADS_1


Selama dalam perjalanan, Argha hanya diam. Pikirannya kembali berkelana mengingat kejadian beberapa menit yang lalu. Siapa sebenarnya gadis itu? Kenapa foto Na ada bersamanya? Apa mungkin dia Na? Jika memang benar dia Na, itu artinya... selama ini... dia ada di kota ini? Aku harus segera menyelidikinya! Kali ini, aku harus bisa menemukannya! tekad Argha dalam hatinya.


Melihat suaminya diam, Gintani enggan untuk mengganggunya. Dia pikir, Argha tengah marah karena melihat kedekatan dia dengan Richard saat acara makan itu. Untuk menghindari percekcokan, Gintani pun tak banyak bertanya tentang kediaman Argha.


Hening menyertai perjalanan pulang mereka. Sesekali, Gintani mencuri pandang ke arah suaminya yang tengah fokus menyetir.


Tiba di apartemen, pasangan muda itu langsung membersihkan dirinya dan merangkak ke atas ranjang untuk mengistirahatkan tubuhnya.


Argha tidur membelakangi istrinya. Pikirannya tengah kalut. Namun sikapnya itu justru membuka celah kesalahpahaman di antara mereka.


Merasa sikap Argha berubah. Gintani pun melakukan hal yang sama. Malam ini, mereka tidur saling membelakangi.


.


.


.


Lantunan azan subuh dari ponsel Gintani, membuat pasangan itu mengerjapkan matanya.


"Morning honey!" sapa Argha seraya mencondongkan wajahnya untuk mencium bibir Gintani. Namun Gintani segera bangun hingga membuat bibir Argha hanya mencium udara yang hampa. Argha tertegun melihat punggung Gintani yang mulai menghilang di balik pintu kamar mandi. Ada apa dengannya? batin Argha.


Di dalam kamar mandi. Gintani menatap dirinya di depan cermin wastafel. Dia memegang dadanya yang mulai terasa sesak. Gintani menatap tajam pantulan dirinya di cermin itu.


Dasar bodoh...! Kamu benar-benar gadis yang sangat bodoh! Bagaimana mungkin kamu bisa terjebak dalam cinta semu ini? Sadarlah, Gin! Dia tidak akan pernah mencintaimu. Sejauh apa pun kamu berusaha, semuanya tidak akan pernah berhasil. Kamu tidak akan pernah bisa menggeser nama itu dari hatinya. Kamu memang benar-benar gadis bodoh, Gin! rutuk Gintani dalam hati.


Dadanya semakin terasa sesak tat kala dia mengingat gumaman suaminya tadi malam.


"Na..., maafkan aku Na! Maafkan aku! Jangan pergi lagi..! Aku merindukanmu..!" racau Argha dalam tidurnya.


Air mata pun luruh tanpa permisi saat mengetahui nama itu masih bertahta di hati suaminya. Gintani menundukkan kepalanya, dia mulai menyesali apa yang telah terjadi dalam kehidupan rumah tangganya. Sekali lagi, takdir telah mempermainkan kehidupannya. "Kakek... Gintan rindu kakek...," lirih Gintani.


Bersambung....

__ADS_1


Mohon maaf karena telat up... semoga masih suka ceritanya...


Makasih atas dukungannya....


__ADS_2