
"Tolong jemput kami di tempat tadi !” pinta Gintani pada sopir taksi tadi.
Sepuluh menit kemudian, taksi yang ditumpanginya pun tiba.
“Ada apa, neng ?” tanya sang sopir saat melihat seorang lelaki tua di pelukan gadis yang tadi menjadi penumpangnya.
“Tolong bantu saya, pak !” pinta Gintani.
Dengan sigap, sopir itu pun memangku kakek Wira dan membaringkannya di kursi belakang mobilnya. Gintani mengikutinya dari arah belakang. Saat dia melihat sopir itu sudah keluar, Gintani pun memasuki taksi dan duduk di sebelah kakeknya. Gintani mengangkat kepala sang kakek dan menidurkannya dalam pangkuannya.
“Kita kemana, neng ?” tanya sopir taksi itu begitu dia duduk di belakang kemudinya.
“Rumah sakit Harapan, pak !” jawab Gintani.
Sang sopir kembali melajukan mobilnya menuju rumah sakit Harapan.
Dalam perjalanan, ponsel Gintani berdering. Dia melihat nama bang Alex di layar ponselnya. Gintani mengusap tombol reject dan segera mematikan ponselnya. Setelah itu, Gintani segera mengeluarkan simcard dari dalam ponselnya, dan membelahnya menjadi dua. Dia meletakkan potongan simcard itu ke dalam saku celana jeansnya.
☘️☘️☘️
Alex menyadari kepergian Gintani pada saat dia tidak menemukan koper-koper milik Gintani di kamar pribadinya.
Ternyata dia tadi datang kemari, gumam Alex dalam hati.
Alex pun mengeluarkan ponselnya, mencoba menghubungi Gintani. Senyum Alex mengembang saat sambungan telpon mulai terhubung. Namun sayangnya, senyum itu seketika menghilang saat Gintani menolak panggilan darinya. Dan pada saat Alex mencoba menghubunginya kembali, nomor Gintani pun sudah tidak aktif lagi. "Ish, dimana kamu, Tan ?" gumam Alex.
Sementara itu, di APA Architecture.
Bram tampak uring-uringan karena sedari pagi Argha tidak bisa di hubungi. Bram sudah menghubungi ayahnya Argha, tapi beliau mengatakan jika Argha sudah tidak tinggal bersamanya lagi. Kedua sahabatnya pun sudah dia hubungi, namun tak satu pun dari mereka yang mengetahui keberadaan Argha.
Pada akhirnya, beberapa meeting yang harus memang dilaksanakan hari ini, berjalan tanpa kehadiran seorang pimpinan. Selepas meeting, pada saat jam makan siang, Bram menyempatkan waktunya untuk mengunjungi apartemen Argha.
Lagi-lagi, Bram harus menelan kecewa, karena mendapati pintu apartemen terkunci rapat. Bahkan pihak keamanan apartemen pun mengatakan jika dia tidak melihat Argha sejak semalam. Bram semakin frustasi dibuatnya.
Di waktu yang sama, di lain tempat.
Argha melajukan mobilnya menuju tempat yang sering dia datangi saat dia masih tinggal bersama kakek dan neneknya. Sejak ibunya meninggal, Argha sempat di asuh oleh kakek neneknya dari pihak ibu. Ayahnya sangat sibuk bekerja untuk melupakan kepergian ibunya, sehingga Argha kecil yang dulu memang dipanggil Adi, dititipkan oleh ayahnya di rumah mertuanya. Dua bulan kemudian, ayahnya memutuskan untuk menikah lagi dan kembali membawa Argha untuk tinggal bersamanya dan istri barunya.
Argha hanya diam terpaku melihat bukit kecil yang masih sama persis seperti dulu. Setelah memarkirkan mobilnya, dia pun mulai berjalan ke arah gundukan tanah yang ditanami rerumputan kecil yang amat subur. Semuanya masih tampak sama seperti 14 tahun yang lalu.
Pohon besar itu masih ada di sana !” gumam Argha yang terus berjalan mendekati pohon akasia raksasa.
__ADS_1
Argha mulai mengelilingi pohon besar itu. Mata elangnya tak pernah lepas dari batang pohon itu. Jarinya mulai meraba batang pohon berwana kecoklatan itu. Senyum tipis terukir di bibirnya saat dia melihat ukiran huruf itu masih ada di sana ADINA FOREVER. Tulisan itu masih tampak jelas di batang pohon yang sudah sangat tua.
"Aku merindukanmu Na, kak Adi-mu ini masih sangat merindukan sang putri !” ujar Argha seraya mengelus-elus tulisan itu.
☘️☘️☘️
“Suster…! Suster…! Tolong kakek saya ?” teriak Gintani di pintu lobi saat taksi sudah memasuki lobi depan rumah sakit.
Seorang perawat pria menghampirinya. “Ada apa, mbak ?” tanya perawat itu.
“To…tolong ambilkan brankar ! Kakek saya sedang terbaring lemah di dalam mobil itu !" tunjuk Gintani ke arah mobil taksi yang terparkir manis di depan pintu lobi rumah sakit.
Dengan sigap, perawat laki-laki itu mengambil sebuah brankar dan mendorongnya keluar. Tak lama kemudian , kakek Wira yang sudah dibaringkan di atas brankar, segera di bawa ke ruang ICU.
Gintani pun segera pergi ke bagian pendaftaran untuk mengurus administrasinya. Sepuluh menit kemudian, dia segera menyusul perawat yang membawa kakeknya tadi. Tiba di sana, kakeknya tengah ditangani oleh seorang dokter. Gintani mendaratkan bokongnya di kursi tunggu. Dengan penuh kecemasan, matanya terpejam dan berdo’a semoga Tuhan bisa menyelamatkan kakeknya.
Satu jam kemudian, seorang dokter muda yang memang sedari dulu menangani kakek Wira, keluar dari ruang ICU. Dia mendekati Gintani dan menggoyang pelan bahu Gintani.
“Mbak ! Mbak Gintan !” ujar dokter itu membangunkan Gintani yang tengah terlelap.
Gintani mengerjapkan matanya. Dia sangat terkejut melihat dokter Hafiz yang telah berdiri di hadapannya.
“Do..dok..!” ucap Gintani seraya berdiri. “Bagaimana keadaan kakek saya, dok ?” tanya Gintani dengan cemas.
“Kira-kira, berapa biayanya dok ?" tanya Gintani lagi.
"Sekitar 250 juta." jawab dokter muda itu.
“Baiklah, dok ! Tolong lakukan yang terbaik untuk kesembuhan kakek saya !” pinta Gintani.
“Alhamdulillah. Besok saya akan segera melakukan tes kepada beberapa calon pendonor. Mudah-mudahan di antara mereka, ada yang cocok dengan kakek Wira." ucap dokter Hafiz.
"Aamiin." jawab Gintani singkat.
"Untuk sementara, kakek Wira harus tetap berada di ruang ICU. Mbak tidak usah menungguinya, karena akan ada seorang perawat khusus yang berjaga." ujar dokter Hafiz.
“Ba…baiklah ! Dok, boleh saya minta tolong ?” pinta Gintani.
Dokter hafiz mengerutkan keningnya sesaat. "Apa yang bisa saya bantu, mbak ?” tanya dokter Hafiz
“Tolong rahasiakan kedatangan kami kepada paman dan bibi saya. Saya tidak mau orang jahat akan kembali menculik kakek lagi." jawab Gintani.
“Baiklah, saya mengerti ! Tidak usah khawatir, rahasia kalian aman di tangan saya !" jawab dokter Hafiz seraya menepuk pelan bahu Gintani.
__ADS_1
Setelah memastikan kakek Wira aman. Gintani pun mulai mencari sebuah penginapan yang bisa dia sewa untuk beberapa bulan ke depan. Dia pun mulai menyusuri jalanan ibu kota. Beruntungnya, tak jauh dari rumah sakit, Gintani melihat tempat kost-an putri. Saat Gintani memasukinya, ternyata masih ada beberapa kamar kosong yang hendak disewakan. Gintani pun memutuskan untuk menyewanya hingga kondisi kakeknya benar-benar pulih.
Transaksi telah berlangsung. Saat itu juga, ibu kost memberikan kunci kamarnya kepada Gintani. Gintani sengaja memilih kamar yang berada di belakang, di ujung lorong. Tempat itu cukup sepi dan sangat nyaman untuk menyendiri. Kejadian semalam, membuat Gintani enggan untuk berinteraksi dengan orang sekitar.
Tiba di kamarnya, Gintani pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Saat dia melucuti pakaiannya, terlihat jelas begitu banyak jejak yang laki-laki itu tinggalkan di sekitar dadanya. Jejak itu seolah menandakan kekuasaan dari seorang pria sombong seperti dia. Gintani kembali merutuki nasibnya. Mungkin ini yang dinamakan luka tak berdarah, hatinya perih, dadanya sesak, batinnya menangis. Namun matanya sudah tak mampu lagi mengeluarkan air mata.
Gintani mulai menyalakan kran shower-nya. Dia berdiri di bawah guyuran air seraya menggosok-gosok noda yang ada di tubuhnya. Berharap tanda itu akan segera menghilang. Tanda dari seorang laki-laki yang sangat dibencinya.
☘️☘️☘️
Setelah menemukan pendonor yang cocok. Kakek Wira pun segera menjalani operasi transplantasi ginjal. Gintani sangat bersyukur, operasi kakek Wira berjalan lancar. Sekarang tinggal waktunya pemulihan. Gintani bertanya, apa kakek Wira bisa berobat jalan setelah jahitannya mengering. Dokter Hafiz menjawab bisa saja, namun dia tidak ingin mengambil resiko. Dokter hafiz menyarankan agar Gintani tetap melakukan rawat inap untuk pemulihan kakeknya. Sebenarnya Gintani sudah lelah tinggal di kota ini, tapi demi kesembuhan sang kakek, dia pun tak punya pilihan lain.
Waktu terus berlalu. Sebulan telah terlewati. Kondisi kakek wira sudah mulai membaik. Dan dokter pun sudah mengizinkan kakek wira untuk keluar dari rumah sakit. Setelah menyelesaikan administrasinya, Gintani pun membawa kakeknya pulang ke tempat kost-nya.
Kakek Wira mengedarkan pandangannya begitu dia tiba di tempat kost Gintani.
“Kenapa kita pulang ke tempat ini, nak ?” tanya kakek Wira.
Gintani menghela napasnya. "Duduklah kek, nanti Gintan jelaskan !" ucap Gintani.
Kakek Wira menuruti perintah cucunya.
“Maafkan Gintan kek ! Gintan belum bisa memberikan tempat yang layak buat kakek. Tapi Gintan berjanji, Gintan pasti akan membawa kakek ke tempat yang lebih bagus lagi.” ujar Gintani.
“Sebenarnya apa yang terjadi Tan ? Bicaralah ? Apa pamanmu dan bibimu memperlakukanmu dengan buruk lagi ?” tanya kakek Wira.
Gintani hanya tersenyum. "Sudahlah kek, kita lupakan saja semuanya. Kita buka lembaran baru. Sekarang hanya ada aku dan kakek. Dan gintan janji, Gintan tidak akan pernah membuat kakek kecewa lagi."
“Nak, jika kita hendak membuka lembaran baru, kita juga harus hidup di tempat baru." ucap kakek Wira.
"Ma…maksud kakek ?" tanya Gintani heran.
“Maukah kamu ikut kakek ke suatu tempat, nak ! Kakek masih memiliki sebidang tanah yang dulu kakek beli saat kakek ditugaskan di tempat itu. Kakek tahu jika kamu pasti ingin melupakan semua luka yang telah bibimu torehkan di hatimu. Dia memang sangat keterlaluan, hanya demi uang dia sanggup menjodohkanmu dengan bandot tua itu ! Huh !" kakek Wira mendengus kesal.
Gintani terhenyak. "Da…darimana kakek tahu soal itu ?" tanyanya.
"Saat kakek diculik, kakek pernah mendengar bandot tua itu berbicara degan bibimu. Mereka juga punya rencana jahat untuk kembali menculikmu. Entah apa yang pernah kakek perbuat, sehingga dia sangat membenci kakek dan melampiaskan semua itu padamu. Kakek sangat takut sekali sesuatu terjadi padamu, nanti. Karena itu, lebih baik kita pergi dari kota ini dan memulai kehidupan baru di sana. Kakek yakin, tak akan ada satu pun yang bisa menemukan kita di sana. Bahkan paman arman sekalipun.
Gintani tersenyum. "Jika menurut kakek itu adalah keputusan yang terbaik untuk kita, Gintan tidak keberatan, kek. Gintan akan ikut kakek, kemanapun kakek pergi.
“Baiklah nak. Besok kita pergi. Kita akan mulai lembaran baru di tempat yang baru." ujar kakek Wira seraya membelai lembut rambut Gintani.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like vote n komennya ya 🙏🤗