
"Apa kamu yakin tidak mau Mas antar?" tanya Argha yang tengah mengenakan jasnya.
"Tidak usah Mas, lagi pula pertemuannya hanya sebentar saja," jawab Gintani.
"Gin, jujur saja ... sebenarnya Mas tidak suka kamu masih terlibat pembuatan konten-konten bersama cowok somplak itu," ucap Argha dengan nada sedikit jengkel.
"Gintan tahu, Mas. Tapi apa Mas lupa jika Gintan telah terikat kontrak dengan mereka. Sabar saja ya, Mas. Lagi pula hanya tinggal dua bulan lagi kok. Gintan janji, setelah konten terakhir ini selesai, Gintan nggak akan pernah terlibat pekerjaan apa pun lagi dengan Kevin," jawab Gintani.
"Ya sudah. Jangan lupa, hubungi Mas jika kamu butuh bantuan," ucap Argha seraya mengecup kening Gintani.
Gintani tersenyum. "Pasti, Mas."
"Kamu diantar Pak Munir, kan?" tanya Argha lagi.
Sepertinya nggak, Mas. Pak Munir tadi subuh berangkat sama papa ke luar kota. Kebetulan om Jamal sedang sakit, jadi beliau tidak menemani papa untuk melihat proyek yang ada di luar kota," jawab Gintani.
"Terus, naik taksi online? Nggak, Mas nggak izinkan kalau kamu harus naik taksi online," cegah Argha.
"Tapi, Mas."
"Sudah, kamu nurut saja. Mas akan suruh si curut itu buat jemput kamu. Enak saja main suruh istri orang buat naik kendaraan umum," gerutu Argha.
Gintani hanya menghela napasnya melihat sikap over protektif-nya sang suami.
"Ya sudah, sebaiknya kita turun dulu untuk sarapan, yuk! Takut yang lain kelamaan menunggu," ajak Gintani.
"Kamu duluan, Yang. Mas mau telepon Kevin dulu."
Gintani mengangguk, dia pun pergi ke ruang makan untuk menyiapkan makanan.
Tiba di ruang makan, dia sudah mendapati ibu mertua dan adik iparnya.
"Loh, kak Argha mana, Kak?" tanya Nadhifa.
"Masih di kamar, Fa. Katanya ingin menelepon Kevin dulu."
"Oh."
"Nggak pa-pa, kan, nunggu sebentar?" tanya Gintani.
"Nggak pa-pa, kok, Kak," jawab Nadhifa.
"Kamu yang nggak pa-pa, Mama yang kelaparan," gerutu Nyonya Rosma.
"Ssst, Ma!" Nadhifa menyikut pelan bahu ibunya.
__ADS_1
Gintani hanya diam dan berpura-pura tidak tahu perdebatan mereka. Tak lama kemudian, Argha pun terlihat menuruni tangga.
Setelah Argha tiba, Gintani segera menyiapkan sarapan untuk suaminya. Lepas itu, mereka pun makan bersama. Tak ada perbincangan yang mengiringi kegiatan mereka. Kecanggungan selalu saja terjadi saat Argha dan Nyonya Rosma berhadapan.
Selesai makan, Argha berangkat ke kantor, sedangkan Gintani kembali ke kamarnya untuk bersiap diri.
Beberapa menit kemudian bunyi klakson mobil terdengar dari halaman luar. Gintani pun segera merapikan dirinya. Tak lama, dia menuruni tangga. Setelah berpamitan dengan orang rumah, Gintani pergi bersama Kevin untuk pembuatan konten.
Lokasi konten kali ini di ambil di sebuah danau buatan. Tiba di sana, Gintani sedikit terkejut saat Nando menyambut kedatangan mereka dengan handycam di tangannya. Gintani menatap Kevin, seolah bertanya, 'apa maksud semua ini?'
Kevin tersenyum. "Sorry Kak, orangku sedang berhalangan. Tapi Kakak tidak usah khawatir, aku sudah meminta temanku untuk menggantikannya. Ya, meskipun masih amatiran, tapi hasilnya nggak akan kalah kok, sama ahlinya," jawab Kevin mempromosikan sahabatnya.
Gintani hanya tersenyum kecut menanggapi omongan Kevin. Hatinya memang dongkol, tapi dia tidak boleh egois dan mengorbankan pekerjaan demi hatinya yang tak nyaman.
"Hai, Tan!" Begitu ada kesempatan, Nando menyapa Gintani.
Gintani hanya menatapnya sesaat kemudian kembali fokus pada script yang harus dia hapalkan sebelum on cam
"Tan, boleh aku bicara sebentar?" tanya Nando.
Dengan enggan, Gintani menurunkan script yang tengah dibacanya. Sejurus kemudian dia menatap Nando.
"Mau bicara apalagi, Nan?" tanya Gintani.
"Ini tentang hubungan kita, Tan."
"Aku tahu, Tan. Aku hanya ingin meminta maaf atas kelancanganku saat menjadi kekasihmu. Aku menyesal Tan, aku benar-benar menyesali semua perbuatanku. Mungkin dulu aku masih muda, sehingga aku selalu mementingkan egoku. Karena itu aku khilaf."
"Khilaf kamu bilang? Ya Tuhan, Nan ... khilaf itu tidak akan pernah terjadi berulang. Dua kali, Nan ... dua kali kamu berniat melecehkan aku. Bahkan kamu tega menipu aku dengan alasan tugas hanya karena ingin berbuat tak senonoh padaku. Jika memang kamu khilaf, harusnya apa yang pernah aku lakukan padamu bisa kamu jadikan pelajaran. Tapi tidak Nan, kamu tidak berubah meskipun aku memberikan kesempatan kedua padamu. Aku menyesal Nan, aku menyesal telah memberikan maaf jika akhirnya kamu mengulang kembali kesalahan yang sama. Dan sekarang, tolong jangan ganggu hidupku lagi. Aku tidak mau suamiku salah paham dengan kehadiran kamu. Asal kamu tahu, Nan. Kamu hanyalah masa laluku!"
Apa yang dikatakan Gintani, itu memang benar-benar keluar dari lubuk hatinya yang paling dalam. Ya, dia memang sangat menyesal telah memberikan kesempatan untuk seorang laki-laki brengsek seperti Nando.
Nando terdiam mendengar penuturan Gintani. "Jika aku memang telah menjadi masa lalumu, lalu kenapa takdir mempertemukan kita kembali, Tan. Bukankah itu artinya, Tuhan memberikan aku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku padamu?"
"Kamu gila, Nan. Kamu benar-benar gila!"
"Tan, aku mohon. Aku telah menerima karmaku. Dan aku hanya butuh maafmu untuk menjalani kehidupanku dengan tenang. A-aku--"
Drrrtt.... Drrrtt....
Kalimat Nando terputus saat ponsel di sakunya bergetar. Nando segera mengangkat sambungan teleponnya. "Ya, Hallo...!" ucap Nando. Seketika kepanikan tampak di raut wajahnya. "Tolong tenangkan Sarah, Sus! Dua puluh menit lagi aku sampai."
Setelah menutup teleponnya, Nando segera menaruh handycam di atas meja.
"Maaf, Tan. Aku pamit!" ucapnya seraya pergi meninggalkan Gintani. Nando menemui Kevin untuk meminta izin. Dengan berat hati, Kevin pun kembali menunda pembuatan konten terakhirnya.
__ADS_1
🍀🍀🍀
"Ya Ummu Husni, kenapa Abi lihat, sejak pagi wajahmu tampak murung. Ada apa? Apa sesuatu sedang membebani pikiranmu?" tanya Ustadz Hasan pada istrinya.
Umi Kulsum melirik ke arah suaminya. Senyumnya mengembang begitu dia melihat keteduhan di wajah sang suami.
"Tidak apa-apa Abi, Umi hanya teringat Husni saja," elak Umi Kulsum menyembunyikan kegundahan di hatinya.
"Umi ingat jika Abi bukan orang yang bisa Umi bohongi? Katakanlah! Bukankah kita pernah berjanji untuk selalu berbagi dalam suka dan duka?" tegas Ustadz Hasan.
Umi kulsum mendekati suaminya. Dia kemudian menyandarkan tubuhnya di dada sang suami yang masih terlihat tegap, meskipun telah berumur.
"Umi ... Umi hanya teringat Dita saja. Dia pasti sudah sangat besar, Bi," ucapnya seraya menengadahkan wajah menatap mata teduh sang suami.
"Husni saja sudah sangat besar, apalagi kakaknya, Mi. Apa kamu tidak ingin mencarinya?"
Umi kulsum menggelengkan kepalanya.
"Kenapa?" tanya Ustadz Hasan seraya membelai lembut pucuk kepala sang istri.
"Mereka pasti tidak akan pernah mengizinkan aku untuk menemuinya."
"Jangan berprasangka buruk dulu. Kita tidak tahu sebelum mencobanya, Mi. Jika Umi ingin menemuinya, ayo, Abi antarkan!"
"Apa Dita mau menerima Umi?"
"Dengar, Mi? Kita tidak harus mengejutkan dia dengan pernyataan yang tiba-tiba. Kita bicarakan dulu secara baik-baik dengan walinya Dita. Setelah mereka setuju, pelan-pelan, kita beritahu Dita tentang kenyataan yang sebenarnya.
"Tapi Umi takut, Bi?"
"Tak ada yang perlu ditakutkan. Abi akan selalu menemani Umi."
"Abi, maafkan kesalahan Umi! Maafkan masa lalu Umi!"
"Sudahlah! Setiap orang memiliki masa lalu. Yang terpenting, Umi menyesal dan mau bertaubat. Percayalah, Allah sangat senang terhadap umatNya yang datang untuk bertaubat."
"Iya, Abi. Umi bersyukur, dalam kebimbangan Umi memilih jalan hidup, Allah mengirimkan Abi untuk Umi. Umi benar-benar beruntung menjadi istri Abi."
"Alhamdulillah, semuanya tidak lepas dari campur tangan Tuhan. Ya sudah, sebentar lagi dzuhur. Bersiaplah ambil wudhu, kita berjamaah," perintah Ustadz Hasan seraya mengecup kening istrinya.
Bersambung....
Semoga masih suka ceritanya yaaa
Jangan lupa like, vote n komennya...
__ADS_1
Makasih....