Takdir Gintani

Takdir Gintani
Kecurigaan Jessica


__ADS_3

Argha segera menaiki tangga begitu tiba di rumahnya. Teguran sang ayah yang sedang sarapan tak dihiraukan Argha. Dia buru-buru mengunci pintu kamar dan segera membersihkan diri di kamar mandi.


Sejenak Argha tertegun di bawah kucuran air shower. Dia mencoba mengingat sesuatu tentang kejadian malam tadi bersama Ilona. Namun Argha sedikit pun Argha tak mampu mengingat apa-apa. Satu-satunya yang dia ingat, dia sempat berkelahi di sebuah club malam.


Apa mungkin pemilik club malam itu menghubungi Ilona dan menyuruh dia untuk membawa aku pergi? Tapi kenapa harus Ilona? ****!


Argha memukul dinding kamar mandi hingga tangannya mengeluarkan darah. Dengan penuh emosi, dia pun mulai membersihkan tubuhnya yang terasa kotor karena telah menyentuh wanita yang bukan mahramnya.


Satu setengah jam, akhirnya Argha keluar dari kamar mandi. Dia mulai memakai pakaiannya. Sejurus kemudian, Argha merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Lelah berpikir, membuat kepalanya terasa berat. Argha bangkit dan membuka laci nakas. Dia mengambil aspirin dalam laci itu, kemudian meminum obat tersebut untuk menghilangkan rasa sakit di kepalanya.


🍀🍀🍀


Sementara itu di tempat lain. Ilona tampak tersenyum lebar saat terbayang kembali kalimat Argha yang menyatakan jika dia adalah calon istrinya. Ilona merasa yakin jika sebentar lagi, impiannya menjadi Nyonya Adisastra, akan segera menjadi kenyataan. Puas tersenyum, dia memasuki kamar mandi untuk menyegarkan badan.


Setelah beberapa menit berlalu, Ilona tampak keluar dan memakai pakaiannya. Setelah itu, dia pergi ke dapur untuk memasak. Perutnya benar-benar lapar, sejak semalam dia belum makan apa-apa. Dan entah kenapa, penyakitnya hari ini terasa bersahabat. Mungkin karena pikirannya sedang senang, karena itu Ilona seolah mendapatkan energi positif untuk menghilangkan rasa sakit yang setiap saat menyerangnya.


Sambil menunggu masakannya matang. Ilona meraih ponselnya dan mengetikkan sesuatu di layar ponsel. Tak lama berselang, ponsel Ilona pun berdering.


"Hallo!" sapa Ilona.


"Bagaimana, hasilnya?" tanya seseorang di ujung telepon.


"Sangat sempurna," ucap Ilona dengan senyumnya yang mengembang.


"Apa kamu senang?" tanya orang itu lagi.


"Sangat senang. Ngomong-ngomong, terima kasih atas bantuannya," ucap Ilona.


"Tidak usah dipikirkan. Sudah menjadi tugas saya untuk membuat kamu senang. Ya sudah, bersenang-senanglah! Biar sisanya, saya yang atur," jawab orang itu.


"Ok!" ujar Ilona.


Ilona menutup teleponnya. Dia mematikan api kompor dan mulai menuang sop cream itu ke dalam mangkuk. Cacing di dalam perutnya terus meronta, hingga tanpa sadar ilona menyendok sup cream itu dan memasukannya ke mulut.


"Aww! Panas-panas!" pekik Ilona saat merasakan mulutnya terbakar akibat memakan sup yang masih panas. "Ish, bodoh sekali," rutuk Ilona. Namun sejurus kemudian, Ilona tersenyum sendiri. Hmm, cinta memang terkadang bisa membuat orang menjadi bodoh, batinnya.


🍀🍀🍀


"Gin, kita berhenti dulu di rest area Cileunyi, ya?" ucap Jessica pada Gintani.

__ADS_1


"Gintan sih, terserah Mbak saja," jawab Gintani yang masih menyandarkan tubuhnya sambil memejamkan mata.


Setelah membelokkan mobilnya ke tempat beristirahat, Jessica melirik ke arah Gintani. Rasa cemas menyergapnya saat melihat wajah Gintani yang pucat pasi.


"Kamu nggak apa-apa, Gin?" tanya Jessica sambil memegang bahu kanan Gintani.


Gintani membuka matanya. Dia kemudian tersenyum kepada Jessica.


"Gintan nggak apa-apa, kok, Mbak," jawab Gintani pelan.


"Masih kuat jalan nggak?" Jessica kembali bertanya, "kalau nggak kuat, biar aku pesankan makanan untuk kamu, supaya bisa diantarkan kemari," lanjut Jessica.


"Insya Allah kuat, Mbak. Gintan hanya sedikit lelah saja," jawab Gintani.


"Beneran, Gin? Nggak usah dipaksain kalau emang nggak bisa," ucap Jessica.


Gintani kembali tersenyum. "Bisa kok, Mbak. Yuk!" ajak Gintani kepada Jessica.


"Ya, sudah. Ayo, biar aku bantu!" jawab Jessica.


Jessica membuka pintu mobilnya, kemudian menghampiri pintu di dekat Gintani dan membukanya. Jessica membantu Gintani untuk turun dan memapahnya hendak memasuki sebuah restoran. Tiba di depan restoran, Gintani malah izin pergi ke kamar mandi karena perutnya terus bergejolak.


"Nggak usah, Mbak. Terima kasih,tapi Gintan bisa sendiri, kok. Lebih baik Mbak pesan makanan saja, biar kita tidak menunggu lama." Gintani menolak halus tawaran dari Jessica.


"Oh, ya sudah. Mm ... kamu mau makan apa, Gin?" tanya Jessica lagi.


"Samakan saja dengan Mbak," jawab Gintani.


"Ok." Jessica membentuk bulatan kecil sebagai tanda persetujuan.


Mereka pun berpisah, Gintani pergi ke kamar mandi, sedangkan Jessica memasuki sebuah restoran dan memesan makanan. Beberapa menit berlalu, Gintani datang berbarengan dengan makanan yang telah dipesan Jessica.


"Sudah selesai, Gin?" tanya Jessica begitu melihat Gintani menghampiri meja yang sudah dipesannya.


"Sudah, Mbak," jawab Gintani seraya menarik kursi di samping Jessica.


"Kamu muntah lagi?" tanya Jessica cemas.


"Cuma sedikit, Mbak. Mungkin karena makannya sedikit, jadi yang keluar cuma cairan bening saja," jawab Gintani.

__ADS_1


"Ya sudah, yuk makan!" ajak Jessica yang perutnya terus meronta karena belum makan siang.


Gintani mengangguk. Mereka pun makan dengan lahapnya.


"Oh iya, g?Gin. Apa kamu yakin semua buktinya sudah hilang?" tanya Jessica disela-sela suapannya.


"Bukti apa?" jawab Gintani.


"Itu, tentang kecelakaan yang menimpa Richard?" lanjut Jessica.


"Oh ... Gintan nggak tahu Mbak, tapi Papa Jaya bilang, kedua rekaman CCTV yang berhasil merekam mobil si pelaku, sudah hilang. Papa sendiri kehilangan jejak untuk menyelidiki kasus ini," jawab Gintani, pasrah.


"Jika memang ini unsur yang disengaja, sudah bisa dipastikan si pelaku orang yang sangat lihai dan licik sekali dalam melakukan kejahatan." Jessica memberikan pendapatnya.


"Setuju, Mbak!" timpal Gintani.


"Tapi, apa kamu yakin tidak ada lagi tempat yang lainnya yang memasang CCTV di sana? Ya ... misalnya toko, bengkel atau apalah yg merupakan tempat umum?" tanya Jessica lagi.


Gintani diam. Dia berusaha mengingat kembali kejadian itu.


"Entahlah, Mbak!" jawab Gintani.


"Coba diingat-ingat lagi, Gin. Aku merasa, ada yang janggal dalam kecelakaan yang menimpa Richard. Sepertinya ini bukan murni kecelakaan, tapi ada unsur kesengajaan. Apalagi saat kamu bilang kalau Richard menolong kamu. Berarti sasaran sebenarnya adalah kamu. Jujur, aku curiga ada orang yang hendak menghabisi kamu, Gin," ucap Jessica, merasa yakin.


"Astaghfirullah hal adzim, Mbak ... Gintan nggak punya musuh, loh!" Gintani begitu terkejut mendengar praduga Jessica.


"Maaf, Gin. Tapi ... entahlah, bagiku kecelakaan ini sungguh tidak wajar," jawab Jessica.


"Mbak benar ... oh iya, Mbak. Gintan ingat sesuatu," pekik Gintani.


"Apa?" tanya Jessica dengan wajah yang terlihat sumringah.


"Waktu itu, Gintan sama kak Richard baru pulang dari apotek yg berada di depan kanan rumah sakit. Jaraknya sekitar 200 atau 300 meter. Tapi Gintan nggak yakin mereka memasang CCTV," ucap Gintani ragu.


"Tidak apa-apa, kapan-kapan aku akan menemuinya. Siapa tahu kita dapat petunjuk dari sana," ucap Jessica.


"Hmm, semoga saja, Mbak."


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa like, vote n komennya yaa


__ADS_2