
"Apa dia sudah tidur?" tanya Heru ketika melihat Putri terlelap di pangkuan ibunya.
"Sepertinya sudah," jawab Gintani.
"Berikan padaku, biar aku pindahkan ke dalam box baby," ucap Heru.
"Tidak usah, Mas. Putri biar tidur di sini saja," kata Gintani.
Mas? Apa aku tidak salah dengar? Ya Tuhan ... indah sekali panggilan itu. Dan suaranya ... Masya Allah, suaranya begitu terdengar merdu di telingaku, batin Heru.
"Memangnya tidak sempit?" tanya Heru.
"Tidak apa-apa, Mas. Lagi pula, Gintan sudah melewatkan begitu banyak hal dari pertumbuhan si kecil. Gintan tidak ingin melewatkan kesempatan untuk selalu berduaan dengan Putri," jawab Gintani.
"Tenanglah Nona, eh ... apa aku harus memanggilmu Nona, Neng atau Mbak?" Heru kembali bertanya untuk hal yang sepele.
"Hehehe, panggil Gintan saja, Mas," jawab Gintani terkekeh.
"Hahaha, saya Heru ... kamu bisa memanggil saya Mas Heru," jawab Heru
"Iya, Mas. Oh iya, ngomong-ngomong, tadi Mas Heru mau bicara soal apa?" tanya Gintani.
"Itu, soal Putri ... kamu tidak usah khawatir. Mungkin dalam satu tahun terakhir, kamu memang tidak pernah bisa menyaksikan tumbuh kembang anakmu. Akan tetapi, di tahun-tahun berikutnya, kamu pasti akan menjadi orang yang pertama yang mengetahui kapan anakmu berjalan, kapan anakmu berbicara dengan lancar, dan kapan anakmu merengek untuk meminta diantar sekolah. Kamulah yang akan menjadi orang pertama yang akan mengantarkan Putri pergi ke sekolah untuk menuntut ilmu," tutur Heru.
Gintani tersenyum lebar membayangkan apa yang telah diucapkan oleh Heru.
"Oh iya, Mas. Terima kasih karena sudah menolong Gintan dan membawa Gintan ke rumah sakit. Jadi, Putri lahir di tanggal sekarang?" tanya Gintani setelah membaringkan putri kecilnya.
Heru mengangguk. "Tidak perlu berterima kasih, sudah menjadi kewajiban kita untuk saling membantu sesama. Bukankah kita ini saudara seiman? Dan soal kelahiran Putri, ya ... pada tanggal ini dia lahir, Gin. Sebenarnya, dia terlahir prematur. Tapi apa kamu tahu?" tanya Heru.
Gintani menggelengkan kepalanya.
"Putri anak yang kuat, Gin. Saat itu aku diberikan pilihan yang begitu berat antara dirimu dan anakmu. Maafkan aku, mungkin aku memang egois karena lebih memilih menyelematkan kamu ketimbang anakmu," ucap Heru.
Deg!
Jantung Gintani seakan berhenti berdetak mendengar semua ucapan Heru.
"La-lalu ... bagaimana Putri bisa selamat?" tanya Gintani.
"Sudah aku bilang jika putrimu sangatlah kuat. Ketika dokter menyatakan dia sudah meninggal, entah kenapa aku merasa jika dia masih memiliki kesempatan untuk hidup. Sekujur tubuhnya dingin dan membiru. Karena itu aku mencoba memberikan kehangatan. Dan alhamdulillah, anakmu merespon itu. Dia berjuang untuk melawan keadaan. Hingga akhirnya, bayi mungil yang aku dekap mulai menggerakkan tangannya dan menangis."
__ADS_1
Tanpa sadar, Heru menitikkan air mata pada saat menceritakan masa itu. Masa di mana naluri keayahan yang dia miliki memberikan keyakinan jika bayi mungil itu masih hidup.
Begitu pula dengan Gintani. Mendengar kisah perjuangan putrinya, Gintani pun mulai terisak.
Heru mendekati dan menyentuh punggung tangan Gintani.
"Hei, sudahlah ... tidak usah menangis. Sekarang putrimu sudah terhindar dari bahaya. Do'akan saja agar dia senantiasa bahagia dan berumur panjang," ucap Heru, mencoba menenangkan Gintani.
Gintani mengangguk. Dia pun mulai menyeka air matanya.
"Gintan berhutang dua nyawa kepadamu, Mas. Bagaimana Gintan bisa membalasnya?" tanya Gintani.
"Tidak perlu dipikirkan, Gin. Aku melakukan semua ini dengan tulus. Aku tidak pernah mengharapkan imbalan apa pun," jawab Heru.
"Sekali lagi, terima kasih, Mas," kata Gintani.
"Iya-iya ..." jawab Heru. "Ya sudah, sekarang kamu istirahat ya, biar aku yang menjaga kalian di sini," lanjutnya.
"Mas, Gintan bisa menjaga Putri sendirian. Mas pulang saja, Mas juga butuh istirahat," kata Gintani.
"Tidak apa-apa, Gin. Aku sudah terbiasa menjaga Putri. Lagi pula, Putri suka terjaga di tengah malam. Dia akan menangis jika tidak menemukan aku di sampingnya," jawab Heru.
"Hmm, sepertinya Putri sangat dekat denganmu, Mas. Gintan jadi iri, hehehe...." Gintani terkekeh.
"Hmm, Mas ... rupanya kamu seorang pujangga juga, sampai bisa mendeskripsikan begitu indah wajah seseorang. Coba Putri sudah dewasa, dia pasti akan merasa terbang mendengar pujianmu itu, Mas," gurau Gintani.
"Hahaha, kamu bisa saja, Gin. Tapi aku pikir, sepertinya Putri adalah miniatur masa kecilmu, Gin. Dia mewarisi kesempurnaan wajah kamu yang begitu meneduhkan," ucap Heru, spontan.
Gintani cukup terkejut mendengar pernyataan laki-laki bermata sipit itu.
"Sudah malam, Mas. Sebaiknya kita tidur. Untuk urusan nama, akan Gintan pikirkan besok saja," kata Gintani.
"Ya sudah, tidurlah!"
Heru membantu Gintani merebahkan diri. Bagaimanapun juga, Gintani baru terbangun setelah setahun koma. Pasti pergerakannya akan terasa lamban dan kaku.
🍀🍀🍀
Pagi yang cerah di hari Minggu membuat Argha bermalas-malasan untuk bangun. Semalaman dia tidak bisa tidur. Setiap dia memejamkan matanya, mimpi tentang seorang gadis kecil yang menghampiri dirinya begitu terasa nyata. Hingga Argha kembali terbangun dan terbangun lagi sampai menjelang dini hari.
"Selamat pagi, Kakak!" Tiba-tiba Nadhifa membuka pintu kamar Argha.
__ADS_1
"Kamu! Sedang apa kamu di sini?" tanya Argha terkejut saat mendapati sang adik berada di apartemennya.
"Fa mencemaskan keadaan Kakak. Sudah dua hari Kakak tidak masuk kantor. Kakak juga tidak pernah berkunjung ke rumah lagi. Karena itu, Fa datang untuk mengurusi semua kebutuhan Kakak," jawab Nadhifa, meletakkan sarapan Argha di atas meja rias.
"Kakak bukan anak kecil lagi, Fa," ucap Argha, bangun dari tidurnya dan menyandarkan tubuhnya di sandaran ranjang.
"Fa tahu, tapi kadang-kadang, pria itu bertingkah seperti anak kecil saat sedang menghadapi masalah. Nih, makanlah!" ujar Nadhifa, menyodorkan piring yang berisi nasi dan lauk pauknya.
"Hmm, kamu bisa saja, Fa," jawab Argha seraya mengambil makanan yang disodorkan Nadhifa.
"Kak, dua hari yang lalu, pihak kepolisian menghubungi kak Bram. Mereka bilang, Ilona mencoba bunuh diri di dalam selnya," ucap Nadhifa.
Argha terkejut, tapi dia tetap berusaha untuk menahan emosinya.
"Apa Kakak tahu itu?" tanya Nadhifa.
Argha menghentikan suapannya. "Apa pun yang akan dia lakukan, itu bukan urusan Kakak lagi," ucapnya dingin seraya berlalu ke kamar mandi.
🍀🍀🍀
Di rumah sakit.
Putri sudah siap memakai gaun pestanya. Hari ini, Heru meminta izin pihak rumah sakit untuk merayakan pesta ulang tahun Putri di bangsal anak. Heru memutuskan untuk mengajarkan arti berbagi kepada Putri sedini mungkin, agar kelak, Putri tumbuh menjadi seorang yang dermawan dan peduli terhadap sesama.
"Bagaimana Gin, apa kamu sudah memikirkan nama yang tepat untuk anakmu?" tanya Heru.
Gintani mencium putrinya. "Iya, Mas. Gintan sudah mempunyai nama yang cocok untuk Putri," jawab Gintani.
"Apa aku boleh tahu siapa namanya?" tanya Heru, penasaran.
"Gintan memutuskan untuk tetap menggunakan nama pemberian kamu untuk Putri. Gintan hanya menambah nama awal dan akhirnya saja," jawab Gintani.
"Benarkah? Siapa?" tanya Heru semakin penasaran.
"Adina Putri Disastra."
Heru tersenyum mendengar nama yang cukup sederhana tapi terdengar elegan. Seperti nama-nama keturunan berdarah biru.
"Nama yang sangat cantik. Secantik pemiliknya."
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa like, vote n komennya yaa 🤗🙏