Takdir Gintani

Takdir Gintani
Luluh


__ADS_3

Keesokan harinya.


Nando datang ke kamar tempat penyekapan kekasihnya dengan menenteng sebuah paper bag yang cukup besar. Isi dari paper bag itu ternyata beberapa setel baju ganti untuk Gintani dan satu set kebaya untuk acara pernikahan mereka esok hari.


"Bersihkan dirimu!" perintah Nando kepada Gintani. "Aku tunggu di bawah untuk sarapan," lanjutnya seraya menyerahkan paper bag tersebut. Tak lama kemudian, Nando kembali turun untuk menyiapkan sarapan mereka.


Tiga puluh menit berlalu, namun Gintani enggan untuk turun. Dia benar-benar muak dengan sikap Nando yang menurutnya egois. Gintani pun kembali duduk bersila di atas ranjang. Dia meraih tasnya di atas nakas, kemudian mengambil ponselnya untuk meminta bantuan seseorang. Sayangnya, harapan Gintani musnah saat melihat ponselnya kehabisan daya.


Sementara itu, di ruang makan. Wajah Nando terlihat sangat kesal karena Gintani tak kunjung datang. Akhirnya, Nando menyendok nasi gorengnya ke dalam sebuah piring dan menaruhnya di atas nampan. Tak lupa Nando membuat segelas susu hangat untuk kekasihnya. Nando berharap, hati Gintani akan tersentuh dengan apa yang dia lakukan.


"Gin, aku masuk, ya!" ucap Nando seraya menekan handle pintu dengan sikutnya. Kedua tangan Nando tengah kesusahan memegang nampan yang cukup besar. Meskipun tak ada jawaban dari dalam kamar, namun Nando tetap memaksakan diri untuk masuk juga.


"Kamu sudah rapi, tapi kenapa kamu tidak mau turun?" tegur Nando yang masih berusaha menahan rasa kesalnya atas sikap Gintani yang ternyata tidak ingin beranjak dari tempat tidur.


Diam...


Gintani hanya diam menanggapi ucapan Nando.


"Jawab jika aku bertanya! Apa kamu tidak punya mulut, hah?" bentak Nando yang sudah semakin kesal dengan sikap Gintani yang tidak mengacuhkan perintahnya.


Gintani hanya menatap Nando dengan sinis. Rasanya, bibir Gintani terlalu kelu untuk menjawab pertanyaan kekasihnya, atau lebih tepatnya, mantan kekasihnya.


Prang!


Untuk yang kedua kalinya, Nando melemparkan makanan yang masih utuh. Sikapnya kini telah berubah menjadi temperamental. Gintani hanya mampu menggigit ujung jari kelingkingnya melihat sikap Nando. Rasa takut mulai terselip di hatinya. Untaian do'a terlantun dalam hati Gintani. Semoga Tuhan selalu melindungi dirinya dari setiap marabahaya.


Kembali Nando mendekati Gintani. Wangi rambut Gintani yang menyeruak melalui indra penciumannya, membuat jiwa kelelakian Nando terbangun. Nyali binatangnya terusik hingga Nando seolah tengah bersiap memangsa korban.


Perlahan namun pasti, wajah Nando mendekati wajah Gintani. Matanya terpejam untuk menikmati aroma tubuh kekasihnya.


Gintani mulai merasa risih dengan tingkah Nando.


"A-apa yang akan kamu lakukan, Nan? Aku mohon, berhentilah bersikap seperti itu," ucap Gintani dengan bibir yang bergetar hebat karena rasa takut.

__ADS_1


Nando kembali membuka matanya. Kabut gairah mulai menggelayut di kedua pelupuk mata Nando.


"Izinkan aku menyentuhmu, Gin. Bukankah besok kita akan menjadi pasangan raja dan ratu sehari? Tidak ada salahnya jika kita melakukan hal itu pagi ini," pinta Nando dengan suara yang semakin berat karena menahan hasrat.


"Tidak! Jangan sentuh aku! Aku tidak akan sudi menjadi istrimu! Pergi!" teriak gintani.


Mendengar penolakan dari mulut Gintani, Nando semakin kalap. Tangan kanannya kembali mencengkeram kedua rahang Gintani. Sedangkan tangan kirinya, tangan itu mulai aktif bergerilya membuka satu persatu kancing kemeja Gintani.


"Tidak! Jangan! Aku mohon, jangan lakukan itu! Jangan sakiti aku!"


Gintani terus berteriak-teriak. Kedua kakinya meronta dan berusaha menendang tubuh bagian bawah Nando. Namun sayangnya, tenaga Nando terlalu kuat hingga Gintani pun tak mampu melawannya.


Tubuh Gintani seketika lemas mendapati tangan Nando mulai menyusup di sela-sela bukit kembarnya. Dia tidak pernah menyangka jika dia akan mengalami pelecehan seperti ini. Namun, di saat dia sudah merasa tidak berdaya, tiba-tiba saja matanya menangkap pecahan piring yang berserakan di lantai. Dengan sisa tenaga yang masih dimilikinya, Gintani menarik tangan kanan Nando kemudian menggigitnya.


"Argghhh!"


Nando berteriak sambil menarik tangannya. Sejurus kemudian, dia meniupi bekas gigitan Gintani yang terasa perih. Kesempatan itu tak disia-siakan oleh Gintani. Secepat kilat, Gintani meraih pecahan piring tersebut.


"Hei! Mau apa kamu, Tan?" tanya Nando yang merasa heran saat Gintani mengambil pecahan piring.


"Hahaha,....!"


Nando tertawa terbahak-bahak. Dalam benak Nando, mana mungkin seorang Gintani yang lemah lembut mampu melakukan perbuatan nekat seperti itu. Jangankan untuk membunuh manusia, membunuh semut pun Gintani tidak akan pernah bisa melakukannya.


"Ayolah, Sayang! Nyawa pun ikhlas aku berikan asalkan kamu mau hidup bersamaku," rayu Nando.


Hanya tinggal beberapa langkah lagi, maka tubuh mereka akan saling bersentuhan.


Gintani mulai tersudut, dia tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan. Hingga pikiran buruk pun melintas dalam benaknya.


Sreett....


"Arghhh" teriakan kesakitan Gintani menggema di ruangan itu.

__ADS_1


"Tan, apa yang kamu lakukan?" pekik Nando yang langsung panik melihat darah mulai mengucur dari pergelangan tangan milik Gintani.


Gintani hanya tersenyum sinis.


"Aku lebih baik mati daripada harus membuat kamu hidup dalam dosa," ucap Gintani.


Jleb!


Hati Nando terasa sakit bak ditusuk ribuan anak panah mendengar kalimat yang terlontar dari mulut kekasihnya. Siapa sangka jika gadis itu menolak dirinya hanya untuk kebaikannya juga.


"Bertahan, aku akan membawamu ke rumah sakit," ucap Nando seraya mendekati Gintani hendak menggendongnya.


"Berhenti dan jangan dekati aku!" Gintani mengangkat tangannya untuk menghentikan langkah Nando.


"Tapi, Tan...," ucap Nando.


"Jika kamu memang peduli padaku, lepaskan aku. Aku mohon, Nan!" pinta Gintani memelas. Rasa perih di tangannya tidak dia hiraukan.


Sejenak Nando diam. Egonya kembali bersarang.


"Ya, tak ada gunanya aku mempertahankan gadis yang tidak bisa membuktikan rasa cintanya," ucap Nando dingin.


"Apa maksud kamu?" tanya Gintani.


"Selama ini, kamu tidak pernah bisa memberikan apa yang aku inginkan. Pergilah, sebelum aku berubah pikiran," ujar Nando


Gintani sangat terpukul dengan kata-kata yang keluar dari mulut orang yang dicintainya. Dua tahun bukan waktu yang singkat untuk dilupakan. Terlalu banyak kenangan indah yang telah mereka lewati bersama. Entah kenapa, Nando bisa berubah hanya dalam sekejap.


Apakah hubungan intim merupakan bukti nyata untuk sebuah cinta? batin Gintani.


Dengan masih memegang luka sayatan di pergelangan tangannya. Gintani pun meraih tas selempang miliknya. Bergegas dia keluar dari kamar itu. Gintani bersyukur, meski harus mengorbankan fisiknya, namun dia bisa terbebas dari penyekapan yang dilakukan mantan kekasihnya.


Nando menatap nanar tetesan darah di lantai. Dia tidak pernah menyangka jika orang yang sangat dicintainya mampu berbuat nekat. Pada akhirnya, perbuatan gintani membuat hati Nando luluh.

__ADS_1


Bersambung....


Jangan lupa like, vote n komennya yaaa...


__ADS_2