Takdir Gintani

Takdir Gintani
Melenyapkan Barang Bukti


__ADS_3

"Aku menabrak seseorang."


Satu kalimat yang langsung membuat laki-laki itu menghentikan gelak tawanya. Sejurus kemudian dia menatap tajam kepada Ilona yang masih berdiri di hadapannya.


Laki-laki itu bernama Hendra, satu-satunya kerabat Ilona. Dia adalah adik dari almarhum ibunya Ilona. Hendra berdiri dan mendekati keponakannya.


"Kau? Menabrak seseorang?" tanya Hendra penuh penekanan.


"Ya." Ilona menjawab dengan tegas.


"Siapa yang kamu tabrak?" tanya Hendra lagi.


"Tentu saja musuhku. Tapi sayangnya, malaikat masih melindunginya," jawab Ilona dengan santainya.


"Apa maksud kamu?" tanya Hendra, penasaran.


"Seseorang menyelamatkan wanita itu, dan nahasnya aku malah menabrak si penyelamat hingga dia meninggal," jawab Ilona.


"Apa?! Gila! Benar-benar gila! Terus, ngapain kamu ke sini?" tanya Hendra, ketus.


"Aku mau minta Om untuk menghilangkan barang bukti," jawab Ilona.


"Mobilmu?" Hendra menduganya.


"Dan rekaman CCTV," jawab Ilona.


"CCTV?" Hendra mengulang ucapan Ilona.


"Iya, Om. Rekaman CCTV di rumah sakit Harapan," jawab Ilona.


"What? Ish, kamu ini ... menyusahkan saja, huh!" Hendra mendengus kesal mendengar pengakuan Ilona.


"Bagaimana Om? Apa Om bisa membantuku?" tanya Ilona lagi.


"Urusan susah, baru datang? Giliran senang, apa kamu ingat Om?" tanya Hendra berdecak kesal.


"Ayolah, Om! Jangan bilang kalau Om merindukan aku? Apa Om pikir aku nggak tahu, kalau selama ini Om tidak pernah mengharapkan kehadiranku?" tanya Ilona penuh penekanan.


"Lalu, untuk apa kamu datang?" Hendra malah balik bertanya dengan nada sinis.


"Om, bantuan yang aku minta tidak artinya dengan apa yang pernah Om ambil dariku. Jangan Om kira aku tidak tahu kebusukan Om selama ini. Om bilang perusahaan papa bangkrut, padahal kenyataannya, Om sengaja membuat saham papa anjlok supaya Om bisa mengambil alih perusahaan papa, benar, kan?" ucap Ilona, mendekati pamannya.


Hendra cukup terkejut mendengar tuduhan Ilona. Mau tidak mau, kenyataannya memang seperti itu. Dialah yang telah membuat perusahaan kakak iparnya bangkrut.


"Baiklah, Om akan membantu kamu," ucap Hendra.

__ADS_1


"Tapi, aku inginkan bantuanmu sekarang!" tegas Ilona.


"Kenapa terburu-buru, Tika? Hari ini Om ada pertemuan penting," jawab Hendra.


"Mereka hendak melaporkan kejadian ini kepada pihak kepolisian. Aku tidak mau jika polisi lebih dulu menemukan bukti-bukti Itu sebelum Om," jawab Ilona.


"Aish, menyusahkan saja. Ya sudah, pulanglah! Tidak usah cemaskan masalamu. Anggap saja semuanya sudah selesai," perintah Hendra.


"Om janji?" Ilona mencoba mencari kejelasan dari ucapan pamannya.


"Iya-iya!" jawab Hendra.


"Satu lagi, bolehkah aku pinjam mobil Om?" pinta Ilona.


"Ya Tuhan, Chantika!" teriak Hendra dengan kesalnya.


"Lalu aku pulang naik apa, Om?" Ilona memasang wajah merayu.


"Ya sudah. Pergilah ke garasi dan pilih saja mana yang kamu suka!" perintah Hendra.


Ilona tersenyum tipis mendengar ucapan sang paman. Setelah itu dia berlari kecil menuju garasi. Bola matanya membulat sempurna begitu melihat jejeran mobil mewah milik Hendra di garasi.


"Gila! Sekaya apa dia, sampai mobil sport-nya berjejer seperti ini?" gumam Ilona.


Setelah beberapa kali mondar-mandir mengelilingi mobil-mobil itu, akhirnya pilihan Ilona jatuh pada mobil Lamborghini berwarna kuning.


🍀🍀🍀


"Oh, iya. Ada yang bisa kami bantu, Pak?"


"Begini. Kami hendak melihat rekaman CCTV yang berada di depan rumah sakit, hari kemarin sekitar jam 18. 30. Saya harap Anda tidak menghalangi penyelidikan kami."


"Oh, tentu saja Pak. Kami tidak akan pernah menghalangi keperluan penyelidikan bapak-bapak semua. Mari silakan ikut saya! Saya akan tunjukkan di mana ruang kontrol CCTV-nya."


Akhirnya, manager rumah sakit mengajak kedua polisi itu menuju ruang kontrol CCTV. Tiba di sana, manager meminta penjaga keamanan untuk memutar rekaman CCTV hari kemarin.


Kedua polisi itu saling pandang saat melihat sebuah mobil berwarna putih melintas dengan kecepatan yang cukup tinggi. Mereka juga sangat terkejut melihat mobil itu menabrak seseorang hingga terpental.


"Cukup, Pak!" ucap polisi pertama kepada penjaga keamanan.


"Apa hanya ini saja CCTV yang berada di depan?" tanya polisi kedua.


"Sebenarnya ada lagi si sudut kanan, Pak," jawab penjaga keamanan.


"Bisa tolong diputar di jam yang sama?"

__ADS_1


Penjaga keamanan itu kembali memutar rekaman CCTV yang berada di sudut kanan rumah sakit. Dalam rekaman itu, tampak mobil tadi melaju begitu saja setelah menabrak korban.


"Ada lagi, Pak?"


"Sepertinya tidak ada," jawab penjaga keamanan sambil mengotak-atik komputer kontrol CCTV.


"Baiklah, kalau begitu saya minta rekamannya untuk penyelidikan lebih lanjut!" ucap polisi itu.


"Iya, silakan, Pak!" jawab manager itu.


Akhirnya kedua bukti CCTV pun berhasil polisi dapatkan.


🍀🍀🍀


Ilona kembali ke apartmennya dengan perasaan yang sedikit lebih tenang. Dia yakin kalau pamannya tidak akan mengecewakan dia. Pamannya orang yang sangat berpengaruh dalam dunia hitam. Ilona yakin, hanya dengan satu jentikan jari, semua urusannya pasti selesai.


Getaran ponsel yang berada di atas meja membuat Ilona sedikit terkejut. Sejurus kemudian, dia meraih ponselnya dan segera membaca pesan yang baru saja masuk. Ilona tersenyum lebar saat mbaca pesan itu. Entahlah, hari ini takdir mungkin sedang berpihak padanya. Tinggal selangkah lagi dan semuanya akan kembali menjadi miliknya. Semuanya, cinta dan keadaan.


Ilona pergi ke kamar mandi. Hari ini benar-benar hari yang melelahkan. Ilona pun mengisi bathtub-nya dengan air hangat. Berendam di air hangat dengan menggunakan aromaterapi, mungkin akan merilekskan otot-ototnya yang mulai terasa kaku.


Ilona memejamkan matanya, merasai wangi aroma lavender yang menyusup di hidungnya. Sungguh sangat menenangkan sekali. Ilona kembali teringat pada Richard. Dialah yang mengenalkan Ilona pada kenyamanan aroma dari bunga lavender. Rasa bersalah kembali menyeruak di dadanya.


"Kenapa Rich? Kenapa kamu malah menyelamatkan wanita itu? Padahal kamu tahu kalau aku sangat membencinya. Aku pikir, kamu berada di pihakku. Kamu akan mendukung semua rencanaku. Tapi pada kenyataannya, kamu malah rela berkorban untuk wanita itu. Aku benar-benar tidak menyangka akan keputusanmu, Rich. Bodoh! Kamu benar-benar bodoh!" gerutu Ilona dalam hati. Sedikit penyesalan terselip di hatinya.


🍀🍀🍀


"Gimana Ar, jam berapa kita pergi ke kantor polisi?" tanya Tuan Jaya pada saat sarapan bersama.


"Lebih cepat lebih baik, Pa," jawab Argha.


"Bagaimana kalau sebelum kita berangkat ke kantor, kita mampir dulu ke kantor polisi. Apa kamu setuju?"


"Ide yang baik, Pa. Ar juga sudah nggak sabar ingin secepatnya menangkap pelaku itu."


"Ya, sudah. Nanti kita berangkat bersama saja. Biar setelah dari kantor polisi, kamu turunkan Papa di kantor Papa."


"Papa nggak dijemput om Jamal?" tanya Argha.


"Nggak. Hari ini Papa suruh Jamal untuk memantau proyek rumah sakit. Jadi Papa bisa ikut kamu ke kantor polisi.


"Oh gitu. Ya sudah, nanti kita mampir dulu ke kantor polisi untuk membuat laporan."


"Iya, Nak."


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa like, vote n komennya 🙏🤗


__ADS_2