
“Aku punya ide, Mal ! Bagaimana kalau kita jodohkan anakmu dengan putriku ?”
Brruurr……
Seketika kopi hitam itu menyembur kuat dari mulut pak Jamal hingga mengenai wajah atasannya….
“Astagfirullah, Jamaaaallll…...!" teriak tuan Jaya. “Kamu kalau tidak setuju, bilang saja ! Tidak usah menyembur saya seperti ini, huh !” dengus tuan Jaya merasa kesal.
“Ma…maaf, tuan ! Bi…biar saya bersihkan !” pak Jamal gelagapan seraya berdiri menghampiri atasannya dan mulai membersihkan dasi dan kemeja bos nya yang hanya terkena cipratan kopi saja.
“Hei ! Yang kau sembur itu wajahku, bukan bajuku !” tuan Jaya semakin meradang melihat sikap asistennya. "Sudah-sudah..! Biar aku bersihkan sendiri !” ujarnya kesal.
“Ba…baik tuan !” pak Jamal mundur beberapa langkah untuk memberikan jalan kepada atasannya.
Setelah itu tuan Jaya melangkah memasuki kamar pribadinya, dan menguncinya dari dalam.
Pak Jamal pun kembali ke ruangannya dengan sedikit menggerutu.
"Huh, semua ini juga gara-gara tuan. Coba tuan tidak bicara yang macam-macam, aku pasti tidak akan pernah berbuat sekonyol itu. Ide gila….benar-benar sangat gila ! Aku tahu hatimu baik, dan tidak akan pernah memandang anakku sebelah mata. Tapi istrimu ? Bagaimana dengan istrimu nanti ? Aku yakin sampai kapan pun, dia tidak akan pernah menyetujui anakku menjadi menantunya, huh…!"
🍀🍀🍀
"Kib, beberapa hari yang lalu, saya melihat mobil pemerintahan berlalu lalang melewati jalan ini. Apa kamu tahu apa yang terjadi dengan kampung kita ?” tanya kakek Wira saat dia menemani mang Rakib menyiangi rumput-rumput yang berada di sekitar tanaman mentimun di kebun belakang.
“Oh itu pak. Katanya sih, mereka sedang melakukan survey ke curug itu pak ?” jawab mang Rakib seraya terus mencabuti rumput-rumput liar itu.
“Memangnya ada apa dengan curug itu ?” tanya kakek Wira, penasaran.
“Kabar yang beredar sih, tempat itu akan dijadikan objek wisata oleh pemda setempat. Mereka bekerja sama dengan seorang investor muda dari kota, pak.” jawab mang Rakib.
“Wah, bakalan terkenal dong kampung kita ?”
“Iya, pak ! Tapi jujur saja saya kurang suka pak."
“Loh kenapa ? Bukankah ini hal yang bagus. Pendapatan kas daerah pun akan meningkat dengan adannya tempat wisata ini."
“Iya pak. Tapi efeknya ke masyarakat banyak juga pak. Salah satunya, bapak lihat jalanan di depan rumah bapak! Bolong-bolong kan, karena kendaraan-kendaraan besar melintas disini. Apalagi nanti, jalanan ini pasti akan semakin ramai jika sudah resmi di buka."
__ADS_1
“He….he....he..., setiap usaha selalu ada dampak baik dan buruknya. Berpikir positif saja. Urusan jalan, mungkin setelah selesai pembangunan, pemda setempat akan kembali memperbaikinya.
“Iya, bapak benar ? Tapi pak, saya dengar, pembangunan tempat wisata itu akan semakin luas. Dan sepertinya, akan merembet ke kebun belakang milik bapak. Karena tanah milik mantan bapak bupati, kabarnya telah di tawar juga untuk perluasan wilayah pembuatan tempat wisata itu.
Kakek Wira sangat terkejut. Seluas itukah tempat wisata yang akan mereka bangun ? sampai harus merembet ke tanah milikku yang jelas-jelas terletak jauh dari kawasan curug tersebut.
“Untuk apa mereka memerlukan tanah sampai sejauh itu ? tanya kakek Wira.
"Kabarnya untuk pembangunan bungalow-bungalow yang akan disewakan." jawab mang Rakib.
Tuan Wira hanya mampu diam mendengar jawaban mang Rakib. Tiba-tiba dia teringat akan janjinya kepada sahabatnya, almarhum mamak Adah. Senyum tipis tergambar di kedua sudut bibirnya. Tenanglah sahabatku, apa pun yang terjadi. Aku tidak akan menyerahkan tanah perkebunan ini.
🍀🍀🍀
Kafe Nirwana
"Apa kamu sudah memiliki rencana, bagaimana caranya agar bisa kembali menjadi kekasih anakku ?” tanya nyonya Rosma kepada Jessica.
“Tenang saja, tante ! Aku sudah memikirkan caranya agar Argha mau kembali padaku.” jawab Jessica santai seraya menyeruput kopi latte kesukaannya.
“Benarkah ? Bagaimana caranya ?” tanya nyonya Rosma yang mulai penasaran.
“Sudahlah tan ! Aku tidak harus melaporkan setiap rencanaku, kan ?” tanya Jessica seraya meletakkan cangkir kopinya.
“Huh, bilang saja kalau tante tidak percaya padaku ?” dengus Jessica, kesal.
“Ha…ha…ha…, aku memang tidak pernah mempercayaimu, Jessi ! Sudah ku bilang dari awal, jangan pernah main hati. Tapi kau ! Kau malah membiarkan dirimu terjebak oleh cintanya laki-laki itu. Kau lihat apa jadinya sekarang, hah ! Kau pergi dengan alasan mengejar ambisimu. Padahal aku tahu, kau pergi karena kau tidak tahan dengan perasaanmu yang telah mencintai si bodoh Argha itu kan ?” ucap nyonya Rosma, panjang lebar.
"Jika memang aku mencintainya, apa yang akan tante lakukan ?” tanya Jessica.
"Cih, dasar gadis bodoh tak tahu malu ! Kau pikir Argha akan kembali jatuh dalam buaian mu setelah dia mengetahui semua kebusukan kamu, hah !” ucap nyonya Rosma sedikit berteriak.
“Kalau tante tau itu, jadi tolong biarkan aku bebas. Aku juga ingin mencari kebahagiaanku sendiri tan ?” ujar Jessica memelas.
“Kebahagiaan, kamu bilang ? Kebahagiaan apa yang bisa kamu dapatkan. Dengar ya gadis sombong ! Jangan seperti kacang yang lupa sama kulitnya ! Kamu pikir kamu bisa seperti ini karena bantuan siapa, hah !” nyonya Rosma semakin meradang.
Sejenak Jessica diam. Hingga akhirnya.
“Baiklah, malam ini aku dan Argha berencana untuk makan malam bersama. Anggap saja ini makan malam perpisahan kami. Di sinilah aku berniat menjebak Argha agar dia mau bertanggungjawab kepadaku. Apa tante puas ?” ucap Jessica seraya meraih tas tangannya dan pergi meninggalkan nyonya Rosma.
__ADS_1
senyum menyeringai pun terukir sempurna di kedua sudut bibir wanita paruh baya itu. Dia tidak menyangka jika keponakan yang tak pernah diakui keluarga besarnya, akan membuat jebakan sempurna untuk anak tirinya.
🍀🍀🍀
Ruangan CEO APA Architecture.
Ponsel Argha bergetar di atas meja kerjanya. Argha segera mengangkatnya begitu membaca nama "detektif satu" tertera di layar ponsel itu.
"Katakan !"
“Apa tuan berencana untuk makan malam bersama nona Jessi ?"
"Iya. Dia memintaku untuk makan malam bersamanya. Dia bilang dia ingin pergi lagi dari negara ini, dan dia mengajakku makan malam sebagai acara perpisahannya."
"Berhati-hatilah, tuan ! Nona Jessica merencanakan sesuatu untuk makan malam kalian.
“Apa kau tahu, apa rencananya ?”
“Mohon maaf tuan ! Tapi nona Jessica tidak memberitahukan rencana detailnya seperti apa kepada nyonya Rosma. Dia hanya mengatakan jika dia akan membuat anda bertanggungjawab atas perbuatannya. Dugaan saya, mungkin dia ingin menjebak anda untuk tidur dengannya."
“Baiklah. Terimakasih atas informasinya. Tetap awasi gadis itu ! Hari ini aku akan mentransfer biaya transportasimu !"
“Baik tuan ! Terima kasih."
Argha kembali meletakkan ponselnya. Setelah itu dia melepaskan jasnya dan menyampirkannya di sandaran kursinya.
Hanya dengan memakai kemeja putih pun Argha semakin terlihat menawan bagi kaum hawa. Sayangnya pria menawan itu memiliki sifat angkuh dan sangat arogan. Argha pun mendekati jendela ruangannya.
Argha berdiri di depan jendela kantornya yang sangat lebar. Netranya menatap lurus ke bawah. Menyaksikan kendaraan yang berlalu lalang di jalan raya. Tangannya tersilang di dadanya. Senyum tipis terukir jelas di bibirnya.
"Jadi itu rencana mu, Jessi ? Baiklah, bermain-mainlah sesuka hatimu ! Dengan senang hati, aku akan melayani mu !” gumam sinis Argha.
Bersambung....
Mohon maaf, telat up...
Semoga masih suka ceritanya...
__ADS_1
Jangan lupa like, vote n komennya...
Makasih...