Takdir Gintani

Takdir Gintani
Semakin Sempurna


__ADS_3

"Turun!" perintah Bram kepada Nando dan Sarah.


Kakak beradik itu segera turun dari dalam taksi. Setelah membayar ongkos taksinya, Bram membawa mereka menuju ballroom hotel Crown.


Tiba di sana, Bram sangat terkejut melihat pertunjukan yang sedang ditayangkan dalam sebuah layar infocus yang cukup besar. Dia tidak menyangka jika orang yang pernah mencuri hatinya, terlibat kejahatan sejauh itu. Rasa simpati di dalam hati Bram pun seketika menghilang.


Darah Bram mulai berdesir saat mendengar sangkalan dari wanita rubah itu. Bukti sudah ada di depan mata. Namun, bisa-bisanya wanita licik itu masih menyangkal semua kejahatannya. Bram sudah tidak mampu menahan emosinya. Tangan kanannya mencekal lengan Nando. Seketika, dia menyeret laki-laki itu menerobos para tamu undangan yang tengah berkumpul menonton drama live pasangan calon pengantin itu.


"Bohong! Dia bohong, jangan percaya itu, Kakak! Aku sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan kecelakaan itu. Dia hanya ingin menjatuhkan aku. Sepertinya, dia tidak terima Kakak menikahi aku, karena itu dia memfitnahku."


Ilona masih menyangkal semua kebenaran yang sudah terpampang jelas di matanya. Bram semakin geram. Dia kemudian menarik tangan Nando dan mendorongnya ke depan.


"Lalu, apa kamu juga akan menganggap dia sebagai fitnah terhadapmu, Na?"


Bram berteriak dengan kerasnya. Semua orang tampak melirik ke arah Bram.


"Kau?" ucap Argha terkejut.


Argha tersulut emosi begitu melihat Nando. Dia berlari ke arah Nando dan asistennya, dan .... "


Bugh!


Bugh!


Dua pukulan mendarat di wajah Nando.


"Berani-beraninya kau menampakkan diri di hadapanku lagi, hah! Dasar bajingan!" teriak Argha.


Argha hendak melayangkan kembali pukulannya. Namun, dengan sigap, tangan Bram mencekal pergelangan tangan Argha.


"Cukup, Ar! Hentikan!" teriak Bram.


"Jangan hentikan aku Bram! Orang ini telah meninggalkan Gintani begitu saja. Setelah semua yang terjadi, dia malah mencampakkan Gintani dengan keadaan seperti itu. Dasar bajingan!"


Argha kembali berteriak. Dia menghempaskan tangan Bram dan kembali mendekati Nando. Amarah menguasai Argha, hingga tanpa sadar dia mencekik leher Nando.


"Hentikan! Jangan bunuh Kakakku!" teriak seorang wanita.


Sarah berlari ke arah Argha dan Nando. Melihat kakaknya kesulitan bernapas, Sarah pun menggigit tangan Argha.


"Aargh!"


Argha berteriak kesakitan, dia kemudian melepaskan cekikannya dari leher Nando.

__ADS_1


"Shitt!" umpat Argha.


"Maafkan aku Tuan, tapi aku mohon, jangan aniaya Kakakku lagi. Aku akui dia memang bersalah, tapi aku mohon, ampuni dia," pinta Sarah sambil mengatupkan kedua telapak tangannya.


"Mengampuni dia? Kau ingin aku mengampuni selingkuhan mantan istriku, hah? Di mana akal sehatmu, Nona! Kakak kamu itu telah berselingkuh dengan mantan istriku sampai dia hamil, dan kau ingin aku mengampuni dia? Cih, jangan harap!" dengus Argha, kesal.


"Hamil?" ulang wanita itu. "Ka-kalau begitu, anak yang dikandung kak Gintan pasti anakmu!" ucap wanita itu.


Argha dan yang lainnya terkejut mendengar perkataan sang wanita tersebut.


"A-apa maksudmu?" tanya Argha dengan bibir bergetar.


"Kakakku memang pernah melakukan kesalahan, tapi dia sama sekali tidak pernah menyentuh kak Gintan," ucap Sarah.


"Bagaimana kamu bisa seyakin itu?" tanya Argha.


"Karena aku adalah saksinya. Aku yang waktu itu membantu Kakakku melakukan kejahatan. Tapi aku berani bersumpah, Kakak Nando tidak pernah melakukan hal buruk terhadap kak Gintan. Itu ... itu hanya sebuah jebakan untuk menghancurkan rumah tangga kalian," tutur Sarah.


Semua orang semakin tercengang mendengar penuturan gadis yang mengaku sebagai adik dari laki-laki itu.


Argha semakin tidak mengerti dengan pengakuan gadis itu.


"Jelaskan, apa maksud kamu jika semua ini hanya jebakan?" perintah Argha


Brugh!


"Maafkan aku Tuan, aku tidak berniat untuk menghancurkan rumah tangga kalian. Tapi aku terpaksa harus melakukannya. Anakku sangat membutuhkan uang untuk biaya operasi jantung, karena itu aku terpaksa berbuat nekat. Namun, Demi Tuhan ... aku tidak pernah menyentuh istrimu," ucap Nando lirih.


Argha semakin geram, dia menyambar kerah kemeja Nando.


"Siapa yang menyuruhmu, hah? Siapa yang telah membayarmu?" Argha berteriak semakin keras.


Nando menatap Ilona. Sedangkan yang ditatap, hanya bisa memalingkan muka. Ilona tidak menyangka jika dia akan mendapatkan kejutan kembali.


"Dia yang membayar saya untuk menghancurkan keluarga Anda," ucap Nando menunjuk Ilona.


Kedua lutut Ilona terasa lemas. Dia tidak menyangka jika semua kejahatannya terbongkar di saat dia seharusnya merasakan sebuah kebahagiaan.


Tidak! Belum semuanya, sepertinya kejahatan Ilona belum terungkap semuanya.


Argha menatap Ilona tak percaya. Sejurus kemudian, dia mendekati Ilona.


"Apa benar yang mereka katakan, Na? Apa benar, kamu dalang dibalik semua kehancuran rumah tanggaku? Apa semua itu benar? Jawab aku!" teriak Argha.

__ADS_1


Ilona hanya mampu menggelengkan kepalanya. Sekali lagi, dia mencoba menyangkal semua bukti yang telah ada.


"Bu-bukan aku ...!" ucap Ilona, lirih.


Jessica kembali mendekati Ilona. "Dasar wanita ular! Masih bisa kamu menyangkal semua bukti kejahatanmu, hah?" ucap Jessica kembali mendorong Ilona hingga tersungkur.


"Ish ...."


Ilona meringis sambil memegang perut bagian bawahnya. Sedetik kemudian, dia membungkuk, merintih kesakitan.


Meskipun Argha marah dengan semua perbuatan Ilona, tapi dia tidak bisa mengabaikan Ilona yang sedang merasakan kesakitan. Dia pun menghampiri Ilona.


"Apa yang terjadi denganmu? Apa perutmu terasa sakit? Apa penyakitnya kambuh lagi?" tanya Argha terlihat cemas.


Yes, berhasil! Akhirnya dia kembali peduli padaku. Aku tahu Kak, kamu tidak akan pernah bisa mengabaikan aku dalam keadaan seperti ini, batin Ilona.


"Sa ... sakit sekali, Kak. To ... long aku," ucap Ilona.


Argha semakin cemas. "Seseorang, tolong panggilkan ambulan!" teriak Argha.


"Itu tidak perlu, Tuan Argha."


Argha mendongak saat mengenali si empunya suara.


"Dokter Laluna? Ah, dokter ... saya senang Anda berada di sini. Tolong periksa Ilona, dia merasa kesakitan saat ini."


Argha merasa senang ketika melihat dokter yang menangani penyakit Ilona, menghadiri undangan pernikahannya.


"Saya rasa, saya sudah tidak perlu memeriksa Nona Ilona lagi, tuan Argha. Karena sebenarnya ...."


Dokter Laluna menggantung kalimatnya. Dia menatap tajam ke arah Ilona.


Sedangkan Ilona, jantungnya kembali berdegup kencang saat melihat tatapan dingin dari dokter wanita paruh baya itu. Dia sudah tidak mampu mengelak lagi. Mungkin cerita tentangnya akan tamat hingga di sini.


Dokter Laluna menarik napas panjang, lalu menghembuskannya dengan perlahan. Sejurus kemudian, dia menyerahkan sebuah map yang berisikan rekam medis Ilona yang sebenarnya.


"Apa ini, Dok?" tanya Argha, penasaran.


"Itu rekam medis Nona Ilona. Sebelumnya, saya minta maaf jika saya terkesan mempermainkan hidup seseorang. Tapi, asal Tuan tahu, saya melakukan ini atas permintaan dia. Buka dan bacalah!" perintah Dokter Laluna.


Dengan tangan gemetar, Argha membuka map yang isinya tentang rekam medis milik Ilona. Bola mata Argha membulat sempurna saat dia membaca satu per satu kalimat diagnosis tentang penyakit Ilona.


"Kau?"

__ADS_1


Bersambung


Jangan lupa like, vote n komennya yaa 🤗🙏


__ADS_2