Takdir Gintani

Takdir Gintani
Ternoda


__ADS_3

Sejenak Gintani menghela napasnya untuk mengatur ritme jantungnya. Gintani meraih tasnya. Dia sedikit berlari untuk segera keluar dari kamar itu. Dengan cepat, Gintani meraih handle pintu untuk segera pergi, namun..


Brugh….!


“Aww…!”


Gintani berteriak saat dirinya tanpa sengaja bertabrakan dengan seorang pria bertubuh tegap di ambang pintu. Sepersekian detik pipi Gintani menempel di dada bidangnya sang pria. Aroma maskulin yang tercium dari sang empunya tubuh, sesaat membuat Gintani memejamkan matanya.


“Apa kau baru sadar jika tubuhku sangatlah harum ?” ujar Argha seraya menyeringai.


Suara bariton sombong yang tak asing di telinga Gintani, seketika membuat Gintani mendongakkan wajahnya.


“Kau !” pekik Gintani, kaget.


Argha hanya tersenyum sinis melihat raut wajah Gintani yang tampak bodoh dimatanya.


“Maaf…! Permisi !” ucap Gintani, menundukkan wajahnya dan berjalan melewati Argha.


“Mau kemana kau ?” tanya Argha seraya mencekal lengan Gintani dan menariknya agar mereka bisa saling berhadapan kembali.


“A…aku mau pulang, pak !” jawab Gintani dengan penuh kecemasan di raut wajahnya.


Sejenak Argha mengernyitkan dahinya mendengar jawaban Gintani. Namun, saat dia melihat Gintani hendak melangkahkan kakinya, Argha pun mulai sadar jika Gintani berniat untuk pergi.


Seketika Argha mendorong tubuh Gintani hingga Gintani kembali memasuki kamar hotel yang sebenarnya kamar pribadinya Argha. Hotel Crown adalah salah satu hotel milik tuan Jaya yang tak lain adalah ayahnya Argha.


“Apa maksudmu ?” ujar Argha seraya mencengkram kedua rahang Gintani dengan kuat.


Mendapat perlakuan Argha yang mendorong tubuhnya memasuki kamar, Gintani mulai sadar jika orang yang telah membelinya adalah pria yang sangat menyimpan dendam padanya. Gintani pun kembali merutuki takdirnya yang tak pernah beruntung.


Gintani meringis saat kuku Argha sedikit menancap di kedua rahangnya.


“A….aku mo…mohon tu…tuan ! A…aku su…sudah bilang pada bang Alex, ji..jika aku berubah pikiran ! Aku mohon, lepaskan aku !” ucap Gintani memohon dengan rasa ketakutannya.


Argha hanya menyeringai sinis mendengar permohonan Gintani.


“Kau tahu jika aku tidak suka dipermainkan, nona !” ujar Argha dingin.


“Aku…aku minta maaf tuan ! Aku berjanji, aku akan mengembalikan uang itu kepada tuan ! Aku mohon, lepaskan aku !” sekali lagi Gintani memohon.


Gintani berharap, jika dia terus memohon, maka Argha akan merasa iba dan melepaskannya. Namun ternyata pikiran Gintani meleset jauh. Bukannya mengasihani, Argha malah semakin menyeringai sinis melihat sinar mata ketakutan yang terpancar di kedua bola mata indah milik Gintani.


Argha mulai mendorong tubuh Gintani sehingga punggung Gintani bersandar pada dinding kamar. Wajah Argha mulai mendekati wajah teduh milik Gintani. Argha pun bisa merasakan hembusan hangat napas milik wanita itu. Bola mata Argha menatap tajam ke arah Gintani.


“Apa kau pikir aku akan melepaskan kesempatan ini, nona ?” ucap Argha seraya tersenyum sinis.


“A…apa maksudmu ?” tanya Gintani, terkejut mendengar perkataan Argha.


“Aku sudah bilang, nona. Kau akan membayar mahal semua tamparanmu waktu itu !” ujar Argha menyeringai licik.


Seketika tubuh Gintani terasa lemas.


“A…apa kau mengenal bang Alex ? Apa kalian sengaja menjebakku ?” tanya lirih Gintani seraya menepiskan tangan Argha dari rahangnya.


Argha hanya tersenyum licik.


“Bersihkan dirimu !" perintah Argha. "Malam ini kau harus bisa memuaskan aku ! Ingat nona, aku sudah membayar mahal tubuhmu itu !” ujar Argha membalikkan badan seraya melepaskan jas nya.


“Jangan mimpi ! Aku tidak akan pernah sudi melayani orang sakit jiwa sepertimu !” teriak Gintani seraya mengambil ancang-ancang untuk kabur

__ADS_1


Plak…!


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi putih nan mulus milik Gintani. Sejurus kemudian Argha menarik tangan Gintani ke belakang hingga tubuh Gintani berbalik membelakanginya.


“Berani kau mengatai aku gila, hah !” teriak Argha tepat ditelinga Gintani.


Tiba-tiba, Argha mendorong kasar tubuh Gintani hingga Gintani jatuh tengkurap di atas ranjang. Dengan sangat cepat Argha pun membalikkan tubuh Gintani dan menindihnya.


“Kau layani aku dengan sukarela, atau aku akan memaksamu !” ujar Argha tepat di atas wajah Gintani.


“Tidak ! Aku tidak mau !” teriak Gintani.


Penolakan Gintani semakin membuat Argha meradang. Tak ayal lagi, dengan kasarnya Argha mulai mencium bibir mungil nan tipis yang sedari tadi menggodanya.


“Hummph….le…humph…lepaskan,,,euummh…breng…hhmphh…sek…! Le…hmmpp pas…!” umpat Gintani disela-sela ciuman yang dilayangkan oleh Argha.


Gintani terus memberontak. Kakinya berusaha untuk meronta dan menendang bagian bawah Argha untuk bisa melepaskan diri dari himpitan tubuh kekar milik Argha. Namun sayangnya, tubuh mungil Gintani tidak seimbang dengan tubuh tegapnya pria yang semakin brutal menciuminya.


Bibir Argha terus menyesap bibir bawah Gintani, me****tnya penuh napsu. Sesekali menggigitnya agar Gintani memberikan celah bagi lidahnya untuk mengabsen rongga mulut Gintani.


Gintani mulai menangis saat dia merasakan tangan Argha mulai menyusup ke dalam kemejanya. Sakit…! Terasa sakit saat jari jemari nan panjang itu mulai me****s bukit kembar miliknya yang masih terasa penuh dan kenyal.


Gintani kembali memberontak. Namun, semakin kuat dia memberontak, maka semakin kuat pula tenaga Argha mengunci tubuhnya dalam himpitan tubuh kekar milik Argha.


Sreeekkk….


Argha membuka paksa kemeja Gintani sehingga menampakan bukit kembar milik wanita itu setengah tersembul di balik pelindungnya. Kabut gairah mulai menyelimuti matanya. Tangan Argha menyusup ke belakang dan mulai membuka pengait kacamata pelindung berwarna hitam itu. Sedetik kemudian, bukit kembar yang tampak indah itu terpampang jelas di hadapannya.


Argha mulai menciumnya, menj****inya dan sesekali menghisap pu****nya yang tampak berwarna pink. Argha menggigit bagian atas kedua bukit itu, dan meninggalkan begitu banyak jejak kepemilikannya di sana.


Gintani meronta, kakinya mulai menendang ke berbagai arah. Berharap tendangannya bisa mengenai barang berharga milik lelaki yang tengah menindihnya.


“Lepaskan aku…! Dasar brengsek ! Bajingan ! Lepaskan aku !” umpat Gintani dalam ketidakberdayaannya.


Sreeettt….!


Argha mulai melepaskan celana jeans Gintani sekaligus dengan segitiga pengamannya. Tubuh polos Gintani semakin membuat Argha kehilangan akalnya.


Kau milikku, batin Argha.


Seketika, Argha membenamkan wajahnya di sela-sela kaki atas wanita yang sudah diklaim sebagai miliknya. Argha mulai menciumi area persawahan itu, membelahnya dengan lidahnya dan bermain-main di sana.


Tubuh Gintani yang menggeliat-geliat semakin membuat Argha menggila. Dia terus mengeksplor lebih dalam lagi, sehingga dia merasakan sesuatu yang mengalir menyentuh mulutnya. Argha tersenyum menerima aliran syurgawi yang dikeluarkan Gintani.


Tanpa merasa jijik, Argha pun mengulum kedua bibir bawah milik Gintani. Sesekali menggigitnya hingga tanpa sadar Gintani mengeluarkan erangan dan desahan yang sangat merdu di telinga Argha.


Sadar dengan kelakuannya yang sedikit gila, Gintani kembali meronta meminta Argha untuk melepaskannya.


Namun apalah daya. Pikiran Argha yang sudah digerayangi oleh setan, membuat dia membabi buta kembali menyerang Gintani. Argha kemudian berdiri untuk membuka pakaiannya.


Gintani tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dengan sisa kekuatan yang dia miliki, dia pun segera bangkit. Gintani turun dari ranjang dan mulai berlari menjauhi Argha.


Hup…..


Bugh…..


Usaha Gintani sia-sia. Dengan cekatan Argha kembali menangkap tubuh Gintani dan menghempaskannya ke atas ranjang. Secepat kilat dia pun mulai kembali menindih dan mengunci tubuh Gintani.


Hasratnya yang sudah memuncak ke ubun-ubun, membuat sikap Argha semakin tak terkendali. Kakinya yang panjang segera membelah kedua kaki lenjang milik Gintani. Argha pun mulai melakukan penyatuan dengan wanita itu.

__ADS_1


Sulit….


Sempit…


Sudah beberapa kali hentakan, namun Argha belum juga bisa menerobos barang yang dibelinya seharga 2 M itu.


Argha mulai mengatur napasnya. Dia kembali menciumi wajah Gintani. Namun kali ini, ciumannya tidak seganas tadi. Dengan penuh kelembutan, dia mengecup kening Gintani cukup lama. Setelah itu bibirnya beralih mengecup kedua kelopak mata milik Gintani.


"Berdamailah sayang ! Aku tidak akan memperlakukanmu dengan kasar ! Tapi aku mohon, berdamailah…!" bisik Argha lembut seraya menciumi ceruk leher wanita yang telah dibelinya.


Gintani lelah, Gintani pasrah, Gintani sudah tidak memiliki kekuatan lagi untuk melawan. Hingga akhirnya.


“Aaarggghhh…!”


Teriakan keras, lolos begitu saja dari mulut Gintani saat senjata milik lelaki itu mulai berhasil mendobrak benteng pertahanan Gintani.


Argha segera membungkam teriakan Gintani dengan bibirnya. Mengulum bibir mungil itu penuh kelembutan. Argha memainkan penyatuannya dengan ritme yang cukup santai. Tanpa sadar Gintani memejamkan matanya seraya me****s sprei.


Tak ada lagi bulir air mata yang mampu keluar dari kedua mata Gintani. Gintani masih terus memejamkan matanya seraya merutuki kebodohannya. Hatinya menolak semua perbuatan terkutuk laki-laki yang sedang bergerak naik turun di atasnya. Namun entah kenapa tubuhnya tak mempu menolak pergerakan itu. Gintani hanya bisa menggigit bibir bawahnya agar tidak kembali mengeluarkan desahan kenikmatan yang mulai dirasakannya.


Argha tersenyum melihat mimik wajah Gintani. Sambil terus bergerak, Argha kembali mencium pipi gintani.


"Lepaskan lah, sayang ! Tidak usah malu-malu. Aku tahu kau pun menikmatinya !" ucap Argha, tersenyum penuh arti.


Hembusan napas yang terasa hangat mulai menyadarkan Gintani. Perlahan Gintani membuka matanya. Guratan wajah yang terlihat sempurna terpampang jelas di matanya. Senyum penuh kelembutan terukir di kedua sudut bibir laki-laki itu. Tanpa sadar, Gintani tersenyum tipis melihat mahluk adam yang sedang menggumulinya.


Argha kembali mendaratkan kecupannya di bibir tipis Gintani. Me****tnya lebih dalam, hingga akhirnya.


"Bertahanlah sayang ! Mungkin ini akan terasa sedikit lebih sakit." ucap Argha seraya membelai lembut pucuk kepala Gintani.


Argha memacu gerakannya semakin cepat. Dia sudah tidak bisa lagi membendung pasukannya.


Gintani pun mulai me****s kasar punggung lelaki itu. Rasa sakit dan desiran aneh di sekujur tubuhnya, membuat Gintani sedikit menjerit saat lelaki itu melepaskan pasukannya.


"Aaargghhh….!"


Tubuh Argha menegang dan bergetar hebat. Sesaat kemudian, dia pun mendaratkan wajahnya di ceruk leher wanita yang telah dibelinya. Saat Argha melepaskan lelahnya dengan menyesap aroma tubuh gadis itu, tiba-tiba bisikan suara ghaib terdengar di telinganya.


Apa ini kak Adi ? Kenapa kak Adi melakukan semua ini ? bukankah kak Adi sudah berjanji jika kak Adi hanya akan menjadi pengantin priaku ?


Argha terhenyak. Seketika dia membuka matanya. Dia terkejut melihat Gintani yang tengah memejamkan matanya tanpa bersuara. Argha pun segera menarik tubuhnya. Dia melihat bercak darah berceceran di atas sprei.


"Aku menodainya….! Tidak…! Tidak…! Ini tidak boleh terjadi ! Aku tidak boleh menodainya ! Aku tidak boleh melakukannya dengan siapapun ! Aku sudah berjanji jika aku hanya miliknya ! Shitt !" umpat Argha.


Argha terus meracau seraya mengenakan pakaiannya. Setelah itu dia pun segera berlari keluar meninggalkan Gintani yang tengah tak berdaya.


Dalam keadaan setengah sadar, samar-samar Gintani mendengar racauan Argha. Senyum tipis penuh misteri tersungging di bibirnya yang bengkak akibat perbuatan lelaki yang membelinya.


"Bodoh…! Jika kau memang memiliki seorang wanita, kenapa kau harus membeliku ? Sebegitu besarnya dendammu kepadaku ? Apa sekarang kau merasa puas, tuan ?” ucap lirih Gintani menahan rasa sakit lahir dan batinnya.


Perlahan, Gintani bangun. Dia meringis saat merasakan perih di area sensitifnya. Hati Gintani semakin sakit melihat begitu banyak noda darah di atas sprei putih itu.


Gintani tersenyum miris. Ternoda ! Aku sudah ternoda ! Dan itu semua karena kebodohanku sendiri !


Gintani mulai memunguti pakaiannya satu persatu. Dengan menahan sakit di sekujur tubuhnya, Gintani pun mulai mengenakan kembali pakaiannya, meskipun kemejanya sudah tidak layak lagi untuk dipakainya. Tiba-tiba…


Brakk….!!


Bersambung...

__ADS_1


Semoga tidak direvisi ya teman-teman...


Jangan lupa like vote n komennya 🙏🤗


__ADS_2