Takdir Gintani

Takdir Gintani
Pertanyaan Putri


__ADS_3

Setelah melewati beberapa menit perjalanan, akhirnya mereka tiba di sebuah perkampungan.


"Rumah Putri yang mana?" tanya Argha begitu membelokkan motornya memasuki jalan perkampungan.


"Om lurus saja, nanti di ujung gang ini ada papan nama Rumah Jahit Putri, nah itu rumah Putri, Om," jawab Putri.


"Jadi mama Putri seorang penjahit?" tanya Argha lagi.


"Iya, Om," jawab Putri.


"Lalu, papanya Putri?" Argha kembali bertanya. Pertanyaan yang sebenarnya Argha sendiri terlalu takut mendengarkan jawabannya. Entah kenapa dia berharap Putri tidak memiliki seorang ayah, agar dia merasa nyaman untuk terus berinteraksi dengan anak itu.


"Papa Putri bekerja di pabrik, Om. Dia punya pabrik nuget," jawab Putri dengan polosnya. Ya, Putri memang mengenal Heru sebagai ayahnya.


Entah kenapa, ada sedikit rasa sakit saat Argha mendengar tentang ayah anak itu.


"Nah, itu om! Itu rumahnya Putri." Tiba-tiba Putri berteriak saat Argha hampir saja melewati rumahnya karena melamun.


Argha membelokkan motornya menuju pekarangan yang cukup luas. Dia kemudian memarkir motornya di sana.


"Non Putri, astaghfirullahaladzim ... Non Putri dari mana saja? Uteng jemput ke sekolah, kok Non Putri nggak ada?" Seorang wanita datang dari dalam rumah.


"Maaf, Uteng," jawab Putri menundukkan kepalanya.


"Terima kasih sudah mengantarkan Non Putri, Mas," ucap Mina.


"Iya, sama-sama. Kalau begitu, saya permisi dulu!" pamit Argha.


"Om, besok kita cari lagi gelangnya ya!" teriak Putri


Argha mengacungkan kedua jempol tangannya. Setelah itu, dia mengenakan helm dan kembali melajukan motornya keluar dari pekarangan rumah Putri.


Gintani yang baru saja turun dari angkot merasa heran ketika melihat sebuah motor keluar dari halaman rumahnya. Siapa dia? batin Gintani.


Setelah membayar ongkos angkotnya, Gintani segera menuju rumahnya.


"Assalamu'alaikum!" sapa Gintani.


"Wa'alaikumsalam, eh Nyonya sudah pulang," jawab Mina.


"Min, tadi aku lihat ada motor yang keluar dari sini. Siapa? Apa dia pelanggan kita?" tanya Gintani.


"Bukan Nya, dia orang yang mengantarkan non Putri. Kata non Putri, dia sudah membantu non Putri mencari gelangnya yang hilang," jawab Mina.


"Oh, sekarang Putrinya di mana?" tanya Gintani lagi.


"Non Putri sedang membersihkan dirinya di kamar mandi, Nya," jawab Mina.


"Oh, ya sudah kalau begitu," kata Gintani. Dia kemudian pergi ke ruang menjahit untuk kembali menyelesaikan pekerjaannya.


Keesokan harinya, seperti biasa Gintani bangun pukul 4 pagi. Dia mulai memasak untuk sarapan dan menyiapkan semua kepentingan Putri sekolah. Pukul 6 pagi, dia membangunkan anaknya.


Dengan sigap, Putri turun dari ranjang dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dibantu pengasuhnya, Putri pun mengenakan seragamnya dan mulai sarapan.


"Ma, hari ini Putri mau minta izin pulang terlambat, boleh ya?" pinta Putri saat sedang sarapan.


"Loh, memangnya kamu mau ke mana?" tanya Gintani heran.


"Kemarin Putri sudah berjanji sama om Baik untuk mencari gelang Putri yang hilang. Tapi karena gelang Putri sudah ketemu, makanya Putri mau menemui om Baik dan bilang kalau om Baik nggak usah cari gelang Putri lagi," ucap Putri.


"Makanya, jadi anak itu nggak boleh pelupa. Kamu, kecil-kecil, kok pelupa sih, Nak. Mirip ayahmu saja," celetuk Gintani.

__ADS_1


"Jadi, papa Heru pelupa juga, ya, Ma?" tanya Putri.


Gintani terkejut ketika tanpa sadar menyamakan putrinya dengan ayah kandungnya. Dan dia baru menyadari itu saat Putri bertanya tentang Heru.


"I-iya, papa Heru pelupa juga," jawab Gintani gugup.


"Tapi, papa selalu ingat, kok, pesanan Putri kalau lagi kerja ke luar kota," bantah Putri.


Tak ingin terjebak lagi, Gintani pun menyudahi sarapannya.


"Sudah siang, ayo Mama antar ke sekolah. Sekalian antarkan jahitan pesanan guru kamu," ucap Gintani.


Putri mengangguk dan segera meraih tasnya yang tersimpan di sofa.


🍀🍀🍀


Waktu sudah menunjukkan pukul 11 siang. Argha segera bersiap-siap untuk bertemu anak itu di bukit. Kemarin dia sudah berjanji akan membantu anak itu untuk mencari gelangnya. Sebenarnya, Argha tidak begitu mengenal gadis kecil itu. Tapi entah kenapa, berada di sisinya selalu membuat hati Argha terasa hangat.


"Nin, Adi berangkat dulu!" pamit Argha kepada nin Ifah.


"Mau ke mana kamu, Adi?" Nin Ifah malah balik bertanya.


"Adi ada janji sama teman," jawab Argha


"Oh, ya sudah. Hati-hati di jalan, Nak!" Nin Ifah berpesan pada cucunya.


Argha tersenyum, sejurus kemudian dia mencium kedua pipi keriput neneknya. "Adi akan selalu berhati-hati, Nin. Karena Adi mempunyai tugas untuk menjaga Enin," bisik Argha di telinga nin Ifah.


Nin ifah tersenyum dia pun mengelus lembut pipi cucunya. "Pergilah! Jangan lupa untuk membeli keperluan pengajian nanti malam."


Setelah mendapatkan izin dari neneknya. Argha melajukan motornya keluar dari halaman rumah.


Tanpa terasa, Argha sudah tiba di kaki bukit. Setelah menitipkan motornya di sebuah warung kecil, Argha pun segera berlari menaiki bukit.


Seperti dugaannya. Gadis kecil itu tengah duduk di bawah pohon akasia dengan menekuk kedua lutut dan mendekapnya. Wajahnya terlihat sangat murung. Mungkin gelangnya belum ketemu juga, batin Argha.


Argha kembali berlari menghampiri gadis itu. "Hallo Tuan Putri cantik!" sapa Argha.


Putri mendongak. "Eh, Om Baik," jawabnya tak bersemangat.


"Kok sedih, gelangnya belum ketemu, ya?" tanya Argha.


"Sudah ketemu, kok, Om," jawab Putri.


"Benarkah? Ketemu di mana?" tanya Argha.


"Di kamar mandi. Uteng bilang, Putri melepas gelang itu waktu mau mandi. Hehehe, Putri emang pelupa, Om."


"Waduh, kecil-kecil pelupa. Tapi, Om juga pelupa sih," jawab Argha.


"Waah, kita samaan ya, Om. Sama-sama pelupa," kata Putri.


Untuk sejenak, mereka tertawa bersama. Hingga beberapa detik kemudian, Putri kembali terlihat bersedih.


Argha duduk di samping Putri. "Gelangnya sudah ketemu, tapi kenapa Putri masih sedih?" tanya Argha.


"Putri ingat omongan bu guru tadi di sekolah, Om," jawab Putri.


"Memang bu guru Putri ngomong apa?" tanya Argha, penasaran


"Tadi di sekolah ada pelajaran tentang membantu ayah dan ibu. Putri sedih karena Putri nggak bisa menjawab pertanyaan bu guru," jawab Putri.

__ADS_1


"Memangnya, ibu guru bertanya apa sama Putri?" Argha semakin penasaran.


"Bu guru tanya, apa Putri suka membantu mama? Putri jawab iya, tapi Putri nggak bisa jawab waktu bu guru tanya lagi apa Putri suka membantu papa?"


"Memangnya Putri nggak suka bantuin papanya Putri?" tanya Argha lagi.


Gadis kecil itu menggelengkan kepalanya.


"Kenapa?" Argha kembali bertanya.


"Karena papa nggak tinggal bareng Putri," jawab Putri.


Argha terkejut. Apa maksud ucapan gadis kecil ini? batinnya.


"Eca bilang, kalau mama sama papa tidak pernah tinggal bareng kita, itu artinya, mama sama papa kita sedang bertengkar," lanjut Putri.


Argha semakin tidak mengerti arah pembicaraan anak ini. Tapi satu yang jelas, kedua orang tuanya tinggal berpisah.


"Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Mungkin saja papanya Putri sedang sibuk kerja di luar kota jadi belum sempat pulang," ujar Argha mencoba menenangkan hati gadis kecil itu.


"Tapi Putri nggak pernah lihat papa pulang ke rumah, Om. Rumah papa sama mana Putri beda," bantah Putri.


"Apa rumah mama Putri besar?"


Putri menggelengkan kepalanya


"Lalu, rumah papa Putri?"


Putri kembali menggelengkan kepalanya.


"Nah, berarti papa sama mama Putri lagi sama-sama cari uang buat beli rumah yang besar. Terus nanti tinggal bareng-bareng," kata Argha.


Putri terlihat senang mendengar ucapan Argha. "Gitu, ya, Om."


Argha menganggukkan kepalanya. "Ya sudah, nggak usah sedih lagi. Daripada Putri terus bersedih, mending Putri kasih lihat gelangnya Putri ke Om. Kalau bagus, Om mau beli buat anak Om," kata Argha.


"Memangnya anak Om, perempuan?" tanya Putri.


Argha terpaku mendengar pertanyaan Putri. Dia tak bisa menjawab pertanyaan Putri karena dia sendiri tidak tahu jenis kelamin anaknya.


"Sudahlah, lupakan saja! Coba mana gelangnya?"


Putri mengulurkan tangannya dan memperlihatkan gelang miliknya.


Jantung Argha berdegup kencang saat melihat gelang yang mirip seperti yang pernah dia berikan kepada Na. Aku harus memastikannya, batin Argha.


"Put, boleh Om lihat gelangnya?"


Putri melepaskan gelangnya dan memberikan gelang itu kepada Argha.


Dengan tangan gemetar, Argha menerima gelang itu dan mengamati bandul mainan yang berupa burung merpati.


Deg-deg-deg!


Jantung Argha berdetak tak beraturan ketika melihat inisial huruf A dan N di salah satu sayap kedua bandul itu. Dia kemudian menatap lekat ke arah Putri.


Pantas saja aku seperti pernah melihatnya, rupanya dia anaknya Na. Ya Tuhan, sedekat inikah aku dengan Na? Tapi bagaimana bisa aku tidak pernah menemukannya dulu? Dan sekarang ... mungkin sekarang semuanya telah terlambat. Tapi, dia bilang, dia tidak pernah satu rumah dengan ayahnya. Apa mungkin kehidupan rumah tangga Na tidak baik-baik saja?


Bersambung


Jangan lupa like, vote n komennya yaa 🤗🙏

__ADS_1


__ADS_2